"Cansu, kau tidak akan percaya apa yang telah terjadi tadi!" Oyku berseru dengan wajah kesal pada layar ponselnya yang menampilkan wajah sahabatnya.
"Memangnya apa yang terjadi? Ayo cepat katakan," tanya Cansu penasaran.
"Hazal. Si ular itu kembali berulah. Kau tahu, dia berdebat dengan Sevda dan membuat teman kita tercebur ke laut. Kau tahu kan, Sevda sangat ketakutan kalau di dalam banyak air."
"Apa?!" Suara Cansu mengencang tanda naik pitam. "Sevda tidak apa-apa, kan?"
"Dia tidak apa-apa sekarang. Untungnya Ayaz menolongnya tepat waktu."
"Sebentar-sebentar, Ayaz menolongnya?" Terdengar nada tak percaya dari suara Cansu.
Oyku mengangguk mantap. "Iya, aku bahkan tak menyangka. Tapi satu hal yang aku tahu, sebenarnya Ayaz itu orangnya baik. Yah, hanya saja dia tidak suka bergaul dan orang-orang menganggapnya dingin dan sombong."
"Lalu bagaimana dengan Serkan? Apa dia juga menolong Sevda?" Kembali Cansu bertanya.
Tampak wajah lesu penuh kekecewaan dalam raut Oyku. "Aku sangat kecewa dengan Serkan. Kau tahu, dia malah memberikan handuk pada Si ular Hazal itu daripada Sevda."
"Yang benar saja! Keterlaluan sekali dia!"
"Tapi kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkannya, Cansu. Kita semua tahu kalau Serkan memang kekasihnya Hazal. Hanya saja Sevda yang belum tahu."
"Dan jangan sampai Sevda mengetahuinya. Rencana kita mendekatkannya dengan Serkan bisa gagal."
"Yah, kau benar. Pokoknya jangan sampai Sevda mengetahuinya!" ujar Oyku mantap.
"Mengetahui apa?" Tiba-tiba suara Sevda terdengar dari balik pintu kamar mandi.
Tentu itu langsung membaut Oyku melotot dan memutar kepalanya ke belakang. Menatap Sevda yang selesai membersihkan diri.
"S-sevda kau—"
"-Cansu!" Wajah Sevda berseri saat melihat penampakan Cansu di layar ponsel Oyku. Gadis itu mendekat, dan mengambil alih ponsel Oyku.
"Hai, Sevda!" Cansu mencoba menyapanya.
"Hi, apa yang kalian bicarakan. Dan kenapa aku tidak boleh tahu?" tanya Sevda membuat Cansu sekaligus Oyku menegang.
"Ah, tidak apa-apa, Sevda!" Oyku menyentuh kedua bahu Sevda. "Sebenarnya kami merencanakan pesta ulang tahunmu yang sebentar lagi."
"Benarkah? Tapi itu masih dua Minggu lagi," kata Sevda.
"Lalu apa salahnya kita merencanakannya sekarang. Lagi pula, seminggu lagi kita bertiga sudah bakal bertemu lagi."
"Iya, Sevda!" Cansu dari seberang sana menimpali ucapan Oyku.
"Baiklah. Kalau ini kejutan, maka aku tidak akan bertanya-tanya. Hehe." Kembali Sevda tersenyum lebar.
Oyku menghela napas kelegaan. Setidaknya mereka bisa menyembunyikan kebenaran tentang status hubungan Serkan dari Sevda. Tapi untuk berapa lama?
"Cansu, kau tahu. Tadi malam ada yang menang sebagai pasangan dansa nomor satu!" Oyku berseru pada Cansu, mencoba mencairkan suasana kembali.
"Oh, ya? Siapa?" tanya Cansu antusias.
"Tentu saja tuan putri kita. Sevda!" decak Oyku.
"Oyku… kau berlebihan." Wajah Sevda memerah jambu.
"Sahabat kita memang yang terbaik! Oh iya, siapa yang menjadi pasanganmu? Serkan?" tanya Cansu lagi.
"Andai itu terjadi," balas Oyku. "Sayangnya… Ayaz yang menjadi pasangan Sevda."
Cansu tertawa tak percaya. "Yang benar saja? Pria batu itu bisa berdansa? Aku kira dia hanya bisa cosplay jadi batu dan es. Hahaha!"
Sevda dan Oyku ikut tertawa mendengar candaan Cansu.
"Aku bahkan tidak percaya dia berdansa," sahut Sevda. "Kalian tahu, aku menginjak kakinya entah sudah berapa kali. Hahaha!" Sevda tertawa renyah menceritakan momen berdansa bersama Ayaz tadi malam pada kedua sahabatnya.
Diam-diam, Ayaz mendengarkannya dari balik pintu luar kamar. Itu membuat Ayaz kesal sekaligus tersenyum saat mengingatkannya.
"Ada apa?" Tiba-tiba Serkan datang mengagetkannya.
Ayaz langsung bersikap biasa saja. "Tidak ada apa-apa."
"Kenapa kau berada di sini? Maksudku, di depan kamar Sevda dan Oyku."
"Umm… tadi… tadi aku hanya lewat saja. Yah, lewat." Ayaz memasang senyuman getir. "Oke, aku ke kamar dulu, ya!" Ayaz bergerak maju, menepuk bahu Serkan dan melanjutkan langkah menuju kamarnya.
Serkan memperhatikannya senyuman. "Kau bilang apa kemarin, Cousin? Kau tidak akan tertarik dengan gadis manapun? Tapi aku yakin kau sedang tertarik dengan seseorang."
***
Sevda tampak berjalan membawa laptopnya menuju taman yang berada di lingkungan Villa. Terdapat pula kolam renang di dalamnya. Sevda berjalan tanpa memperhatikan sekitar dan langsung duduk mengerjakan progres penelitiannya.
Tanpa disadari, Ayaz sedari tadi berada di kolam renang tengah merilekskan badan. Saat pria itu menoleh, terkejut melihat Sevda yang duduk di tempat santai.
"Sejak kapan Ikan Koi itu berada di sini?" gumam Ayaz.
"Hei!" panggil Ayaz sedikit berteriak membuat Sevda terkaget.
Sevda menoleh ke arah kolam renang. Melihat Ayaz dengan tatapan geram. "Astaga, kenapa ada manusia es di sana. Kenapa aku tidak menyadarinya."
"Hei, apa kau tidak dengar?!" teriak Ayaz lagi.
Sevda melirik ke kanan dan kiri. Memastikan orang lain di sekitarnya. Lalu kembali terfokus pada Ayaz. "Apa kau memanggilku?"
"Siapa lagi? Hanya ada kau ikan koi, di sini!" timpal Ayaz.
Sevda memutar mata bosan. Memilih tak acuh, dan kembali fokus pada laptopnya.
"Hei, aku memanggilmu, Bodoh!" Sepertinya Ayaz tak mau menyerah.
"Ya, Tuhan!" Sevda mulai kesal. "Kenapa kau berteriak-teriak?"
"Kemarilah!"
"Aku tidak mau!"
"Kemari atau aku akan terus berteriak padamu!"
"Astaga, pria ini!" Sevda mendirikan tubuh. Berjalan malas ke arah Ayaz. "Ada apa?" tanyanya dengan melipat tangannya di perut dan dengan pandangan ke atas—bersikap angkuh.
"Bisakah kau mengambilkan minumanku di sana?" Ayaz menunjuk ke arah meja yang terdapat tiga minuman dalam gelas.
Sevda menyembuhkan napas pasrah. Segera ia berjalan mendekati meja. Mengambil segelas jus jeruk dan kembali ke kolam renang.
"Ini!" Tanpa menoleh ke arah Ayaz yang tengah telanjang dad@, Sevda menyodorkan minuman tersebut dengan kesal.
"Apa ini jeruk? Ini bukan milikku!" kata Ayaz.
"Lalu yang mana? Air putih?"
"Yah, sepertinya air putih lebih segar," ucap Ayaz. "Ayo cepat ambilkan!"
"Kau benar-benar menyebalkan!" Sevda menaruh gelas berisi jus jeruk itu di pinggir kolam dan berniat mengambil air putih.
"Hei, kenapa kau meninggalkannya di sini. Bawa lagi ke sana!" perintah Ayaz.
"Aku bersumpah akan membunuhmu!" gumam Sevda dengan nada emosi.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak!" Dengan kesal Sevda segera beranjak.
Sementara Ayaz tertawa diam-diam.
Sevda menaruh kembali jus jeruk di atas meja dan mengambil air putih untuk dibawa pada Ayaz.
"Ini!"
"Umm… sepertinya, aku berubah pikiran. Aku ingin jus jambu saja yang di sana!"
"What?! Are you kidding me? Kau sendiri tadi yang meminta air putih." Sevda benar-benar geram.
"Yah, tapi aku berubah pikiran," jawab Ayaz begitu saja.
"Aku juga berubah pikiran. Aku tidak mau mengambilkannya!"
"Kau harus mengambilkan untukku!" paksa Ayaz. "Apa kau lupa, kemarin aku telah menolongmu saat kau hendak meninggal di laut!"
"Apa? Meninggal?!" Kedua mata Sevda membola.
"Yah, kalau aku tidak segera menolongmu, mungkin kau sudah terbang ke langit ke tujuh bertemu para malaikat."
"Kau benar-benar menyebalkan."
"Ayo cepat ambilkan jus jambu itu!" Ayaz tersenyum dengan penuh kelicikan.
Terpaksa Sevd menurut. Bergerak cepat mengambil jus jambu dan menyerahkannya pada Ayaz. Namun sepertinya Ayaz sengaja mengerjainya sejak tadi.
"Kau lama sekali. Aku jadi kehilangan selera untuk minum jus jambu. Ummm… begini saja, bagaimana kalau kau tambah jus jambu ini dengan sedikit jus jeruk. Mungkin rasanya akan nikmat."
"Kalau kau manusia beneran kau tidak akan melakukan itu!" Dengan kesal Sevda meninggalkan jus jambu di sana dan bergerak mengambil jus jeruk di meja.
"Hei, kenapa kau meninggalkannya di sini?"
Sevda menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah Ayaz dan tersenyum sumbang. "Kau pikir kau bisa membodohiku?"
Kembali Sevda menuju meja dan mengambil jus jeruk untuk dibawa ke arah Ayaz. "Ini yang terakhir kalinya kau menyuruhku!"
"Ayo tuangkan sedikit jus jeruk itu ke gelas jus jambu!" pinta Ayaz dengan tak tahu malu.
"Apa kau tidak punya tangan? Dasar pria manja! Tuang sendiri!"
"Ayolah, hanya kali ini saja," bujuk Ayaz dengan menahan tawa sedari tadi.
Sevda menarik napas panjang. Tersenyum getir lantas menuangkan sedikit jus jeruk pada gelas jus jambu. "Ini, minumlah! Siapa tahu otakmu akan semakin gila!"
Ayaz menerima gelas tersebut dan meminum sedikit. Lantas menyemprotkannya hingga mengenai Sevda.
"Apa ini? Rasanya pahit seperti dirimu!"
Mulut Sevda menganga dengan tingkah laku pria di depannya. Dengan cepat ia meraih gelas di tangan Ayaz, lalu mencampurkan semua jus jeruk pada gelas jus jambu tersebut. "Kau ingin aku mencampurkannya, kan? Sekarang minum semua ini!" Dengan kesal Sevda mengguyurkan segelas jus tersebut pada kepala Ayaz.
Tentu itu membuat Ayaz meradang.
"Apa yang kau lakukan?"
"Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak tadi!"
"Kau!" Ayaz menarik tangan Sevda dengan kencang hingga membuat tubuh gadis itu tercebur ke kolam renang.
"Aaaa!!!" Sevda berteriak. Mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang berada di kedalaman air. Namun napasnya serupa terpenggal dan tubuhnya merinding.
Ayaz baru sadar kalau Sevda tak bisa berenang. Segera ia bergerak cepat meraih tubuh Sevda yang hendak tenggelam. Memeluknya erat dan membawanya menuju permukaan.
"Sevda! Sevda! Tenanglah. Aku tidak akan membiarkanmu kenapa-kenapa." Ayaz memegang pipi Sevda dengan kedua tangannya.
Sevda yang alergi kedalaman air, mulai pusing dan matanya mulai menutup.
"Sevda? Sevda?" Ayaz memeluk tubuh Sevda, merangkulnya dan membawanya ke tepian kolam renang.
Ia segera mengeluarkan tubuh Sevda dari kolam renang dan membaringkannya di tepian. Namun Sevda masih belum juga sadar. Ayaz mulai panik. Ia mencoba menekan dad@nya agar air keluar dari mulutnya. Namun hal itu gagal. Ayaz berpikir hendak memberikan napas buatan pada gadis itu.
Dengan penuh keraguan, Ayaz menciumnya dan memberikan napas buatan. Sesaat kemudian, Sevda terbatuk dan mulai sadar. Ayaz merasa sangat lega dan tersenyum gembira.
Sementara dari balik pintu sana, Hazal melihat mereka sejak tadi dengan tatapan sinis.