Ayaz membuka pintu, memasuki kamar dengan senampan berisi gelas air putih, sebotol madu, dan sebuah jeruk lemon segar. Pandangannya langsung tertuju pada Sevda yang selesai tengah berbicara di telepon.
“Deniz, nanti aku hubungi lagi, ya!” kata Sevda lantas mematikan panggilannya. Menaruh ponselnya di sebelahnya dan menatap ke arah Ayaz yang bergerak menghampirinya.
“Kenapa kau lama sekali?” gerutu Sevda pada pria itu.
Ayaz duduk di pinggiran ranjang. “Aku tadi mencari madu.”
Sevda baru sadar kalau pria itu membawa sebotol penuh madunya. “Kenapa kau membawa semua madunya? Kau kan bisa menuangkannya langsung ke dalam gelas,” sambungnya.
Ayaz meringis dengan suara mengejek. “Kau pikir kau bisa mengelabuhiku? Aku sudah tahu rencanamu, Nona. Kau pasti akan mengeluh madunya kurang, madunya kelebihan, dan kau akan menyuruhku mengambilkannya lagi. Kau tidak akan bisa melakukannya!”
“kenapa pria batu ini tahu kalau aku berniat mengerjainya?” batin Sevda.
"Asal kau tahu aku sudah tahu semua akal bulusmu. Kau sengaja mau mengerjaiku seperti yang aku lakukan kemarin padamu, kan?” Sahut Ayaz membuat Sevda meneguk saliva.
"T...tidak. siapa bilang?" Sevda mencoba mengelak.
Ayaz mendekatkan wajahnya tepat di wajah Sevda, berhasil membuat gadis itu itu kesusahan untuk bernapas. "Mulutmu berkata tidak, tapi matamu mengatakan sebaliknya!" kata Ayaz membuat Sevda meneguk lebih banyak saliva. "Ngomong-ngomong, siapa yang kau telepon tadi?"
"Bukan urusanmu!" jawab Sevda ketus.
"Yah, benar. Bukan urusanku dan aku tidak mau peduli!" Ayaz kembali menjauhkan wajahnya dari hadapan Sevda. "Sudahlah! Kau minum saja semua madu ini dan jangan ganggu aku lagi!"
Ayaz mendirikan tubuhnya setelah menaruh nampannya di atas ranjang.
"Kau mau ke mana?" tanya Sevda.
"Aku mau tidur. Dan tolong jangan ganggu aku lagi!"
"Kau tidak boleh ke mana-mana. Maksudku, kau sudah berjanji dengan Serkan untuk menjagaku dan mengambilkan semua apa yang aku butuhkan."
"Apa kau bercanda?" Ayaz mengerling dengan jidat berkerut.
"Yah, itu sudah menjadi kesepakatanmu dengan Serkan. Tapi, kalau kau tidak mau ya sudah. Aku tidak memaksa. Aku tinggal bilang ke Serkan nanti kalau–"
"Sudahlah diam, Ikan koi! Kau itu banyak bicara selalu saja membuka mulut!" kata Ayaz ketus sembari memperagakan mulut ikan koi dengan tangannya.
"Ikan koi memang selalu mangap-mangap, kan? Kau sendiri yang menamaiku dengan sebutan demikian. Jadi kenapa kau protes akan hal itu?
Ayaz mengerjap sejenak. "Apa yang akan kau lakukan padaku?"
"Aku minta kau mencampurkan perasan lemon ini ke dalam gelas, lalu kau beri sedikit madu," perintah Sevda dengan santai dan tangan yang dilipat di perut.
"Kau kan bisa sendiri. Kenapa harus meminta padaku untuk hal semudah itu?" Ayaz tampak protes.
"Kemarin kau juga menyuruhku demikian, apa aku protes?" balas Sevda sekenanya.
"Gadis ini benar-benar berniat balas dendam!" gumam Ayaz. Namun kemudian ia setuju menuruti perintah Sevda. Ia mulai memeras lemon ke dalam gelas, dan munuangkan madu ke dalamnya.
"Eh… jangan banyak-banyak!" celetuk Sevda, membuat pria itu menghentikan aksinya.
"Ini, sudah!" Ayaz menyerahkan gelas tersebut pada Sevda.
"Apa kau tidak tahu caranya membuat air lemon? Kenapa kau tidak mengaduknya? Bagaimana rasanya bisa tercampur?" cuap Sevda semakin membuat gendang telinga pria di depannya kepanasan.
"Hanya hati ini, Ayaz. Hari ini saja. Setelah itu kau akan membalasnya," gumam Ayaz sembari mengaduk gelas tersebut dengan sangat kesal.
Sementara Sevda menahan tawa sedari tadi. Berhasil membuat pria itu kesal telah menyenangkan hatinya.
"Sudah, Tuan Putri. Sekarang minumlah, atau kau juga ingin aku menyuapimu?" tanya Ayaz dengan nada geram, ditambah senyum keterpaksaan.
"Tidak perlu. Aku meminum sendiri!" Sevda langsung meraih gelas tersebut dan meneguknya. Namun baru sedikit ia langsung menyemprotnya pada Ayaz.
"What the hell!" Ayaz langsung berdiri seketika dengan wajah emosi. "Kenapa kau menyemprotkannya padaku?!"
"Kau sendiri yang salah. Kenapa rasanya asin sekali?" Sevda mengambil sendok. Mengecek air dalam gelasnya. Terdapat endapan garam yang begitu banyak. Kembali matanya melotot ke arah Ayaz. "Apa kau sengaja menaburkan garam dalam air ini?"
Ayaz mengingat kejadian saat di dapur tadi. Ia lama karena mencari garam. Begitu mendapatkannya ia menaburkan sepuluh sendok ke dalam gelas berisi air.
"Hahaha!" Kini tawa Ayaz begitu pecah berhasil mengerjai Sevda lagi.
"Kau pikir ini lucu?!" Wajah Sevda berapi.
"Yah, lucu sekali. Lihat wajahmu itu. Seperti kerasukan setan. Hahaha!"
"Ayaz! Kau akan menerima balasanku!" Sevda menaruh kembali gelasnya di atas nampan. Beralih meraih ponselnya bermaksud menelpon Serkan. "Lihat apa yang akan aku lakukan!"
Ayaz menghentikan tawanya saat mengetahui gadis itu hendak menelpon sepupunya. "Hei, apa yang akan kau lakukan?" Gegas pria itu meraih ponsel Sevda.
"Ayaz, kembalikan ponselku!"
"Tidak akan!"
"Ayaz, aku bersumpah akan membunuhmu! Kembalikan ponselku!"
"Aku tidak sebodoh yang kau kira, Nona pengacau!"
"Ayaz, kau…. Aaa!" Sevda tiba-tiba merasakan sakit di bagian perutnya. Itu membuat Ayaz menjadi panik.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Ayaz mendekat, hendak mengecek.
Namun dengan sigap Sevda meraih ponselnya kembali. "I got it!" kata Sevda dengan senyum puas. "Dasar, Bodoh! Apa yang kau bilang tadi? Kau tidak sebodoh yang aku kira? Sekarang lihat, aku berhasil membodohimu! Haha!"
"Kau!" Ayaz mengepalkan kedua tangannya.
"Sekarang pilih mana, ambilkan aku air perasan lemon yang baru atau aku adukan pada sepupumu?" Kedua Alis Sevda terjingkat, dengan senyuman penuh kepuasan.
"Kau benar-benar menyebalkan! Baiklah-baiklah, aku akan mengambilnya yang baru untukmu!"
"Kembalikan juga nampan ini ke dapur!" perintah Sevda lagi.
"Aku pikir aku pelayanmu?"
"Masih baik aku tidak menyuruhmu meminum air penuh garam itu. Ayo cepat kembalikan dan bawakan aku yang baru!"
"Sumpah demi Tuhan aku akan memanggangmu, Ikan koi!" ucap Ayaz sembari mengambil nampan tersebut dengan kesal.
Sevda tertawa puas.
Beberapa saat kemudian, Ayaz kembali membawa pesanan Sevda. Namun Sevda kembali mengerjainya. Ia meminta Ayaz untuk menambahkan madu. Lalu menyuruhnya menghangatkan airnya dan sebagainya sampai lima kali pria itu bolak balik.
"Sudah cukup! Lebih baik kau menggantungku di langit-langit saja!" kata Ayaz protes, dengan nada emosi.
Sementara Sevda tertawa cekikikan di atas ranjang. "Baiklah-baiklah, kali ini tidak lagi," kata Sevda setelah cukup puas membalas perbuatan Ayaz. Gadis itu lantas meneguk air lemon tersebut sampai tandas. "Umm…. rasanya enak sekali."
"Jangan bilang kau minta membuatkannya lagi!" Ayaz memicingkan mata ke arahnya.
"Tenang saja, aku sudah cukup puas membalasmu!" kata Sevda, lantas beringsut dari ranjang. Merenggangkan kedua tangannya ke atas dan berjalan dengan sangat bugar.
Ayaz mengerling memperhatikannya. "Kau sehat begini dan berpura-pura sakit?"
"Jangan asal menuduh, ya! Tadi aku memang demam. Tapi sekarang sudah naikkan," balas Sevda.
"Mana ada orang sakit yang mengerjai orang? Menyebalkan!"
"Sudahlah. Aku bosan di kamar terus. Aku mau jalan-jalan."
"Dan kau akan jatuh sakit lagi lalu kau akan punya alasan untuk menyalahkanku? Begitu? Jangan harap!" larang Ayaz. "Kau tidak boleh ke mana-mana!"
"Kau tidak berhak melarangku, Tuan Gletser!" Sevda bergerak ke arah pintu.
Ayaz gegas membuntutinya dan menarik tangannya. Saking kencangnya membuat tubuh langsing Sevda mendarat tepat di pelukannya. "Aku tidak akan membiarkanmu ke mana-mana! Kau harus terus bersamaku!" tuntut Ayaz tepat di wajah Sevda, membuat gadis itu membisu untuk beberapa jenak.
"Ayaz, lepaskan aku!" pinta Sevda mencoba menjauh. Tetapi Ayaz menggenggam pergelangan tangannya dengan sangat erat, bagai lem saja.
"Tidak akan!"
"Ayaz!" Sevda mengerjap. "Baiklah-baiklah, aku tidak akan ke mana-mana! Kau puas?!"
Baru setelah itu Ayaz melepaskan pergelangan tangan gadis itu.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku merasa bosan? Aku ingin jalan-jalan keluar!" Sevda masih saja protes.
"Tubuhmu masih belum pulih. Kalau kau terkena angin, kau akan jatuh sakit lagi. Dan aku tidak mau itu terjadi," kata Ayaz dengan amat perhatian. Bahkan pria itu tak menyadari akan sikap perhatiannya tersebut.
"Kenapa kau mendadak mencemaskanku?" Pertanyaan Sevda sukses membuat Ayaz meneguk saliva.
"B… bukan begitu. Saat ini kau tanggung jawabku. Aku harus menjagamu. Aku tidak mau sepupuku marah gara-gara keras kepalamu itu! Lagi pula kenapa juga Serkan menyuruhku melakukan hal ini!" Ayaz menggesek rambut belakangnya yang sama sekali tak gatal.
"Kalau Serkan yang menyuruhnya, maka baiklah, aku tidak akan ke mana-mana. Kau seperti bodyguard-ku saja!"
Mata Ayaz mengerling. "Kenapa saat aku menyebut nama Serkan kau langsung menurut?"
Sevda meneguk ludah. Memalingkan pandangan ke lain arah. "Bukan urusanmu!"
"Apa kau menyukai sepupuku itu? Kau diam-diam sudah jatuh cinta dengannya kan?"
"Memangnya apa urusanmu?" Setelah mengatakan itu, Sevda langsung beranjak keluar kamar.
Sementara Ayaz masih terdiam mematung. Ada perasaan aneh dalam dirinya saat ia menebak kalau Sevda menyukai Serkan. Apakah itu artinya Ayaz cemburu?
"Mau ke mana gadis itu?" Ayaz berjalan membuntuti Sevda dari belakang.