Oyku tampak menghubungi Cansu melalui video call. Gadis itu mengatakan segalanya yang tadi ia lakukan dalam membalas Hazal.
"Cansu… andai kau lihat wajah Hazal tadi. Dia seperti anakan kucing yang kehilangan induk. Hahaha!" decak Oyku.
"Haha! Andai aku bisa melihatnya langsung," respon Cansu dari seberang sana.
"Aku sendiri tidak tahu apa yang telah Oyku lakukan pada Hazal. Kenapa bisa Hazal tidak marah saat Oyku menyuruhnya mengambilkan madu untukku!" Sevda dari belakang menyahut perbincangan mereka. Mendekat ke arah Oyku dan ikut menimbrung dalam video call.
"Oyku, memangnya apa yang kau lakukan? Cepat katakan pada kami!" imbuh Sevda penasaran.
"Aku hanya mengatakan pada Hazal untuk tidak lagi mengganggumu, Sevda," ungkap Oyku.
"Hanya itu? Aku yakin pasti ada hal lain." Sevda tahu betul, Hazal tidak akan mudah menyerah hanya karena perkataan Oyku yang menurutnya biasa saja.
"Oyku, cepat kasih tahu Hazal. Atau dia tidak akan tidur memikirkannya nanti. Haha!" Cansu menyahut dari seberang telepon.
"Apa? Jadi kau sudah tahu juga Cansu? Rupanya kalian sudah merencanakan ini tanpa memberitahuku." Suara Sevda terdengar mengambek.
"Ayolah, Sevda. Aku tidak memberitahumu karena kau pasti akan menolaknya. Dan Hazal tidak akan mudah menyerah untuk mengganggumu," balas Oyku.
"Memangnya apa yang kau katakan padanya?"
"Sama seperti dia menghinamu dengan masa lalu keluargamu, aku juga menghina dia tentang masa lalu ayahnya. Kau tahu, ayah Hazal pernah terlibat kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Bahkan dia menjadi narapidana," jelas Oyku.
"Oyku… kau sudah berlebihan dalam membalas Hazal. Pasti dia sangat sedih," kata Sevda yang masih saja mengasihi musuhnya.
"Kau dengar itu Cansu!" Oyku terfokus pada layar ponselnya yang bergambar Cansu.
"Astaga, Sevda. Kau masih saja kasihan pada si ular itu. Hazal sudah membuatmu menangis. Dan sebagai balasannya, dia juga harus menangis. Sevda, aku akan marah jika kau mempermasalahkan hal ini. Kami sudah dengan senang hati membantumu tapi kau malah kasihan pada musuhmu." Cansu mulai berbicara panjang lebar. "Sekali saja jangan pernah kasihan pada orang yang telah melukai hatimu. Kau harus tegas dalam memberinya pelajaran!" imbuhnya dengan nada penuntut.
Sevda menarik bibirnya tersenyum lebar. "Baiklah-baiklah. Terima kasih kalian sudah membantuku. Aku tidak akan mengkomplain usaha yang telah kalian lakukan. Sekali lagi terima kasih. Kalian memang sahabat terbaikku." Sevda merengkuh bahu Oyku dari samping dan menyandarkan kepalanya pada kepala Oyku, sembari pandangan menyorot ke arah layar ponsel bergambar Cansu.
"Ufff… aku juga ingin memeluk kalian!" decak Cansu dari sana. "Pokoknya kalau kita sudah kembali ke Istanbul, kita harus berpelukan. Aku rindu sekali dengan kalian."
"Kami juga merindukanmu, Cansu!" sahut Oyku seraya mengembangkan senyumnya.
"Baiklah. Aku sudahi dulu, ya. Nanti kita ngobrol lagi. Aku sayang kalian. See you!" Cansu melambaikan tangannya serta melakukan cium jauh sebelum akhirnya mematikan panggilan video call-nya.
"See you too!" Sevda dan Oyku mengucap serempak.
Sevda kemudian terfokus pada Oyku yang sibuk dengan ponselnya. Ia bertanya sesuatu tentang hubungannya dengan Burak.
"Oyku, apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Sevda memancing.
"Hm? Yah, ada banyak hal. Aku masih belum puas menceritakan tentang Hazal tadi. Sungguh, Sevda, dia benar-benar kalah telak tadi–"
"–Oyku, lupakan tentang Hazal. Sekarang katakan padaku, apa kau dan Burak baik-baik saja? Tadi waktu di meja makan Burak tidak seperti biasanya. Dia hanya diam. Apa dia ada masalah pribadi? Apa dia cerita padamu?" berondong Sevda dengan berbagai pertanyaan.
Oyku seketika membisu saat sahabatnya tersebut bertanya pasal Burak.
"Oyku!" Sevda menggoyangkan bahu gadis itu saat tak mendapatkan respon darinya.
"Lupakan soal Burak. Aku kesal sekali padanya!" Akhirnya kalimat tersebut meluncur dari bibir Oyku dengan nada penuh kekesalan.
"Kenapa? Bukannya tadi malam kalian baru saja meresmikan hubungan? Kenapa kalian sekarang sudah bertengkar?" Sevda tak habis pikir dengan sahabatnya tersebut.
Oyku berjalan kesal ke arah kursi dan menjatuhkan pantatnya dengan sangat keras di sana. "Kau tahu, pagi tadi sikapnya masih romantis. Tapi setelah itu aku kembali lagi ke kamarnya. Sikapnya langsung berubah. Aku rasa dia punya kepribadian ganda. Entah apa alasannya dia dingin sekali padaku."
Sevda berjalan mendekatinya. "Apa dia tidak mengatakan apa pun?" tanyanya.
"Aku sudah bertanya, tapi dia tak acuh. Dia menyuruhku pergi. Keterlaluan sekali bukan? Aku rasa Burak selama ini hanya main-main denganku. Dia tidak benar-benar mencintaiku." Oyku melipat kedua tangannya di perut dengan memasang muka sebal.
"Tidak mungkin Burak marah padamu tanpa sebab. Pasti ada sesuatu. Dan aku yakin, ini pasti hanya kesalahan pahaman saja. Coba kau bicara lagi padanya nanti," saran Sevda.
"Tidak sudi. Dia yang bersalah, jadi dia yang harus membujukku. Jika sampai besok dia masih saja bersikap seperti itu, maka aku akan memutuskan hubungan dengannya!" Final. Keputusan Oyku tidak bisa diganggu gugat saat ia sedang marah.
"Astaga. Kau selalu menyebutku keras kepala. Tapi kau jauh lebih keras kepala." Sevda mendesis. Mengerjap sejenak dan berkata, "Baiklah-baiklah. Biar aku saja yang berbicara padanya dan menanyakan kenapa dia bersikap dingin padamu."
"Apa dia akan menjawabnya?" Kedua manik Oyku kini menatap Sevda lekat.
"Aku akan memaksanya. Kalau memang dia tidak mau menjawab dan tidak mau memecahkan masalahnya, maka aku yang akan mengatakan padanya untuk jangan mendekatimu. Sahabatku ini tidak boleh merasa sedih." Sevda duduk di pinggiran kursi dan memeluk Oyku.
"Uff… terima kasih, Sevda. Kau memang sahabatku."
"Memang itu kan gunanya sahabat. Selalu ada dan siap membantu kapan pun saat kita merasa kesulitan."
Kedua gadis itu lantas saling merengkuh bahu satu sama lain.
"Oh, iya. Ngomong-ngomong… aku tadi melihatmu dengan Ayaz di kolam renang. Kau memeluk pria batu itu." Perkataan Sevda membuat bola mata Oyku membulat.
"Kenapa kau memeluknya?"
"Kau tidak mendengar pembicaraan kami, kan?" Oyku bertanya spontan.
Sevda menggeleng. Kemudian balik bertanya, "Memangnya kenapa? Apa yang kalian bicarakan?"
Gawat! Sevda tidak boleh tahu kalau aku dan Ayaz sedang membicarakannya soal Serkan.
Oyku menggeleng cepat berkali-kali. "Tidak ada. Aku hanya bicara sedikit tadi. Umm… soal Hazal. Yah, kau tahu, saat aku memarahi Hazal dia bersikap sok pangeran. Dia membela Hazal," kata Oyku mengarang cerita.
"Pantaslah pria batu itu membela temannya. Mereka sama-sama menyebalkan!" Sevda menyemburkan napas kesal. "Aku rasa mereka cocok jika dijodohkan. Sama-sama kurang ajar."
"Dan kau cocok dengan Serkan. Itu yang ingin coba kau katakan, bukan?" ledek Oyku pada Sevda.
"Oyku… diamlah!" Wajah Sevda menjadi memerah delima.
"Tapi yang aku katanya benar adanya, Bukan? Serkan tampan, kau cantik. Serkan dari keluarga terhormat, kau pun juga. Serkan cerdas, kau pintar. Sangat cocok sekali bukan?"
"Oyku… kau benar-benar membuatku malu," kata Sevda sembari tersenyum jengah.