16. Lalat dan Madu

1451 Kata
"Ya, Tuhan. Kapan mereka kembali? Aku bosan sekali." Sevda berdiri dari duduknya. Ayaz yang sedari tadi sibuk bermain dengan ponselnya, melirik ke arah Sevda. "Hei, bagaimana kalau kita menonton film?" saran Ayaz karena sejujurnya ia juga merasa jenuh. "Umm… ide bagus. Apa kau punya film yang menarik?" tanya Sevda. "Tentu saja. Aku sangat hobi menonton film. Aku bahkan memiliki ratusan film di flashdisk. Katakan, kau mau genre yang mana? Action, Misteri, Horor, Thriller, Gore–" "–Romance?" tanya Sevda menyela. Ayaz menggeleng. "Aku bukan b***k cinta dan orang lebay yang suka mengoleksi film romantis!" "Yah, tentu saja. Kau itu dingin dan keras kepala! Jiwa-jiwa psikopat memang seperti dirimu itu!" cerca Sevda. "Kalau aku psikopat, aku sudah memotong tubuhmu menjadi empat bagian dan memanggangnya sejak tadi!" Sevda memutar mata bosan. "Apa kau benar-benar tidak memiliki film romance? Kalau komedi?" "Kau cari saja sendiri nanti! Terus-terusan mendengar ocehanmu membautku pusing!" Ayaz segera beranjak ke kamarnya. Mengambil flashdisk dan laptopnya, kemudian kembali ke ruang santai lagi. Lalu ia sambungkan laptopnya pada proyektor. Sementara Sevda mulai memilih genre komedi yang mungkin saja Ayaz khilaf saat mengunduhnya. Film pun berputar. Mereka menonton dengan duduk di satu sofa. Tertawa bersama seperti tak pernah bermusuhan. Hingga berlarut mereka menikmatinya. Akhirnya film pun selesai dan mereka ketiduran dengan saling berdekatan. Tak lama, Serkan kembali bersama teman-temannya. Mereka terkejut melihat Ayaz dan Sevda yang ketiduran di sofa dengan berdekatan seperti seorang kekasih saja. Kebetulan juga Sevda mulai membuka kedua kelopak matanya. Terkesiap saat teman-temannya itu sudah berada di depan penglihatannya. Buru-buru ia beranjak. "K-kalian sudah kembali?" tanyanya gugup. "Lihatlah, Serkan. Kalian mencemaskannya sejak tadi tapi dia malah asyik-asyikan tidur sambil nonton film," kata Hazal bernada menyindir. "Cousin? Kau sudah kembali?" Ayaz mengucek matanya. Berdiri di samping Sevda. "Sevda, bagaimana kabarmu? Apa Ayaz mengacau lagi padamu?" tanya Serkan pada Sevda. "Justru dia yang mengacau, Cousin," balas Ayaz cepat. Masih mengingat saat Sevda tadi mengerjainya. "Kau dengar itu, Serkan. Gadis ini memang penyebab masalah itu sendiri!" Kembali Hazal mengomentari Sevda. "Hazal, sudahlah…," kata Serkan. "Bagaimana aku bisa diam, Serkan. Dia sebenarnya hanya berpura-pura sakit saja dan mengelabuhi kita–" "–Hazal, tutup mulutmu!" Oyku tak terima atas tuduhan gadis itu pada sahabatnya. "Kau yang tutup mulutmu, Oyku! Kau itu sangat naif. Sevda hanya berpura-pura." "Hazal!" Kali ini Ayaz yang bersuara. Dengan nada meninggi pula. "Cukup! Kau tidak perlu memperburuk suasana. Dan tuduhanmu terhadap Sevda itu tidak benar. Sevda beneran sakit!" "Serkan, aku membelamu tapi kau malah–" "–Kau tidak perlu membelaku, Hazal. " Hazal merasa kesal. Memicingkan mata ke arah Sevda kemudian bergerak naik ke lantai atas menuju kamarnya. "Sevda, maafkan tingkah Hazal, ya!" ucap Serkan yang kemudian membuntuti Hazal naik ke lantai atas. Oyku mengambil langkah maju, untuk lebih dekat dengan Sevda. Lantas mengelus bahu sahabatnya itu dan mengajaknya ke kamarnya. "Ayo, Sevda!" Sevda menurut. Mereka pergi bersama, meninggalkan Ayaz dan Burak yang masih berada di ruang sana. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Oyku setelah sampai di kamarnya. "Jauh lebih baik," jawab Sevda. "Karena Ayaz yang menjagamu, atau…." "Oyku… jangan coba-coba menggodaku." Sevda melipat kedua tangannya di perut. "Aku hanya melihat apa yang aku lihat, Sevda!" kata Oyku sembari membanting tubuhnya di kasur. "Oh, ya? Memangnya apa yang kau lihat?" Oyku memiringkan tubuhnya. Melihat Sevda yang berdiri bersedekap dengan tatapan penuh arti ke arahnya. "Aku melihat kalian tadi di sofa tidur sangat romantis. Sungguh, kalian seperti pasangan kekasih." Sevda sontak menelan ludah. Wajahnya memerah jambu dengan pandangan ke arah lain. "K...kami tidak melakukan apa-apa. Sungguh. Kami tidak sadar. Waktu itu kami menonton film dan ketiduran. Itu saja." "Sevda, boleh aku katakan sesuatu?" Oyku mengambil posisi duduk di pinggiran ranjang. "Apa?" tanya Sevda dengan kedua alis yang naik ke atas. "Kau dan Ayaz sebenarnya sangat cocok. Sungguh!" "Oyku, aku akan menghajarmu!" Sevda maju dan mulai menimpuk sahabatnya dengan bantal. "Apa kau bilang tadi, hah?!" "Iya… iya maaf, Sevda." Kini keduanya duduk di pinggiran ranjang. "Kau tahu, tadi aku berhasil membalasnya." Sevda kembali membuka pembicaraan. "Aku menyuruhnya menata gorden dan mengambilkan minum berkali-kali. Dia sudah seperti pelayan hotel saja. Hahaha!" "Astaga, kau sungguh melakukan itu? Tapi… setelah beberapa kali memperhatikannya, aku rasa pandangan kita tentang Ayaz itu bertolak belakang." "Maksudmu?" Sevda menaikkan sebelah alisnya. "Maksudku… kita sering menganggapnya dingin dan batu. Tapi, sebenarnya dia baik. Lihat bagaimana dia membelamu tadi saat Hazal mulai mengoceh." Sevda merenungi perkataan sahabatnya sejenak. Mengingat saat Ayaz membelanya tadi. "Mungkin dia terpaksa saja. Karena di sana ada Serkan. Kau tahu, dia selalu mencari kesempatan untuk bersikap baik pada Serkan agar sepupunya itu mau mengerjakan penelitiannya." "Ah, aku rasa Ayaz tidak seperti itu." Oyku masih saja mengelak. "Sudahlah lupakan tentang dia. Sekarang ceritakan, bagaimana proses penelitiannya tadi? Apa ada kendala?" Sevda langsung mengalihkan pembicaraan. "Membosankan! Sepanjang perjalanan aku hanya mendengar ocehan Hazal yang berlebihan. Dia itu gadis kurang ajar. Ingin sekali aku melemparnya ke laut." Sevda tertawa saat melihat ekspresi emosi sahabatnya tersebut. *** Hari berikutnya, Sevda sudah tampak bugar. Ia kembali menjalankan aktivitasnya dengan giat. Seperti pagi hari itu. Saat sinar mentari menyinar begitu hangat, Sevda dan Oyku sudah berlari-lari kecil di sepanjang tepian pantai. Mereka mencari udara segar dan menjemur tubuh untuk mendapatkan vitamin yang diperlukan untuk kulit. "Sevda, coba rasakan suasananya. Sangat damai bukan? Angin pagi yang sejuk, deburan ombak kecil, dan sengatan mentari ini. Perpaduan yang sempurna bukan? Cocok untuk merilekskan badan dan pikiran." "Kau benar sekali, Oyku." Sevda merenggangkan kedua tangannya. Merasakan angin sepoi yang menerpanya. Dilihatnya burung camar yang berkerumun, beterbangan di atas permukaan gelombang air laut. Siap menyabet ikan-ikan kecil yang meloncat-loncat. "Lihatlah, kasihan ya ikan-ikan itu. Mereka ingin melihat dunia luar tapi menjadi santapan burung camar!" kata Oyku sembari menunjuk segerombolan burung camar di sana. "Itu sudah menjadi rantai makanan, Oyku. Agar dunia ini tetap seimbang. Coba bayangkan, jika populasi burung camar menurun, maka populasi ikan akan meningkat. Dan itu mempengaruhi biota laut. Maka dari itu, Tuhan sudah mengatur sedemikian rupa alam semesta ini," jelas Sevda bijaksana. "Burung camar memang suka mencari ikan-ikan yang segar. Dia akan melahapnya dengan ganas." Suara Hazal tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Sevda dan Oyku menoleh. Memandang penuh arti pada gadis berambut gelombang tersebut. "Seperti sikap manusia yang tamak, akan langsung mengincar orang-orang yang menurutnya menguntungkan baginya," imbuh Hazal dengan nada menyindir. "Apa kau sedang menyindir kami, Hazal?" Oyku memicingkan mata ke arahnya. Hazal memiringkan senyumnya penuh arti. "Baguslah jika kalian sadar. Kalian itu bagaikan burung camar yang langsung berkerumun begitu melihat ikan-ikan segar. Terutama kau, Sevda!" "Apa maksudmu kau mengatakan itu?" Sevda bertanya dengan menaikkan oktaf suaranya. "Boleh aku kasih saran? Jauhi Ayaz dan Serkan. Kau itu tidak pantas bersanding dengannya!" Hazal menumpangkan kedua tangannya di perut dengan sangat angkuh. "Aku mengerti betul, gadis kumuh sepertimu memang tertarik dengan seorang pangeran. Tapi sadarlah, kau itu tidak ada apa-apanya dengan Ayaz. Seperti lalat dan madu. Namun sayangnya madu tidak diciptakan untuk lalat. Jangan dekati orang di luar strata kelasmu. Oke?" Hazal tersenyum licik dan membalikkan tubuhnya dengan pergi. Namun Sevda yang tak terima mulai menarik tangannya, membuat tubuh Hazal kembali menatapnya. "Kau benar, Hazal. Kita ini seperti lalat dan madu. Aku madu, dan kau lalatnya!" ujar Sevda ketus. Hazal tertawa penuh ejek mendengarnya. "Apa kau sadar dengan ucapanmu itu?!" "Tentu saja! Mungkin kau belum tahu siapa sebenarnya aku. Aku adalah putri dari Aydin Alvendra. Salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Bahkan, pangkat ayahku jauh lebih tinggi daripada keluargamu dan juga Ayaz." Sevda memperagakan tingkatan dengan tangannya dari yang paling bawah sampai atas. "Ini adalah kau yang paling bawah, lalu Ayaz, dan baru diriku!" Hazal masih tak percaya dengan ucapan Sevda dan menganggapnya membual. "Halusinasi itu memang indah, tapi sadar akan kenyataan itu jauh lebih menyakitkan." Oyku yang tak terima ikut menyahut. "Kau pikir Sevda hanya membual?! Kau punya ponsel canggih, kan? Coba kau cari nama ayah Sevda di google." Oyku melirik ke arah ponsel iPhone yang Hazal genggam. Gegas ia meroyoknya. Lantas membuka aplikasi Google dan mencari nama ayah Sevda. "Lihat! Aydin Alvendra. Pengusaha kaya raya dari Indonesia. Bahkan masuk dalam list Top billioner in The World!" Oyku menyerahkan ponsel tersebut pada Hazal dengan kasar. Sevda maju selangkah untuk lebih dekat dengan Hazal. Dengan ketus ia berkata, "Apa kau bilang tadi? Aku tidak ada apa-apanya dengan Ayaz? Bukankah kau sendiri yang sebenernya tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kami? Sebelumnya aku tidak pernah merasa sombong dan memamerkan pangkat atau pun kekayaan ayahku, tapi kau yang memaksaku melakukan hal itu, Hazal!" Sevda menoleh ke arah Oyku. "Ayo, Oyku, kita pergi saja. Tidak perlu mengurusi orang yang tak tahu diri!" Sevda memegang tangan Oyku dan mengajaknya pergi meninggalkan Hazal yang masih mematung. "Tidak mungkin!" Hazal meneguk ludah berkali-kali dengan mata membola. Jemari telunjuknya menggulir-gulirkan layar ponselnya yang menampilkan kehebatan sosok ayah Sevda, Aydin Alvendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN