"Sevda, bagaimana keadaanmu?" Oyku bertanya pada sahabatnya yang terbaring di atas spring bed.
"Sekarang aku lebih baik," kata Sevda. Kemudian maniknya menyapu pandang teman-temannya yang berdiri menatapnya prihatin. Namun pandangan gadis itu langsung berpaling saat melihat wajah Ayaz. Pasalnya, pria itu yang telah membuat keadaannya menjadi terbaring di atas ranjang seperti ini.
Serkan maju selangkah. Menyentuh tangan Sevda, membuat rasa sengatan cinta dalam hati Sevda kembali bergejolak.
"Sevda, maafkan sepupuku, ya! Kau istirahatlah yang cukup. Maaf, kami harus pergi karena harus mengerjakan penelitian," kata Serkan.
"Aku akan di sini menemanimu!" sahut Oyku pada Sevda.
Sevda menyentuh lengan sahabatnya itu dan berkata, "Oyku, kau pergilah bersama yang lainnya. Aku di sini sendiri tidak apa-apa." Senyuman ramah sebagai pelengkap perkataan gadis itu.
"Tapi, Sevda… aku tidak bisa meninggalkamu sendirian di sini."
"Oyku benar." Serkan kembali menyahut dengan posisi tangan kanan yang meremas janggut, sementara tangan kiri dilipat diperut. "Umm… begini saja, bagaimana kalau Ayaz yang akan menemanimu di sini?" imbuhnya meminta pendapat Sevda.
"Apa? Aku?" Ayaz tampak tak setuju.
"Kau kan tadi bilang padaku kalau kau tidak mau ikut penelitian. Dan sebagai hukumanmu karena telah membuat keadaan Sevda seperti ini, maka kau harus menjaga Sevda sampai kami kembali nanti. Kau tidak boleh menyakitinya. Dan kau harus menuruti semua permintaannya. Entah itu mengambilkan minum atau yang lainnya."
"Tapi, Cousin—" Ayaz hendak protes tetapi Serkan langsung memotongnya.
"–Ayaz, kau harus menuruti perintahku, oke? Kalau tidak, aku tidak akan membantumu mengerjakan laporan penelitian. Terserah kau pilih mana, kau tidak lulus tahun ini dan mengulang sendirian, atau menuruti perintahku?"
Ayaz menyemburkan napas kesal. "Ini tidak adil, Cousin!"
"Apanya yang tidak adil? Aku tidak menyuruhmu mencebur ke laut atau menjatuhkan diri ke jurang. Aku hanya memintamu untuk membayar kesalahanmu dengan menjaga Sevda seharian. Dan itu sebagai tanggung jawabmu karena kau telah membuat keadaannya seperti ini." Serkan mendekat ke arah Ayaz dan menyentuh kedua bahunya. "Kau sudah dewasa, Ayaz. Kau harus punya tanggung jawab. Kau tidak bisa terus mengandalkanku."
Sevda dan yang lainnya merasa terenyuh saat mendengar perkataan bijak Serkan, sementara Ayaz hanya memutar mata bosan.
"Ayaz, apa kau mengerti apa yang aku katakan?"
"Hufft… baiklah-baiklah. Pergilah!"
Serkan tersenyum sembari menepuk bahu Ayaz. "Nah, gitu dong!" Kembali manik Serkan menatap Sevda. "Sevda, kalau dia mengacau lagi padamu, cepat adukan ke aku. Oke?"
Sevda tersenyum puas. Bahkan dalam hatinya kembali mengagumi sosok Serkan.
"Baiklah, kita akan berangkat sekarang!" ajak Serkan pada yang lainnya. "Ayaz, jaga Sevda baik-baik!" Serkan menepuk bahu Ayaz dan mulai berjalan keluar.
"Sevda, aku pergi dulu ya! Kau tenang saja, aku akan membantumu mengerjakan penelitian hari ini. Oke?" Oyku melakukan cipika-cipiki dengan Sevda. "Cepat sembuh, ya!" sambungnya lagi sebelum akhirnya berdiri dan beranjak membuntuti Serkan dan lainnya.
"Serkan, aku rasa kau keterlaluan menghukum sepupumu." Hazal berbicara sepanjang perjalanan menuruni tangga. "Maksudku, tidak seharusnya kau menyuruh Ayaz menjaga Sevda seharian. Lagipula Sevda itu bukan anak-anak. Aku yakin dia bisa menjaga diri sendiri."
"Hazal, kalau aku membiarkan Ayaz dan tak menghukumnya, sama saja aku membenarkan perbuatannya itu. Dia telah membuat Sevda jatuh sakit karena menceburkannya di kolam renang," kata Serkan.
"Kenapa kau sangat perhatian dengan gadis itu, Serkan?" Hazal mulai kesal.
"Bukan begitu, Hazal. Kenapa kau mempersalahkan hal ini? Sevda juga teman kita, kan?" Serkan melingkarkan tangannya pada pinggang Hazal, bermaksud menenangkan. "Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan Ayaz. Aku tahu apa yang harus aku lakukan demi kebaikannya."
"Terserah kau saja!" Hazal menyemburkan napas pasrah.
"Gadis itu memang menyebalkan. Ingin sekali aku mencabik-cabik mulutnya!" Oyku bergumam sinis di belakang Hazal, yang sedari tadi mendengar perkataan Hazal tentang Sevda.
"Oyku… jangan kencang-kencang." Burak berbisik tepat di telinganya.
"Biar saja, biar si ular itu tahu kalau aku–"
"–Apa kalian mengatakan sesuatu?" Tiba-tiba Hazal menoleh ke belakang, membuat Oyku meneguk saliva dengan mata membola.
"T-tidak… kami hanya berbicara berdua. Iya, kan, Burak?" Oyku mencubit pinggang Burak saat pria itu lama memberinya respon.
"I-iya. Kami membicarakan tentang hubungan kami. Hehehe," kata Burak semakin membuat Oyku geram.
Hazal tak acuh dan kembali menatap ke depan, fokus pada jalannya. Sementara Burak diam-diam menertawakan ekspresi Oyku yang ketakutan tadi.
***
"Uff… menyebalkan! Kenapa aku terjebak seperti ini!" Ayaz mengepalkan tangannya pada kaca jendela kamar di depannya, saat melihat kepergian teman-temannya dari atas sana.
"Hei, kau!" Sevda tampak memanggilnya dari atas spring bed.
Ayaz menoleh. Menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk. "Kau memanggilku?"
"Siapa lagi yang ada di sini selain aku dan kau? Itupun kalau kau merasa sebagai manusia," balas Sevda seadanya.
Ayaz mengerling. "Kenapa kau memanggilku?" tanyanya dingin.
"Bisakah kau mengatur pencahayaan jendela itu? Maksudku, aku tidak suka panas. Bisa kau tutup sedikit gordennya?" pinta Sevda dengan nada penuntut.
"Yang benar saja, ini masih pagi." Ayaz menarik napas. Mengingat perkataan sepupunya tadi bahwa ia harus menuruti semua permintaan Sevda. "Baiklah-baiklah!" gumamnya dengan nada ketus.
Ayaz mulai menata gorden agar sinar mentari tak menyilau kamar Sevda.
"Sudah!"
"Umm… aku rasa kurang terang sedikit. Coba kau geser gordennya ke kiri!" perintah Sevda lagi.
Ayaz menurut saja. "Begini?"
"Astaga, itu kebanyakan. Sedikit saja?"
"Begini, sudah?"
"Umm… sepertinya rasanya terlalu pengap. Coba buka lagi."
Ayaz tersenyum getir dengan nada penuh kekesalan. "Nih!" Ayaz membuka semua tirainya."
"Ufff silau sekali. Aku ingin ruangan ini tetap terang dan tidak pengap dan juga tidak silau. Apa kau bisa melakukannya?"
"Gampang sekali, Nona!" Ayaz menutup semua kordennya. Lantas bergerak ke arah sakelar lampu. "Kau tinggal menyalakan lampu. Lalu kau nyalakan AC -nya!" Ayaz menekan remot kontrol pada AC. "Selesai!"
"Astaga, kau ingin membunuhku?"
"Itu yang ingin aku lakukan sejak dulu," gumam Ayaz. Matanya kini kembali menatap ke arah Sevda dengan senyuman yang sumbang.
"Aku tidak bisa berada di ruangan ber-AC. Demamku bisa naik. Cepat matikan Ac-nya!" perintah Sevda.
Dengan amat terpaksa Ayaz menurut. "Sudah!"
"Lampunya juga!"
"Bukannya kau tadi yang minta ruangan ini terang?"
"Tapi ini sudah pagi. Kita bisa memanfaatkan cahaya alam. Kau hanya menghambur-hamburkan listrik saja."
"Ya Tuhan beri aku kesabaran," gerutu Ayaz sembari mematikan lampunya.
"Sekarang buka tirai jendelanya. Aku ingin melihat pemandangan luar!"
"Aku juga bisa menghancurkan jendela ini lalu melemparmu keluar agar kau bisa menikmatinya dengan leluasa!" kata Ayaz semakin geram.
"Kau terlalu banyak bicara! Ayo cepat buka gordennya!" gertak Sevda menahan tawa.
Ayaz bergerak ke arah jendela dan menyingkap gorden tersebut dengan sangat keras, hingga terputus dari kaitnya.
"Astaga, apa yang kau lakukan? Kau merusak fasilitas villa ini!"
"Ini lebih baik!" kata Ayaz ketus.
"Kau benar-benar tidak waras! Bagaimana kalau ada yang mengintip aku dan Oyku nanti? Ayo cepat perbaiki!" tuntut Sevda.
Dengan pasrah Ayaz memperbaiki gorden tersebut. Setelah berhasil, ia kembali menatap Sevda yang merenung. Ayaz bergerak menghampirinya.
"Um… dengar, soal kemarin… aku meminta maaf. Aku tidak sengaja melakukan itu," katanya dengan kepala berpaling ke lain arah.
"Apa apa? Aku tidak dengar. Coba kau katakan sekali lagi!" goda Sevda pada pria itu. Karena suatu hal langka jika seorang Ayaz Navruz meminta maaf pada orang lain.
"Aku rasa telingamu itu kemasukan gajah!" Ayaz menyemburkan napas gusar. "Aku minta maaf. Kau dengar? Haruskah aku memakai speaker dan berteriak di telingamu itu?"
Sevda memutar mata bosan.
"Jadi…?"
"Jadi apa?" Sevda mengedikkan kedua bahunya.
"Jadi, apa kau memaafkanku?"
"Tergantung," jawab Sevda dingin.
"Tergantung bagaimana maksudmu?"
"Dengar, Tuan Gletser! Aku haus sekali. Bisakah kau mengambilkanku air perasan lemon?" pinta Sevda membuat Ayaz mengerlingkan mata.
"Apa kau ingin membalasku karena kejadian kemarin?" tanya Ayaz tak menyangka. "Jangan harap kau berhasil, Nona ikan koi! Aku tidak mau!" Ayaz melipat tangannya di perut dengan angkuh.
"Baiklah kalau kau tidak mau." Sevda melirik ke arah ponselnya di atas nakas dan mengambilnya. "Di mana ya nomor Serkan. Ah, ini!" gumam Sevda sembari menggulir layar ponselnya.
Ayaz mendadak melotot. "Apa kau akan mengadukanku pada Serkan?"
"Tidak. Aku hanya akan bilang pada Serkan kalau sepupunya ini kembali mengacau dan membuatku semakin sakit parah," jawab Sevda sedikit licik.
"Yang benar saja kau ini?" Ayaz menarik napas panjang. "Baiklah baiklah! Aku akan mengambilkan air lemon untukmu!" Dengar kesal pria itu bergerak menuju pintu keluar kamar.
"Tunggu!" ucap Sevda membuat langkah pria itu terhenti.
"Gulanya sedikit saja dan juga tambahkan madu. Oh iya, jeruk lemonnya harus yang segar. Airnya juga yang bersih!"
"Rencananya aku mau keruk air got sih," gumam Ayaz. Lantas mengukir senyum getir ke arah Sevda. "Apa kau juga ini cemilan, Nona?"
"Kau ingin mengambilkannya juga?" tanya Sevda ragu akan pria itu.
"Tentu saja. Aku juga akan membawakan Hiu panggang dan sate buaya lengkap dengan gigi Dinosaurus!" jawab Ayaz kesal.
"Sekalian saja kau yang dipanggang!" balas Sevda ketus. "Cepatlah! Aku sudah haus!" perintahnya lagi.
"Dia memang gadis sialan!" Ayaz segera keluar dan membanting pintu kamar dengan sangat kasar.
Sementara Sevda tertawa di atas ranjang. "Kemarin kau sudah mengerjaiku kan, sekarang… saatnya menerima balasan dariku, Tuan Gletser!" Sevda menyudutkan senyumnya miring.