"Cansu, kau tidak akan percaya apa yang baru saja Savda lakukan?" Oyku berdecak pada ponselnya yang menampilkan wajah Cansu tengah melakukan video call.
"Memangnya apa yang Sevda lakukan?" tanya Cansu penasaran.
"Dia baru saja membalas Hazal dan menyadarkan si ular itu pada posisi yang sebenarnya," jawab Oyku sembari melirik ke arah Sevda yang sibuk dengan laptopnya.
"Benarkah? Ceritanya detailnya bagaimana?" Cansu terdengar begitu antusias.
"Tadi kami jalan-jalan ke tepian pantai. Tiba-tiba si ular Hazal itu datang. Dia mengejek kami. Kau tahu apa yang dia katakan? Dia menyuruh Sevda untuk menjauhi Ayaz dan Serkan. Katanya Sevda tidak pantas bersanding dengan mereka. Tapi kau tahu apa yang Sevda lakukan padanya? Sevda bilang kalau ayahnya itu pengusaha kaya raya. Aku juga menunjukkan buktinya lewat ponsel. Hazal langsung tercengang."
"Hahaha!" Tawa Cansu terdengar pecah dari seberang sana. "Mampus Hazal. Dia tidak sadar kalau dia sebenarnya tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan teman kita Sevda." Cansu menuntaskan ketawanya sebelum bertanya, "Sekarang di mana Sevda?"
"Itu di sana!" Oyku menunjukkan Sevda yang asyik duduk berhadapan dengan laptopnya. "Teman kita yang rajin ini sedang mengerjakan laporannya," kata Oyku sembari menghampiri Sevda.
"Sevda!" panggil Cansu.
"Cansu, jangan ganggu aku dulu. Aku harus segera menyelesaikan ini," balas Sevda yang tak juga menoleh ke arah ponsel Oyku.
"Kau terlalu rajin, Sayang. Setidaknya kau harus istirahat agar kesehatanmu tidak menurun. Ngomong-ngomong, yang kau lakukan pada Hazal itu patut diacungi jempol. Orang sombong sepertinya memang pantas dibalas sombong, biar tahu batasan," cakap Cansu dengan nada sedikit kesal.
"Andai kau lihat wajahnya, Cansu. Dia seperti habis melihat hantu. Hahaha!" Sevda melihat singkat ke arah ponsel Oyku kemudian kembali fokus pada laptopnya.
"Aku yakin Hazal sekarang kalah telak. Dia tidak akan berani lagi menganggu Sevda," ucap Oyku.
"Biar saja dia rasakan. Aku sudah muak dia selalu menyombongkan kekayaan keluarganya yang tak seberapa. Dia hanya memiliki perak tapi berlagak seperti memiliki emas. Menyebalkan!"
"Oh, iya, Cansu. Bagaimana laporan penelitianmu? Apa semuanya lancar?" tanya Sevda.
"Ah, aku muak mendengar tugas tesis ini, Sevda. Kau malah mengingatkanku." Cansu terdengar menyemburkan napas. "Tapi aku sudah minta Ozan untuk membantuku mengerjakannya. Kau tahu, entah kerasukan apa dia bisa rajin sepertimu dan juga Serkan." Cansu memberi jeda sejenak. "Ngomong-ngomong soal Serkan, bagaimana kabarnya dia sekarang?"
"Dia baik. Sangat baik." Sevda menjawab dengan antusias.
Kedua temannya langsung menggodanya. Membuat wajah Sevda memerah jambu.
"Cieee… kau tahu banyak tentang Serkan ya sekarang?" canda Cansu.
"Tentu saja, Cansu. Teman kita ini sekarang seperti antusias untuk mendapatkan Serkan. Hahaha!" timpal Oyku.
"Oyku, diamlah! Sekarang katakan pada kami, bagaimana rencana hubunganmu dengan Burak ke depannya?" Sekarang giliran Sevda yang menggoda Oyku.
"Ah, Sevda… kau mengalihkan pembicaraan."
Mereka bertiga terus saja mengobrol dengan candaan persahabatan.
***
Malam itu, Oyku dan Burak tampak berjalan bersama. Menyusuri tepian pantai sembari menikmati kelap-kelip gedung perkotaan yang jauh di seberang lautan sana, namun terlihat begitu indah.
"Oyku, kau lihat bulan di atas sana?" Burak menunjuk ke arah rembulan yang menggantung indah di cakrawala.
Oyku mendongakkan kepalanya menatap sang rembulan.
"Rembulan itu sangat indah, tapi… menurutku jauh lebih indah wajahmu," seru Burak dengan senyuman termanisnya ke arah Oyku.
Oyku yang mendengar pujian penuh goda pria itu langsung tersenyum jengah.
"Tidak perlu malu-malu untuk tersenyum. Aku tahu, kau senang kan saat aku mengatakan hal-hal manis kepadamu?" Kembali Burak semakin membuat wajah gadis di sampingnya itu memerah delima.
"Burak, kau terlalu percaya diri. Siapa bilang aku suka? Jangan harap kau bisa meluluhkan hatiku."
"Benarkah? Jadi aku belum berhasil meluluhkan hatimu selama ini?" Burak memanyunkan bibirnya. "Baiklah. Daripada aku tidak bisa mendapatkanmu, lebih baik aku mati saja!"
Oyku menelan ludah mendengar kata-kata pria itu. "Burak, kau berlebihan."
"Aku tidak main-main, Oyku. Aku benar-benar sangat mencintaimu. Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, lebih baik aku tiada," kata Burak sembari memalingkan wajah.
"Jangan bicara omong kosong!" Oyku masih tak percaya akan buaian pria itu.
"Oh jadi, semua yang aku lakukan semua ini untuk membuatmu jatuh cinta padaku kau pikir itu hanya omong kosong belaka? Kau telah mematahkan hatiku, Oyku. Lebih baik aku mati saja. Aku akan mencebur di laut dan menjadi santapan Hiu. Mungkin setelah itu kau akan bahagia jika tidak melihatku lagi!"
Burak maju selangkah. Berpikir gadis pujaan hatinya itu akan menghentikan aksinya. Namun ternyata nihil. Oyku masih saja terdiam di tempat dan tak acuh.
"Dia hanya mengganggapku main-main saja!" Burak bergumam dalam hati dengan sedikit kesal serta kecewa.
Pria itu kini kembali menggerakkan langkahnya kembali. Semakin menenggelamkan kakinya di ombak laut. Kepalanya memutar ke belakang. Menatap Oyku yang masih berdiri dan tak sudi menatapnya.
"Selamat tinggal, Oyku."
"Burak, apa yang kau lakukan?" Kali ini Oyku berteriak. Wajahnya sedikit panik. Namun pria di depan sana terus saja berjalan ke arah ombak besar. Seperti tak peduli jika seluruh tubuhnya tertelan lautan.
"Burak!!!" Oyku bergerak cepat. Menarik tangan Burak hingga membuat tubuhnya menghadap ke arahnya. Lantas, Oyku langsung menghambur di pelukannya. Memeluknya dengan erat. "Jangan main-main, Burak! Aku tidak mau kau kenapa-kenapa. Aku tidak akan membiarkan hal itu!"
Oyku menyandarkan kepalanya di d**a bidang Burak. Menempel dengan sangat erat. "Aku mencintaimu, Burak!"
Burak tersenyum lebar. Akhirnya idenya untuk membuat Oyku sadar akan perasaannya berhasil. Pria itu mendekap Oyku dengan sangat erat.
"Apa yang kau katakan tadi, Oyku? Coba katakan sekali lagi."
"Aku mencintaimu, Burak. Kau dengar? Aku mencintaimu!"
Kembali Burak tersenyum lebar.
"Aku juga sangat mencintaimu!" Burak mencium pucuk rambut Oyku. Mengangkat tubuh gadis itu dengan memeluknya dan memutarkan tubuh di antara deburan ombak yang menerpa.
***
Sevda tampak berjalan mencari Oyku. Memijakkan kakinya di pinggiran pantai, dengan mata yang celingukan.
"Dia mana anak itu? Dia bilang akan menungguku di tepian pantai tapi—"
"–Apa yang kau cari tuan putri?" Suara seorang gadis tiba-tiba terdengar dari belakang, membuat Sevda menoleh.
Sevda sedikit terkejut saat melihat sosok Hazal yang berjalan menghampirinya.
"Haruskah aku memanggilmu Tuan putri, atau… gadis miskin yang mendapatkan keberuntungan sejak lahir?" Hazal melipat kedua tangannya di perut dengan sangat angkuh.
"Apa maksudmu berbicara seperti itu, hah?" Sevda mulai emosi.
Hazal memiringkan senyumnya Punuh seringai. "Kau bilang apa kemarin? Kau adalah putri seorang pengusaha kaya raya dan terkenal. Siapa namanya? Ah, ya. Aydin Alvendra." Hazal kembali memberi senyuman penuh ejekan. "Mungkin kau lupa, Tuan putri, tentang identitas sebenarnya dirimu. Biar aku ingatkan, agar kau tidak semakin lupa diri!"
Hazal berjalan mengitari Sevda yang masih mematung dengan perasaan mendongkol. "Sevda Alvendra, oh wait! Haruskah aku menyebutmu dengan nama Alvendra? Aku rasa itu tidak cocok denganmu yang terlahir sebagai orang miskin. Sadarlah akan posisimu, Sevda. Kau itu hanya beruntung. Kau sebenarnya gadis miskin yang dibesarkan oleh keluarga kaya. Orang yang kau anggap sebagai sosok ayahmu itu bukanlah ayah kandungmu!"
Jantung Sevda terasa tersendat untuk sesaat. Luka lama kembali dibongkar dan membuat hatinya begitu pedih.
"Aku tahu, kau dulu tertukar dengan putranya Aydin Alvendra. Dan keluarga Alvendra membesarkanmu tanpa mengetahui kebenarannya. Bayangkan saja jika hal itu tidak terjadi, pasti kau tidak akan pernah hidup bergelimang harta! Apa kau tidak kasihan dengan anak kandung mereka? Kau telah merebut haknya!"
"Hazal!" Sevda berteriak dengan naik pitam.
"Jangan berteriak padaku, Gadis perusak kebahagiaan. Kau sangat bangga dengan pangkat yang dimiliki keluarga palsumu itu, kan? Apa kau tidak malu kalau yang kau banggakan itu bukan milikmu. Kau itu hanya anak adopsi secara tidak sengaja. Kau tidak punya hak itu semua itu."
Sevda yang semakin emosi hendak menampar Hazal, namun Hazal menghentikan tangannya tersebut dengan cepat.
"Jangan coba-coba kau mengangkat tangan kepadaku, Bodoh! Kau pikir aku hanya membual sedari tadi? Semuanya tertera dalam internet. Lihatlah!" Hazal menunjukkan berita tentang keluarga Alvendra bertahun-tahun yang lalu. "Jangan terbang terlalu tinggi, Sevda. Karena sayapmu, tidak mempan untuk itu. Sampai kapanpun, kau hanyalah akan dianggap sebagai gadis perusak kebahagiaan orang lain! Gadis yang merenggut hak orang lain! Kau sadar itu?!"
Bulir bening mulai merembes dari pelupuk mata Sevda. Hatinya begitu sakit. Peristiwa lama yang begitu menyakitkan kembali ia rasakan.
"Aku harap kau sadar akan posisimu yang sebenarnya, Gadis Pembawa Sial!" Hazal menunjuk tepat di d**a Sevda.
Sevda tak mampu berkata-kata lagi. Hanya air mata yang terus terurai. Dengan perasaan penuh emosi dan juga kesedihan, Sevda membalikkan tubuhnya pergi meninggalkan Hazal yang tersenyum lebar.
Ayaz yang melihatnya dari kejauhan, mengerutkan dahi penasaran apa yang telah terjadi pada mereka.