Dering ponsel membising membuat gadis berambut firank membelah kelopak matanya. Gadis itu menguap. Mengucek mata, melihat sinar Surya yang mengintip dari balik tirai. Dilihatnya seorang pria yang masih terlelap di atas sofa.
Candu menguap. Meraba nakas, mengambil benda pipih berteknologi canggih yang terus membising memekakkan telinganya. Ia melihat nama Oyku yang sedari tadi menghubunginya.
"Anak ini, ada apa pagi-pagi sudah menelpon." Dengan malas ia mengangkat ponselnya dan menempelkan di daun telinganya.
"Cansu!!!" Suara Oyku langsung merasuk gendang telinganya begitu kencang.
"Astaga. Pagi-pagi kau kerasukan apa sih? Pecah gendang telingaku," kata Cansu dengan malas.
"Kau baru bangun?" Dari seberang sana Oyku terdengar bertanya.
"Iya. Memangnya ada apa sih? Kenapa kau menelpon pagi-pagi seperti ini? Tidak biasanya kau melakukan itu," ucap Cansu sembari menguap.
"Ini sudah pukul tujuh, Tuan putri!" Oyku memberi jeda sejenak. "Oh iya, Ozan di mana?" tanya Oyku kemudian.
Cansu melirik ke arah Ozan yang masih tampak lelap dalam tidurnya. "Tuh. Dia masih molor di atas sofa."
"Astaga… kalian memang cocok sekali menjadi putri dan pangeran molor. Jam segini kalian masih saja berada di tempat tidur."
"Memangnya ada apa sih?" tanya Cansu untuk kesekian kalinya.
"Kau tahu, Hazal kembali berulah."
"Apa lagi yang gadis ular itu lakukan?" tanya Cansu sembari beringsut dari ranjang.
"Tadi malam dia membuat Sevda menangis," kabar Oyku yang langsung membuat Cansu melotot.
"Hah? Bukannya tadi malam Sevda baik-baik saja saja kita video call."
"Iya, sebelum itu terjadi sesuatu. Hanya saja aku tahunya setelah kita video call. Kau tahu bagaimana Sevda, kan? Mana mungkin dia mau merusak kebahagiaan kita dengan menceritakan masalahnya."
"Yah, Sevda memang pandai menyembunyikan derita. Ngomong-ngomong di mana dia sekarang?"
"Dia masih di kamar. Aku diam-diam menghubungimu di atas balkon."
"Memangnya apa yang Hazal lakukan padanya sampai dia menangis?" tanya Cansu yang sedari tadi penasaran.
"Hazal mengungkit masa lalu Sevda yang menyakitkan. Yang soal dia tertukar saat lahir. Hazal menyebut Sevda sebagai gadis perusak kebahagiaan orang lain. Dia tidak pantas mendapatkan kekayaan dan kasih sayang keluarga. Pokoknya seperti itulah. Apalagi Hazal pasti mengatakan dengan nada yang begitu menusuk. Bisa bayangkan bagaimana perasaan Sevda saat itu."
Cansu mengambil napas cepat. Kabar dari Oyku telah membuatnya sesak napas pagi-pagi. "Memang benar-benar itu ular mesti kita cincang secepatnya. Andai aku dekat, pasti kugulung jadi kebab si Hazal!"
"Aku juga emosi sekali!"
"Kita harus membalas gadis itu, Oyku. Seenak jidat dia mengatakan itu dan melukai hati sahabat kita. Aduh, aku tidak sabar untuk tarik rambutnya dan menceburkan ke got!" Cansu mengontrak emosinya dengan mondar-mandir di depan jendela.
"Kau tenang saja, Cansu. Aku sudah punya kartu as untuk membalas perbuatan Hazal pada Sevda. Hanya butuh sedikit tambahan saja."
"Maksudmu?" tanya Cansu sembari menghentikan langkahnya.
"Burak sudah mengatakan padaku tentang masa lalu ayah Hazal dulu. Tapi, itu tidak cukup. Aku butuh info lagi dari Ozan."
"Ozan masih tidur." Cansu kembali menoleh ke arah kekasihnya yang belum juga membuka mata.
"Kau coba tanyakan pada Ozan, kenapa gadis seperti Hazal bisa menjadi kekasih Serkan. Apa kau tidak merasa aneh? Hazal itu bukan gadis baik, sangat berbanding terbalik dengan sikap Serkan. Kecantikan juga standar saja. Soal kaya, keluarganya lebih kaya dari keluarga Serkan. Lalu kenapa Serkan bisa tertarik dengannya?"
Cansu merenung. Mengangguk-angguk. "Kau benar juga, ya. Apa jangan-jangan… Serkan menerima Hazal sebagai kekasihnya karena terpaksa?" asumsi Cansu.
"Itu yang coba aku katakan. Coba kau tanya Ozan. Ozan pasti tahu sesuatu. Dia kan sudah lama berteman dengan Serkan," pinta Oyku.
"Baiklah. Aku akan bertanya pada Ozan."
"Ya sudah. Nanti hubungi aku ya kalau sudah mendapat jawabannya. Aku tutup dulu."
"Oke."
Panggilan terhenti. Cansu melempar ponselnya di atas kasur. Kemudian bergerak ke arah jendela dan menyingkap tirai gordennya.
"Hazal… menyebalkan sekali kau!" desisnya kesal.
Setelah membiarkan sinar sang surya pagi hari membasuh kamarnya, gadis itu bergerak keluar kamar. Ia kembali lagi dengan secangkir kopi. Berjalan ke arah sofa mendekati kekasihnya yang masih terlelap.
"Ozan! Bangun. Sudah pagi!" Cansu membangunkan kekasihnya dengan menepuk-nepuk kecil pipinya.
Namun sepertinya Ozan masih saja sibuk berkeliaran di alam mimpinya. Terpaksa Cansu mendekatkan secangkir kopi hangat tepat di pipi Ozan, sehingga membuat pria itu bereaksi.
Ozan sedikit menjingkat. Mulai membelah kelopak matanya secara perlahan. Melihat penampakan kekasihnya di depan matanya yang masih samar.
"Baby… what are you doing?" tanya Ozan sembari mengucek mata.
"Wake up, Honey. Kopi hangat sudah menunggumu," seru Cansu dengan senyuman termanisnya.
"Hah?" Ozan mulai membangunkan tubuhnya. Melakukan perenggangan otot leher dan juga tangannya. Baru setelah itu menatap Cansu yang tersenyum lebar.
"Ada apa?"
Cansu masih saja melebarkan senyumnya dengan mata berkedip-kedip.
"Kopi hangat lengkap dengan senyuman. Pasti ada udang di balik batu," tebak Ozan yang kenal betul sikap Cansu saat meminta sesuatu darinya. Gadis itu akan bersikap sangat manis padanya.
"Ozan… kau menuduh sembarangan. Aku bersikap seperti ini karena aku sayang padamu." Cansu memanyunkan bibirnya.
"Benarkah? Memangnya sesayang apa dirimu padaku?" tanya Ozan menggoda, dengan kepala yang maju ke depan, hendak menyeruput secangkir kopi di tangan Cansu. Namun gadis itu buru-buru menghindarkannya.
"Jangan dulu. Sekarang katakan, apa kau mengenal Serkan dengan sangat baik?" tanya Cansu basa-basi.
Wajah Ozan langsung berubah. "Masih pagi seperti kau sudah mengingat pria lain. Apa kau tidak peduli dengan perasaan kekasihmu ini?"
"Bukan begitu, Baby. Aku hanya ingin tanya sesuatu tentangnya. Hehe."
"Pasti ada hubungannya dengan Hazal," tebak Ozan sembari menyemburkan napasnya.
"Kenapa kau tahu?"
"Cansu, ada apalagi kalian ini? Kenapa kalian selalu saja musuhan?"
"Kau bertanya seperti tidak pernah tahu sikap Hazal seperti apa." Cansu memalingkan wajahnya.
Ozan mendekap Cansu dari belakang dan mendaratkan janggutnya di pundak Cansu. Pria itu mencoba bersikap romantis. "Iya, iya… aku tahu. Hazal memang seperti itu. Boleh aku jujur, aku sebenarnya tidak setuju Serkan pacaran dengannya. Hazal itu terlalu mengekang Serkan. Saat kami sedang asyik main bersama-sama, dia langsung menyuruh Serkan untuk menemaninya belanja, jalan-jalan dan semua hal yang dia sukai. Bukankah itu terlalu penuntut?"
Cansu melirik ke samping tepat di wajah sang kekasih. "Jadi, saat aku menyuruhmu menemaniku jalan-jalan kau juga menganggapku penuntut?" tanya Cansu dengan perasaan kesal karena tersinggung.
"Bukan begitu, Sayang. " Ozan semakin mengeratkan dekapannya. "Kau kan bisa mengerti keadaanku juga. Tapi kalau Hazal itu dia tidak peduli keadaan Serkan. Apa pun yang dia mau pokoknya Serkan harus menurutinya."
Cansu mengangguk-angguk. "Hazal memang gadis yang menyebalkan. Dan sekarang kau masih saja bertanya kenapa aku selalu bertengkar dengannya?" Cansu memberi jeda sejenak. Meneguk saliva sekadar membasuh tenggorokannya. "Apa kau tahu sesuatu, kenapa Serkan bisa menerima Hazal sebagai kekasihnya?"
"Umm… mungkin karena Serkan terpaksa. Yah, Serkan itu sangat penurut pada kedua orang tuanya. Sementara kedua orang tua Serkan berkawan baik dengan orang tua Hazal. Bahkan orang tua Serkan selalu membantu orang tua Hazal kapanpun mengalami kesulitan. Dan ibunya Serkan dan Ibunya Hazal berencana untuk menjodohkan anaknya tersebut agar semakin mempererat tali persahabatan. Mungkin seperti itu."
"Oh… jadi begitu," ucap Cansu mengangguk-angguk.
"Ehm. Sekarang katakan, apa yang membuatmu bersikap romantis pagi-pagi seperti ini?" tanya Ozan kemudian.
"Tidak ada. Aku sudah mendapatkan jawabannya," kata Cansu lantas meneguk kopinya sampai tandas.
"Bukannya kau membuatkan kopi itu untukku?"
"Ehm. Tapi aku rasa kau tidak mau. Jadi ya aku minum." Cansu melebarnya senyumnya. "Sudah ya. Aku mau mandi. Kau cepat bangun dan bereskan bekas tidurmu. Rapikan juga selimutku. Oke? I love you!" Cansu mengecup kedua pipi Ozan serta bibir dengan kilat kemudian beranjak dari sana.
Sementara Ozan hanya menggelengkan kepala kemudian tersenyum. "Gadis ini. Benar-benar aneh."
Cansu mengambil ponselnya di atas ranjang dan bergerak ke kamar mandi. Ia bergegas menelpon Oyku. Setelah ponselnya tersambung, ia langsung mengatakan soal tadi pada Oyku.
"Oyku, ternyata Serkan memang terpaksa menjalin hubungan dengan Hazal. Karena tuntutan keluarga mereka," kata Cansu.
"Sudah aku duga. Sekarang, giliran membalas perbuatan Hazal pada Sevda." Suara Oyku terdengar begitu semangat.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan. Dan rahasia masa lalu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Oyku? Apa yang Burak ceritakan padamu? Cepat kasih tahu aku!" pinta Cansu tidak sabaran.
"Iya… iya… astaga!"
Oyku pun mulai menceritakan semuanya pada Cansu.