19. Öykü ve Burak

1933 Kata
"Sevda! Kau tidak akan percaya apa yang baru saja terjadi!" Oyku masuk kamar dan langsung memeluk sahabatnya dari belakang. "Ah, kau pasti sudah tahu kalau–" "–Kalau kau dan Burak sekarang sudah berpacaran?" Sevda membalikkan tubuhnya. Menatap sahabatnya dengan rona kebahagiaan. "Akhirnya, kalian resmi juga menjadi pasangan kekasih!" decak Sevda girang. Rupanya ia sudah melupakan masalahnya dengan Hazal tadi. "Sevda, kau benar. Burak memang sangat mencintaiku. Kau tahu, dia tadi mau menenggelamkan diri ke laut seandainya aku tidak menerima cintanya." Oyku bercerita pada Sevda dengan perasaan berbunga-bunga. "Serius Burak akan melakukan hal itu?" "Aku tidak yakin sih. Tapi, yang jelas… aku juga mencintainya. Jadi ya aku terima saja cintanya itu." Oyku melebarkan senyumnya. "Itu memang yang harus terjadi, Oyku!" "Maksudmu, Burak yang menceburkan diri ke laut?" "Bukan. Tapi kalian yang memang harus menjadi pasangan kekasih. Kalian itu sangat cocok. Dan aku sangat bahagia dengan hal itu. Oh iya, Candu juga harus tahu kabar gembira ini!" seru Sevda. Gadis itu bergerak ke nakas. Mengambil ponsel canggihnya dan membuka aplikasi w******p. Lantas ia mulai menghubungi Cansu via video call. "Cansu pasti sudah tidur. Besok saja kita hubungi," saran Oyku. "Aku akan mengganggu tidurnya itu. Pokoknya malam ini dia harus tahu!" kata Sevda keras kepala. "Tapi, Sevda. Aku malu." Oyku menyanyukan mata. Sevda tertawa kecil. "Kenapa kau harus malu, Oyku? Aku menghubungi Cansu. Sahabat karib kita. Bukan orang tua Burak. Hahaha!" "Sevda…. bukan begitu. Sebelumnya kan aku bilang pada Cansu kalau aku tidak mau dengan Burak. Lalu saat ini aku telah menerima cintanya Burak. Aku yakin Cansu akan mengejekku terus-terusan." "Yah, kau benar. Cansu pasti akan melakukan itu. Dan itu akan seru. Hahaha!" "Ah, Sevda. Kau ini." "Eh, lihat. Panggilannya tersambung!" Sevda memperlihatkan ponselnya pada Oyku. Tak lama wajah Cansu yang tampak mengantuk mulai memenuhi layar ponsel. "Cansu!!!" Sevda memanggil dengan sangat antusias. "Ada apa kalian menelpon malam-malam begini? Kalian tidak mengantuk? Hoammz… rasanya aku ngantuk sekali setelah seharian melakukan penelitian." Dari seberang sana Cansu tampak menguap. "Lupakan soal kantukkumu itu, Teman. Aku yakin setelah kau mendengar kabar dariku, kantukkmu pasti akan lenyap. Hahaha!" decak Sevda semangat. Sementara Oyku masih malu-malu di sampingnya. "Memangnya ada kabar apa sehingga kau sangat bersemangat seperti itu, Sevda?" tanya Cansu mulai penasaran. "Kau tahu, teman kita, Oyku, sekarang akhirnya sudah tidak single lagi." "Maksudmu… Oyku dan Burak…." "Exactly! Mereka sekarang sudah resmi berpacaran!" "Benarkah! Yey! Akhirnya!" Suara Cansu terdengar pecah. "Selamat ya, Oyku… apa aku bilang. Kau pasti akan jatuh juga pada rayuan Burak. Kau saja yang sok menolak. Padahal sebenarnya suka. Tapi Oyku… jujur kalian cocok sekali. Aku sangat setuju kau dengan Burak. Mau nikah sekarang pun aku akan rela memberikanmu pada Burak. Hahah!" "Kau lihat itu, Sevda. Cansu pasti akan mengejekku," kata Oyku. Lantas kembali terfokus pada Cansu. "Hentikan tawamu itu, Cansu! Kau duluan sana yang menikah dengan Ozan." "Baiklah. Nanti kita nikahnya sama-sama saja. Biar seru. Dan ya, kita bisa irit catering dan wedding organizer Hahaha!" balas Cansu yang membuat teman-temannya tergelak. "Ngomong-ngomong di mana Ozan?" tanya Sevda pada Cansu. "Kalian tidak tidur bersama kan?" Oyku menimpalinya dengan pertanyaan. "Astaga, Oyku. Tenang saja. Aku masih punya harga diri. Meskipun aku satu kamar, tidak pernah tidur satu ranjang dengan Ozan. Ozan juga tidak pernah macam-macam padaku. Lihatlah, dengan lelapnya dia tidur di sofa!" Cansu menunjukkan kekasihnya yang terbaring di sofa panjang dengan nyamannya. "Kasihan sekali dia harus tidur di sofa!" kata Sevda. "Dia sendiri yang meminta. Dia minta satu kamar denganku. Karena kasurnya cuma satu, mau tidak mau dia tidur di sofa. Hahaha!" "Dasar kau! Hahaha!" "Sudah ya. Aku ngantuk sekali. Besok kita lanjut lagi. Tiga hari lagi kan kan sudah kembali ke Istanbul. Pokoknya kita harus merayakan pesta peresmian hubungan Oyku dan Burak. Oke?" "Siap!" balas Sevda. "Kalian berlebihan," timpal Oyku yang masih malu-malu. "Ayolah Oyku… ini sesuatu yang harus dirayakan. Lagipula, aku kangen pesta dengan kalian." Cansu terdengar menuntut. "Baiklah-baiklah! Tidak ada yang bisa menolak dirimu, Cansu. Kau itu sangat penuntut!" kata Oyku sembari tertawa. "Hahaha! Itu harus. Baiklah, aku tutup dulu ya. See you guys. I love you…!" "See you too!" Sevda dan Oyku mengucap serempak sembari melambaikan tangan ke arah Cansu dalam ponselnya. "Cansu memang selalu heboh ya!" ucap Sevda sembari menggeleng-geleng tertawa. Oyku menatap sahabatnya itu lekat. Kemudian ia bertanya padanya. "Sevda, ada apa denganmu tadi? Kenapa kau tadi seperti terlihat sedih?" Sevda seketika menghentikan tawanya kala mengingat kata-kata tajam Hazal yang dilontarkan padanya tadi. Ia melirik ke arah Oyku sejenak. Menggeleng kemudian menunduk. "Tidak ada apa-apa. Lupakan," pintanya. "Sevda… kau sahabatku. Aku wajib tahu apa yang terjadi padamu, terlebih yang membuatmu sedih. Aku yakin pasti terjadi sesuatu. Apa Ayaz membuatmu kesal lagi?" tanya Oyku penasaran dengan nada penghakiman. "Kalau Ayaz yang melakukannya, aku tidak akan sedih. Aku akan marah dan membalasnya." Kedua tangan Sevda mengepal dengan wajah emosi. "Tapi Hazal! Dia kurang ajar sekali denganku!" "Hazal? Apa lagi yang ular itu lakukan padamu?" Bola mata Oyku membola. Sempat terlintas dalam pikirannya kalau Hazal sudah mengatakan hubungannya dengan Serkan pada Sevda sehingga membuatnya sahabatnya tersebut sedih. "Apa ini soal Serkan?" tanya Oyku lagi dengan sangat hati-hati. Sevda mengangguk, membuat Oyku semakin melotot dan meneguk ludah. "Apa yang dia katakan? Apa dia mengatakan kebenarannya?" Tanpa sadar pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari mulut Oyku. Sevda menatapnya penuh tanda tanya. "Mengatakan kebenaran bagaimana?" tanyanya balik. "Mm… itu…." Sevda menarik napas panjang. "Hazal mengungkit-ungkit masa laluku lagi." "Hah?" "Dia tahu kalau aku menjalani hidup yang tidak seharusnya. Dia tahu kalau aku dan Deniz tertukar dan dibesarkan di keluarga yang berbeda. Dia bilang aku perusak kebahagiaan orang lain. Apakah aku memang begitu, Oyku?" Sevda meminta pendapat sahabatnya dengan mata mengembun. "Sevda… jangan berkata seperti itu." Oyku merengkuh bahu Sevda dari samping. "Kau tidak pernah merusak kebahagiaan orang lain. Justru kau adalah penebar kebahagiaan. Aku tahu pasti yang terjadi di masa lalumu itu bukan kesengajaan." "Tapi Ibu Sonya sengaja menukar kami, Oyku." Air mata Sevda mulai merembes. "Tapi kau tidak tahu, kan? Dan kau sebenarnya tidak menginginkan ini terjadi. Jadi itu bukan kesalahanmu. Anggap saja ini menjadi takdir hidupmu. Lagi pula, sekarang ibumu Aisha dan ayahmu Aydin sudah resmi menikah. Itu artinya kau berhak akan kehidupanmu sekarang. Kalian sudah bahagia kan? Tidak perlu mempedulikan omongan orang lain. Terlebih Hazal. Dia itu ular. Suka sekali menebar racun." Sevda mengangguk-angguk mendengarkan nasihat sahabatnya tersebut. "Yah, kau benar. Kenapa aku harus sedih karena Hazal? Memangnya siapa dia yang berhak menentukan kebahagiaan dalam hidupku." "Tapi aku rasa Hazal sudah keterlaluan. Lihat saja, aku pasti akan membalasnya untukmu." Oyku berkata dengan berapi-api. "Sudahlah, Oyku. Lupakan saja. Aku tidak ingin mencari keributan." "Kau tenang saja, Sevda. Serahkan padaku. Hazal pasti akan membayar air matamu itu!" Oyku menyemburkan napas emosi. Sevda yang melihatnya menjadi tersenyum. Ia memeluk sahabatnya itu dengan senyuman yang mulai mengembang dari garis bibirnya. "Terima kasih, Oyku. Kau memang sahabat terbaik. Dan juga Cansu. Kalian yang terbaik." "Kau juga selalu baik padaku. Makanya aku membalasmu dengan kebaikan pula." Oyku melebarkan senyumnya. "Jujur aku beruntung memiliki kalian. Aku jauh dari keluargaku tapi aku tidak pernah sekalipun merasakan kesepian. Karena kau dan Cansu selalu saja membuat hidupku ramai penuh canda tawa." "Ufff… kau mengatakan kata-kata penuh emosional. Sudahlah, mari kita tidur. Aku harus memulihkan energiku untuk membalas Hazal besok pagi," ucap Oyku. "Memangnya apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Sevda penasaran. "Lihat saja besok. Dia pasti tidak akan berani lagi menganggumu setelah ini." "Terserah apa yang akan kau lakukan padanya, Oyku. Yang penting dia tidak mengganggu kita." Kedua sabahat tersebut akhirnya memilih untuk tidur dan menjemput mimpinya. Saat Sevda sudah terlelap, Oyku masih saja terjaga. Ia tak bisa tertidur. Ia terus memikirkan tentang momen saat bersama Burak tadi. Senyum kecil kerap terlukis di garis bibirnya kemudian mengembang menjadi senyuman. Pikirannya selalu terbayang oleh kekasihnya. Nada pesan tiba-tiba masuk dari ponselnya. Oyku melirik ke meja nakas. Meraih dengan tangan tangannya. Melihat pesan w******p dari Burak. Tentu saja itu membuatnya gembira. Segera ia membukanya. [Hi, Honey. Apa kau sudah tidur?] Oyku tersenyum kemudian membalasnya. [Sebentar lagi aku akan tidur. Kau sendiri, kenapa kau belum tidur?] [Aku tidak bisa tidur. Aku selalu memikirkanmu] [Yang benar saja] [Aku serius, Oyku. Aku akan mengingat malam ini. Malam penyatuan kita. Rasanya aku tidak percaya kau menjadi milikku sekarang. Tidakkah kita perlu merayakannya?] [Kau telat, Sayang. Cansu dan Hazal sudah merencanakan hal itu.] [Jadi kau sudah memberi tahu mereka soal hubungan kita? [Sevda sendiri yang sudah menebaknya. Lalu dia memberi tahu Cansu. Kau tahu, sudah lama mereka memang sengaja ingin menjodohkanku denganmu. Mereka memang menyebalkan bukan? Haha!] [Menyebalkan? Jadi kau tidak senang menjadi kekasihku? Tega sekali kau :(] [Haha… bukan begitu, Burak. Ayolah kau terlalu berlebihan menangapinya.] [Hehe… aku tahu kok, kau pasti juga suka denganku sejak dulu. Aku memperhatikannya, Honey. Hanya saja, kau terlalu gengsi mengatakannya. Jadi aku yang harus turun tangan membuatmu sadar.] [Jangan terlalu percaya diri, Stupid. Memangnya kau setampan itu sehingga aku tertarik padamu sejak dulu? Haha!] [Meskipun aku tidak tampan, tapi hati dan cintaku murni padamu :*] [Tapi menurutku kau tampan. Yah, kalau disandingkan dengan p****t sapi. Haha!] [Astaga. Sejelek itukah wajahku sehingga harus bersaing dengan p****t sapi] [Haha… aku hanya bercanda, Sayang. Kau tampan kok, di mata orang yang tepat.] [Contohnya… dirimu?] [Burak, kau membuatku memerah delima.] [Haha! Apa Sevda sudah tidur?] [Sudah.] [Bagus. Sekarang, keluarlah. Aku kita ketemu di taman belakang.] [Yang benar saja, Burak. Malam-malam begini?] [Kenapa memangnya? Aku tidak akan macam-macam kok. Aku hanya ingin menikmati sepanjang malam denganmu di tepi kolam renang. Kita duduk bersama. Kau bersandar di dadaku, lalu aku mendekapmu, mengelus bahumu sampai kau terlelap. Coba bayangkan, pasti asyik sekali bukan?] [Burak, diamlah! Jangan bicara omong kosong. Nanti kalau yang lainnya lihat bagaimana? Aku tidak mau mereka berpikir macam-macam.] [Baiklah… baiklah. Oh iya, tadi Sevda kenapa?] [Hazal yang membuatnya menangis. Kau tahu, Hazal itu kurang ajar. Dia selalu menganggu kami. Tapi aku tidak akan tinggal diam. Aku besok akan membalasnya!] [Oyku Sayang… boleh aku mengatakan sesuatu? Sebaiknya kau jangan bermasalah dengan Hazal. Maksudku, kau tahu kan dia kekasihnya Serkan jadi kumohon jangan kalian berantem.] [Diamlah, Burak. Jangan mengaturku soal Hazal! Dia itu licik. Dia telah membuat sahabatnya sakit hati. Dia mengungkit masa lalu Sevda. Itu sangat menyakitkan. Burak, boleh aku minta bantuan?] [Bantuan apa? Untukmu aku siap melakukannya! Hahaha…] [Apa kau tahu sesuatu tentang Hazal? Tentang keluarganya atau yang lainnya.] [ Apa yang akan kau lakukan, Honey. Jangan melibatkan keluarga dalam hal ini.] [Dia sendiri yang mulai. Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus cari tahu sesuatu tentangnya!] [Sebenarnya aku tahu sesuatu tentang masa lalu ayahnya dulu. Tapi Oyku, aku tidak mau terjadi keributan antara kau dan Hazal sehingga Serkan dan lainnya ikut terlibat.] [Kau tenang saja. Ini hanya antara aku, Sevda, Cansu, dan Hazal. Selain itu kalian tidak akan terlibat. Sekarang katakan apa yang kau tahu tentang ayah Hazal?] [Besok saja, ya. Aku ngantuk sekali.] [Ah, Burak. Kau membuat tidurku tidak nyenyak karena penasaran. Tapi baiklah. Besok aku akan menagihnya lagi. Awas saja kalau kau tidak mau.] [Iya… iya… astaga!] [Baiklah, sekarang tidurlah!] [Katakan dulu kata-kata romantis padaku. Baru aku bisa tidur. Hehe…] [Apa yang ingin kau dengar dariku, Burak? Aku bukan gadis yang romantis.] [Katakan saja kalau kau mencintaiku itu sudah cukup. Hehe.] [Baiklah. I love you, Burak. I really really love you :* ] [I love you too… good night and have a nice dreams] [You too, Baby] Oyku pun akhirnya menyudahi percakapan lewat w******p tersebut. Lantas mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas nakas. Kemudian ia melirik ke samping, melihat Sevda yang sudah terlelap. Ia pun ikut menekan mata dengan tersenyum.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN