24. Penyelesaian Masalah

1247 Kata
"Hazal, kenapa kau marah-marah? Apa ini karena candaan Oyku tadi waktu di meja makan?" Serkan bertanya pada kekasihnya yang berdiri di depan jendela dengan wajah emosi. "Oyku kan hanya bercanda. Tidak perlu mempermasalahkan hal itu," imbuh Serkan. "Diamlah, Serkan! Harusnya kau membelaku, tapi kenapa malah membela gadis itu?!" Kemarahan Hazal bertambah dua kali lipat. Serkan menyemburkan napas gusar. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menghukum Oyku? Begitu? Jangan kekanak-kanakan, Hazal." "Serkan, kau malah semakin membuatku marah. Lebih baik kau pergi saja dan tinggalkan aku sendiri!" teriak Hazal. Serkan mendesah gusar. Membalikkan tubuh dan berjalan keluar pintu. Lantas ia bergerak menuju kamar Burak. Ia melihat temannya itu yang berdiri di depan jendela dengan murung. "Burak, ada apa?" Serkan bertanya sembari memasuki ruangan. "Apa kau baik-baik saja?" Pria di depan jendela kaca sana menoleh. Melihat sejenak wajah Serkan kemudian kembali memposisikan ke depan kembali. "Suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja," katanya dingin. "Apa kau bertengkar dengan Oyku?" Kembali pemuda tampan itu bertanya. "Ehm." Burak mengangguk. "Bukankah baru semalam kalian meresmikan hubungan dan kau sudah bertengkar? Ada apa, kawan?" Serkan mengambil langkah mendekat. Burak mulai membalikkan tubuhnya, menatap Serkan. Ia hendak menceritakan, tetapi terhenti saat tiba-tiba Ayaz masuk ke dalam ruangan. "Ada apa?" tanya Ayaz saat melihat wajah mereka yang sama-sama suram. "Burak sedang bertengkar dengan Oyku." Serkan yang menjawab. Ayaz menarik bibirnya miring, seakan menganggap hal tersebut remeh. "Astaga… masalah wanita? Aku kira apa," katanya lantas duduk di sofa. Sementara Burak yang melihatnya menyimpan rasa kekesalan. "Memangnya ada masalah apa kau dengan kekasih barumu itu?" tanya Ayaz pada Burak dengan nada santai, sembari menumpangkan kaki kanannya di kaki kirinya dengan kedua tangan yang menyandar di sandaran sofa. "Kau bertanya seakan tidak tahu apa-apa. Jangan berpura-pura bodoh, Ayaz!" Nada suara Burak terdengar ketus. Tentu itu membuat Ayaz dan Serkan mengerling heran. "Burak, kau bertengkar dengan kekasihmu tapi kau meluapkannya padaku." Ayaz masih menanggapinya dengan santai seakan tak tahu akar permasalahannya. "Diam saja kau, Ayaz!" Suara Burak semakin meninggi saja. Baru setelah itu Serkan angkat bicara. "Sebentar-sebentar… Burak, kenapa kau marah dengan Ayaz? Memangnya apa yang telah Ayaz lakukan?" tangannya heran. "Aku tidak merasa melakukan apa pun." Ayaz menjawab cepat. Burak tersenyum sumbang. Melirik ke arah Serkan dan berkata, "Serkan, kau tanya sendiri pada sepupumu itu. Kenapa dia merebut Oyku dariku?!" "What?!" Ayaz seketika membangunkan tubuhnya dengan mata mengerling. "Apa? Ayaz merebut Oyku darimu?" Bahkan Serkan pun tak percaya. Bagaimana tidak, sepupunya itu tidak pernah mau bergaul dengan para gadis, lantas bagaimana bisa berniat merebut kekasih temannya sendiri. "Burak, aku rasa kau telah mengatakan omong kosong. Kau menuduhku tanpa alasan." Ayaz tampak membela diri. "Burak, Ayaz tidak mungkin melakukan itu. Ini Ayaz! Teman kita. Kau seperti tidak mengenalnya saja. Dia alergi para gadis, bagaimana dia bisa merebut Oyku darimu." Serkan menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Kau pasti sudah salah paham." "Serkan, tanyakan pada Ayaz kenapa tadi dia berpelukan dengan Oyku?!" Burak masih saja membantah dengan nada emosi. Ayaz mendesah gusar dengan tersenyum sumbang. "Asal aku tahu, aku tidak pernah menyentuh kekasihmu. Dia sendiri yang memelukku. Itu karena… karena…." Ayaz menghentikan perkataannya. Dia tidak boleh keceplosan saat Serkan ada di sana. Karena ia telah berjanji pada Oyku. "Karen apa?! Hah?" Burak bertanya pada Ayaz sembari berkacak pinggang. Tiba-tiba ponsel berdering dari saku Serkan. Pria itu merogoh, melihat nama sang ayah yang memanggil. "Aku angkat telepon dulu, ya. Kalian cepat selesaikan masalah kalian. Aku tidak mau ada keributan apalagi pertengkaran. Oke?" Setelah mengatakan itu pada Burak dan Ayaz, lantas Serkan beranjak keluar kamar untuk menerima telepon. Burak masih menatap Ayaz penuh emosi. Ayaz menggelengkan kepala tak mengerti. "Burak, aku rasa kau berlebihan. Hanya karena pacarmu itu memelukku bukan berarti aku memiliki hubungan dengannya." "Diamlah, Ayaz. Aku sangat kecewa denganmu. Kau itu temanku, tapi kau menusukku dari belakang. Kau telah berubah, Ayaz!" Burak memalingkan wajah sebal. Ayaz menyemburkan napas. Masih berusaha menjelaskan pada Burak. "Aku tidak pernah berubah, Burak. Aku masih Ayaz yang dulu. Yang tidak peduli dengan gadis mana pun." "Lalu kenapa Oyku memelukmu?!" "Itu karena… karena aku berjanji tidak mengatakannya pada Sevda dan Serkan." "Sebentar-sebentar." Burak memotong cepat perkataan Ayaz. "Apa ini tentang Sevda dan Serkan?" Burak melirik ke arah pintu, memastikan Serkan tidak mendengar perbincangannya. Kemudian mengambil langkah maju untuk lebih dekat dengan Ayaz dan berkata dengan nada pelan. "Maksudku, Oyku memang berusaha menjodohkan Sevda dengan Serkan. Tapi Sevda belum tahu kalau Serkan dan Hazal sebenarnya sudah berpacaran lama." "Itu masalahnya. Aku berniat memberitahukan kebenarannya pada Sevda, tapi Oyku melarang ku. Dia memohon padaku. Ya aku setuju saja. Karena dia terlalu senang, dia memelukku. Itu saja. Apa karena itu kau cemburu dan menjadi salah paham denganku?" Burak mengangguk-angguk. Sekarang ia mengerti akar permasalahannya. "Astaga! Apa yang aku lakukan. Aku sudah marah padamu dan juga Oyku tanpa alasan." Burak menepuk jidatnya. Kemudian kembali terfokus pada Ayaz. "Maaf, Teman. Aku benar-benar menyesal," katanya sembari menepuk-nepukAyaz. "Hampir saja aku mau melemparmu dengan sepatuku tadi," canda Ayaz dengan suara ketus. Burak tertawa dan memeluk temannya itu ala persahabatan. "Mereka para gadis memang melibatkan kita sehingga kita salah paham seperti ini." Serkan tiba-tiba masuk dan mengerutkan dahi melihat mereka. "Sudah selesai?" tanyanya. "Kalian tidak berantem lagi?" Burak cengengesan. "Siapa yang berantem. Aku tadi hanya bercanda saja. Yah, semacam prank. Iya, kan, Teman?" kata Burak sembari menepuk bahu Ayaz. "Aku juga rencananya mau ngeprank dengan merontokkan gigimu itu," canda Ayaz dengan suara geram. Sementara Burak dan Serkan tertawa mendengarnya. "Aku sudah sangat bersalah pada Oyku. Bagaimana caraku meminta maaf. Dia pasti sangat marah." Burak mendesis penuh sesal. "Kau sangat bodoh, Burak!" Pria itu mengangguk rambutnya yang sama sekali tak gatal. "Sobat, bagaimana caramu meminta maaf pada Hazal saat dia marah?" tanyanya pada Serkan. "Jangan tanyakan itu padaku. Sampai sekarang bahkan aku belum bisa mengendalikan amarah Hazal. Baru tadi dia juga sudah marah-marah lagi. Ufff!" Serkan mendesah gusar. Ayaz tersenyum miring. "Sudah aku bilang sejak dulu, kalau para gadis hanya membuat kita pusing saja. Mereka hanya akan merusak hubungan kita. Aku dong, bebas tanpa terikat apa pun." Burak menepuk punggung Ayaz dan merengkuhnya. "Sobat, kau berkata seperti itu karena kau belum pernah merasakan jatuh cinta. Saat kau merasakannya nanti, aku yakin kau akan berbanding terbalik dengan pemikiranmu tadi." "Oh ya? Memang bagaimana rasanya jatuh cinta?" tanya Ayaz yang sebenarnya tak terlalu peduli. "Burak, kau katakan saja padanya. Karena percuma kalau aku yang menjelaskannya dia tidak akan percaya. Sudah berkali-kali aku berdebat soal ini dengannya," kata Serkan. Burak merekatkan kepala Ayaz padanya dan berbisik. "Saat kau melihat gadis yang membuat perasaanmu berubah menjadi aneh, itu artinya kau mulai jatuh cinta padanya." "Aneh bagaimana?" Ayaz menaikkan alisnya. "Misalnya… saat dia sedih, kau merasakan kesedihannya pula. Saat dia tertawa, kau merasakan kebahagiaannya pula." Saat Burak dibuka menjelaskan hal itu, Ayaz selalu mengingat tentang Sevda. Entah mengapa memori tentang gadis itu tiba-tiba memenuhi ruang kepalanya. "Dan saat orang lain melukainya, kau akan sangat marah dan menunjukkan perhatianmu terhadapnya." Burak kembali menatap Ayaz. "Sudahkah kau merasakan hal itu pada seorang gadis?" tanyanya kemudian. "Sudah," jawab Ayaz tanpa sadar. "Sudah?" Serkan mengerutkan dahinya tak percaya. "Bukan. Maksudku tidak akan pernah. Aku rasa semua itu hanya omong kosong!" Secepatnya Ayaz langsung menyangkal. "Kau dengar itu, Burak? Menyakinkan Ayaz seperti membentuk mainan dari batu. Dia itu batu, bukan tanah liat," canda Serkan dengan tertawa. "Sudahlah. Rasanya sia-sia berbicara padamu, Ayaz. Lebih baik aku membujuk kekasihku agar tidak marah lagi," kata Burak. "Sobat, doakan semoga Oyku luluh hatinya, ya!" "Semoga tidak pernah!" balas Ayaz begitu saja. "Rupanya kau masih dendam padaku, ya?" Burak tertawa kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN