22. Kesalahpahaman

1026 Kata
"Sial!" Burak meninju kaca jendela depannya dengan tangan mengepal. Mengingat saat Oyku memeluk Ayaz tadi membuat banteng dalam dirinya bangkit dan murka. "Kenapa Oyku sangat dekat dengan Ayaz? Apa benar mereka memiliki hubungan? Tapi bukankah Oyku yang bilang kalau dia juga mencintaiku? Atau itu hanya kepura-puraannya belaka?" Burak menimbang asumsinya. "Menyebalkan!" Kembali pria itu mencoba mencengkeram kaca di depannya dengan murka. Baru saja semalam ia bahagia mendapatkan gadis idamannya, tetapi pagi ini kebahagiaan tersebut langsung sirna. Seakan sinar mentari mengeringkannya dengan kerontang. Pintu kamar terbuka. Oyku berjalan pelan dan mendekati Burak yang mematung menghadap jendela. Diam-diam, gadis itu menemuknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung kekasihnya. Sementara tangannya meraba dad@ bidangnya dengan erat. "Burak, hari ini aku bahagia sekali. Kau tahu, aku sudah berhasil membalas Hazal!" kata Oyku yang hanya direspon diam oleh Burak. "Burak, apa hari ini kau jadi mengajakku ke suatu tempat sebelum kita kembali ke Istanbul?" tanya Oyku dengan manja. Burak mencoba memendam kekesalannya. "Tidak jadi!" jawab Burak dingin. Sekali seumur hidup, baru kali ini ia bersikap dingin pada Oyku. "Kenapa?" "Aku tidak mood untuk keluar." Burak mengambil kedua tangan Oyku dari dadanya dan menjauhkannya. Oyku yang menyadari ada hal berbeda dengannya mulai heran. "Burak, ada apa? Apa kau sakit atau kenapa? Kenapa sikapmu berubah?" tanya Oyku dengan dahi mengernyit. Burak menatapnya dengan senyum penuh arti. "Aku tidak apa-apa. Dan sebaiknya tidak perlu mencemaskanku." "Burak? Aku yakin pasti ada sesuatu. Katakan ada apa? Kenapa kau bersikap dingin sekali padaku?" Oyku memberi jeda sejenak. "Ah, aku tahu. Kau pasti sengaja melakukan ini kan dan nantinya kau sudah menyiapkan surprise untukku. Seperti yang ada di film-film. Sekarang katakan, apa kejutan yang kau siapkan untukku?" tanya Oyku dengan senyum berseri-seri. "Kau sendiri yang sudah memberiku kejutan, Oyku!" kata Burak semakin membuat Oyku keheranan. "Burak, apa maksudmu?" Burak mendekat ke arah Oyku, dan berkata, "Aku tidak menyangka kau akan melakukan ini padaku, Oyku. Aku sangat kecewa sekali." "Melakukan apa? Aku tidak melakukan apa pun yang membuatmu kecewa." "Tentu saja kau tidak akan mengakuinya." "Burak, aku tidak suka sikapmu yang seperti ini. Tadi malam kau mengatakan cinta padaku dan sekarang kau marah-marah tanpa alasan. Apa-apaan ini?" Oyku mulai marah. "Tadi malam kau juga mengatakan kalau kau mencintaiku, tapi kau… kah menghianatiku! Pergilah, dan jangan ganggu aku!" balas Burak membuat Oyku mengerling. Oyku meneguk ludah, kemudian berkata, "Kau menyakiti hatiku, Burak! Aku tidak percaya ini!" Dengan amat kesal dan sedih, Oyku membalikkan tubuh. Berjalan cepat ke arah pintu dan keluar sembari membanting pintunya dengan amat keras sebagai tanda kekesalan. Sementara Burak menjatuhkan pantatnya di kasur. "Astaga, apa yang aku lakukan! Sialan!" Pria itu menggesek rambutnya dengan berantakan. *** Di meja makan, mereka semua tampak duduk untuk sarapan. Oyku dan Burak duduk bersandingan. Tetapi mereka hanya diam saja. Sementara Sevda dan Ayaz duduk berhadap-hadapan. Serkan dan Hazal bersebelahan. Setelah menu makanan yang Serkan beli tadi sudah terhidang, mereka mulai makan. "Hazal, boleh tolong ambilkan selai di dekatmu?" pinta Oyku dengan senyuman penuh arti. Hazal mendesah gusar. Kemudian ia mulai mendorong sebotol selai ke arah Oyku dengan pandangan yang berpaling arah dan perasaan kesal. "Terima kasih. Oh iya, mungkin Sevda butuh madu. Sevda, kau suka madu, kan? Hazal tolong ambilkan, ya!" pinta Oyku lagi yang sengaja mengerjai Hazal di depan teman-temannya. "Oyku, aku bisa mengambilnya sendiri." Sevda mencoba menolak. "Sudahlah, Sevda. Kau duduk diam saja. Lagi pula, madunya kan ada di depan Hazal. Biarkan Hazal yang mengambilkannya. Tidak apa-apa, kan, Hazal?" Dengan amat terpaksa, Hazal mengiyakan permintaan Oyku. "Tentu saja. Dengan senang hati. Bahkan jika kau butuh cabai untuk menyumpal mulutmu pun aku akan mengambilnya," kata Hazal dengan nada geram. "Ah, Hazal. Kau suka sekali bercanda. Bukannya kau yang suka cabai? Yah, untuk mengisi daya mulutmu biar selalu ngomong pedas. Hahaha!" Serksn dan Hazal tertawa mendengar hal itu. Sementara Ayaz hanya tersenyum, dan Burak hanya diam saja. Hazal mengepalkan tangannya emosi. "Jangan ambil hati, Hazal. Aku hanya bercanda. Iya, kan, Serkan?" kata Oyku lagi. "Oyku kau terlalu banyak bicara. Nanti Hazal bisa marah." Sevda berbisik pelan di telinga Oyku. "Kau tenang saja, dia akan berani marah lagi pada kita," balas Oyku berbisik. Tiba-tiba Ayaz terbatuk karena tersedak. Sevda dan Oyku dengan cepat menyodorkan segelas air kepadanya. Tentu saja pemandangan itu membuat mereka terpaku. Terutama Burak, yang semakin cemburu atas sikap perhatian Oyku terhadap Ayaz. Dan semakin yakin kalau mereka memiliki hubungan. Ayaz melirik ke arah gelas yang Sevda pegangi. Sejujurnya, ia hendak menerima gelas darinya. Tetapi, ego dan rasa gengsinya menahannya kuat-kuat. Alhasil, ia memilih menerima gelas air dari Oyku. "Hati-hati, Ayaz. Apa kau menertawakan Hazal sampai terbatuk seperti itu?" Oyku masih saja mencari kesempatan untuk membuat Hazal kesal. Sevda kembali menaruh gelasnya di permukaan meja kayu. Kedua maniknya melirik ke arah Burak yang berwajah suram. Sevda bisa menebak, kalau pria itu sekarang ini sedang dimabuk kecemburuan. Untuk mencairkan suasana, akhirnya ia memiliki ide. "Oh iya, kalian tahu… ada pasangan baru di tempat ini. Burak dan Oyku sekarang sudah resmi menjadi pasangan kekasih," kabar Sevda pada yang lainnya dengan wajah berseri-seri. Sementara Burak dan Oyku hanya diam. Mengingat mereka baru saja bertengkar pagi tadi. "Wah, benarkah? Selamat, sobat!" Serkan berdecak gembira. Ia mendekat ke arah Burak dan menjabat tangannya dan merangkul ala seorang sahabat. "Aku turut bahagia." Lantas manik cokelatnya itu menyorot ke arah Oyku. " Oyku, selamat untukmu juga, ya!" Oyku tersenyum tipis. "Terima kasih," ucapnya kemudian. "Bukankah kita harus merayakan hubungan kalian? Kita bisa melakukan pesta nanti malam. Yah, sebelum lusa kita meninggalkan tempat ini. Bagaimana menurutmu, Sevda?" tanya Serkan pada Sevda. "Tentu saja. Aku setuju dengan hal itu. Hehe," kata Sevda antusias. "Baiklah. Aku akan mengatur pesta yang super romantis untuk kalian!" decak Serkan lagi. "Aku akan membantumu," kata Sevda. Serkan tersenyum. "All right!" Hazal yang melihatnya memicingkan mata emosi. Sementara Ayaz juga mulai merasa tak suka dengan kedekatan antara Serkan dan Sevda. Entah mengapa perasaan itu tiba-tiba datang dalam dirinya. Saat yang lainnya sibuk membicarakan rencana pesta, tiba-tiba Burak berdiri dari duduknya. Ia merasa tidak mood membahas akan hal ini. "Aku ke kamar dulu!" kata Burak dingin, kemudian bergegas meninggalkan meja makan. Oyku melihatnya dengan sedih. Sedangkan Hazal tersenyum, berpikir bahwa hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Itu bisa menjadi peluang untuk membalas Oyku nantinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN