Ana terkesiap kaget menerima siraman air diwajahnya. Tapi dia masih tetap tenang tak tersulut emosi. Tidak seperti janet yang wajahnya sudah tampak merah karena emosi yang menguasainya. Ana tersenyum sinis menatap janet mengejek. "Inikah perilaku seseorang yang mengaku orang kalangan atas? Sungguh kelakuan yang bar-bar" " Itu untuk membersihkan mulut kotormu, jalang" desis janet geram. "Makanya kalau bicara itu dijaga" dengus janet puas karena telah mempermalukan ana. Dia menyadari beberapa pasang mata yang memperhatikan perdebatan mereka diam-diam. " Mulut yang kamu anggap suci itu yang harus kamu jaga" lawan ana tidak gentar akan intimidasi janet. "Kamu...." Janet mulai kehabisan kata-kata untuk melawan ana. Setiap kata-kata yang dia lontarkan untuk menghina ana malah berbalik menu

