27. Menyakitkan

1620 Kata
Pagi itu merupakan jadwal mereka untuk kembali pulang menuju Istanbul setelah seminggu lebih melakukan laporan penelitian. Semua barang dan keperluan pribadi sudah dikemasnya dalam sebuah koper masing-masing. Siap untuk dibawa menuju kapal feri yang hendak berangkat tiga puluh menit mendatang. Sebelum pulang, mereka tampak menghabiskan waktu di tepian pantai. Serkan dan Hazal tampak berduaan dengan Hazal. Oyku dan Burak pun terlihat menikmati suasana pantai sembari memakan Kokorec—makanan Turki yang terbuat dari usus domba yang dililit membungkus jeroan (hati, jantung, ginjal, pangkreas) yang dibakar. Sebelummya jeroan dibumbui dengan perasan lemon, minyak zaitun, garam, lada. Lalu ditusuk dan dililit dengan usus. Sevda yang baru saja menata kopernya mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang. Pikirannya kacau. Mengingat perkataan serta saran dari Leon semalam. Haruskah ia mengungkapkan perasaan rasa sukanya terhadap Serkan selama ini? "Sudah cukup, Sevda. Waktunya bertindak. Berpikir terus menerus hanya akan membuatmu bimbang. Sebelum Si ular Hazal merebut Serkan darimu, kau harus bertindak lebih dulu!" Sevda berkata pada dirinya sendiri sembari menatap cermin panjang yang berdiri di sudut ruangan. Gadis mengepalkan tangan, memukulkan tangan kanan pada telapak tangan—guna memantapkan hati. Ia mengambil langkah mendekat ke arah cermin. Memandang penampilannya sendiri. Menata rambutnya, menarik napas, mengerjap, dan mengangguk tiga kali. "Everything has can be allright!" Setelah memantapkan hati, gadis itu membalikkan tubuh. Mulai menggerakkan kakinya, melangkah menyusuri lantai palet kayu untuk sampai ke arah benda persegi panjang yang terletak di pojok tembok. Sevda memutar tuas pintu, menariknya, melenggangkan tubuh keluar lantas kembali menutup daun pintu berbahan kayu cokelat muda tersebut. Gadis mendapati villa yang benar-benar kosong. Lantas pandangannya tertuju pada jendela kaca tanam tembus pandang yang digunakan sebagai dinding. Dari sana bisa menyaksikan laut yang berdebur ombak. "Ah, mungkin mereka sedang menikmati suasana pantai sebelum pulang," gumamnya sejenak. Lantas, gegas gadis itu berjalan keluar Villa dan menuju tepian pantai. "Di mana Serkan yang lainnya? Oyku bahkan tidak terlihat." Gadis itu bergumam sepanjang pantai. Melihat ke arah kaki yang terguyur ombak kecil. Kembali ia menyusuri pantai tersebut, mencari keberadaan Serkan. Sementara itu, tampak Ayaz duduk di sebuah kursi sedikit jauh dari pantai. Asyik menyaksikan segerombolan burung camar tengah menyambar ikan-ikan segar yang menyapa permukaan air. Dering ponsel mengalihkan perhatian pria tersebut. Melirik ke arah ponsel yang awalnya ia taruh di atas meja kaca di samping secangkir kopi. Terdapat nomor tanpa nama yang menghubungi. Tetapi pria itu tahu, siapa yang tengah meneleponnya. Meski sudah berkali-kali mencoba bersikap tak acuh dengan suara dering ponsel, tetapi getaran serta nada dering itu terus mengusik gendang telinganya. Biasanya Ayaz akan langsung mematikan ponselnya. Tetapi, kali ini ia mencoba mengontrol emosinya. Menyemburkan napas kesal lantas meraih ponselnya tersebut. Menggeser tombol hijau ke atas dengan malas, lantas menempelkan benda pipih tersebut di daun telinga. "Ayaz, halo!" Suara seorang pria paruh baya dari seberang telepon terdengar. "Kenapa kau menggangguku?" jawab Ayaz malas. "Ayaz, sikap macam apa ini? Apakah begini cara menerima panggilan seseorang? Terlebih, aku ini ayahmu. Orang yang harus kau hormati." "Kalau kau meneleponku hanya untuk memarahiku maka terima kasih karena sudah membuat pagiku berantakan. Aku sudah muak dengan semua ini!" Ayaz terlihat hendak menutup teleponnya. "Ayaz… tunggu dulu. Jangan kau coba-coba tutup teleponnya seperti yang sering kau lakukan saat aku mencoba menghubungimu. Apa kau tidak punya sopan santun–" Ayaz tertawa sumbang. "Lucu sekali rasanya jika diajari sopan santun oleh orang yang tak pernah memiliki sopan santun dalam hidupnya," kata Ayaz bernada sindiran sembari memiringkan senyumnya. "Ayaz! Apa maksudmu berbicara seperti itu? Kau mengatakan ayahmu sendiri tidak memiliki sopan santun? Aku ini ayahmu–" Ayaz yang mulai terpancing emosinya mulai mendirikan tubuhnya dan menyelak perkataan ayahnya. "Berhentilah menyebut dan bersikap bahwa kau ayah yang baik. Aku tidak memiliki ayah sepertimu. Kau dengar?! Ayahku sudah tiada saat ibuku tiada! Tidak ada lagi seorang ayah bagiku! Bagiku kau hanya perenggut kebahagiaanku juga ibuku!" Dengan amat kesal Ayaz mengatakan ucapan tidak terpuji tersebut. "Ayaz, berani sekali kau berkata seperti itu pada ayahmu. Apa ini cara ayah selama ini mendidikmu? Ayah tidak pernah mengharapkan ini darimu!" Serupa angin lewat, nasihat ayahnya tersebut terabaikan oleh Ayaz, saat kedua iris coklat terang pria itu menangkap sosok Sevda yang melihat kebersamaan Serkan dan Hazal. *** "Serkan? Kenapa dia sangat dekat dengan Hazal?" Sevda bergumam sembari terus memperhatikan dua pasangan yang tengah berdiri di tepian ombak. "Aku yakin pasti Si ular Hazal itu telah menggodanya!" Sevda meneguk ludah saat melihat kedua tangan Serkan menggenggam erat tangan Hazal. "Aku akan ke sana!" Gadis itu berjalan untuk lebih dekat. Oyku yang asyik memakan Kokorec bersama Burak tiba-tiba melotot saat melihat Sevda di sana. Terlebih, hendak mendekati Serkan dan Hazal yang tengah bersama. "Celaka!" Gadis itu langsung membuang Kokorec yang masih setengah dan mendirikan tubuhnya. "Baby, ada apa?" tanya Burak keheranan dengan tingkah kekasihnya tersebut. "Burak, jangan sampai Sevda tahu tentang hubungan Serkan dan Hazal!" Usai mengatakan hal itu, Oyku bergegas menghampiri sahabatnya. Burak yang melihat Sevda ikut tertegun. Gegas ia membuntuti Oyku. "Sevda!" Dari kejauhan Oyku memanggil Sevda, tetapi angin laut menyamarkan suaranya tersebut sehingga sahabatnya itu mendadak tuli. Terlebih, Sevda saat ini tengah konsentrasi terhadap Serkan dan Hazal. "Baby, sudah tiga bulan lebih kita menjalin hubungan, tapi kau tidak pernah bersikap romantis padaku!" Hazal protes terhadap Serkan, membuat mata Sevda membola dan menghentikan langkahnya seketika. "Serkan, aku ingin kau menciumiku!" pinta Hazal lagi. "Hazal, apa itu perlu? Maksudku… kita tidak perlu mengumbar hubungan kita. Apa tidak cukup kita sebagai pasangan kekasih tanpa harus bermesraan di depan orang banyak." Perkataan Serkan semakin menusuk jantung Sevda dan mengirisnya menjadi beberapa potongan. "Aku yakin kau tidak mencintaiku!" Hazal melengoskan wajah kesal. Serkan mencoba membujuk. "Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Kalau aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku mau menjadi pacarmu selama ini?" Hazal memicingkan mata ke arahnya. "Apa aku tertarik pada Sevda? Tadi malam saat kalian berdansa kau seperti dekat dengannya." "Astaga, Hazal. Sevda itu hanya temanku. Tidak lebih. Aku tidak memiliki perasaan apa pun padanya selain pertemanan. Tidak ada yang lebih. Percayalah!" kata Serkan pada Hazal, yang langsung membuat hati Sevda bagai tertusuk ribuan duri. Serkan mengambil kedua tangan Hazal dan menggenggamnya. "Kau percaya pada kekasihmu ini, kan?" Hazal diam beberapa saat, kemudian mengangguk. Tersenyum, lantas menarik wajah Serkan untuk mendekat ke arahnya dan menciumnya. Mereka saling bertukar saliva. Sevda yang melihatnya langsung menganga dengan bola mata melotot. Tubuhnya gemetar. Jantungnya seperti tersendat. Hatinya serupa ditusuk jutaan pedang yang terus menghujamnya tiada henti. Napasnya terasa sesak. Bulir bening lolos tanpa permisi dari sudut mata. Tak kuat melihat mereka yang semakin mesra, Sevda membalikkan tubuhnya. Melihat Oyku yang memasang wajah prihatin terhadapnya. "Sevda, kau tidak apa-apa?" tanya Oyku gugup. Dengan tangis yang membanjir, Sevda berkata, "Oyku, kau dengar apa yang mereka katakan? Apa yang Serkan katakan pada Hazal? Kau dengar tadi Hazal bilang apa? Mereka ternyata sudah menjalin hubungan sejak lama, Oyku." Wajah Sevda memerah penuh emosi juga kesedihan. "Sevda, tenangkan dirimu." Oyku menyentuh bahu Sevda dan mengelusnya lembut. "Tunggu sebentar." Sevda menyentuh kedua bahu Oyku dengan tangannya. "Apa kau sudah tahu soal ini?" tanyanya membuat Oyku tertegun. Oyku menelan ludah. Menjawab gugup. "Sevda… aku…" "Apa Cansu juga mengetahuinya?" Kembali Sevda bertanya penuh penghakiman. "Sevda… sebenarnya …. " Oyku masih tak mampu melancarkan ucapannya. "Aku tanya apa kalian sudah mengetahui ini sejak lama?!" Suara Sevda semakin terdengar tuntutan. Oyku hanya diam menunduk. Tak berani menatap wajah sahabatnya. Sevda memiringkan senyum. "Apa aku harus menganggap diammu ini sebagai kebenaran, Oyku? Kalian sudah tahu kalau Serkan dan Hazal sudah menjalin hubungan sejak lama, tapi tega sekali kalian malah mencoba mendekatkan ku dengan Serkan. Kalian memberikan harapan palsu padaku. Kalian sadar itu? Apa ini wujud persahabatan kalian padaku? Menyakiti hatiku, melukaiku dengan semua ini?!" "Sevda… aku menjelaskan semuanya…" Oyku kembali membuka suaranya yang gemetar, mencoba menenangkan Sevda yang kecewa terhadapnya. Sevda menggeleng penuh kekecewaan. "Aku pikir kalian sahabatku yang tidak pernah mengecewakanku, ternyata aku salah. Kalian justru membuat luka di hatiku semakin sakit. Aku bisa menerima kalau Serkan dan Hazal memiliki hubungan, tapi aku tidak menduga kalau sahabatku sendiri membohongiku. Memberiku harapan palsu. Kalian tahu, aku sudah terbang di atas awan, berharap lebih, tapi harapan itu menjatuhkanku sampai ke dasar yang paling dalam!" Sevda mengungkapkan isi hatinya tersebut dengan tangis sesenggukan dan mata memerah penuh emosi. "Sevda… aku minta maaf.…" "Katakan pada Cansu, aku memberinya ucapan selamat karena telah berhasil melukai hatiku. Dan juga untukmu, selamat kalian mendapatkan piala Oskar! Kau senang sekarang?" Sevda menggeleng tak menyangka. "Aku sangat kecewa pada kalian!" Itu merupakan kalimat terakhir yang Sevda katakan sebelum memilih enyah dari hadapan Oyku. "Sevda! Tunggu…!" Oyku mencoba mengejar, tetapi nihil. Kemarahan Sevda saat ini tidak bisa terkendalikan. "Sevda …" Tangis Oyku tersengguk. Burak mendekatinya dan memeluknya mencoba menenangkan. Sevda berjalan menjauh dengan membawa luka yang begitu menyakitkan. Meski punggung tangannya terus mencoba menyeka air matanya, tetap saja bulir bening tersebut membanjir bagai air terjun. Sementara Ayaz masih saja memperhatikan kejadian tersebut dari kejauhan. "Ayaz… apa kau mendengarku? Ayaz!" Suara ayahnya dari ponsel tak mengindahkan fokusnya. "Ayaz!" "Ayaz! Apa ini caramu bersikap pada orang tuamu sendiri. Belajarlah dari sepupumu Serkan. Dia tidak pernah membuat ayahnya kecewa. Dia selalu membawa kebanggaan pada keluarga." Ayaz semakin emosi saat dibanding-bandingkan dengan Serkan. "Diamlah! Aku juga tidak ingin menjadi bagian dari keluarga kalian! Kau membandingkanku dengan Serkan. Kau bilang Serkan jauh lebih baik dariku. Kau sendiri jauh lebih baik dari Paman Sinan. Paman Sinan selalu mengasihiku, tapi kau sekalipun tidak pernah. Kau bukan ayahku! Kau bukan ayahku! Ayahku sudah tiada! Kau dengar itu! Ayahku sudah tiada!" Saking kesalnya Ayaz sampai membanting ponselnya. Menginjak-injak dengan terus mengumpat. "Kau bukan ayahku! Kau dengar!!!" Wajah pria itu memerah bata, dengan mata melotot namun penuh kesedihan. Bahkan serpihan kaca menggenang di kelopak mata pria tersebut. Ayaz melihat Sevda yang menangis dengan berlari. "Oh shiit!!!" Pria itu pun ikut berlari mengejar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN