Sevda berjalan dengan tangis yang merembes dari kelopak matanya. Menyusuri tepian laut di tengah sejuknya udara malam. Mengingat perkataan Hazal yang mengungkit kembali tentang masa lalunya membuatnya hatinya kembali terluka.
Sevda masih ingat, hidupnya beberapa tahun yang lalu, di mana kebenaran tentang identitas dirinya yang sebenarnya terkuak. Saat itu ia mengalami kecelakaan paska memenangkan medali emas dalam kompetisi berkuda. Kecelakaan tersebut menguak bahwa dirinya sebenarnya sengaja ditukar sejak lahir.
Begitu panjang dan memilukan saat mengulik kisahnya bersama keluarga besarnya yang ada di Indonesia. Meskipun pada akhirnya mereka disatukan menjadi keluarga yang bahagia tetapi tatap saja pengalaman menyakitkan tersebut sulit untuk dilupakan.
Dengan tangis yang masih merembes, Sevda mencoba mengusapnya. Di pertengahan jalan ia menemukan sosok Oyku dan Burak yang tengah bergandengan tangan.
Oyku yang melihatnya mulai menyapa. "Sevda!"
Sevda berpikir akan mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya itu tentang kesedihannya saat ini. Namun sepertinya itu bukan waktu yang tepat. Apalagi ia melihat rona wajah Oyku yang berseri-seri bersama Burak, menandakan kalau kedua pasangan tersebut baru saja meresmikan hubungannya. Dan jika Sevda membagi kesedihannya saat ini, tentu sahabatnya tersebut akan sedih pula.
Sevda tidak ingin merusak suasana hati Oyku. Ia memilih menyembunyikan kesedihannya dengan mengusap air matanya sembari tersenyum.
"Sevda, kau tidak apa-apa?" tanya Oyku saat melihat sahabatnya tak merespon saat ia memanggilnya tadi. Gadis itu pun hendak mendekat.
Sevda menggeleng cepat. "Tidak. Aku tidak apa-apa, Oyku. Kalian lanjutkan saja. Nanti kita ketemu di Villa. Aku pergi dulu." Setelah mengucap kalimat tersebut, gadis bermata hazelnut tersebut langsung berbalik. Berjalan cepat meninggalkan Oyku dan Burak yang masih keheranan melihatnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Burak di belakang Oyku.
"Entah." Oyku mengedikkan kedua bahunya. "Pasti terjadi sesuatu dengannya. Biar aku temani."
"Eh, tunggu dulu!" Burak mencekal tangan Oyku. "Jangan dulu. Mungkin dia butuh sendiri untuk saat ini. Kau bisa menanyakan hal itu nanti saja."
Oyku merenung sejenak. "Kau benar juga."
Burak menata tubuh Oyku untuk menatapnya. Kini tubuh mereka saling berhadap-hadapan. Burak menata senyum Oyku dengan tangannya. "Ayolah, jangan sedih begitu dong. Ini kan malam peresmian hubungan kita, kau harus bahagia, oke?"
Oyku menatap ke arah Burak kemudian menerbitkan senyum dari garis bibirnya. Anggukan pelan gadis itu lakukan.
"Nah, begitu baru cantik!" Burak melebarkan tawanya. Merangkul bahu Oyku dari samping dan mengajaknya kembali menikmati malam.
***
"Menyebalkan! Memangnya siapa dia? Berani sekali dia menyembutku gadis perusak kebahagiaan orang lain?!" Sevda mengamuk dengan melembaga karang-karang kecil ke arah laut. "Dia sendiri yang suka menggoda Serkan. Dia menganggapku merusak kebahagiaan orang lain?! Berani sekali!"
Sudah berkali-kali karang kecil yang terlempar semakin lama semakin jauh saja.
"Dia pikir aku juga mau hidup dalam keadaan seperti yang dulu!"
"Benar-benar menyebalkan!"
Tanpa rasa lelah, dengan mata sembab serta wajah memerah, gadis itu tetap memungut batu kecil lantas dilemparknya ke laut sana.
"Apa salah laut dalam hal ini?" Tiba-tiba suara seorang pria mengagetkannya.
Sevda menoleh ke belakang. Melihat Ayaz yang berjalan mendekatinya.
"Kalau kau ke sini hanya ingin membuatku semakin marah, maka pergilah!" ujar Sevda ketus ke arah Ayaz. Kemudian kembali fokus melempar batu ke laut.
"Aku hanya kasihan dengan ikan-ikan di laut sana. Mereka lagi asyik tidur tapi kau malah membangunkannya!" kata Ayaz yang kini sudah sampai di samping Sevda. Pria itu menyembunyikan kedua tangannya di saku jaket tebal guna mengusir kedinginan.
Sevda menoleh sejenak ke arahnya dengan tatapan sinis. Kemudian kembali fokus ke depan. "Jangan sok tahu. Memangnya ikan pernah tidur!"
"Astaga! Kau payah sekali." Ayaz membungkam mulutnya dengan ekspresi sedikit mengejek. "Kau ini ikan koi, memangnya kau tidak tahu kalau saudaramu bisa tidur? Semua ikan bisa tidur. Kecuali kau, Ikan Koi pemarah yang suka mengomel."
Sevda memicingkan mata ke arahnya. Hendak melempar pria itu dengan batu karang kecil di tangannya. "Kau–"
"–Hei, apa yang akan kau lakukan?!" Ayaz mengangkat kedua tangannya ke depan posisi waspada. "Kau ingin melempariku batu?"
"Iya, aku akan melakukannya!" Setelah mengatakan itu Sevda langsung melempar batu ke laut. "Jika kau tidak punya kepentingan. Pergilah dan jangan ganggu aku."
"Sebenarnya aku malas berdekatan denganmu, hanya saja aku butuh udara segar. Makanya aku ke sini. Tapi, setelah melihatmu di sini, suasananya semakin sesak!" Ayaz berkata dengan gerakan tangan yang melonggarkan jaket seolah merasa kepanasan.
"Kalau begitu pergilah! Aku juga tidak suka melihatmu berada di sini!" balas Sevda ketus.
"Baiklah." Ayaz menelan ludah sejenak. "Ngomong-ngomong, apa yang terjadi padamu dan Hazal? Kenapa kalian seperti bertengkar?" tanya Ayaz yang penasaran.
Mengingat nama Hazal dan perlakuannya tadi, membuat Hazal kembali naik pitam. Ia mengambil batu ukuran cukup besar dan melemparkannya ke arah ombak. "Bukan urusanmu!"
"Yah, kau benar. Ngapain juga aku ikut campur masalah kalian." Ayaz memberi jeda sejenak. "Tapi boleh aku tanya sesuatu? Apa kau bertengkar dengan Hazal karena masalah sepupuku, Serkan?"
Sevda langsung menoleh cepat ke arah Ayaz. Menelan ludah sejenak kemudian berkata dengan suara ketus, "Sudah kubilang bukan urusanmu!"
"Sebentar! Kalau ini terkait Serkan, jelas menjadi masalahku! Aku perlu tahu, apa yang terjadi sampai kalian bertengkar karena Serkan? Atau jangan-jangan, kau menyukai sepupuku itu?"
Sevda langsung menunduk dan membasuh tenggorokannya yang mendadak kering dengan saliva. "M-memangnya kenapa kalau aku tertarik dengannya?" tanya Sevda dengan pelan namun bernada emosi.
"Tidak boleh!" jawab Ayaz cepat.
Sevda kembali menatapnya dengan mata mengerling dan jidat berkerut. Seakan terdapat tanda tanya besar di ruang kepalanya tersebut.
"M-maksudku… maksudku tidak boleh karena kau tidak ingin sepupuku memilikimu."
Bulatan di mata Sevda semakin melebar saja. Sementara Ayaz meneguk ludah berkali-kali karena telah mengatakan kalimat yang ambigu.
"Maksudku Serkan tidak boleh jatuh ke dalam perangkapmu. Serkan itu sepupuku, tentu aku harus melindunginya dari mahluk buas sepertimu!" jawab Ayaz sedikit canggung.
"Memangnya ikan koi itu makhluk buas?" Sevda merespon dengan emosi.
"Kau kan ikan koi jadi-jadian. So… tentu saja kau buas. Aku yakin Serkan kau lahap kalau menjadi kekasihmu. Lagipula aku tidak sudi menjalin hubungan denganmu!"
Sevda kini menggerakkan kakinya, membawa tubuhnya menghadap sepenuhnya pada pria tersebut dengan tangan berkacak pinggang. "Memangnya siapa yang mau menjalin hubungan denganmu, Manusia Gletser! Jangan kau terlalu percaya diri!"
"Jika kau bersama Serkan, itu artinya kau akan menjadi sepupuku juga. Dan aku tidak sudi dengan hal itu. Sama sekali tidak. Kau dengar!"
Sevda merenung sejenak. Yang dikatakan pria di depannya itu benar adanya. Jika suatu saat ia menjalin hubungan dengan Serkan, maka hubungan baru dengan Ayaz sebagai sepupu juga akan terjalin. Dan kenapa Sevda tak memikirkan hal ini sejak dulu.
"Hei, Ikan koi! Apa yang kau pikirkan?" Ayaz membuyarkan lamunan gadis itu. "Kau sekarang mengerti kenapa aku melarangmu mendekati sepupuku? Jika kau mengerti, maka jauhi Serkan! Kau itu tidak cocok dengannya!"
Sevda akan sedih jika yang mengatakan itu orang lain. Tetapi, kalau Ayaz yang mengatakan, ia hanya akan emosi. Karena semua perkataan dari pria itu tidak ada rasa lain selain emosi dan amarah.
"Aku tidak peduli. Ini perasanku dan hidupku. Terserah aku tertarik dan dekat dengan siapa pun. Itu bukan urusanmu. Dan yah, dengar ini, Tuan Gletser! Kau atau pun si Ular Hazal itu, tidak akan bisa menghalangi jalanku demi mendapatkan apa yang aku inginkan. Terserah kalian mau ngomong apa, aku sama sekali tidak peduli. Soal Serkan, itu urusanku, bukan urusanmu. Kalau aku menginginkannya, maka aku akan mendapatkannya!" Sevda melipat tangannya dengan sangat angkuh.
Ayaz menyudutkan senyumnya. "Sombong sekali kau. Memangnya kau bisa meluluhkan sepupuku itu? Asal kau tahu, gadis sepertimu itu bukan tipe sepupuku itu!" kata Ayaz ketus.
Sevda maju selangkah untuk lebih dekat ke arah Ayaz. "Benarkah?" Gadis itu memiringkan senyumnya. "Serkan itu berhati lembut. Bukan sepertimu. Berhati batu!" Sevda mengatakan hal itu sembari menekankan d**a bagian kiri Ayaz dengan telunjuknya.
"Kau terlalu berbicara muluk-muluk. Memangnya kau pikir kau gadis yang sempurna?" balas Ayaz.
"Asal kau tahu, aku memang bukanlah yang sempurna. Tetapi aku memiliki hati yang tulus dan suci. Ada begitu banyak orang yang akan menyukai dengan caraku bersikap. Bukan sepertimu. Kau itu bongkahan gletser. Meskipun begitu banyak sinar mentari yang menerpamu, tidak akan membuatmu cair. Kau sudah menjadi batu. Pria tak berperasaan dan sangat kaku. Boleh aku kasih saran? Sebaiknya hilangkan sikap songongmu itu. Yah, siapa tahu bakal ada gadis yang tertarik denganmu."
"Aku tidak butuh waktu gadis itu mengisi hidupku. Aku sudah merasa senang hidupku sekarang ini. Para gadis hanya membuat hidup semakin ribet saja."
Sevda memiringkan senyumnya. "Sombong dan tak tahu diri. Itulah kau. Hanya orang gila yang akan mau menjadi pasanganmu."
"Aku harap orang gila itu bukan kau?!" jawab Ayaz begitu saja.
Sevda mengangguk dengan ekspresi mengejek. "Yah, aku berharap demikianlah. Tapi kau tenang saja, aku masih waras secara mental dan batin. Jadi, aku tidak akan pernah tertarik denganmu."
"Aku harap kau memegang omonganmu itu, Nona pemarah!"
"Begitun denganmu, Tuan Gletser!"
Sevda dan Ayaz saling membalikkan tubuh dengan perasaan jijik satu sama lain. Melipat tangan di perut berlagak angkuh. Seperti musuh yang amat sangat tak ingin bersatu sama lain.
Kemudian Sevda memilih untuk berjalan pergi meninggalkan Ayaz yang masih berdiam di tempat.
Ayaz menoleh sejenak, memandang kepergian gadis itu yang semakin lama semakin menjauh. Lantas ia kembali menatap ke depan. Memandang deburan ombak yang kian menghantam karang. Udara semakin lama juga semakin sejuk.
Ayaz terus saja terpaku pada ombak. Mengandaikan kalau karang yang diserbu ombak tersebut adalah dirinya. Bentuk sebagai kehidupannya yang tak banyak orang ketahui.
Ayaz selama ini terkenal sebagai orang yang dingin dan jangan bertegur sapa. Irit bicara dan tak acuh dengan keadaan sekitar. Namun sikap tersebut bukanlah bawaan sedari lahirnya. Ia punya alasan kuat sehingga pribadinya yang awalnya ceria menjadi kusam serupa mendung menggelapkan sinar surya.
Masa lalunya, kehidupannya, juga lukanya di hatinya, memiliki rahasia yang ia simpan rapat-rapat, yang hanya orang-orang terdekatnya yang mengetahuinya.