10. Rasa Bersalah

1040 Kata
Rasanya sakit ketika kita berbohong kepada orang yang paling kita sayang, yaitu orangtua..  Author *** Matahari sudah tenggelam sejak tadi, cahaya bulan yang begitu terang menyinari malam yang indah ini. Terdiam, sepasang anak manusia sedang berada di dalam mobil sejak lima belas menit yang lalu ketika mobil Aaron berhenti dekat rumah Rishi. Tak ada suara, hanya hela napas yang terdengar.  Rishi kemudian yang sadar bahwa mereka tak harus diam terus-menerus akhirnya membuka suaranya juga, sambil menoleh kesamping menatap Aaron tampak serius melihat ke depan. "Makasih udah ngantar saya pulang." ketika Rishi akan turun dari mobil pemuda itu, sontak terhenti saat tangannya di pegang oleh Aaron.  "Kenapa kamu nyuruh aku berhenti di sini? bukannya rumah kamu masih jauh dari sini. Aku bisa antar kamu sampai depan rumah kok." inilah Aaron yang ingin ia tanyakan dari awal ketika kedua kalinya mengantar gadis ini pulang, gadis itu malah menyuruh menurunkannya di depan rumah yang cukup jauh dari rumah Rishi.  "Jangan!! Nggak usah, rumah saya udah dekat kok. Tinggal tiga rumah lagi, saya bisa jalan saja." Rishi berkata dengan panik membuat Aaron menatap gadis itu curiga.  "Ada yang marah kalau saya antar kamu? Padahal waktu saya antar kamu pertama kali aja, saya antar kamu sampai depan rumah." Aaron tidak bodoh, ia tahu ada yang disembunyikan oleh Rishi. Atau mungkin gadis itu dilarang waktu Aaron mengantarnya pulang waktu itu.  Rishi terlihat gelisah, dengan meremas kedua tangannya saking gugupnya. Hal itu tak luput dari pandangan Aaron, dengan menghela napas pemuda itu mengalah.  "Yaudah, kamu kayaknya capek deh. Istirahat gih, makasih juga udah mau main ke rumah hari ini," ucap Aaron sambil tersenyum tipis. Rishi menganggukkan kepalanya lalu dengan cepat keluar dari mobil Aaron dan berjalan cepat kearah rumahnya tanpa berbalik lagi. Aaron yang melihatnya hanya diam, batinnya bertanya-tanya. Apakah ada yang melarang gadis itu sampai ia tak mau Aaron antar sampai depan rumahnya? Aaron akhirnya menjalankan mobilnya memutuskan untuk pulang saja, hampir tiga puluh menit ketika ia sampai ke rumahnya. Berjalan santai ke lantai 3 di mana kamarnya berada, namun ketika melewati kamar bundanya ternyata Kinan ke luar dari kamar dan berpapasan dengan Aaron yang baru pulang.  "Lho Abang, udah makan belum?" tanya Kinan. Pasalnya tadi Aaron mengantar Rishi sehabis maghrib pulang. Sebenarnya Kinan masih ingin Rishi makan malam bersama mereka. Namun Rishi menolak dengan halus karena gadis itu sudah di telepon oleh ayahnya.  "Belum Bun, Abang mau istirahat aja dulu deh," tolak Aaron.  "Yaudah, kalau Abang lapar turun ke bawah aja nanti minta Bibi yang siapin." "Okey Bun, yaudah Abang kekamar dulu ya." Aaron yang siap berjalan lansung dihadang oleh Kinan.  "Eh tunggu dulu, kamu antar Rishi sampai rumah kan, Bang?"  "Nggak sampai depan rumahnya Bun, soalnya dia sendiri yang minta jangan di turunkan depan rumahnya." Kinan mengerutkan kening.  "Lho kenapa?" Aaron mengangkat bahunya acuh tanda tak tahu.  "Aneh?" pikir Kinan. "Apa orangtuanya larang ya?" gumam Kinan.  "Iya Bun, Abang juga kepikiran sih tadi. Makanya ketika Abang tanya langsung Rishi malah gelisah dan itu menguatkan dugaan Abang," jelasnya.  "Makanya kamu harus bertamu kerumahnya dong, biar kenalan sama orangtua Rishi." Aaron menatap bundanya heran. "Buat apa Bun?" tanya Aaron polos.  "Ya buat perkenalan sebagai calon pacar Rishi lah, emang apalagi?" kata Kinan gemas pada Aaron. Sontak Aaron langsung salah tingkah.  "Emang siapa yang niat jadiin Rishi pacar sih, Bun?" elak Aaron.  "Idih sok mengelak lagi, padahal sedari tadi waktu Rishi ada di rumah kamu nggak berhenti lirik-lirik manja." Wajah Aaron langsung memerah.  "Ih Bunda, udah ah Abang mau ke kamar." sontak Kinan tertawa. Lalu berteriak ketika Aaron sudah akan masuk ke dalam kamarnya.   "Yaudah kamu istirahat aja, terus mimpikan Rishi ya. Tapi jangan mimpikan terus, Bang? Harus usaha juga supaya mimpinya jadi kenyataan." Aaron pura-pura tak mendengar lalu dengan Aaron masuk ke dalam kamarnya. Begitu menutup pintu kamarnya, Aaron langsung duduk di tepi ranjang memikirkan perkataan bundanya tadi.  Ya, harus ia akui rasa itu memang ada untuk gadis itu, tetapi Aaron hanya ingin memastikan kalau perasaan untuk Rishi murni memang untuk gadis itu bukan karena Rishi begitu mirip dengan gadis masa lalunya.  Tak mau terlalu memikirkan masalahnya, Aaron lebih baik masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan pikirannya yang sangat kacau akibat Rishi.  *** Rishi tiba di rumahnya setelah beberapa menit menenangkan hatinya akibat takut bertemu dengan ayahnya nanti. Namun siap tak siap Rishi harus menghadapinya. Pasti ayahnya jam segini ada diruang tengah nonton sambil menunggunya pulang. Dan benar dugaannya ayahnya sedang ada diruang tengah, sendirian.  "Udah pulang Mbak?" Rishi menoleh pada ayahnya yang sedang menatapnya teduh.  "Iya Yah, Ibu sama Rifa mana?" tanyanya sambil duduk di samping ayahnya tak lupa juga mencium tangan ayahnya.  "Oh biasa, Ibu dan Rifa sudah dikamar, Ohya kamu udah makan Mbak?" "Aku masih kenyang Yah, aku hanya mau istirahat aja." Rishi meringis, ingin segera pergi sebelum ayahnya menanyakan soal kemana saja ia hari bersama Rara. Dan benar ketika ia akan pamit ke ayahnya mau masuk kekamar ayahnya malah menahannya.  "Tadi kemana aja sama Rara, Mbak?"  Tuhkan, ayahnya pasti tidak akan membiarkannya lolos begitu saja meski Rishi sudah bilang ingin istirahat langsung. Ayahnya akan memastikan anaknya kemana saja hari ini baru ia bisa masuk kekamarnya.  "Aku tadi temani Rara ke mall sekalian beli belanja bulanan buat Rara." Rishi mulai mengarang kata-kata buat ayahnya percaya walau dalam hati ia memohon maaf berkali-kali.  Darman menganggukkan kepalanya pelan. "Kamu memang harus sering-sering temanin Rara, kasihan dia pasti kesepian kalau weekend gini. Apalagi tadi kan Rara nggak kerja part time, kan?" "Iya Yah, makanya mumpung dia nggak kerja. Rara minta ditemanin." Rishi menahan rasa bersalahnya.  "Yaudah, kamu pasti capek kan? Istirahat gih. Dan kalau lapar kamu panasin aja makanan dimeja makan." "Siap Ayah, kalau gitu aku kekamar dulu ya." Rishi berdiri lalu menuju kamarnya segera setelah menutup pintunya.  Walau hanya tanya-jawab yang dilakukan mereka. Namun rasa bersalah menghimpit d**a Rishi sebab ia lagi-lagi harus berbohong apalagi melibatkan nama Rara di dalamnya.  Seumur hidup Rishi tak pernah berani membohongi orangtuanya, tetapi jujur bukan juga hal yang baik. Ayah akan marah besar kalau tahu anak kesayangannya tega membohonginya. Rishi menghela napas lelah dan berjalan ke ranjang mungilnya dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman.  Sambil menutup matanya, ia bergumam lirih, "Maafkan Rishi Yah..Bu, maafkan."  Membuka matanya, Rishi bangun dan dengan cepat mengganti bajunya dengan nyaman agar bisa tidur dengan nyanyak. Karena jujur Rishi sangat mengantuk, apalagi besok ia akan kerja.  Rishi berjanji ini adalah kebohongan pertama dan terakhirnya pada ayah dan ibunya.  Kembali ke ranjang, akhirnya Rishi menutup mata agar bisa melupakan rasa bersalahnya pada kedua orangtuanya. Walau ia tahu kalau rasa bersalah itu akan terus menghantuinya selamanya. Karena Rishi hanya berharap ayah dan ibunya mau memaafkannya suatu saat nanti.  Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN