Cekrek!
Serkan mengambil foto Ayaz dan Sevda yang tengah terlelap dengan kepala yang saling bersandar.
"Lihatlah mereka. Sudah seperti pasangan kekasih saja!" seru Burak dengan tawa renyahnya.
"Yah, kau benar, Burak. Ayaz selalu saja menyebut Sevda gadis yang menyebalkan. Tetapi lihatlah sekarang. Dia malah memberikan bahunya pada Sevda untuk bersandar. Dan kepalanya, dengan nyamannya menumpang di kepala Sevda. Benar-benar romantis, bukan? Haha!"
Oyku, Burak, dan Serkan tertawa bersamaan, kecuali Hazal. Gadis itu memasang wajah jutek yang menunjukkan bahwa dia sama sekali tak menyukai Sevda.
"Hi, Pangeran! Bangunlah! Kita sudah sampai di Istana!" canda Serkan sembari menepuk bahu Ayaz, menyuruhnya bangun.
"Sudah selesai mimpi indahnya, Tuan Putri dan Pangeran. Sekarang bangunlah!" sahut Burak dengan tertawa.
Perlahan, kelopak mata Ayaz mulai membuka. Pun begitu dengan gadis di sampingnya. Sevda mengucek matanya.
"Ayo bangun, Tuan putri!" kata Oyku.
"Pangeran Ayaz, bangunlah. Istanamu menunggu kalian. Haha!" sahut Burak.
"Kalian… kenapa berisik sekali?" Ayaz menguap. Mencoba mengucek matanya dengan tangan kirinya.
"Oyku, apa kita sudah sampai?" Sevda mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Detik berikutnya, Ayaz dan Sevda saling berpandangan. Keduanya langsung berteriak.
"Aaaa!"
"Apa kau tadi tidur bersandar di bahuku?" tanya Ayaz dengan kesal.
"Jangan bicara omong kosong. Kau yang tidur di bahuku!" balas Sevda tak mau kalah.
"Lihatlah, sekarang Tuan putri dan pangeran sedang memperdebatkan soal bahu dan tidur. Hahaha!" canda Serkan yang disambut gelak tawa Burak dan Oyku.
"Kau memanfaatkan ketidaksadaranku untuk—"
"–tutup mulutmu, Manusia es!" selak Sevda cepat. "Kau menuduhku memanfaatkan kesadaranmu. Sekarang lihatlah, tangan siapa yang duluan menggandengku!" sambungnya bernada ketus.
Ayaz melihat lengan kanannya yang masih melingkar di lengan Sevda dengan erat. Bagaimana dia bisa tidak sadar akan hal itu?
Mata Ayaz melotot. Buru-buru menjauhkan tangannya dari Sevda, begitupun posisi duduknya. Sementara teman-temannya sibuk tertawa melihat tingkahnya tersebut.
"Cousin, kali ini kau tidak bisa mengelak. Kau duluan yang mendekati Sevda. Hahaha!" kata Serkan membuat Ayaz semakin muak.
"Maaf, Serkan. Katakan pada sepupu esmu ini, kalau aku tidak tertarik dengannya." Sevda berdiri dari duduknya dan mulai berjalan keluar kursi.
"Kau pikir aku tertarik denganmu?!" Ayaz tak terima. Seketika berdiri dan menyenggol tubuh Sevda yang langsung membuat gadis itu hendak terjatuh. Namun seketika tangan Ayaz menahannya.
"Cieee… ciee… siapa tadi yang bilang tidak tertarik?" sorak Burak mengejek Ayaz.
Ayaz buru-buru mendorong tubuh Sevda sampai pada Oyku. "Burak, diamlah. Kujahit mulutmu nanti!"
"Oh, Pangeran ternyata seorang psikopat!" Buram masih saja bercanda. Itu membuat Ayaz semakin jengkel.
"Sudah-sudah. Ayo bawa barang-barang kalian dan kita keluar!" ajak Serkan.
Mereka mulai menyeret koper masing-masing dan keluar dari kapal feri.
"Oyku, kenapa tadi kau tidak membangunkan sebelum mereka melihatku tidur di bahu Ayaz?" Sevda memasang wajah cemberut pada sahabatnya itu.
"Aku juga tidak tahu kalau kalian tidur seperti itu. Tapi, Sevda… boleh aku berkata jujur? Kalian tadi tampak sangat romantis. Sungguh!" seru Oyku semakin membuat Sevda kesal.
"Oyku! Diam atau aku sumpal mulutmu dengan ikan-ikan itu!" Sevda menunjuk pada ikan-ikan mati di bibir laut.
"Ufff… kau kalau marah sekarang seperti Ayaz. Baiklah-baiklah, aku minta. Aku tidak akan mengejekmu lagi dengan Ayaz."
"Pria batu itu memang menyebalkan. Bagaimana dia bisa menggandeng tanganku."
"Tapi ngomong-ngomong bagaimana rasanya digandeng oleh orang yang kau benci? Apakah sangat nikmat? Haha…."
"Oyku….!"
"Ngomong-ngomong, Oyku… kita tadi juga seperti itu." Burak tiba-tiba menyahut pembicaraan mereka dan berjalan berdampingan.
"Apa?"
"Iya. Kau juga tidur di bahuku," seru Burak dengan senyum ramahnya.
"Wow! Benarkah itu, Burak? Lalu apa lagi yang terjadi?" tanya Sevda penasaran, dengan nada yang seperti menggoda Oyku.
"Jadi kau juga memanfaatkanku?" Oyku berkata ketus pada Burak.
"Jangan salah paham, Oyku. Kau sendiri yang menggenggam tanganku. Lalu kau menyandarkan kepalamu di bahuku. Yah, aku menurut saja."
"Ufff… romantis sekali kalian!" decak Sevda membalas Oyku yang telah menggodanya sejak tadi.
"Sevda, jangan percaya dengannya. Burak itu hanya mengatakan omong kosong. Aku tidak mungkin seperti itu!" timpal Oyku membela diri.
"Kau sedang tertidur, makanya kau tanpa sadar melakukan itu. Hahaha… atau, kau sebenarnya memang menginginkannya?" Kedua alis Burak naik dua kali dengan sorot genit ke arah Oyku.
"Omong kosong!" Oyku mempercepat langkahnya meninggalkan mereka berdua. Namun, diam-diam dia tersenyum.
***
Sesampainya di sebuah penginapan, mereka mulai masuk ke dalam dan menyimpan kopernya di masing-masing kamar mereka. Sebelumnya Serkan sudah memesan sebuah villa untuk mereka tinggali beberapa hari ke depan.
"Bagaimana, apa kalian suka dengan tempat ini?" tanya Serkan pada teman-temannya.
"Ini indah sekali, Serkan. Dan kita bisa menyaksikan Bhosporus dari setiap jendela villa ini," decak Oyku kegirangan.
Sevda menyapu pandang interior villa tersebut yang tampak rapi membawakan gaya tradisional modern.
"Aku juga suka!" Burak memberi pendapat.
"Kita juga bisa melihat gunung di lantai atas," seru Serkan lagi. Kemudian tatapannya terpaku pada Hazal yang tampak tak suka.
"Hazal, katakan… apa kau suka?" tanya Serkan pada pacarnya itu.
"Tidakkah ada apartemen atau hotel yang jauh lebih baik dari ini? Kenapa kita harus di pulau ini, Serkan? Kenapa kita tidak melakukan penelitian di kota-kota besar yang lebih indah?" protes Hazal dengan nada sombong.
"Lihatlah, si sombong tak tahu diri itu mulai berbicara muluk-muluk!" Oyku berbisik pada Sevda.
"Oyku… nanti dia mendengarmu," balas Sevda dengan berbisik.
"Aku tidak takut dengannya!"
Serkan mendekat ke arah Hazal. "Hazal, tolonglah. Kita sudah sepakat untuk memilih pulau ini sebagai objek kita."
"Kalian kalau masih mau berdebat silakan saja. Aku mau ke atas dan melanjutkan tidurku!" kata Ayaz begitu saja dan langsung bergerak menaiki tangga.
"Dia di sini hanya ingin berhibernasi saja!" gumam Sevda dengan tatapan sinis.
***
"Cansu!!!" Sevda dan Oyku berseru serempak saat melihat wajah sabahatnya di layar laptopnya.
"Aku merindukan kalian, Girls!" balas Cansu dari seberang sana. "Bagaimana? Apa kalian sudah sampai di tempat tujuan?" tanyanya kemudian.
"Kami baru saja sampai. Dan kami tinggal satu kamar," kata Sevda.
"Bagaimana denganmu, Cansu? Apa kau sudah sampai di tempat tujuan kalian juga?" tanya Oyku.
"Kami juga baru sampai. Dan kami sedang makan siang saat ini. Lihat! Ozan seperti orang kelaparan!" Cansu memperlihatkan Ozan yang tengah asyik makan.
"Hi, kalian!" sapa Ozan di sela-sela lahapanya.
Mereka pun saling mengobrol dan bersenda gurau.
***
Malam itu rembulan bersinar terang sekali. Bertepatan pula di pulau tersebut tengah mengadakan sebuah festival. Sevda dan teman-temannya tampak menghadiri dan berbaur dengan masyarakat setempat.
Salah seorang pemandu acara mengumumkan sebuah lomba dansa. Lomba yang setiap tahunnya diadakan. Yaitu lomba dansa antar pasangan. Pasangan yang kuat berdansa sampai matahari terbit, maka dialah pemenangnya. Sebagai hadiahnya mendapatkan sebuah penghargaan dan juga uang.
Pemandu acara mengajak Serkan dan teman-temannya untuk bergabung. Awalnya mereka menolak, tetapi untuk mengisi waktu malam mereka serta sebagai bentuk antusiasme terhadap tradisi masyarakat setempat, akhirnya mereka mau.
Hazal langsung menggandeng Serkan sebagai pasangannya. Mereka bahkan langsung masuk ke arena dan mulai berdansa seperti pasangan lainnya. Tentu itu membuat hati Sevda kembali terluka.
"Sevda, jangan dipikirkan. Sebaiknya kita kembali ke Villa saja. Ayo!" ajak Oyku yang tak ingin sahabatnya terus merasakan sakit hati melihat pria idamannya berdansa dengan gadis lainnya.
Sevda mengangguk setuju. Mereka hendak berbalik, tetapi Serkan memanggilnya.
"Sevda, Oyku!" Serkan menghentikan dansanya dan mengajak Hazal untuk menemui mereka sejenak. "Kalian mau ke mana?" tanyanya kemudian.
"A… aku… aku mau kembali ke Villa?" jawab Sevda gugup.
"Kenapa?"
"Karena ikan koi ini tidak bisa berdansa!" timpal Ayaz mulai mengejek.
"Ayolah, kalian jangan kembali secepat ini. Kita harus menunjukkan pada masyarakat sini bahwa kita sangat menikmati tradisi mereka," saran Serkan. "Baiklah, begini. Untuk seru-seruan, bagaimana kalau kita berkompetisi. Salah satu di antara kita harus mendapatkan hadiahnya!"
"Itu ide yang bagus, Kawan!" seru Burak antusias. Lantas maniknya memandang ke arah Oyku dengan penuh permohonan. "Oyku, maukah kau menjadi pasanganku dalam berdansa? Kumohon… hanya malam ini saja! Ya! Ya… please!" Burak menyatukan kedua tangannya dengan mata seperti anakan anjing.
"Tentu, Burak. Temanku ini pasti dengan senang hati berdansa denganmu. Iya, kan, Oyku?" Sevda mendorong tubuh Oyku untuk lebih dekat dengan Burak.
"Sevda… kau…."
"Sudahlah, Oyku. Malam ini saja. Be my princess, oke?" Burak mengulurkan tangannya ala seorang pangeran yang menunggu Tuan putrinya.
Oyku menyemburkan napas, lantas menerima tangan tersebut.
"Kau sendiri, Sevda, kau tidak ingin ambil bagian?" tanya Serkan.
"Umm… sebaiknya aku tidak—"
"–Kenapa kau bertanya pada gadis yang tidak bisa berdansa, Serkan?" Hazal menjawab cepat. "Atau… tidak berani melawan kita karena takut kalah."
Melihat ejekan tersebut, membuat Sevda murka. "Siapa bilang? Aku bisa berdansa. Dan aku tidak akan pernah kalah dengan siapapun!" ucapnya mantap.
"Bagus. Kalau begitu, kau bisa berpasangan dengan Ayaz," kata Serkan. Pandangannya itu tertuju pada sang sepupu. "Ayaz, apa kau tidak mau mengalahkanku? Kita sudah sering melakukan kompetisi bersama, dan aku yang selalu menjadi pemenang. Apa kau tidak ingin membalasnya?" pancing Serkan pada Ayaz agar mau berdansa.
"Siapa takut! Baiklah, aku akan mengambil bagian dalam kompetisi ini. Dan ya, aku pastikan kali ini aku yang akan menjadi pemenangnya!" kata Ayaz dengan percaya diri. "Demi mengalahkanmu, aku rela jika harus berpasangan dengan ikan koi ini!" sambungnya membuat Sevda memicingkan mata ke arahnya.
"Aku juga tidak mau kalah. Demi menunjukkan bahwa aku bisa berdansa, aku rela berpasangan dengan manusia es ini!" balas Sevda percaya diri.
"Oke!" Ayaz mengulurkan tangannya pada Sevda.
Sevda memegang tangan itu tanpa ragu-ragu dengan semangat berapi.