Sebut saja nama saya Neni. Sudah sepuluh tahun lebih saya bekerja sebagai seorang pembantu di keluarga Pak Hendro, seorang kepala RW yang sangat dihormati oleh warga setempat. Dan selama itu juga, saya merasakan pahit-manisnya menjadi seorang pembantu di keluarga itu, termasuk manisnya dipaksa melayani nafsu birahinya pria. Malam itu udara terasa panas, sampai-sampai saya sulit sekali untuk tidur. Baru setelah saya ganti pakaian dengan daster yang tipis dan menyalakan kipas angin, barulah saya bisa tertidur pulas. Dalam tidur saya sempat bermimpi, Pak Dedi, yang merupakan sopir pribadi keluarga Pak Hendro, datang menemui saya. Lucunya, Pak Dedi datang menemui saya dalam keadaan tanpa busana. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi (paruh baya), dan bertubuh sedikit pendek, namun beliau mas

