25. Kembali Berdebat

1741 Kata
Burak tampak rapi menyongsong sebuket bunga segar. Berjalan menuju kamar Oyku dan Sevda. Saat di depan pintu, ia berpapasan dengan Sevda. "Burak? Kau?" Sevda melirik ke arah tangan pria itu yang menyongsong bunga segar. "Burak, aku baru saja mau menemuimu membahas soal masalahmu dengan Oyku," cakap Sevda. "Sevda, aku telah bersalah pada Oyku. Dan aku datang untuk meminta maaf padanya," kata Burak dengan wajah penuh penyesalan. "Baiklah. Selesaikan masalah kalian cepat. Aku tidak mau Oyku terlarut dalam kesedihannya," pinta Sevda. "Di mana Oyku? Apa dia di dalam?" tanya Burak. "Oyku sedang di kamar mandi." "Baiklah. Bolehkah aku masuk ke kamar?" Sevda mengangguk. Membiarkan Burak masuk ke kamar, sedangkan dia memilih untuk beranjak pergi. Di dalam sana, Oyku tampak keluar dari kamar mandi. Gadis itu sepertinya baru selesai mandi. Hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Ia bergerak ke arah lemari mencari pakaian ganti. "Sevda, kau sudah mandi?" tanya Oyku pada seseorang yg duduk di kursi menghadap jendela. Gadis itu berpikir kalau seseorang di sana merupakan sahabatnya, Sevda. "Sudah dong!" jawab Burak dengan semangat. Oyku melototkan mata. Masih belum menoleh ke arah kursi. "Sevda, kenapa aku mendengar suara Burak? Apa ini hanya pikiranku saja?" "Itu karena kau selalu memikirkanku, Sayang!" Burak tiba-tiba bangkit dari kursi dan berdiri menatap Oyku. Oyku menoleh, menjerit melihat Burak yang sudah berada di kamarnya. "Burak?!" Matanya membola. Burak memperhatikan tubuh Oyku. Kulit putih serta rambut basahnya membuatnya menelan saliva. Lidahnya ia gunakan menyapu bibir. "Oh Tuhan… keindahan apa ini?" katanya dengan kepala menggeleng-geleng mengagumi keseksian tubuh pacarnya. "Burak! Diam dan jangan mendekat!" teriak Oyku saat pria itu mulai jalan maju. "Kenapa, Sayang? Aku hanya ingin mendekatimu saja. Janji tidak akan menyentuhmu!" ucap Burak. "Burak, pergi dari sini cepat!" Oyku memberi jeda sejenak. "Lagi pula kenapa kau bisa masuk ke dalam? Di mana Sevda?" Mata Oyku menyapu pandang ruangan tapi tak menemukan batang hidup sahabatnya tersebut. "Sevda tadi pergi. Dia mengizinkanku masuk, jadi ya… aku langsung masuk saja," ungkap Burak santai. "Burak, apa kau tidak tahu kalau aku sedang mandi? Atau kau sengaja melakukan itu?" "Jangan menuduhku, Baby. Sungguh, aku tidak tahu kalau kau sedang mandi tadi." Oyku mengerjap. "Sudahlah, lebih baik kau cepat pergi dari sini!" perintahnya. "Kenapa kau mengusir kekasihmu, Oyku?" Nada bicara Burak terdengar melas. "Aku tidak peduli!" "Sayang, jangan begitu." "Jangan panggil aku dengan sebutan Sayang. Kau bukan siapa-siapaku lagi!" ujar Oyku ketus. "Oyku… jangan begitu. Kita kan sudah pacaran–" "–tidak ada orang yang pacaran langsung memarahi pacarnya tanpa sebab. Memang apa salahku sampai kau tadi marah-marah tidak jelas? Sikapmu juga sangat dingin, lalu kenapa kau mendadak secair ini? Apa kau ketimpa matahari?" "Oyku, aku minta maaf soal yang tadi. Aku benar-benar salah paham. Aku kira kau dan Ayaz ada hubungan. Sebab aku melihatmu sedang memeluk Ayaz waktu di kolam renang," jelas Burak. "Ayolah, Oyku… aku benar-benar minta maaf. Sudahlah, kita lupakan soal tadi ya." "Kenapa kau tidak bertanya padaku dan langsung bersikap kesal? Lagi pula, aku tidak ada hubungan apa pun dengan Ayaz kecuali pertemanan." "Iya, aku tahu, Oyku. Aku yang salah. Sekarang jangan marah lagi, ya!" Burak melirik ke arah bunga di tangan kanannya. "Lihat! Aku membawakan bunga untukmu sebagai tanda permintaan maaf. Kau menyukainya?" Burak menyodorkan sebuket bunga ke arah Oyku. "Tidak! Aku sama sekali tidak tertarik!" jawabnya ketus. "Oyku Sayang… katakan apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?" Burak mengerjap sejenak. "Baiklah, sekarang kau bersiaplah. Aku akan mengajakmu ke bukit dan melihat pemandangan seperti yang aku janjikan tadi malam. Hari ini hari terakhir kita di sini, besok kita sudah kembali ke Istanbul. Kita harus menikmati momen kebersamaan kita. Apa kau ingin melewatkan momen ini bersamaku?" Sevda merenung sejenak. Sejujurnya, ia ingin menikmati semua momen bersama kekasih barunya itu. Terdengar menyenangkan menaiki bukit bersama orang terkasih dan menikmati kebersamaan. Oyku melirik ke arah Burak. Mengerjap, kemudian berkata, "Baiklah. Aku memaafkanmu," ucapnya yang langsung membuat Burak kegirangan. "Benarkah?" Burak maju untuk lebih dekat Oyku. Hendak memeluknya tetapi Oyku mundur selangkah seakan mengisyaratkan untuk jangan menyentuhnya. "Burak, cepat pergi sebelum aku berubah pikiran. Aku perlu ganti baju dan berdandan seperti putri raja sebelum kau mengajakku jalan-jalan," ucapannya sembari menyembunyikan senyumnya. "Oke! Tapi sebelumnya, terimalah hadiah bunga ini untukmu." Burak mengambil tangan Oyku dan menaruh sebuket bunga ke dalam genggamannya. "Bunga ini sangat cantik sepertimu." Setelah mengatakan itu, Burak mendekatkan kepalanya dan tanpa aba-aba langsung mengecup pipi mulus Oyku. "Ummm… baumu wangi sekali!" "Burak!" Oyku menepuk sedikit keras bahu pria itu, namun tersenyum setelahnya. "Cepatlah pergi!" "Iya iya… Nona pemarah!" Burak menepuk kecil pipi Oyku kemudian berjalan melewatinya untuk menuju pintu. Oyku membuntutinya. Memastikan pria itu benar-benar pergi dan tidak mengintip saat ia sedang ganti baju nanti. Gegas ia menutup pintunya dan menguncinya rapat-rapat. Membalikkan tubuh, menghirup serbuk sari bunga yang terasa harum. Kemudian mengembangkan senyumnya begitu merekah. *** Sevda tampak berdiri di balkon sembari menikmati pemandangan dari lantai dua sana. Tanpa ia sadari, Ayaz tengah melakukan hal yang sama tak jauh di sampingnya sana. Saat mereka sibuk memperhatikan pemandangan, kemudian tatapannya tiba-tiba saling bertemu. Tentu saja langsung membuat mereka merasa jijik satu sama lain. "Kenapa kau selalu mengikutiku?" Sevda selalu saja bersikap kepedean terhadap Ayaz. Pria tersebut mengerling. Menyudutkan bibirnya. "Jangan terlalu percaya diri, Ikan Koi. Tidak ada yang mengikutimu, kau dengar? Aku pun tidak sudi!" "Tapi kenapa setiap ada aku, kau selalu saja muncul." "Ya itu masalahmu! Boleh aku katakan sesuatu? Berhentilah bersikap bahwa kau seseorang yang wah. Kau tahu masalahmu? Kau itu terlalu percaya diri. Get over yourself! Kau itu hanya ikan koi! Tidak ada yang mau mengikutimu kemana pun kau pergi! Kau dengar itu!" Sevda yang tak terima mulai maju mendekati pria itu. "Dan kau tahu apa masalahmu? Kau itu selalu menganggap orang remeh. Kau suka mengejek orang dan–" "–Sebentar… sebentar…" Ayaz mengerlingkan mata. "Biar aku koreksi kata-katamu itu. Asal kau tahu, kau sendiri yang mengejekku manusia batu, tuan beku, bongkahan gletser, dan sekarang kau menuduhku tukang pengejek? Apa kau waras?" "Tapi aku mengatakan berdasarkan fakta. Kau itu batu dan beku seperti bongkahan gletser kutub Utara! Kau tidak pernah tersenyum pada orang lain!" "Lalu? Jika aku selalu tersenyum terus pada orang lain, kau akan anggap menganggapku gila, begitu? Kau terlalu banyak bicara. Dasar ikan Koi! Mulutmu selalu saja tidak bisa diam!" "Kau duluan yang memulainya!" timpal Sevda tak terima. "Oh, ya? Lalu siapa yang mendekatiku ke sini? Bukankah kau seharusnya menghindar satu meter dariku?" Pertanyaan Ayaz membuat Sevda meneguk ludah. "Aku… aku tadi hanya–" "–sudahlah. Lebih baik aku pergi daripada terus mendengar omong kosongmu!" kata Ayaz ketus. "Yah, pergi saja. Dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku! Kau hanya merusak suasana… aaaa!" Tiba-tiba kaki Sevda terpeleset saat asyik memaki Ayaz dengan gerakan yang tidak bisa diam. Buru-buru pria itu menahan pinggangnya untuk tidak terjatuh. Spontan tangan Sevda juga mengalung di leher Ayaz. Sementara kedua pandangan mereka saling menumbuk satu sama lain untuk sesaat. "Uhuk… uhuk…!" Suara seorang pria yang terbatuk mengangetkan mereka. Ayaz menoleh, melihat sepupunya yang tiba-tiba datang. Lantas ia langsung melepaskan pegangan tangannya pada pinggang Sevda. Sevda yang masih sibuk memperhatikan Ayaz tak menyadari kalau tangan pria itu sudah tak lagi menopang pinggangnya. Alhasil tubuhnya kembali melenggang hendak terjatuh. "Sevda!" Serkan yang melihatnya langsung gegas menghampiri. Menarik tangan Sevda dan membawanya cepat ke pelukannya. "Sevda, kau tidak apa-apa? Hampir saja kau terjatuh tadi." Sevda berganti menatap Serkan lekat. Mimpi apa semalam, sampai ia kini dipeluk oleh Serkan. Pria yang ia idam-idamkan. Dengan gugup nan gemetar tangan Sevda menyentuh punggung lebar Serkan. Menahan dengan tangannya memberi keseimbangan agar tubuhnya tidak merosot. Perasaan berkecamuk dalam diri gadis itu. Sementara Ayaz yang melihatnya merasa ada yang tak biasa dengannya. Dia seperti sedikit kesal saat Serkan dan Sevda berada pada jarak terdekat seperti itu. Bahkan, hampir saja tak berjarak. Kenapa perasaan seperti itu tiba-tiba muncul dalam diri Ayaz? "Sevda, kau tidak apa-apa?" tanya Serkan sekali lagi. Namun sepertinya gadis di depannya itu mendadak tuli. Tak bergeming. Hanya menatapnya penuh kagum. "Menyingkirlah!" Tiba-tiba tangan Ayaz menarik tangan Sevda untuk menyingkir dari hadapan Serkan. "Ayaz, apa yang kau lakukan? Kau menyakiti Sevda!" Serkan sedikit berteriak pada sepupunya itu. "Cousin, aku hanya menjauhkanmu dengannya saja." Ayaz tampak membela. "Tapi tidak perlu juga sampai menariknya seperti itu. Ayaz, jangan memperlakukan gadis semena-mena. Aku tahu kau tidak suka dengan Sevda, tapi bukan seperti ini caranya bersikap dengannya!" Serkan kembali memarahi Ayaz. Ayaz yang merasa kesal hanya diam melirik ke arah Serkan dan Sevda dengan sinis secara bergantian. Lantas ia mulai bergerak, berjalan meninggalkan mereka dengan menggerutu. "Menyebalkan!" "Sevda, kau tidak apa-apa?" Serkan bersikap perhatian pada gadis itu. Bahkan ia mengecek lengan Sevda yang ditarik oleh Ayaz tadi, dan meniupnya kecil. Melihatnya, hati Sevda semakin luluh. Ada cairan es yang mengalir di hatinya. Sosok pria di depannya memang benar-benar serupa pangeran baginya. "Aku tidak apa-apa, Serkan. Terima kasih," ucap Sevda ramah. Serkan tersenyum ke arahnya. "Syukurlah!" Hazal diam-diam melihat kejadian tadi dari balik dinding. Tentu itu membuat banteng dalam dirinya mengamuk. Tangannya mengepal dengan urat yang menonjol keluar. "Menyebalkan! Kau akan membayar ini, Sevda!" Dengan perasaan emosi, gadis itu berbalik pergi dari sana. Berjalan cepat menuju kamar Ayaz. Membuka pintunya tanpa permisi. "Aku tahu kau sakit hati saat Serkan memarahimu demi gadis muraahan itu!" Tiba-tiba saja Hazal membuka suara dengan ketus membuat Ayaz sedikit terkejut dengan kedatangannya. Hazal bergerak maju mendekati Ayaz. "Ayaz, mari kita bekerja sama untuk menghancurkan Sevda! Gadis itu telah merusak kebahagiaan kita. Aku tahu dia pasti sangat menginginkan Serkan. Seperti lalat yang melihat madu, gadis murahaan itu–" "–Hazal, tutup mulutmu!" Ayaz berteriak lantang ke arah gadis itu membuat Hazal terkesiap. "Jangan sekali-kali kau menyakiti Sevda atau mengganggunya!" "Ayaz? Apa yang terjadi padamu? Kau masih membela gadis murahaan itu?" "Jangan menyebutnya murahaan!" Kembali Ayaz meninggikan suaranya. Sevda tersenyum sumbang. "Aku rasa gadis itu telah menebarkan virus terhadapmu sehingga kau membelanya daripada aku. Jelas-jelas kau dimarahi Serkan karena gadis itu!" "Itu bukan masalahmu! Itu masalahku. Dan jangan coba-coba kau ikut campur dengan masalah hidupku. Tidak cukupkah kau mengatur hidup sepupuku sehingga kau mau mengaturku juga?!" Perkataan Ayaz tersebut bernada sindiran bagi Hazal. "Ayaz, aku sadar apa yang kau katakan?" Gadis itu tersenyum miring. "Tidak ada gunanya berbicara denganmu!" Dengan kesal Hazal membalikkan tubuh, berjalan mendekati pintu dan keluar dari sana. Sementara Ayaz menyemburkan napas gusar. "Kenapa aku merasa tidak suka jika ikan koi itu dekat dengan Serkan? Perasaan apa ini? Tidak mungkin aku mulai tertarik pada gadis ikan koi itu!" gumam Ayaz dengan gusar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN