Ayaz merenggangkan kepala Sevda dari dad@nya. Memegang pipinya dengan kedua tangannya. Menatap lekat wajah polos itu yang masih saja terlelap. Mendadak rasa benci pria itu sirna sejenak. Kini, perlakuannya mendadak lembut.
Ayaz menyugar rambut Sevda yang menghalangi wajahnya, dan menatanya pada telinga. Terus saja kedua matanya itu memandang gadis cantik di depannya. Namun, detik berikutnya kedua iris hazelnut milik gadis itu membuka demi perlahan.
"Aku di mana?" Sevda mengucek matanya. Memundurkan langkah sejenak. Melihat ke sekelilingnya yang tampak sepi. Hahya dekorasi pesta yang masih melekat. Kembali menatap pria di depan.
"Ayaz…." Kepala gadis itu terasa pusing.
"Semua orang sudah pergi. Kita yang memenangkan kompetisi ini," kata Ayaz dengan nada ramah.
"Benarkah?"
Ayaz mengangguk. "Sekarang ayo kita kembali ke Villa!" ajaknya.
Sevda mengangguk setuju. Hendak berjalan tetapi kakinya yang letih akibat berdiri semalaman membuatnya teringin jatuh.
"Hei, hati-hati!" Ayaz langsung menangkap tubuh gadis itu.
"Kaki sakit sekali. Aku tidak bisa berjalan," kata Sevda sembari mengaduh.
"Ufff… kau ini!" Tanpa aba-aba lagi, Ayaz langsung mengangkat tubuh Sevda dan membopongnya.
"Ayaz, apa yang kau lakukan?"
"Sudah diam!" Ayaz menatap wajah Sevda lekat. "Pegangan, atau kau akan jatuh nantinya!" sambungnya menyuruh.
Sevda menurut. Mengalungkan tangannya pada leher pria itu, dengan pandangan yang terus menatapnya. Sementara Ayaz mulai bergerak, melangkah menuju Villa.
Dilihatnya langit sudah sedikit terang. Itu artinya sebentar lagi fajar akan segera menyingsing.
"Apa tadi kita benar-benar berdansa sampai fajar seperti ini?" Sevda bertanya dengan setengah tidurnya.
"Aku yang berdansa, bukan kau. Kau hanya asyik tidur!" jawab Ayaz dingin.
"Kau sendiri yang mengizinkanku tidur."
Setelah perjalanan, kini sampailah mereka di Villa. Ayaz pun memasuki Villa dan menutup kembali pintunya.
"Uff.. kau berat sekali ternyata! Sekarang turunlah!" pinta Ayaz pada Sevda.
"Tidak mau! Bawa aku ke kamarku…," rengek Sevda dengan setengah sadar.
"Apa? Setelah perjalanan panjang kau masih saja menyuruhku mengotongmu naik ke lantai atas. Memangnya aku robot apa?"
"Diamlah, manusia beku! Ayo cepat!"
"Tidak!"
"Ayo!"
Mereka kini malah roboh bersamaan di sofa. Karena saking ngantuknya, akhirnya keduanya terlelap dengan saling memeluk.
***
Mentari menyongsong dari ufuk timur, menyebarkan sinarnya ke segala penjuru dunia. Silaunya menembus jendela kaca tembus pandang yang langsung membasuh tubuh Ayaz.
Perlahan, kedua mata cokelat itu membuka. Masih terasa pusing. Mengucek mata sejenak, dan melihat wajah Sevda yang terlelap di atas dadanya.
Sedikit senyum tertarik dari garis bibir pria itu. Tangannya mulai bergerak. Dengan gemetar menata rambut Sevda dan mengaitkannya pada telinga.
Detik selanjutnya Sevda mulai bereaksi. Membuka matanya lebar-lebar dan terkejut bukan main saat wajah Ayaz yang ia lihat pertama kali.
"Aaaa!" Gadis itu berteriak dan langsung menyingkir dari dekapan Ayaz.
"Diamlah, Ikan koi! Masih pagi kau sudah berteriak seperti kerasukan!" Ayaz membangunkan tubuh dengan susah payah. "Astaga, kepalaku pusing sekali!"
"Apa tadi malam kita tidur berdua di sini?" tanya Sevda dengan mengigit bibir bawahnya.
"Tidak. Kau tidur di atas genteng, dan aku di sofa!" balas Ayaz seadanya. "Ya, jelaslah. Kau yang tidak mau berjalan sendiri. Kau menyuruhku membawamu naik ke atas. Aku tidak sudi melakukan itu!"
Sevda menggaruk pelipisnya dengan ekspresi penuh sesal. "Kenapa kau tidak membangunkanku?"
"Sekarang kau sudah bangun kan? Diamlah! Aku masih mengantuk. Aku mau tidur!" Ayaz bergerak ke arah tangga dan mulai naik.
Serkan tampak menuruni tangga dan berpapasan dengan Ayaz.
"Cousin, kau baru datang?" tanyanya.
"Hm. Aku mau tidur lagi," jawab Ayaz dengan malas.
"Baiklah." Serkan kemudian membiarkan sepupunya itu naik mencapai ujung. Sementara ia melanjutkan langkah sampai pada akhirnya berpapasan dengan Sevda yang hendak naik.
"Sevda? Kau baik-baik saja?"
Sevda mengangguk. "Iya. Aku hanya lelah saja."
"Semalam kau tidak tidur?" tanya Serkan.
"Aku tidur, kok. Tidur di sofa bersama—" Sevda langsung memotong perkataannya. Menelan ludah sejenak. Ia tidak boleh jujur pada Serkan kalau ia telah tidur bersama Ayaz di sofa. "Sebenarnya aku…"
"Kau pasti masih mengantuk, kan? Kalau begitu tuntaskan tidurmu. Hari ini kau jangan ikut penelitian dulu. Kau istirahat saja, oke?" saran Serkan dengan nada penuh perhatian, serta tangan yang mengelus bahu Sevda.
Itu membuat Sevda semakin gugup. Sementara di ujung atas tangga sana, Hazal melihat kedekatan mereka dan membuatnya merasa kesal.
"Terima kasih." Sevda tersenyum pada Serkan. Lantas mulai melanjutkan langkahnya naik ke atas.
Sevda berpapasan dengan Hazal yang menyorotkan tatapan kesal terhadapnya. Namun Sevda tak ambil pusing dan segera menuju kamarnya.
***
Setelah sibuk melakukan penelitian, Serkan dan lainnya menikmati suasana dengan berjemur di pantai. Saat itu Sevda membaringkan tubuh di kursi pantai bersebelahan dengan Sevda. Sementara Serkan sibuk bercanda dengan Hazal.
"Lihatlah, ular itu suka sekali menempel pada Serkan." Oyku berkata sinis sembari melirik ke arah Hazal.
"Oyku… aku rasa Hazal menyukai Serkan." Sevda berkata dengan nada sedih. "Dan Serkan, dia mungkin juga tertarik pada Hazal."
"Sevda… jangan berkata seperti itu."
"Tapi lihatlah kedekatan mereka. Mereka seperti pasangan kekasih. Atau jangan-jangan mereka—"
"–Kenapa kalian berbisik-bisik?" Ayaz menyahut dari samping Sevda. Membenarkan posisi kaca mata hitamnya. "Kalian sedang membicarakanku?"
Sevda langsung tertawa mengejek. "Lihatlah, Oyku… betapa songongnya pria ini. Seperti tidak ada hal lain saja sehingga harus dia yang jadi bahan pembicaraan."
"Kau menuduh kami tanpa alasan, Ayaz. Kami tidak sedang membicarakanmu." Oyku menyahut.
"Kau mau berenang?" Suara Serkan terdengar tinggi, membuat mereka beralih pandang ke arahnya.
Serkan berdiri dari samping Hazal.
Hazal mengangguk dengan tersenyum. Tangannya mengulur ke arah Serkan, seolah memintanya untuk dipegang dan dibantu berdiri.
Serkan menggenggam tangan Hazal dan membantunya berdiri. Itu membuat hati Sevda serasa digigit semut.
"Kalian tidak mau berenang?" tanya Serkan pada mereka yang masih asyik berbaring.
"Tentu! Kita harus merayakan kemenanganku, bukan?" Ayaz berdiri. Bergerak ke arah Serkan. "Akhirnya aku bisa mengalahkanmu, Cousin."
Serkan tertawa renyah. "Itu terjadi karena Sevda. Aku lihat dia tadi malem berdansa dengan sangat lihai. Kau hanya mengikuti gerakannya saja."
Sevda tersenyum tipis saat mendengar Serkan memujinya. Sementara Ayaz mengerling dengan menyudutkan senyumnya.
"Ayolah, Cousin. Apa kau bercanda, gadis itu bahkan tidak pandai berdansa. Entah sudah berapa kali dia menginjak kakiku," ejek Ayaz ke arah Sevda.
Sevda tak terima dan langsung membangunkan tubuhnya. Bergerak arah Ayaz, siap untuk membela diri. "Kau sendiri yang tidak bisa berdansa dengan benar!"
"Oh ya? Lalu siapa yang mengantuk dan tidur bersandar dadaku?"
Sevda membisu seketika. Pandangannya menunduk malu.
Burak bangkit dan ikut menimbrung. "Sudah-sudah… Pangeran dan Tuan Putri, sampai kapan kalian akan berdebat? Lebih baik kita berenang saja. Lihatlah air lautnya, di cuaca yang cerah seperti ini, gelombang itu sudah memanggilku kita!" seru Burak. Kembali menurunkan pandangannya, menatap ke arah Oyku yang masih asyik bersantai.
"Oyku, kau tidak ingin berenang bersamaku?" tanyanya pada gadis itu.
Namun Oyku tak juga menjawab, dan memilih tak acuh. Tentu itu membuat semuanya tergelak.
"Baiklah kalau kau tidak mau." Burak menyemburkan napas pasrah.
"Sevda, kau tidak ikut berenang?" Serkan bertanya pada Sevda.
Gadis itu berpikir untuk beberapa jenak. Menolak tawaran Serkan adalah sesuatu kebodohan. Namun tawaran tersebut merupakan hal yang paling ditakuti olehnya. Yah, Sevda sangat alergi dengan air yang terlalu banyak. Tubuhnya akan merinding jika berada di dalam air yang bervolume besar. Terlebih, ia tidak bisa berenang.
"Umm… aku di sini saja," jawab Sevda ragu.
"Bilang saja kau tidak bisa berenang!" timpal Ayaz yang masih saja mengejek.
Sevda memicingkan mata tajam ke arahnya.
Serkan tertawa. "Ya sudah. Ayo, Burak, Ayaz, kita berenang!" Serkan menggandeng tangan Hazal dan berjalan melewati Sevda.
Sevda melihatnya dengan rasa kekecewaan. Sementara Ayaz yang sedari memperhatikan Sevda, merasa ada sesuatu yang salah.
"Hei, apa yang kau lihat!" Ayaz berjalan membuntuti Serkan dan dengan sengaja menyenggol Sevda.
Tangan Sevda mengepal hendak meninju, tetapi urung dan memilih berjalan ke arah Oyku.
Sementara Serkan dan yang lainnya mulai memasuki bibir pantai. Mereka menyebur bersamaan.
Sevda sedari tadi memperhatikannya dengan candu. Apalagi saat menyaksikan Serkan keluar dari air dengan tubuh telanjang d**a yang basah kuyup. Tampak begitu seksi. "Lihatlah… Oyku. Serkan itu sempurna banget, kan? Baik, tampan, berwibawa, karismatik, semuanya pokoknya. Siapa yang akan beruntung mendapatkannya?" kata Sevda dengan pandangan terfokus pada Serkan di laut sana.
"Kau!" sahut Oyku, membuat Sevda menoleh sejenak ke arahnya. "Kau yang akan beruntung dan mendapatkannya."
"Jangan membuatku teringin terbang, Oyku!" Kembali Sevda memperhatikan Serkan, dengan senyuman yang mengembang indah.
"Lihatlah, kau melupakan satu makhluk tampan lagi!" seru Oyku menunjuk ke arah Ayaz.
Sevda menyelidik. Memandang ke arah Ayaz yang sibuk mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Butiran kristal air yang menempel di tubuh kekarnya tampak bersinar saat sinar mentari menerpanya. Sejenak, membuat Sevda terpaku penuh kagum.
"Yah, dia memang tampan." Tanpa sengaja kalimat tersebut meluncur begitu saja mulut Sevda.
"Apa? Apa aku tidak salah dengar?" Oyku bertanya dengan mengerutkan dahinya.
Sevda langsung tersadar. "Tidak. Aku tidak bilang apa-apa."
"Sevda, baru saja kau bilang kalau Ayaz itu tampan. Telingaku masih waras!"
"Ayolah, Oyku. Aku hanya membual tadi!"
"Aku rasa sepertinya ada yang diam-diam mengagumi musuhnya. Apa ini karena pesta dansa tadi malam?" Oyku bertanya dengan kedua mata yang berkedip-kedip.
"Oyku… diamlah. Kau menuduh tanpa alasan!"
"Jangan sampai pesona dan sikap dingin Ayaz membuatmu ikutan beku, Sevda."
"Maksudmu?"
"Maksudku… jangan sampai kau ikut tertarik dengannya."
"Siapa juga yang tertarik dengannya!" Sevda memalingkan wajahnya kesal. "Lupakan soal manusia es itu, sekarang lihat pangeranmu di sana!" Sevda menunjuk pada Burak.
"Apa kau yakin tidak menyukai Burak?"
"Sevda, kau mengalihkan pembicaraan." Oyku mendadak malu-malu.
"Oh sepertinya ada yang malu-malu," canda Sevda. "Menurutku Burak sangat cocok denganmu. Kau jangan menyia-nyiakannya. Maksudku jangan sampai kau menyesal saat Burak nanti berpaling pada gadis lain."
Oyku terdiam mendengar nasihat sahabatnya tersebut. Sementara matanya asyik memandangi sosok Burak di bibir pantai sana.
"Menurutmu aku harus menerimanya?" tanyanya pada Sevda.
"Kau yang bisa memutuskan apa yang terbaik untuk hatimu, Oyku!" jelas Sevda mantap. Lantas ia kembali fokus memperhatikan Serkan.
"Sevda, ayo ke sana!" ajak Oyku.
"Tidak, ah. Kau kan tahu aku tidak bisa berenang. Dan aku takut berada di air yang banyak."
"Sevda, kita tidak akan menyebur. Kita hanya akan bermain di pinggiran pantai saja. Kita bisa melihat hewan-hewan kecil seperti keong dan bintang laut di sana. Dan ya, kau bisa melihat Serkan dengan lebih dekat. Haha!"
"Kau ini." Sevda ikut tertawa. "Baiklah. Ayo!"
Keduanya kini bergerak ke bibir pantai. Merasakan deburan ombak dan melihat hewan-hewan kecil yang hendak kembali ke laut. Bahkan Sevda juga diam-diam memperhatikan Serkan.
Di seberang sana, Hazal menyadari akan hal itu. Ia tahu bahwa Sevda sedang memperhatikan kekasihnya. Tentu itu membuatnya kesal. Segera ia keluar dari air dan berjalan ke arah Sevda.
"Apa kau takut berenang?" tanya Hazal dengan suara mengejek. "Tentu saja, orang sepertimu mana bisa berenang. Bisanya hanya sibuk memperhatikan pria-pria tampan!" sindirnya lagi dengan suara ketus.
"Apa kau sedang mengejek kami, Hazal?!" Oyku sedikit berteriak padanya.
"Tidak. Tapi kalau kalian merasa hal itu, ya itu bukan salahku!"
"Hazal, jika kau kesini hanya ingin mengusik ketenangan kami. Sebaiknya menjauhlah!" ancam Sevda.
Hazal tertawa mengejek. Lantas bergerak lebih dekat ke arah Sevda dan berkata ketus padanya. "Berhentilah memperhatikan Serkan. Kau pikir kau bisa membuat Serkan jatuh hati padamu? Dasar b***h!"
Sevda menelan ludah emosi. "Kau menyebutku b***h?! Berani sekali kau!"
"Shut up! Jangan berteriak padaku!" Hazal mendorong tubuh Sevda hingga terjungkal.
Tubuh Sevda menjadi basah. Namun ia langsung bangkit. Berbalik mendorong Hazal.
"Jangan coba-coba mengusikku!" kata Sevda ketus lantas mengajak Oyku beranjak.
Namun Hazal kembali bangkit dan menarik tangan Sevda. Membawanya ke laut yang lebih dalam lagi dan mendorongnya.
Sevda yang tidak bisa berenang hanya melambai-lambai dan mencoba mengambil napas.
"Kau bilang kau bisa berenang. Ayo berenanglah!" ejek Hazal.
"Hazal kau…." Setiap kali Sevda teringin keluar dari air, Hazal selalu menahan tangannya.
Serkan dan lainnya melihat keributan tersebut. Segera menghampiri.
"Hazal, apa yang terjadi?"
"Tidak ada, Serkan. Aku hanya berenang dengan Sevda. Benarkan, Sevda?" Dengan liciknya Hazal tersenyum.
Sementara Sevda yang tidak bisa bicara dan sibuk mengambil napas, membuat tubuhnya merinding.
Ayaz yang menyadari hal itu langsung bergerak ke arah Sevda dan membantunya keluar dari laut.
"Hazal, apa kau sudah gila!" kata Ayaz sembari membawa tubuh Sevda ke tepian.
"Astaga!" Serkan segera bergerak ke arah kursi-kursi santai dan mengambil handuk.
"Sevda, kau tidak apa-apa?" Oyku bertanya pada Sevda yang menggigil kedinginan.
Serkan kembali membawa handuk. Hendak memberikannya pada Sevda tetapi matanya kembali tertuju pada Hazal yang baru keluar dari air. Serkan memilih berjalan ke arah Hazal melewati Sevda yang mematung.
"Kau kedinginan?" Serkan mengaitkan handuk tersebut pada Hazal dan menuntunnya menuju kursi-kursi.
Sementara Sevda memerhatikannya dengan perasaan yang amat terluka. Bahkan, bulir bening sempat mengalir pelan dari sudut matanya.
Oyku yang di sampingnya mengelus bahu Sevda menenangkan. Sementara Ayaz yang menyadari semua itu mulai berpikir.
"Apakah gadis ini menyukai Serkan?"