9. Suasana Asing

1111 Kata
Selalu saja ada rasa canggung ketika kita bertemu dengan orang baru, seperti baru bertemu calon mertua mungkin..  Author *** Suasana ruang makan yang sangat canggung, itu yang Rishi rasakan saat ini. Bukan karena keluarga Kinan yang sombong namun ternyata keluarga Kinan sangat ribut ketika dimeja makan. Bukan tak biasa obrolan yang dilakukan dimeja makan.  Keluarganya juga biasa makan diselingi dengan obrolan tetapi akan kembali diam dan fokus makan kalau sudah tak ada obrolan yang penting. Dan ketika melihat keluarga Kinan yang bahkan kadang ribut hanya rebutan makanan atau saling menggoda sama sekali.  Mungkin karena anggota keluarga ini sangat banyak, ada Vania (nenek Aaron), Kenaan (kakek Aaron), ada Jerry, Kinan, Aaron, si kembar Alle dan Elle, dan si bungsu Abrian Rashaad Kenzo. Yang dipanggil dengan Abri. Apalagi yang si kembar yang cantik diusianya masih remaja 14 tahun. Sangat senang sekali menjahili kakaknya dan adik bungsunya. Kedua begitu kompak sekali namun itulah yang membuat rumah sebesar ini menjadi ramai.  Jerry sangat bersyukur sebab sebagai anak tunggal, ia dulu selalu saja kesepian. Maka dari itu setelah menikah dengan Kinan, Jerry bertekad punya anak banyak. Dan lihatlah sekarang diusia awal kepala empat. Ia sudah mempunyai empat anak, dua putra dan dua putri.  Ketika Rishi tadi sampai ke ruang makan, semua yang ada diruang makan sontak terdiam melihat ada sosok asing yang akan ikut makan bersama mereka. Walau ada sebahagian yang tahu sosoknya. Namun tetap saja rasa tak nyaman menguasai gadis itu. Usai perkenalan singkat mereka akhirnya mulai menyantap makan siang.  Ketika Rishi lagi menikmati makan siangnya sebuah suara kembali memecah keheningan meja makan yang tadi sempat sunyi sekitar semenit.  "Kak, ini kan jatah aku. Kenapa Kakak yang makan sih." protes si bungsu Abri pada salah satu kakak kembarnya yang bernama Alle.  "Ih ini kan jatahnya Kakak, kamu kan nggak bisa banyak makan udang kalau kamu nggak mau alergi kamu kambuh." Alle mendelik tajam pada Abri. Bagaimana tidak, bukannya Alle pelit sama adiknya itu hanya saja Alle tak mau Abri kembali alergi akibat makan udang kebanyakan.  "Tapi aku udah ada obat dan salepnya jadinya aku bisa makan banyak dong." balas Abri cemberut.  "Iya, dan kamu akan minta ditemani oleh Bunda tidur dikamar kamu, kan? Terus Ayah akan merajuk sebab Bunda lebih memilih tidur dengan kamu ketimbang Ayah." bukan Alle yang bicara melainkan si kakak kembarnya yang lain. Elle.  "Dan Ayah akan merana semalaman sebab Ayah akan tidur tanpa memeluk Bunda." kali ini Aaron yang angkat suara membuat semua yang ada dimeja makan sontak tertawa terbahak-bahak, kecuali Rishi yang hanya tersenyum walau gadis itu sangat ingin tertawa hanya saja ia merasa kurang sopan menertawakan orangtua dan Jerry yang cemberut akibat bullyan dari anak-anaknya.  Bahkan Vania dan Kenaan juga Kinan yang paling besar suara tertawanya. bagaimana tidak? Jerry memang tambah berumur tambah kekanak-kanakan saja, sifatnya melebihi Abri si bungsu. Jerry akan merajuk seharian kalau ditinggal tidur sendiri oleh Kinan.  Aaron yang melihat Rishi sedang manahan tawa akibat godaan saudaranya pada sang ayah akhirnya berbisik pelan kepada Rishi yang duduk tepat di sampingnya.  "Ketawanya jangan kamu tahan, ketawa aja kalau emang mau ketawa." membuat Rishi menoleh ke samping tempat dimana Aaron duduk. Lalu kemudian membuang muka ketika melihat Aaron tersenyum lembut.  Ada apa dengan jantungku ini, kenapa berdebarnya sangat kencang begitu melihat senyuman pemuda itu? Batinnya bertanya-tanya.  Rishi kembali makan dengan pelan, mengabaikan tatapan dari pemuda di sebelahnya. Hal itu tak luput dari pandangan Kinan.  "Ekhemm." Kinan sengaja berdeham pelan, membuat Aaron menatap bundanya dengan salah tingkah akibat ketahuan menatap Rishi diam-diam. Kemudian melanjutkan makannya dengan wajah merah.  "Makanan Abang ada di depan ya, bukan di samping." Jerry balas dendam terhadap Aaron sebab tadi ikutan mem-bullynya. Ternyata Jerry juga sadar dengan kelakuan aneh putranya yang selalu menatap gadis di sampingnya. Hal itu membuat semua anggotanya keluarganya menatap Aaron penasaran.  "Emang Abang lihatin siapa?" tanya Abri polos. Aaron yang ditanya sama adik bungsunya langsung menjawab.  "Anak kecil nggak boleh ikut nimbrung ya." ketus Aaron sebal. Abri langsung meleletkan lidah.  Rishi hanya geleng-geleng kepala melihat langsung sifat kekanakan Aaron yang begitu mirip ayahnya. Walaupun ia sempat gugup waktu Aaron ketahuan meliriknya sama ayah dan bundanya.  "Sudah.. Sudah.. Lanjutin lagi makannya gih," kata nenek Aaron, Vania. "Maaf yah Rish, keluarga kita memang kalau dimeja makan suka ribut. Begini kalau ngumpulnya cuma pas makan jadinya pada berisik deh." Vania tersenyum minta maaf.  "Nggak papa kok Nek."  Ketika selesai makan mereka semua pindah ke ruang tengah, tempat mereka biasa berkumpul bersama. Entah bercengkrama atau menonton film bersama. Rishi lagi-lagi terkesima dengan interior rumah ini. Tadi saja waktu di ruang makan Rishi sempat melongo saking kagumnya dan ketika mereka pindah ke ruang ini makin melongo lah ia.  Ketika mereka duduk diposisi masing-masing, tentu saja Vania duduk bersama si kembar Alle dan Elle, Kinan dan Jerry tentu saja duduk bersebelahan, Kenaan duduk bersama si bungsu Abri dan terakhir Aaron duduk bersama Rishi. Mereka tampak keluarga yang bahagia bukan. Itulah pemikiran singkat Aaron.  Dan entah mengapa, pemikiran itu membuatnya merasa benar. Bercengkrama bersama keluarga di tambah lagi dengan anggota baru yang duduk di sebelahnya rasanya sangat sempurna.  "Rishi, dengar-dengar kamu kerja di toko bunga, ya?" tanya Jerry. Rishi langsung menjawab.  "Iya Om," "Kamu nggak kuliah?" Kini Kenaan bertanya. Rishi menatap kakeknya Aaron.  "Nggak Kek." "Loh kenapa?" tanya Kenaan kembali.  "Saya udah nggak mau nyusahin orangtua, lagian masih ada adik saya yang harus di biayai sekolahnya." Rishi bukannya cari perhatian dengan masalah keluarganya hanya saja ia memilih bicara apa adanya.  "Emang kerja orangtua kamu apa?" dan Vania bertanya. Karena takut Rishi tersinggung akhirnya Vania menambahkan. "Jangan tersinggung ya, Nenek hanya ingin tahu." hal itu membuat Rishi tersenyum.  "Ayah saya hanya guru honorer SD dan ibu saya Ibu rumah tangga."  Kinan dan Aaron hanya jadi pendengar yang baik, apalagi Aaron yang sedari tadi fokus mendengarkan pembicaraan antara keluarganya dan juga Rishi. Sedang si kembar asyik dengan ponsel di tangan masing-masing dan si bungsu serius main game di PSPnya.  "Oh, emang adik kamu kelas berapa, Rish?" Kinan ikut menimpali.  "Masih kelas 2 SMP Tante."  "Wah, cuma beda setahun di bawah si kembar dong," heboh Kinan. "Sekolah dimana?" Rishi rasanya mulai nyaman dengan keluarga ini. Sebab mereka semua ramah-ramah orangnya.  "Sekolah Cita Baktiya." semua orang terkesiap, bagaimana tidak itu sekolah si kembar juga. Berarti si kembar kakak kelasnya adiknya Rishi. Bahkan Alle dan Elle juga kaget, ternyata walaupun main ponsel namun telinga mereka mendengar baik pembicaraan antara orang dewasa ini. Beda halnya dengan Abri yang seolah cuek pada sekitar sebab fokusnya hanya pada games yang ia mainkan.  "Wah, berarti adik kelas kita ya, Kak?" Pemikiran heboh Alle yang bertanya kepada kakak kembarnya. Elle mengangguk semangat.  "Namanya siapa Kak?" tanya Elle. Rishi tersenyum.  "Namanya Arifah Deanda, panggilannya Rifa. Kelas 8 D."  Si kembar mengangguk kompak. "Nanti kita cari deh di sekolah." Rishi tersenyum kembali.  Kemudian obrolan di kuasai oleh si kembar dan si bungsu lagi, namun kadang orang tua ikut menimpali sesekali. Rishi juga kadang ikut bertanya. Berbeda dengan Aaron yang makin penasaran pada hidup gadis di sampingnya ini.  Apakah aku bisa masuk ke dalam hidupmu? Tanyanya dalam hati.  Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN