"Burak, aku capek sekali. Maukah kau menggendongku?" Oyku berkata dengan nada lemas. Setelah seharian ia menaiki bukit bersama Burak, kini kakinya terasa keram.
"Tentu, Sayang. Aku siap melakukan apa saja untukmu!" seru Burak. Tanpa aba-aba lagi, pria itu langsung membopong tubuh Oyku dan membawanya berjalan menapaki rerumputan halaman Villa.
Tiba di depan pintu, Burak menurunkan sejenak tubuh Oyku agar ia bisa membuka pintunya. Setelah pintu itu terbuka, mereka sedikit heran saat mendapati suasana interior Villa tersebut yang sunyi nan gelap.
"Kenapa gelap seperti ini? Di mana yang lain? Apa mereka semua keluar?" tanya Burak bergumam.
"Burak, coba kau hubungi Serkan. Mungkin mereka semua keluar jalan-jalan malam," ucap Oyku menyarankan. Lantas, ia mulai mengoperasikan senter pada ponselnya untuk digunakan menerangi keadaan.
Burak merogoh ponselnya dari saku. Berniat menghubungi Serkan, tetapi tiba-tiba saja lampu menyala. Bahkan, terlihat sorot yang kelap-kelip menandakan kalau tersebut lampu pesta.
"Surprise!" Sevda dan Serkan mengucap serempak. Mulai berjalan mendekat. Pun dengan Ayaz dan Hazal yang bersikap biasa aja.
"Sevda, Serkan? Apa ini?" Oyku menyapu pandang interior ruang tamu yang disulap menjadi tempat pesta.
"Aku kan sudah bilang kalau kita akan merayakan pesta peresmian hubungan kalian," kata Serkan pada Burak dan Oyku. "Sekarang lihat, apa kalian suka? Yah, itung-itung untuk merayakan juga malam terakhir kita di sini. Besok kita harus sudah berangkat pulang ke Istanbul," imbuh pria itu.
"Siapa yang mengatur semua ini?" Burak masih mengangumi rancangan dekorasi pesta tersebut.
"Aku dan Sevda yang melakukannya," ucap Serkan.
"Benarkah?" Oyku berseru. Lantas bergerak ke arah Sevda dan memeluknya erat. "Terima kasih, Sevda! Kau memang yang terbaik!"
Pun demikian dengan Burak yang langsung memberi pelukan pada Serkan. "Terima kasih, Kawan!" Setelah menepuk bahu Serkan dua kali, ia beralih ke arah Ayaz dan memeluknya juga. "Aku tahu kau tidak tertarik untuk semua ini, tapi aku yakin kau pasti juga ambil bagian dalam merancang dekorasi ini. Yah, meskipun hanya menjadi penonton. Haha!" canda Burak yang membuat semuanya tertawa kecuali Hazal.
"Sekali lagi kau mengejekku maka sumpah mulutmu itu dengan sepatuku!" ujar Ayaz bernada marah, namun sebenarnya hanya bercanda.
"Haha!"
"Semuanya… mari kita nikmati malam ini!" Serkan berseru pada yang lainnya.
Hazal maju selangkah, untuk bersandingan dengan Serkan. Berniat mengajak kekasihnya itu berdansa, namun Oyku bergerak cepat menghalangi langkah Hazal.
Oyku berdiri di samping Serkan.
"Karena Serkan dan Sevda yang sudah mengatur pesta yang begitu menakjubkan seperti ini, bagaimana kalau kita tantang mereka untuk berdansa?" kata Oyku yang langsung membuat Hazal melotot tanda tak setuju.
Hazal hendak angkat suara, tetapi Oyku tak memberikan kesempatan untuk hal itu.
Oyku mengambil tangan Serkan dan Sevda untuk disatukan. "Kita kan sudah melihat Sevda dan Ayaz berdansa, sekarang… gilaran Serkan berdansa dengan Sevda!" celoteh Oyku lagi. "Burak, bagaimana menurutmu?" Oyku meminta pendapat pria itu, namun dengan penuh penuntutan.
Burak yang tak ingin Oyku marah padanya, akhirnya setuju saja. "Yah, aku setuju!" Burak menepuk bahu Serkan. "Ayolah, Serkan. Ini kan hanya permainan saja."
"Oyku, apa yang kau lakukan?" Sevda berbisik tepat di telinga sahabatnya itu.
"Sudahlah. Kau diam saja!" balas Oyku.
Hazal yang tak terima hendak maju, tetapi Oyku terus saja menghalangi jalannya. Bahkan kerap menyenggol tubuh gadis itu untuk menyingkir.
"Ayo, Serkan!" paksa Oyku lagi.
"Baiklah, aku akan setuju jika Sevda tidak keberatan," kata Serkan sembari memandang ke arah Sevda.
Sevda yang malu-malu itu mencoba menyembunyikan senyumnya. Ia melirik ke arah Hazal yang menyimpan dengan ke arahnya. Sevda bersikap tak acuh. Bahkan ia memameri gadis itu.
"Tentu saja aku mau!" kata Sevda mantap.
"Bravo! Sekarang ayo! Ayaz, tolong kau putar musik romantis!" pinta Oyku.
"Yang benar saja!" Ayaz menggerutu. Tetapi ia menurut saja. Bergerak ke arah DVD dan menyambungkan ponselnya ke kabel USB. Ia pun mulai memutar musik horor.
Para gadis langsung menjerit melihatnya. Sementara pria itu hanya terpingkal.
"Ayaz, apa yang kau lakukan?" Oyku tampak kesal.
"Oyku, kau salah menyuruh orang. Pria batu itu mana mungkin memiliki koleksi musik romantis. Dia hanya menyimpan musik mengerikan dalam ponselnya!" kata Sevda dengan nada penuh ejekan.
Serkan menanggapinya dengan tertawa. "Sevda, kau lucu sekali."
"Kurasa sepupumu itu sudah eror, Serkan," ucap Sevda lagi yang masih saja membuat Serkan tertawa.
Hazal dan Ayaz yang melihat kedekatan mereka menjadi kesal.
"Burak, pakai ponselmu saja!" pinta Oyku.
"Baiklah." Burak segera bergerak ke arah Ayaz. Menyambungkan ponselnya pada sound.
Tak lama lagu romantis dari Mustafa Ceceli—salah satu penyanyi terkenal Turki—mulai berputar mengiringi Serkan dan Sevda yang tengah asyik berdansa. Oyku pun juga mengajak Burak untuk berdansa. Sementara Hazal dan Ayaz hanya melihat mereka dengan malas.
"Kau pandai berdansa juga ya ternyata." Serkan memulai percakapannya dengan Sevda.
"Tidak juga. Aku hanya mengikuti gerankanmu saja," jawab Sevda dengan malu-malu.
"Oh iya, ngomong-ngomong sejak kapan kau suka berkuda?"
"Sejak kecil aku suka sekali dengan kuda. Kau tahu, bahkan ayahku memberinkanku kuda kesayangan. Namanya Bringgo. Aku berlatih kuda dari ayahku," ungkap Sevda. Rasanya senang sekali mengingat tentang ayahnya.
"Ayahmu pasti sangat menyayangimu, ya."
"Ehm. Dia sangat menyayangiku. Aku pun demikian. Ayahku itu orang yang sangat baik hati dan penyayang."
"Pantas saja kau tumbuh menjadi gadis baik dan mandiri. Ngomong-ngomong, apa kau sudah memiliki kekasih? Tidak mungkin gadis cantik dan cerdas sepertimu masih single."
Sevda tersipu malu saat Serkan bertanya pasal kekasih. "Memangnya gadis cantik dan cerdas harus banget punya kekasih?" tanya Sevda meledek.
"Tidak juga. Hanya saja, pasti banyak mengincarnya."
"Kau tahu, aku belum memiliki kekasih," jawab Sevda jujur.
"Tapi pasti ada kan pria yang kau taksir?" Pertanyaan Serkan membuat Sevda meneguk ludah sekaligus gugup.
Bagaimana ia bisa mengatakan kalau pria yang ia idamkan saat ini berada tepat di depannya. Bagaimana ia bisa mengatakan pada Serkan kalau pria yang ia kagumi saat ini tengah berdansa dengannya. Bagaimana ia bisa mengatakan kalau pria yang sangat ingin ia dapatkan dan menjadi kekasihnya adalah Serkan.
"Mereka suka sekali melakukan omong kosong!" Ayaz merasa muak saat terus-terusan memperhatikan Serkan dan Sevda yang sibuk berdansa dan berbincang. Hatinya merasa tidak baik-baik saja. Pria itu pun akhirnya memilih pergi keluar mencari udara segar.
Sevda memerhatikan kepergiannya dengan heran.
"Sudah cukup!" Hazal menaruh wine di atas meja kaca dengan kasar. Tak tahan jika terus terusan menyaksikan kekasihnya harus berdansa dengan gadis lain. Ia pun bergerak menghampiri mereka. Melepaskan tangan Serkan yang mengikat di pinggang Hazal.
"Serkan, aku rasa Sevda sudah lelah. Biarkan dia istirahat. Sekarang, ganti berdansa lah denganku!" Dengan cepat dan kasar Hazal menyingkirkan posisi Sevda dari hadapan Serkan dan menggantikan dirinya untuk berdansa dengan Serkan.
"Menyebalkan!" Sevda menggerutu dan langsung pergi keluar mencari udara segar.
Ayaz tengah berdiri di tepian kolam. Memandangi air yang menggenang tenang tanpa terusik. Berbeda dengan perasaannya, yang merasa terusik saat gadis yang ia benci tiba-tiba ia merasa kesal saat bersama orang lain.
"Hentikan perasaan ini, Ayaz. Jangan terlalu bodoh menanggapinya. Semua ini hanya omong kosong!" gumamnya berbicara pada dirinya sendiri.
Kembali matanya itu mengerjap. Angin malam menerpanya, terasa sejuk sehingga mampu membuat bulu romanya berdiri. Bayangan akan sosok ibunya yang sudah tiada tiba-tiba hadir. Juga, peristiwa nahas yang dialami oleh ibunya tersebut. Teriakan menggema lekat memenuhi ruang kepala pria itu. Membuat Ayaz, merasa semakin tidak tenang.
"Menyebalkan!" Itu bukan suara Ayaz, tetapi suara seorang gadis yang langsung membuyarkan lamunan pria itu.
Ayaz membuka mata. Menggerakkan lehernya ke belakang. Mengerling saat melihat Sevda yang berjalan dengan emosi.
Gadis itu tidak melihatnya, karena jika itu terjadi, tidak mungkin Sevda akan mau terus berjalan mendekat.
"Ular itu memang suka sekali mengganggu orang lain!" Kembali Sevda menggerutu dengan jalan penuh kekesalan.
"Hei, Ikan Koi. Apa kau sudah tidak tahan hidup di darat dan membutuhkan air?" Ayaz membuka suara terhadapnya, bernada mengejek dan langsung membuat gadis itu menatap ke depan.
Sevda mengerutkan dahi dengan mata menerawang. "Ayaz, kau?"
Sevda menggeleng seraya tersenyum sumbang. Tak ingin berdebat terlalu lama dengannya, dan memilih untuk membalikkan tubuh.
"Hei, kolamnya di sini, bukan di sana!" Ayaz kembali bersuara menghentikan langkah Sevda.
"Memangnya siapa yang ingin ke kolam renang?!" balas Sevda ketus sembari menoleh ke arahnya.
"Kau kan sudah terlalu lama hidup di darat, yah, siapa tahu kau butuh air untuk mengisi tenaga. Bukankah begitu, Ikan koi?" ejek pria itu semakin menambah kekesalan dalam benak Sevda.
Gadis itu mengambil langkah maju, mendekat ke arah Ayaz dan mulai merutukinya. "Kau pikir aku butuh air untuk mengisi tenaga? Aku ini spesies koi super yang tak perlu air untuk bertahan di darat. Kau puas!" celoteh Sevda.
"Lalu kenapa kau ke sini?"
"Aku butuh udara segar! Berlama-lama di dalam membuatku muak!" kata Sevda dengan menyemburkan napas kasar.
"Oh ya? Bukankah kau senang saat berdansa dengan Serkan? Dia pria yang kau idam-idamkan selama ini bukan?" Ayaz bertanya dengan nada penuh sindiran.
Sevda memicingkan mata sejenak ke arahnya. Kemudian memalingkan pandangan dengan tangan yang ia lipat di perut. "Semuanya hancur gara-gara si ular betina itu. Hazal merebut telah Serkan dariku! Menyebalkan!"
Ayaz tertawa mendengarnya. Tentu itu membuat Sevda semakin emosi sekaligus terheran.
"Kenapa kau tertawa, Tuan Gletser?! Kau pikir ini lucu?"
Ayaz menghentikan tawanya. Kembali terfokus pada Sevda. "Boleh aku katakan sesuatu? Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan sepupuku itu."
"Oh ya? Kenapa kau berpikir seperti itu?" Berbalik Sevda bertanya dengan tangan berkacak pinggang dan mata menyorot tajam ke arah Ayaz.
"Karena… karena… ya karena kau jelek dan tidak pantas untuk sepupuku!" ujar Ayaz seadanya. Ia tidak mungkin mengatakan kalau sebenarnya sepupunya itu sudah lama menjalin hubungan dengan Hazal.
"Lelucon yang bagus. Sayangnya aku tidak peduli. Kau tahu, Serkan itu tidak sepertimu. Dia tidak memandang rupa maupun pangkat. Dia itu pria yang baik. Dia bijaksana dan cerdas. Sangat berbanding terbalik denganmu. Kau keras dan batu. Kau suka membuat orang kesal, dan tak pernah menebar kebaikan. Kau–"
"–sudah sudah cukup! Kau pasti akan mengatakan kalau aku ini pelit senyum dan kaku. Dingin seperti bongkahan es di kutub Utara. Aku sudah muak kau selalu saja mengatakan hal yang sama!"
"Memang itu kan kebenarannya!" balas Sevda cepat.
"Ikan koi, berhenti bersaing dengan Hazal. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkannya. Sebaiknya, lupakan perasaanmu pada Serkan jika kau tidak ingin sakit hati." Ada penekanan dalam kalimat yang pria itu katakan. Seakan menyuruhnya untuk benar-benar menghapus perasaannya terhadap Serkan. Karena Ayaz tidak suka. Ia tidak suka bukan hanya karena Sevda akan sedih jika mengetahui kebenaran tentang Serkan dan Hazal. Tetapi, ia tidak suka karena ada kebenaran lain dalam hatinya.
Mungkinkah ini sebuah kecemburuan?
"Diam! Jangan ikut campur dalam hidupku, Bongkahan Gletser! Urus saja dirimu itu sendiri, oke?" ucap Sevda keras kepala.
"Berbicara denganmu memang tak ada gunanya!" Ayaz menyemburkan napas kesal, kemudian memilih menggerakkan tubuhnya berbalik. Melangkah cepat meninggalkan Sevda yang masih berdiri memandangi punggungnya.
"Dia memang benar-benar pria yang menyebalkan!" gumam Sevda sembari memperhatikan kepergian Ayaz.
Saat punggung pria itu sudah tak lagi tampak, Sevda memalingkan wajah. Menoleh ke arah kursi santai di taman. Ia pun bergerak ke sana. Mendudukkan pantatnya sembari menikmati suasana malam di taman halaman villa tersebut.
Mengambil ponselnya dan bermain-main. Kemudian ia berpikir untuk menghubungi saudaranya yang jauh. Pertama ia menghubungi Deniz, tetapi pria itu tak menjawabnya. Lantas Sevda beralih menghubungi Leon. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya ponselnya tersebut tersambung.
"Hi, Leon!" Sevda menyapa dengan wajah tak bersemangat.
"Adikku tersayang, bagaimana kabarmu?" Wajah Leon dari layar ponsel terlihat sangat bersemangat, pun dengan suaranya.
Sevda mengerjap sebelum menjawab, "Aku baik."
"Kenapa, Sevda? Pasti ada sesuatu ya? Wajahmu murung begitu. Ayo cerita!"
"Tidak ada, Leon. Aku baik-baik saja. Aku hanya capek saja," kata Sevda beralasan.
"Biar aku tebak, pasti karena cinta dan seorang pria. Iya, kan?" Leon memang pandai dalam membaca pikiran adik angkatnya tersebut.
"Bagaimana kau tahu, Leon? Ah, kau selalu saja tahu apa yang aku pikirkan."
"Haha! Aku ingat dulu saat kau jatuh cinta dengan Deniz. Kau juga mengalami keresahan seperti ini. Itu artinya, kau sekarang juga sedang jatuh cinta pada seseorang. Siapa namanya? Apa kau tidak ingin mengenalkannya pada kakakmu ini?" Nada suara Leon terdengar bergurau.
"Ah, Leon… dia belum menjadi kekasihku. Aku hanya mengaguminya saja. Dan ya, ada banyak gadis yang suka dengannya. Salah satunya yang selalu menempel dengannya." Sevda mengatakan dengan nada kesal. "Apa menurutmu Serkan akan suka denganku?" tanyanya kemudian.
"Oh, jadi namanya Serkan? Kenapa dia tidak suka. Adikku ini kan baik, pintar, dan cantik. Siapa yang tidak akan suka denganmu, Sevda?"
"Aku hanya takut berharap saja, Leon. Bagaimana jika dia tidak suka denganku?"
"Dan bagaimana jika dia ternyata diam-diam menyimpan rasa untukmu?" Leon menimpali perkataan Sevda, membuat gadis itu berpikir.
"Apa menurutmu dia tertarik juga denganku?" tanya Sevda serius.
"Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Coba kau ungkapkan perasaanmu itu padanya," saran Leon.
"Leon, apa kau sudah gila? Aku ini gadis, bagaimana aku bisa mengungkapnya terlebih dahulu? Aku malu, Leon!"
"Ayolah, Sevda… zaman sudah berubah. Sekarang tidak ada bedanya antara gadis maupun pria. Mereka memiliki hak dan porsi masing-masing. Buang egomu itu dan beranikan diri untuk mengungkapkan perasaanmu. Atau, kau hanya akan terjebak dalam perasaan itu. Sudah tidak zaman seorang gadis menunggu untuk dilamar. Jika dia suka, kenapa dia tidak langsung saja? It's more simple!"
Sevda merenungi sejenak perkataan kakaknya tersebut. "Tapi bagaimana jika dia menolaknya? Bagaimana jika dia menyukai gadis lain?" Kembali Sevda goyah dalam pendiriannya atas sebuah keraguan.
"Itu urusan belakangan, Sevda. Entah dia menerima atau menolak, setidaknya kau akan tahu kebenarannya. Entah itu menggembirakan atau menyakitkan, kau harus bisa menghadapinya. Kau berani mengambil rasa, harus bisa mempertanggungjawabkannya sebaik mungkin."
"Menurutmu begitu?" Sevda masih saja tampak bimbang.
"Ehm. Cepat ungkapkan perasaanmu itu sebelum terlambat," saran Leon lagi.
"Aku akan memikirkannya, Leon. Sudah dulu ya. Terima kasih atas waktunya. Kau cukup membantuku."
"Baiklah. Pikirkan secara baik-baik apa yang aku katakan. Oke? Aku menyayangimu. Jaga selalu kesehatan dan tetaplah menjadi adikku yang kuat tak mudah terkalahkan!"
Sevda mengembangkan senyumnya. "Siap, Bos!" []
***
BERSAMBUNG