8. Kekesalan

1115 Kata
Sinar sang surya menerpa jendela kaca tembus pandang dan menyiram tubuh seorang pria yang masih bersembunyi di balik selimut putih. Pria itu masih asyik terlelap dengan tubuh telanjang dad@ yang tengkurap. Detik berikutnya pintu kamar terbuka. Tampak Serkan yang sudah rapi masuk ke dalam kamar. Sedikit terkejut saat melihat sepupunya itu masih terlelap padahal jam sudah menunjuk pukul tujuh pagi. "Astaga, Ayaz. Kau masih tidur?" Serkan bergerak, mendekati ranjang dan menarik selimutnya hingga pria di atas sana mulai menggeliat. "Ayaz, bangunlah!" "Cousin, kau kah itu?" Ayaz mengambil posisi terlentang. Mengucek matanya yang masih samar-samar. "Serkan, kenapa kau membangunkanku malam-malam begini?" "Malam?" Serkan mendekat ke arah beker yang terus berdering lantas mematikannya. "Lihatlah, alarmmu bahkan menunjuk pukul tujuh. Tujuh pagi, kau dengar." "Hoamm…." Ayaz menguap. Mulai membangunkan tubuhnya, namun masih bersandar di ranjang. "Aku masih ngantuk. Kau pergilah ke kampus duluan." "Kita hari ini tidak ke kampus, Ayaz!" "Bagus. Kalau begitu biarkan aku tidur. Ini hari libur kan?" Dengan santainya Ayaz menyamankan tidurnya lagi dan memejamkan mata. Sementara Serkan menggesek rambut belakangnya frustasi. "Ayaz, hari ini kita akan pergi ke pulau untuk melakukan penelitian. Kau ingat itu?" jelas Serkan dengan nada penuh penekanan. "Tahun depan saja. Aku masih ngantuk. Mau tidur." Lagi-lagi Ayaz menjawab santai. "Astaga!" Serkan tak mau tinggal diam. Dia mengambil langkah ke depan dan menarik tangan Ayaz untuk membangunkan tubuh kekar itu. "Cepat bangun dan bersiap. Kita akan pergi sekarang. Memangnya kau mau, kelulusanmu ditunda gara-gara tidak mengerjakan tugas akhir?" "Aku tidak peduli." "Tapi aku peduli. Aku tidak bisa membiarkanmu lulus telat dan harus mengulang. Paman bisa marah." "Apa peduliku dengan dia? Dia juga tidak peduli dengan diriku," jawab Ayaz seadanya. Seakan dari nada bicaranya dia tidak menyukai sosok ayahnya itu. "Ayaz, Paman Mehmet itu ayahmu. Kau harus menghormatinya." "Diamlah, Cousin!" Kali ini mata Ayaz membuka lebar. "Aku tidak suka kau mengaitkan masalah ini dengan lelaki itu. Dia memang ayahku, tapi tidak bertindak sebagai seorang ayah bagiku. Aku lebih memilih Paman Sinan daripada pria yang berstatus sebagai ayahku itu." Garis mata Ayaz menegas, seakan menyimpan kebencian terhadap sosok sang ayah. Serkan mendesis pasrah. "Baiklah, aku tidak akan membicarakan ini lagi. Tapi aku minta kau cepat bangun dan mandi. Lalu bersiap dan kita akan berangkat sekarang! Final! Oke?" "Baiklah-baiklah! Ufff…." Ayaz menyingkap selimutnya dengan kasar lantas beringsut dari ranjang. Bergerak menuju kamar mandi. "Kau memang suka mengaturku!" celotehnya sepanjang jalan menuju kamar mandi. "Siapa yang akan kau turuti kalau bukan aku? Selama ini aku yang tahu bagaimana cara mengendalikanmu. Hahaha. Setelah Bibi Hadije tiada, memang aku yang—" Serkan menggantung ucapannya saat Ayaz menghentikan langkah kakinya. Ayaz menoleh ke belakang. "Sorry, Ayaz… aku tidak bermaksud—" Senyum simpul terlukis dari garis bibir Ayaz. "Tidak apa-apa." Lantas kedua iris cokelat terangnya itu melirik ke arah sebuah bingkai yang bergambar potret wanita paruh baya yang tengah tersenyum. "Selain ibuku, hanya kau yang peduli denganku. Kau bukan sekadar sepupu, tapi kau adalah kakakku." Senyum Ayaz tergores sempurna. Serkan pun ikut menarik garis bibirnya. "Cepatlah mandi. Kau punya lima menit untuk bersiap!" "Ufff…" Ayaz mendesah pasrah, lantas membawa kakinya melewati pintu kamar mandi dan menutupnya. *** Pagi setengah siang, di tepian dermaga, Serkan, Hazal, dan Ayaz tampak berdiri di bawah langit yang cerah. Hazal sibuk mengipas diri dengan tangannya saat cuaca terik menyergapnya. Sementara Ayaz dan Serkan memilih untuk menyaksikan gerombolan burung camar yang sibuk menyergap ikan-ikan yang hendak menyapa permukaan. Ini adalah hari di mana mereka hendak berangkat ke pulau guna melakukan penelitian sebagai syarat tugas akhir perkuliahan. "Cousin, siapa lagi sih yang kita tunggu? Kenapa mereka lama sekali?" Ayaz mulai letih dan protes. "Baby, sebaiknya tinggal saja mereka. Mereka bisa menyusul nanti." Hazal tampak menyarankan, dengan wajah juteknya ke arah Serkan. "Hazal, sabarlah. Mereka pasti sebentar lagi datang," kata Serkan bersabar. "Tapi sampai kapan? Kaki ku keram berdiri sejak tadi." "Memangnya siapa saja sih tim kita?" tanya Ayaz yang masih belum tahu dan tampak begitu penasaran. "Ah, itu mereka!" Serkan menunjuk ke arah tiga orang yang berjalan ke arah mereka. "Burak!" Ayaz memanggil seorang pria yang berjalan di depan. Saat matanya menelisik ke belakang Burak, ia melihat Oyku dan seorang gadis yang langsung membuat bola bundarnya itu membulat serta keningnya berlapis. "Gadis itu? Dia–" Mulut Ayaz menganga. Tak menyangka Sevda ikut bersama mereka. "Cousin, apa dia…." "Iya, Ayaz. Sevda salah satu tim kita," jawab Serkan menahan tawa saat melihat ekspresi sepupunya. Tak lama akhirnya Burak, Oyku, dan Sevda sampai pada mereka. "Omong kosong apa ini? Kenapa kau ada di sini?!" Ayaz langsung berteriak pada Sevda. Sevda hanya terdiam dengan memalingkan pandangan. Mencoba menahan emosinya. "Serkan, aku tidak ingin dia ikut bersama kita!" ucapa Ayaz berterus terang. "Hi, hello. Kau pikir aku mau bersamamu? Aku juga terpaksa satu tim denganmu!" Akhirnya Sevda membela diri. "Bagus. Kau tidak ingin bersamaku dan aku pun juga tidak. Sekarang kau pergilah dan cari tim lain. Case close!" pungkas Ayaz. "Ayaz, apa uang yang kau katakan? Kau tidak boleh melakukan itu. Sevda itu tim kita. Dan kita harus bekerjasama." Serkan mencoba menengahi. "Apa tidak bisa diganti orang lain, Serkan? Setidaknya selain gadis itu!" Hazal ikut angkat bicara. "Kenapa kau mengatakan itu pada temanku?" Oyku yang tak terima, membuka suara. "Kau saja yang pergi dan cari tim lain!" "Apa kau bilang? Kau menyuruhku–" "–Hazal sudahlah! Sudah! Kalian semua jangan ada yang bertengkar!" Serkan meninggikan suaranya. "Kita ini satu tim. Kita harus saling bekerjasama. Aku minta kesampingkan ego kalian dan fokuslah pada tujuan kita. Oke?" Serkan memang selalu bisa menguasai keadaan dan menenangkan keributan. Tentu saja sikapnya yang terpuji tersebut membuat Sevda semakin terkagum padanya. "Sekarang angkat koper kalian dan kita akan masuk ke feri. Sebentar lagi feri kita akan berangkat!" Final! Itu keputusan Serkan. Serkan melangkahkan kaki mendekat ke arah Sevda, itu membuat detak jantung Sevda semakin berdegup begitu kencang. Sevda berpikir kalau Serkan akan menggandeng tangannya, tetapi nyatanya ia malah meraih sebuah koper yang terletak di samping gadis itu. Hati Sevda langsung kecewa. "Ayo kita berangkat!" Serkan berkata sekali lagi. Lantas, tangannya itu meraih tangan Hazal dan menggandengnya. Membawa gadis itu untuk berjalan bersamanya. Tentu saja itu membuat hati Sevda terluka. Gadis itu hanya bisa memperhatikannya dengan mulut menganga. Ada rasa pedih yang tersimpan dalam benaknya. "Hei, Ikan koi, tutup mulutmu itu. Apa kau belum makan lalat sehingga menganga seperti itu?" ejek Ayaz pada Sevda yang kemudian bergerak membawa kopernya membuntuti Serkan dan Hazal. Sevda melupakan rasa sedihnya sejenak dan mulai gemas dengan Ayaz. "Dasar pria batu!" "Sevda, sudahlah!" Oyku merangkul bahu temannya dan mengajaknya berjalan. "Burak, tolong bawakan koperku!" pintanya pada pria di sampingnya. "Siap, Nona Bos!" Dengan senang hati Burak segera menyeret dua koper, lantas membuntuti mereka untuk masuk ke dalam kapal Feri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN