21. Kekalahan Hazal

1564 Kata
Debur ombak air kolam menggoyang, saat seorang gadis tampak asyik menyelaminya. Keluar dengan keadaan basah kuyup, memaksa tubuh seksinya terekspos. Hazal menyudutkan senyumnya, melihat Oyku yang berjalan dengan langkah angkuh ke arah pinggiran kolam renang. "Tumben sekali kau bangun pagi-pagi," sindir Oyku pada Hazal tanpa menoleh ke arahnya. "Memangnya apa urusanmu?" Hazal mengambil handuk di sandaran kursi dan menggunakannya untuk mengeringkan rambutmu. "Urus saja dirimu sendiri. Jangan terlalu ikut campur masalah orang lain!" ketus Hazal bernada menyindir. Oyku tertawa sumbang. Melipat tangannya di perut dengan tatapan angkuh juga penuh emosi terhadap Hazal. "Aku rasa nasihat itu cocok untuk dirimu sendiri, Ular betina!" "Berani sekali kau menyebutku ular betina!" Hazal mengacungkan telunjuknya tepat di muka Oyku dengan suara meninggi. "Jangan berteriak padaku, Hazal! Jangan pernah!" "Oh, sekarang kau mengancamku?" Hazal tersenyum penuh arti. "Kenapa kau tadi malam membuat Sevda menangis?!" tanya Oyku dengan suara ketus. "Oh, rupanya Si anak pungut itu mengadu padamu. Memang itulah sikapnya. Tukang mengadu dan payah. Perusak kebahagiaan orang lain!" "Tutup mulut busukmu itu, Hazal! Jangan kau sebut Sevda sebagai anak pungut. Kau mungkin belum tahu kalau—" "–Kalau apa? Kalau sebenarnya Sevda merenggut kehidupan mewah orang lain? Sevda hanya gadis miskin yang bernasib beruntung sehingga dia dibesarkan di keluarga kaya raya. Keluarganya yang dia agung-agungkan padaku, bukanlah keluarga yang sebenarnya. Dia hanya anak pungut sejak lahir!" Plak!!! Oyku yang kehilangan kesabarannya mulai menghadiahkan tamparan pada pipi gadis yang berada di depannya. "Berani sekali kau menamparku!" Hazal hendak membalas tetapi dengan cepat Oyku menahan tangannya tersebut dengan amat erat. "Masih mending aku hanya menamparmu, tidak mendorongmu ke dalam kolam renang!" sungut Oyku berapi-api. "Dengar ini, Gadis ular! Untuk terakhir kalinya, aku peringatkan jangan mengusik Sevda." "Atau apa?!" Hazal menarik tangannya dari genggaman Oyku dengan kasar. "Kau ingin mengancamku? Hah? Memangnya siapa dirimu berani mengancamku?!" "Aku adalah sahabatnya Sevda!" balas Oyku lantang. "Siapa pun yang meneteskan air matanya aku akan turun tangan langsung!" Hazal menyudutkan senyumnya penuh ejek. "Kalian memang pantas bersama. Sama-sama orang songong tak tahu diri. Pantas saja orang miskin seperti kalian–" "–siapa yang orang miskin, Hazal? Hah? Aku? Ayahku yang memiliki bisnis mall, atau ayah Sevda yang memiliki puluhan resto dan hotel? Atau… ayahmu, yang bekas narapidana?" Hazal melototkan mata terkesiap saat Oyku mengatakan sesuatu tentang ayahnya. Bahkan ia tak habis pikir, bagaimana gadis itu bisa tahu masa lalu ayahnya yang kelam. "Beraninya kau menyebut ayahku seperti itu?!" Hazal meninggikan oktaf suaranya penuh emosi. Oyku memiringkan senyumnya penuh arti. "Kebenaran memang sangat menyakitkan, Hazal. Kau mengejek masa lalu Sevda, dan sekarang saat orang lain melakukan hal yang sama, kenapa kau justru emosi?" Oyku mengambil langkah maju untuk lebih dekat dengan gadis itu yang mulai menciut nyalinya. "Asal kau tahu, Ibu Sevda dan ayah angkatnya sudah resmi menikah beberapa tahun yang lalu. Itu artinya, mereka sudah menjadi keluarga sah Sevda. Kekayaan dan kekuasaan tentu akan menjadi milik Sevda. Sevda bisa saja menyombongkan itu padamu. Tetapi karena dia sangat baik dan memiliki karakter yang yang baik, dia tidak mau menyombongkan semua yang dimilikinya pada orang lain. Tapi dirimu…." Oyku menggelengkan kepalanya penuh ejekan. "Ck… CK…. Ck… aku kasihan sekali padamu, Hazal. Kau menghina Sevda dan keluarganya atas masa lalunya yang sebenarnya itu bukanlah kesalahan Sevda, tapi kau lupa perbuatan ayahmu di masa lalu!" Hazal kembali melototkan matanya kala Oyku mengingatkan kembali tentang ayahnya. "Memangnya apa yang kau tahu tentang ayahku?!" Oyku tersenyum sumbang. Ia mulai mengerakkan langkahnya. Berjalan mengitari Hazal yang mematung. "Aku tahu segalanya, Hazal. Aku tahu ayahmu dulu pernah terlibat penyalahgunaan obat-obatan terlarang sehingga membuat ayahmu mendekam di penjara. Tapi, ayah Serkan yang baik hati itu, membantu ayahmu keluar atas dasar pertemanan. Lalu, ibumu dan ibu Serkan memutuskan untuk menjodohkan kalian. Karena Serkan anak baik, dia menurut saja pada orang tuanya. Serkan tidak pernah tahu kalau sebenarnya ayahmu mantan pengguna narkoba. Coba bayangkan, bagaimana jika Serkan tahu hal itu?" "Oyku, tutup mulutmu!" Hazal berteriak dengan mengacungkan telunjuknya. Oyku menghentikan langkahnya tepat di depan Hazal. "Sudah kubilang jangan berteriak padaku, Hazal. Kau sekarang sudah kalah telak! Boleh aku katakan sesuatu? Jika kau punya rasa malu, maka tinggalkanlah Serkan. Kau tidak pantas mendapatkannya. Serkan itu terlalu baik untuk dirimu yang jahat seperti ular!" Hazal mengambil napas cepat. Menyimpan amarah yang membara. "Dan mungkin saja sebenarnya Serkan tidak pernah tertarik padamu. Dia hanya terpaksa menerimamu sebagai kekasihnya atas permintaan orang tuanya. Sungguh malang sekali nasib Serkan." "Oyku… kalau kau tidak bisa diam maka aku akan–" "–apa yang akan kau lakukan? Hah? Sebelum kau bertindak sesuatu, aku yang akan lebih dahulu bertindak. Aku akan mengatakan pada Serkan kalau ayahmu dulu pernah terlibat dalam kasus penyalahgunaan obat terlarang. Aku yakin, pria cerdas dan mandiri seperti Serkan tidak pernah menyukai hal itu. Dia akan punya alasan untuk memutuskanmu." "Apa yang kau inginkan dariku? Jangan kau merusak kebahagiaan kami!" "Kebahagiaan kami? Kau sendiri yang bahagia, bukan Serkan. Dia hanya terpaksa bahagia. TERPAKSA! Camkan itu!" Oyku selalu punya balasan untuk setiap perkataan Hazal. Entah mengapa gadis itu mendadak cerdas. Hazal menarik napas. Mencoba membuat dirinya tenang. Menelan ludah dan mengerjap. "Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya sekali lagi. Oyku memiringkan senyumnya. "Gampang. Mulai detik ini, jangan pernah menggangu Sevda lagi. Jangan sampai kau membuat sahabatku itu sakit hati. Jauhi Sevda. Dan ya… aku kasih saran, sebaiknya kau juga mulai jauhi Serkan, karena cepat atau lambat Serkan pasti akan tahu kebusukan ayahmu. Mungkin saat itu akan menjadi hari terakhir bagi hubungan kalian." Tubuh Sevda mendadak gemetar sehingga membuat handuk di tangannya terjatuh. Oyku menunduk, memungut handuk tersebut dengan jijik dan mengaitkannya di kepala Hazal. "Kurasa kau kedinginan, Hazal. Pakailah handukmu ini agar tubuhmu tidak gemetar. Atau… sebenarnya kau sedang ketakutan?" ejek Oyku dengan nada menyakitkan. Hazal memicingkan mata penuh emosi ke arahnya. Mengambil napas cepat seperti habis dikejar hantu saja. Kali ini gadis itu benar-benar kalah telak di hadapan Oyku. Tanpa sepatah kata yang terucap, Hazal memilih bergegas dari hadapan Oyku dengan emosi yang mendongkol di benak jiwa. Sementara Oyku tersenyum lebar, berhasil membalas musuhnya dan menempatkan posisi yang sebenarnya. "Rasain kau, Hazal. Setelah ini, kau tidak akan pernah bisa mengganggunya kami lagi," gumam Oyku sembari memperhatikan kepergian Hazal. Tanpa mereka sadari, diam-diam Ayaz memperhatikan mereka sejak tadi. Saat Hazal sudah masuk ke dalam, giliran Ayaz yang berjalan mendekati Oyku. "Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Ayaz dengan dingin, membuat Oyku menelan ludah. "T-tidak ada. Kami hanya bicara saja." Oyku memalingkan pandangan ke lain arah. "Sebenarnya aku tidak mau ikut campur masalah kalian. Tapi, boleh sarankan sesuatu?" "A-apa?" tanya Oyku yang masih gugup. "Bilang pada temanmu, Sevda, untuk jangan dekat-dekat dengan sepupuku Serkan," kata Ayaz membuat Oyku membulatkan mata. "Apa masalahmu? Kenapa kau melarangnya. Kau tidak punya hak untuk itu!" balas Oyku mulai marah. "Itu yang lebih baik untuk temanmu dan juga sepupuku. Apa kau tidak tahu kalau sepupuku itu sudah memiliki pacar?" "Maksudmu Hazal? Kau tenang saja Hazal pasti–" "–Dengar! Jika Sevda tahu kalau Serkan dan Hazal sudah menjalin hubungan sejak lama, Sevda pasti akan sangat sedih," potong Ayaz cepat. Oyku menunduk. "Kau benar juga. Tapi, kenapa kau mendadak sangat perhatian pada Sevda?" tanya Oyku membuat Ayaz menelan ludah. "Mm… aku … aku hanya tidak ingin terjadi masalah saja pada Serkan. Yah, itu," kata Ayaz sedikit gugup. "Sudahlah. Aku minta padamu, katakan pada temanmu, untuk jangan berharap terlalu lebih pada Serkan. Suruh dia lupakan Serkan." "Tidak bisa! Tidak bisa begitu konsepnya. Serkan dan Sevda harus bersama. Itu sudah menjadi keinginan kami!" kata Oyku membantah. Ayaz mendesah gusar. "Kalian para gadis memang aneh. Aku tidak mau tahu, suruh Sevda jauhi Serkan, atau aku yang akan mengatakannya sendiri pada Sevda kalau sebenarnya Serkan sudah memiliki pacar!" ancam Ayaz membuat Oyku membulatkan kedua bola matanya. "Apa?!" Oyku menarik tangan Ayaz yang hendak pergi. "Jangan lakukan itu, Manusia es. Eh, maksudku… Ayaz. Kumohon jangan lakukan itu. Biarkan ini menjadi rahasia. Ya? Please!" Ayaz memalingkan pandangan ke kiri dan ke kanan dengan gusar. Oyku terus mencoba meyakinkan pria itu. Menggenggam kedua tangannya dengan perasaan mengiba. "Ku mohon, Ayaz. Sevda pasti akan sangat sedih jika mengetahui kebenaran ini. Tolong jangan katakan apa pun padanya. Kebahagiaan Sevda ada di tanganmu sekarang. Aku tahu kau tidak menyukai Sevda atau bahkan membencinya, tapi setidaknya pikirkan tentang rasa kemanusiaan. Apa kau tega membuat seorang gadis menangis?" Ayaz memikirkan tentang perkataan Oyku. Ia mengingat tadi malam saat Sevda menangis. Entah mengapa, itu melukai hatinya. Hatinya merasa iba. Melihat Sevda seperti itu, ia menjadi ingat akan sosok ibunya yang sudah meninggal. Dan itu membuatnya sedih. Ayaz membuang napas gusar. "Baiklah… baiklah. Aku tidak akan mengatakan apa pun padanya!" "Ah, terima kasih, Ayaz. Kau baik sekali!" Saking girangnya, Oyku bahkan tak sadar ia memeluk Ayaz secara spontan. Tanpa mereka sadari, Sevda melihat mereka dari balik jendela lantai atas. Dan lebih parahnya lagi, Burak yang hendak ke kolam renang juga melihat hal itu. Tentu itu membuat hati pria itu terluka dan mengira kalau mereka memiliki hubungan. Dengan perasaan emosi dan sedih, Burak berjalan menjauh. Sementara Ayaz dan Oyku masih berada di sana. "Terima kasih, Ayaz. Ternyata kau pria yang baik. Maksudku, kami salah tentangmu selama ini. Maaf, hehe," kata Oyku sembari terkekeh. "Sudahlah. Aku mau pergi. Mungkin Serkan sudah kembali membeli sarapan." Setelah mengatakan itu, Ayaz berbalik dan berjalan masuk ke dalam. Pun demikian dengan Oyku, yang membuntutinya dari belakang. Sementara Sevda yang berada di atas sana, bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN