6. Rencana Penelitian

1124 Kata
Pagi setengah siang itu mahasiswa tingkat akhir ramai membahas perihal tugas akhir sebagai syarat kelulusan. Setelah dosen membagikan kelompok untuk melakukan penelitian, dan setelah jam perkuliahan dibubarkan, para mahasiswa mulai berkerumun di halaman kampus. Tampak Sevda yang berbincang dengan Oyku. Sementara Cansu dan Ozan datang menghampiri keduanya. "Sevda, aku menyesal sekali karena kita tidak satu tim. Padahal aku ingin sekali bersama kalian." Cansu memanyunkan bibirnya kecewa. "Kan ada aku, Baby. Aku akan membuat hari-harimu bahagia. Hehe," sahut Ozan sembari mengalungkan tangannya di bahu Cansu. "Aku rasa kalian hanya akan berpacaran bukannya mengerjakan penelitian. Hahaha!" canda Sevda pada kedua temannya itu. "Bukankah kau harusnya senang selalu bersama dengan Ozan, Cansu? Itu yang kau inginkan bukan? Kau akan melupakan kami temanmu ini saat bersamanya," ledek Oyku. "Apa yang kau katakan, Oyku. Kalian adalah temanku, tidak mungkin aku melupakannya. Dan ya, setelah lulus nanti, kalian berdua orang pertama yang akan mendapatkan undangan pernikahan kami!" seru Cansu dengan kedua mata berbinar. "Oh, jadi kau sudah siap untuk menjadi Nyonya Ozan Gulpinar?" Ozan menatap Cansu lekat, yang lantas membuat gadis berambut firank itu memerah delima. "Cieee…. Yang mau nikah. Tapi secepatnya kalian menikah itu lebih baik, agar kalian cepat menggendong bayi mungil! Hahaha." Oyku tertawa renyah. "Shut up, Oyku! Lalu bagaimana dengan hubungan dengan Burak? Kalian satu tim kan? Aku yakin pasti akan terjadi sesuatu nantinya di antara kalian," ledek Cansu. "Tentu saja, Cansu!" Sevda menyahut cepat. "Sesuai rencana kita, kita akan mendekatkan mereka berdua. Meskipun kau tidak satu tim dengan kami, tenang saja. Aku yang akan membuat Oyku jatuh cinta dengan Burak!" "Sevda!" Oyku mencubit pelan lengan sahabatnya itu. "Kau tidak akan berhasil. Sudah kubilang Burak itu hanya bermain-main denganku. Dia tidak mungkin tertarik padaku." "Aku rasa kali ini kau salah, Oyku." Giliran Ozan yang menyelak. "Entah kau percaya padaku atau tidak, tapi aku yakin seratus persen kalau Burak memang sedang mengincarmu. Bahkan dia selalu bertanya padaku soal dirimu. Dia pasti diam-diam menaruh hati padamu." Mendengarnya, Oyku mendadak bagai putri malu. "Kalian jangan membual!" "Kami tidak pernah membual, Sayang." Sevda menyentuh bahu Oyku. "Sekarang katakan padaku, apa kau juga tertarik pada Burak? Kalau iya, maka itu akan lebih mudah untuk menyatukan kalian." Oyku hanya terdiam seribu bahasa. Tidak juga menolak, ataupun mengangguk. Namun, gelagatnya yang malu-malu serta pipinya yang mendadak seperti daging jambu biji itu menunjukkan bahwa dia sebenarnya tertarik dengan Burak. "Burak Tozkoparan dan Oyku Gincer. Bukankah itu terdengar seperti pasangan yang serasi?" tambah Sevda seraya terkekeh. "Shut up, Sevda! Jangan menggodaku seperti itu!" Oyku menyembunyikan wajahnya itu. "Oh iya, Sevda. Kau sudah tahu 'kan, selain satu tim dengan Serkan dan Hazal, juga ada Ayaz dalam timmu." Ozan mulai berbicara serius. "Aku harap kalian tidak akan bermasalah nantinya." "Mau bagaimana lagi, Ozan, aku rasa pria batu itu selalu saja membuntutiku. Untung saja ada Serkan yang—" Sevda menghentikan ucapannya seketika saat Cansu dan Oyku menatapnya penuh arti. "Serkan apa? Ayo lanjutkan?" ucap Cansu dengan nada genit. "Ada Serkan yang selalu menjagamu. Itu kan maksudmu?" tambah Oyku dengan terkekeh. "Bukan begitu maksudnya." Sevda mencoba mengelak. "Ngomong-ngomong bagaimana bisa si ular itu selalu saja bersama dengan Serkan. Aku tidak setuju Hazal bersamanya." Oyku menyemburkan napas kesal. "Dan Ayaz, entah kapan aku tidak bertemu dengannya lagi." Sevda mengepalkan tangannya. "Rasanya setiap saat aku selalu dipertemukan dengannya. Benar-benar membuatku muak!" "Jangan begitu, Sevda. Jika kau terlalu membencinya, kau bisa jatuh cinta nantinya. Hahaha," canda Ozan seraya tertawa. "Ozan!!!" Ketiga gadis itu mengucap serempak dengan nada kesal, yang lantas membuat pria berambut cokelat itu menghentikan tawanya seketika. "Aku hanya menebak saja. Karena yang aku tahu dalam film memang seperti itu. Yang awalnya benci, malah menjadi cinta." "Aku masih waras, Ozan!" celetuk Sevda. "Apa kau berpikir aku akan tertarik dengan Ayaz? Sama sekali tidak!" "Bravo, Sevda! Kau memang tidak boleh tertarik dengannya, karena kau hanya akan mendapatkan Serkan!" tambah Cansu final. Ozan memutar mata malas. Beberapa saat kemudian, tanpa mereka sadari Serkan bergerak ke arah mereka. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" Suara itu membuat mereka terkejut lantas menoleh bersamaan. Semakin terkesiap saat menyadari sosok tersebut merupakan pria yang sedang mereka bicarakan. Serkan Basaglu. "S-serkan?" Sevda menelan ludah. Tubuhnya mulai gugup. "Kelihatannya serius sekali. Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Serkan sedikit bingung. "Ah, tidak… kami tadi hanya membicarakan soal…." "Kami hanya membahas soal penelitian kami nantinya, Teman!" Ozan menyela perkataan Cansu. "Oh… aku juga ingin membahasnya." Serkan maju tiga langkah untuk lebih dekat dengan mereka. Lantas pandangan itu terpaku pada sosok gadis yang sedari tadi gugup meremas tangan. "Sevda, kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Serkan sontak mengharuskan Sevda mendongakkan kepalanya. "Ah, ya. Aku baik, hehe." "Kita satu tim, kan? Dan kau juga Oyku. Bagaimana kalau kita nanti sebelum pulang kuliah membahas soal ini? Maksudku, kita perlu membicarakan soal tempat yang akan kita tuju sebagai objek penelitian kita." Serkan memberi jeda sejenak. "Bagaimana? Apa kalian berdua ada waktu?" "Yah, tentu!" jawab Oyku mantap. "Dan kau Sevda?" ulang Serkan lagi. Sevda mengangguk pasti. "Ok!" "Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu kalian di perpustakaan nanti. Aku juga sudah mengabari Burak dan Hazal," jelas Serkan. "Sobat, apa Ayaz tidak masuk kuliah hari ini? Aku tidak melihatnya," kata Ozan bertanya. "Dia demam. Setelah kejadian tadi malam." Sevda yang mendengar pembicaraan Serkan dengan Ozan perihal Ayaz, merasa sedikit terkejut. Meskipun ia sangat tidak menyukai sikap Ayaz, tetapi hati Sevda itu lembut seperti ibunya Aisha. Ia merasa bersalah telah membuat Ayaz tercebur ke laut sehingga membuatnya sampai jatuh sakit. "Jadi dia tidak tahu kalau dia bakalan satu tim dengan Sevda. Aku rasa dia akan terkejut bukan main. Hahaha!" canda Ozan. "Yah, aku bahkan tidak sabar melihat wajahnya." Serkan ikut tertawa. Tawa pria itu, mengalihkan perhatian Sevda. Tawa yang langsung menerbitkan senyuman indah di garis bibir Sevda. "Oh iya, Sevda. Ngomong-ngomong… kau tidak ada masalah kan kalau Ayaz satu tim dengan kita?" tanya Serkan pada Sevda, namun gadis itu sibuk terbuai akan gerak wajah Serkan. "Sevda?" "Sevda!" Oyku menyenggol bahunya, membuat lamunan Sevda terbuyar. "Serkan bertanya padamu!" "Kau tidak keberatan jika Ayaz bersama kita?" tanya Serkan sekali lagi. Sevda menggeleng cepat dengan mantap. "Tidak. Sama sekali tidak keberatan." Gadis itu bahkan tak sadar dengan apa yang telah diucapkannya. "Bagus kalau begitu. Jadi nanti tidak akan masalah dengan kalian. Oh iya, aku janjikan padamu, kalau Ayaz tidak berbuat ulah lagi." Serkan tersenyum semanis gulali. "Baiklah, aku pergi dulu, ya. Dan jangan lupa, Sevda, Oyku, nanti kita ketemu di perpustakaan." Sevda dan Oyku mengangguk mantap. "Serkan memang pria idaman." Garis mata Oyku seketika layu. "Dia bilang apa tadi? Dia berjanji padamu kalau dia tidak akan membiarkan Ayaz berbuat ulah denganmu. Bukankah itu sangat romantis?" Oyku menyenggol bahu Sevda yang diam-diam tersenyum. "Sekarang aku tidak khawatir lagi meninggalkan temanku ini bersama pria batu itu, karena sudah ada pangeran yang siap menjaganya!" decak Cansu gembira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN