7. Bertukar Rindu

1233 Kata
Malam yang kian meninggi, membuat udara semakin sejuk. Namun hal itu tak juga menggertak gadis berdarah Indonesia itu enyah dari jendela kamarnya. Ia masih asyik menikmati keindahan kota Istanbul yang dikelilingi oleh selat Bosphorus nan indah. Hingga beberapa detik kemudian, suara dering ponsel mengalihkan perhatian Sevda. Gadis itu menoleh, melirik tepat di atas nakas. Sebuah benda pipih berteknologi canggih tiada hentinya berdering. Segera ia beranjak menggapainya. Senyumnya langsung terbit kala melihat nama Deniz—saudara tirinya—yang menghubungi via video call. "Deniz, halo!" sapa Sevda setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya ke atas. "Bagaimana kabarmu?" "Sevda, kabarku baik. Kau bagaimana? Aku dengar kau kemarin berhasil mendapatkan mendali emas lagi, ya?" "Kabarku juga baik. Iya, aku memang memenangkan kompetisi berkuda kemarin. Apa kau tidak menonton pertandingannya. Bukankah itu disiarkan secara live?" "Uff… Sorry, Sevda. Kau tahu, kan, perbedaan waktu di Turki dan London. Turki lebih cepat tiga jam dari London. Dan, saat itu aku masih sibuk kuliah. Hehe." "Its, Ok! Aku bisa mengerti." "Eh, sebentar." "Kau mau ngapain?" "Kau lihat saja nanti, hehe." Beberapa saat kemudian… "Halo, kalian!" Suara seorang pria yang tersambung dalam panggilan video itu membuat Sevda tersenyum girang. "Leon!" Sevda sangat gembira saat Leon—Kakak angkatnya—menimbrung dalam video call tersebut. "Astaga, Leon. Aku merindukanmu!" "Kau bilang kau merindukanku tapi kau tidak pernah meneleponku. Apa ini adil? Deniz, bagaimana menurutmu?" Suara Leon terdengar bercanda. "Kau benar sekali, Leon. Lihatlah, bahkan tadi aku yang menghubunginya duluan. Sepertinya adikmu itu sudah lupa dengan kita. Atau… dia sudah memiliki kekasih di sana," canda Deniz. "Astaga… kalian. Baiklah aku minta maaf karena jarang menghubungi kalian. Perkuliahanku sudah mau berakhir, jadi aku sibuk. Kalian tahu sendiri kan masalah ini, karena kalian juga mengalaminya." "Bagaimana Leon, apa kita harus memaafkannya?" Deniz masih saja bercanda. "Umm… biar aku pikir-pikir dulu," timpal Leon yang sengaja menggoda Sevda. "Kalian keterlaluan. Haruskah aku menangis agar kalian memaafkanku?" "Hahaha! Memangnya kapan aku pernah membuatmu menangis, Coboy?" Leon kembali berseru. "Kami hanya bercanda kok. Aku tahu kau sibuk dengan studimu. Begitupun juga Deniz. Kalian sudah hendak lulus, jadi fokuslah dengan studi kalian." "Kau tenang saja, Leon. Studi adalah prioritas utamaku. Jadi aku akan lulus dengan cepat," seru Sevda. "Oh iya, aku dengar kau sudah memimpin perusahaan ya sekarang. Kau memang benar-benar tiruan dari papa Aydin." "Papa Aydin… uff... aku benar-benar merindukannya. Sudah seminggu kami tidak saling menghubungi." Leon memberi jeda sejenak. "Dan kau Deniz, apa kesibukanmu selain kuliah?" tanyanya pada Deniz. "Jangan tanya dia." Sevda menyela cepat. "Kau tahu, dia sekarang jadi model. Lihatlah di akun Instagramnya, semua penuh dengan foto-foto dia bersama gadis-gadis." "Apa kau cemburu, Sevda?" sahut Deniz dengan nada bercanda. "Apa kau masih belum bisa melupakanku? Hem?" "Leon, lihatlah adikmu itu. Dia selalu saja menggodaku seperti itu. Padahal itu hanya masa lalu." Bibir Sevda mengerucut. "Hahahaha….!" Leon tertawa melihat ekspresi mereka dari layar ponselnya. "Itu memang masa lalu yang konyol. Bagaimana bisa kita saling mencintai padahal kita sebenarnya saudara tiri. Tapi untungnya kita sadar sebelum terlambat," kata Deniz. "Tapi jujur, Sevda. Kalau kau bukan saudara tiriku, pasti kau akan kunikahi. Hahaha. Gadis cantik sepertimu itu langka." "Gombalanmu dari dulu tidak pernah berubah!" Mereka bertiga saling tersenyum menukar rindu dengan jarak jauh. "Kalian tahu, aku sangat merindukan momen-momen kita saat dulu kita tinggal bersama di rumah. Kasih sayang Papa Aydin, Kepedulian Ibu Aisha, sikap penuntutnya Ibu Sonya, semua aku merindukannya." "Kau melupakan sesuatu, Sevda," celetuk Deniz. "Apa kau lupa dengan Bibi Nermin? Bukankah dia orang yang paling lucu walau kadang selalu berbuat ulah." "Ah, iya… Bibi Nermin. Aku juga merindukannya. Semoga suatu saat nanti kita bisa berkumpul bersama." Sevda menghela napas. "Sevda, Leon, sudah dulu ya. Lain kali kita sambung lagi. Dan ya, kita sambungkan juga dengan Papa Aydin nanti." "Oke, Deniz. Sampai jumpa kalian." Usai bertukar rindu secara virtual tersebut, Sevda kembali merenung di depan jendela. Mendadak pikirannya itu teringat akan sosok yang membuatnya kesal belakangan ini. Ayaz! Namun kali ini bukan rasa kesal yang membebani pikirannya, melainkan rasa bersalah karena telah mendorongnya jatuh ke laut sehingga membuat pria itu demam dan tidak masuk kuliah. "Haruskah aku meminta maaf padanya?" Sevda menggigit bibir bawahnya ragu. "Atau sebaiknya aku telepon Serkan dan bertanya soal kondisinya." Setelah menimbang asumsinya, dan memantapkan hati, akhirnya gadis itu melayangkan jemarinya untuk memencet tombol ponsel guna menelpon Serkan. Beberapa saat kemudian, telepon itu tersambung. "Halo, Sevda!" Sevda membisu saat mendengar suara Serkan. Tubuhnya menjadi gugup. "Sevda, apa kau di sana?" tanya Serkan. "I-iya. Halo!" katanya lantas mengigit bibir bawahnya. "Sevda, ada apa? Tumben sekali kau menelponku. Apa ada masalah?" "T-tidak." Sevda mendesis pelan. "S-sebenarnya aku hanya ingin menanyakan soal kelanjutan rencana penelitian kita. Yah, itu saja," katanya sembari mengangguk-angguk. Rasa gengsinya soal bertanya tentang Ayaz begitu besar. "Bukankah kita sudah membahasnya tadi. Dan kita memilih pulau sebagai tempat penelitian kita. Tiga hari lagi kita akan berangkat bersama-sama ke sana." Serkan memberi jeda sejenak. "Memangnya, kenapa? Apa kau ada masalah lain?" "Tidak. Baiklah. Aku hanya memastikannya saja. Hehe." Sevda menepuk jidatnya sendiri. "Oke. Kalau tidak ada lagi, bisakah aku mengakhiri panggilannya." "Iya. Ah, Serkan, tunggu dulu. Umm… bagaimana keadaan sepupumu itu?" "Maksudmu, Ayaz?" "Iya. Apakah dia sudah sembuh? Apa demamnya sudah turun? Dia baik-baik saja, kan?" berondong Sevda dengan berbagai pertanyaan sehingga membuat pria di seberang telepon sana tertawa. "Hahaha!" "Kenapa kau malah tertawa?" "Sorry… menurutku ini lucu saja. Kemarin kau marah-marah padanya dan sekarang kau sangat perhatian." Kedua iris hazelnut Sevda membola. "Perhatian? Tidak. Aku hanya menanyakan kondisinya saja. Karena aku merasa bersalah telah mendorongnya ke laut. Meskipun aku tidak sengaja melakukan hal itu." "Hehehe. Iya, iya. Kondisi Ayaz sudah membaik. Awalnya kami menyarankan untuk berobat ke dokter, tapi dia membangkang. Kau tahu, Ayaz itu keras kepala. Dia akan melakukan hal yang dia inginkan saja. Jadi, jangan terkejut kalau memang sikapnya agak menjengkelkan." "Dia memang pria beku. Aku curiga dia dulu lahir di kutub Utara," gumam Sevda. "Apa kau mengatakan sesuatu, Sevda?" "Ah, tidak, kok. Hehe." "Baiklah. Ada lagi yang mau disampaikan pada Ayaz?" "Tidak ada. Semoga dia cepat sembuh. Itu saja." "Ok! Kalau begitu, selamat malam. Aku tutup teleponnya, ya!" "I-iya." Sevda menyemburkan napasnya. Bergerak ke arah ranjang dan membanting tubuhnya di spring bed. *** Suara ketukan pintu terdengar, membuat pria yang awalnya sibuk bermain ponsel langsung terhenti dan terfokus pada persegi panjang di sudut kamarnya. "Cousin, kau belum tidur?" Serkan masuk ke kamar dan menutupnya kembali. "Ehm. Aku tidak bisa tidur." Ayaz membenarkan posisi bersandarnya di sandaran ranjang, dengan sorot terfokus pada sepupunya. "Kau sendiri belum tidur?" "Bagaimana keadaanmu?" tanya Serkan balik. "Aku jauh lebih baik." "Oh, iya. Tadi Sevda menghubungiku. Dia menanyakan keadaanmu." Mendengarnya, Ayaz tersenyum sumbang. Seperti tak percaya akan hal mustahil itu. "Gadis itu? Gadis yang telah membuat keadaanku seperti ini, dia menanyakan kondisiku? Yang benar saja." Ayaz menggeleng tak percaya. "Ayaz, kau harus tahu satu hal. Sevda itu bukan seperti kebanyakan gadis. Maksudku, dia berbeda. Memang dia membuatku kesal, tapi dia sebenarnya baik. Buktinya dia menanyakan keadaanmu." Serkan menjelaskan sembari duduk di sofa bulat dekat ranjang. "Omong kosong. Aku yakin dia hanya bersikap baik di depanmu. Mungkin dia sengaja menarik perhatianmu." "Kau ini ada-ada saja." Serkan tersenyum tak percaya. "Oh iya, cepatlah sembuh. Karena tiga hari lagi kita harus berangkat ke pulau untuk melakukan penelitian." Serkan kembali berdiri dan hendak keluar kamar. "Cousin, siapa saja tim kita?" tanya Ayaz membuat Serkan menoleh kembali ke arahnya. Serkan menyudutkan senyumnya sebelum menjawab. "Nanti kau akan tahu sendiri."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN