"Bisakah kau mengesampingkan egomu dan bekerja sama denganku untuk mengalahkan mereka?" Ayaz bertanya pada Sevda, tetapi dengan pandangan berpaling ke lain arah. Seakan tak sudi melirik wajah gadis itu.
"Apa kau sedang menasihati diri sendiri, Tuan beku?" balas Sevda seadanya.
Ayaz mengerlingkan mata. "Tidak, aku sedang bicara dengan angin!" jawabnya ketus.
"Aku rasa angin tidak sudi mengobrol denganmu," balas Sevda. "Sudahlah, tidak ada gunanya kita berdebat. Lebih baik kita mulai saja dansanya!" sambungnya dengan nada malas.
"Oh, jadi kau sudah tidak sabar untuk berdansa denganku?" Ayaz berkata sembari memulai berdansa. Memegang pinggang ramping Sevda dan melakukan gerakan ke kanan dan diri.
"Omong kosong!" Sevda meletakkan kedua tangannya dengan amat terpaksa pada d**a bidang Ayaz. Mulai mengikuti irama gerakan Ayaz.
"Lihat, seberapa mahir kau berdansa, Ikan Koi!" Ayaz mengambil tangan Sevda dan memutar tubuh gadis itu dengan putaran cepat. Senyum licik terus saja mengembang di garis sudutnya.
"Ayaz, hentikan!" ucapan Sevda di sela-sela tubuhnya yang berputar.
"Kau bilang kau pandai berdansa. Harusnya, kau tahu bagaimana caranya menguasai setiap gerakannya."
"Kau menantangku, Manusia Es?!"
"Ehm. Kau bisa menyebut itu sebagai tantangan."
"Oke! Lihat saja!"
Sevda menghentikan tubuhnya. Bergerak mendekat ke arah Ayaz, dan mulai melakukan gerakan dengan benar. Ia bahkan terlihat sangat lihai. Tentu, itu membuat Ayaz mengerutkan dahi terkejut.
"Simpan rasa terkejutmu itu nanti saja. Jangan sampai ekspresi jelekmu itu membuat kita kalah!" ejek Sevda. Lantas tubuhnya menjauh, kemudian mendekap kembali pada Ayaz.
Kini tangan kanan keduanya saling berpegangan tangan. Sementara tangan kiri Ayaz memegang pinggang Sevda, dan tangan kiri Sevda memegang bahu Ayaz.
Di saat tengah asyik berdansa, mata Sevda sempat memperhatikan Serkan dan Hazal yang tampak romantis. Tentu itu membuatnya amat sedih juga emosi.
"Gadis itu!" Sevda bergumam dengan ketus, tanpa sengaja kakinya menginjak kaki Ayaz.
"Arghh! Apa kau sudah gila?! Kenapa kau menginjakku?" Ayaz menghentikan dansanya sejenak.
"Ufff… apa rasanya sakit? Tapi, maaf, kau tidak boleh berhenti atau kita akan kalah!" Segera Sevda menarik tangan Ayaz dan kembali mengajaknya berdansa. Sembari terus memperhatikan Serkan dan Hazal.
Ayaz yang menyadari hal itu, mulai menyudutkan bibirnya. Ia bahwa mendekat ke arah telinga Sevda dan berkata, "Sepertinya ada kobaran api kecemburuan di sini."
Kedua manik Sevda seketika membola. "A-apa maksudmu?" tanyanya pura-pura bodoh.
"Kenapa kau selalu memperhatikan sepupuku. Bisakah kau fokus saja denganku?" kata Ayaz dengan menata wajah Sevda untuk menatapnya.
Sejenak mereka saling berpandangan. Bahkan Sevda merasa ada hal aneh dalam dirinya saat Ayaz mengatakan kalimat tadi.
Ayaz mengerjap. Sadar akan kata-katanya. "M-maksudku… kita ini sedang berlomba. Harusnya kau fokus bukan malah melihat pasangan lainnya."
Sevda menelan ludah dan menunduk. "Ma-maaf. Aku–"
"–Sudahlah, diam! Jangan bicara, karena kalau kau sudah bicara, burung hantu bahkan akan langsung terbang ketakutan."
Sevda menepuk bahu Ayaz. "Bisa tidak sekali saja jangan mengejekku."
"Sebenarnya aku hanya tidak tahan saja. Melihat wajahmu yang super jelek itu jadi membuatku ingin berkata kasar. Hahaha!"
"Menyebalkan!"
Malam sudah mulai larut. Banyak pasangan yang sudah berhenti dan tidak sanggup lagi. Hanya tinggal tersisa Oyku dan Burak, Serkan dan Hazal, Ayaz dan Sevda, dan satu pasangan lainnya lagi.
"Burak, sudahlah. Kita sudahi saja. Kita tidak akan menang. Aku capek sekali." Oyku mengeluh, dengan nada malas bersemu ngantuk.
"Apa kau sudah bosan berdansa denganku?" tanya Burak.
"Bukan begitu, Burak–"
"–jadi artinya kau senang berdansa denganku?" canda Burak dengan menaikkan kedua alisnya.
Oyku terdiam beberapa jenak. "Burak, kau menyebalkan. Bukan itu maksudku. Ah, sudahlah. Aku tidak mau lagi. Aku capek!" Oyku menghentikan gerakan dansanya dan bergerak meninggalkan Burak.
"Oyku! Tunggu!" Burak mendesah gusar. "Para gadis memang suka sekali merajuk." Terpaksa Burak meninggalkan arena dansa dan mengejar Oyku yang mulai duduk di kursi penonton.
"Kenapa temanmu itu?" Ayaz bertanya pada Sevda, dengan sorot mata memandang ke arah Oyku.
"Mungkin dia lelah," balas Sevda dengan pandangan ke arah sahabatnya.
"Aku juga lelah sekali. Tapi, aku tidak bisa menghentikan dansa ini."
"Kenapa memangnya? Apa kau sangat menikmatinya?" Pertanyaan Sevda membuat Ayaz mengerling.
"Aku? Menikmati berdansa denganmu? Jangan sok kepedean, Ikan Koi! Aku tidak bisa meninggalkan dansa ini karena aku ingin mengalahkan Serkan. Kali ini, aku pasti bisa mendapatkan kemenanganku."
"Kemenangan pertama?" tanya Sevda dengan nada mengejek. "Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan Serkan, Manusia Es! Serkan itu selalu di atasmu. Serkan baik, pandai, pengertian, dewasa, bijaksana, tidak pernah marah, dan dia sangat tampan." Sevda bahkan tak sadar saat memuji Serkan dia mengatakan dengan tulus. Dan itu membuat Ayaz menjadi berpikir keras.
"Kenapa kau memuji sepupuku seolah dia adalah tokoh idolamu dan juga kematianmu?" tanya Ayaz membuat Sevda meneguk ludah.
"Ummm… tapi kebenarannya memang seperti itu, kok."
"Hah? Kebenaran yang mana? Serkan kekasihmu?" tanya Ayaz lagi semakin membuat Sevda kebingungan.
"Bukan begitu. Maksudku… semua sikap terpuji yang aku katakan tadi memang menggambar sosok Serkan sesungguhnya. Makanya banyak yang suka dengan dengannya. Tidak sepertimu, yang seperti Monster haus darah!"
"Kau pikir aku Drakula? Hah?"
"Bukan, lebih tepatnya… vampir!"
"Kalau aku memang vampir, aku akan menghisap darahmu—" Ayaz memotong perkataannya saat tanpa sadar kepalanya itu mendekat ke arah leher Sevda.
"Astaga, apa yang akan kau lakukan?!" Sevda menjambak rambut Ayaz dan menyingkirkan kepalanya tersebut. "Jaga batasanmu, Bodoh!"
"Aku hanya bercanda. Yah, bercanda. Siapa juga yang mau mencium lehermu. Menjijikkan!"
"Aku juga tidak sudi!"
"Hi, Cousin! Menyerahlah! Kau tidak akan bisa mengalahkanku!" Suara Serkan tiba-tiba mengganggu perbincangan mereka.
Ayaz menyudutkan senyumnya. "Tidak semudah itu, Cousin! Kau saja yang menyerah, apa kau tidak kasihan dengan Hazal. Sepertinya dia sudah ingin menemui bantalnya. Hahaha!" canda Ayaz.
Satu pasangan lagi akhirnya menyerah dan keluar dari arena dansa. Kini tertinggal Serkan Hazal, dan Ayaz Sevda.
"Serkan, aku mengantuk sekali. Kakiku juga keram. Apa kau tidak lelah?" Hazal berkata dengan nada malas dan letih.
"Hazal, tunggu setidaknya sampai Ayaz dan Sevda menyerah." Serkan mencoba membujuk.
"Aku tidak kuat lagi, Serkan. Aku bisa pingsan. Lagi pula, kompetisi macam apa ini? Kenapa kita tidak boleh istirahat sebentar dan disuruh melakukan dansa sepanjang malam?!" protes Hazal.
"Apa kau tidak suka berdansa denganku?"
"Bukan begitu, Serkan. Hanya saja aku capek. Kita bisa melakukannya di lain waktu." Hazal mulai membisikkan sesuatu di telinga Serkan. "Kita bisa melanjutkannya di kamar kalau kau mau."
Sevda yang melihatnya kedekatan mereka, langsung emosi dan tanpa sadar mencengkeram kaus Ayaz.
"Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tidak waras?" protes Ayaz tak terima.
"M-maaf!" Sevda kembali menundukkan kepalanya. Namun tak berhenti melakukan gerakan dansa.
"Hazal, tunggu sebentar ya. Aku yakin pasti Ayaz akan berhenti. Aku tahu siapa dia, dia tidak akan betah berdiri berlama-lama." Serkan mencoba membujuk Hazal.
"Kau pikir aku akan menyerah, Serkan? Tidak untuk kali ini," kata Ayaz dalam hati.
Malam semakin naik. Para penonton yang menyaksikannya mulai lelah dan mengantuk. Sebagian mereka memilih meninggalkan tempat dan kembali pulang untuk menyapa mimpinya.
"Apa kau tidak merasa mengantuk?" Sevda bertanya dengan nada malas dan mata yang menyipit.
"Kau pikir aku tidak ingin berbaring di ranjang. Asal kau tahu, guling dan bantalku sudah memanggilku sejak tadi."
"Oh, ya? Kenapa aku tidak mendengarnya?" tanya Sevda dengan melantur.
"Karena telingamu itu kemasukan badak!" jawab Ayaz sekenanya.
"Ah, Manusia beku. Sebaiknya kita sudahi saja. Aku ngantuk sekali. Lihat, tubuhnya bahkan sudah tidak bisa berdiri dengan benar."
"Ya Tuhan… baru begini saja kau sudah menyerah."
"Kalau kau tidak mengizinkanku pergi, aku akan tidur bersandar dadamu!" ancam Sevda.
"Dasar gila!" Ayaz melihat ke arah Serkan yang sepertinya juga tak mau kalah. Sementara ia melirik ke wajah Sevda yang sudah hendak terlelap.
"Baik-baiklah, kau boleh tidur di dadaku," kata Ayaz dengan nada amat terpaksa.
"Benarkah?" Tanpa sadar, dan saking ngantuknya, Sevda mulai merobohkan kepalanya di d**a Ayaz.
Sementara Ayaz memeluknya dan terus melakukan gerakan dansa ke kanan dan kiri.
"Ufff…. rasanya nyaman sekali!" kata Sevda dengan melantur. Bahkan ia tak sadar dengan hal itu. Sevda mengeratkan pelukannya pada Ayaz dan itu membuat Ayaz merasakan hal tak biasa.
Kali pertama ia dipeluk seorang gadis, membuat tubuh Ayaz merinding. Apalagi, udara malam kala itu semakin sejuk.
"Ayaz… janji kau tidak akan meninggalkanku sendirian di sini?" tanya Sevda dalam tidurnya.
"I-iya!" jawab Ayaz ragu-ragu. Perasaannya sangat berbeda dari sebelumnya. Ketenangan dan kedamaian, mampu menyatu dalam tubuhnya saat ini. Perlahan, ia mulai memejamkan mata. Merasakan pelukan hangat Sevda yang menjalar ke segala inci tubuhnya.
"Serkan, sudahlah. Aku tidak kuat lagi!" Hazal menghentikan gerakan dansanya dan menguap. "Aku mengantuk sekali!"
"Baik-baiklah. Kita berhenti saja!" Serkan terpaksa menghentikan dansanya dan meninggalkan arena dansa.
Pemandu acara mengumumkan pasangan Ayaz dan Sevda sebagai pemenangnya. Namun Ayaz dan Sevda tak sadar akan hal itu dan terus saja berpelukan dengan saling memejamkan mata. Dan tentunya masih sedikit melakukan gerakan dansa.
"Ayaz, sudahlah. Kau yang menang. Sekarang ayo kita balik ke Villa!" Suara Serkan langsung membuat Ayaz membuka mata.
"Ayaz, apa kau mendengarku?"
Ayaz melirik ke arahnya. "Kalian pergilah dulu. Aku akan menyusul dengan gadis ini nanti!" katanya.
"Ya sudah. Jangan lama-lama!"
Mereka pun akhirnya bubar, tinggallah Ayaz dan Sevda yang masih berada di tengah-tengah arena dansa.