Part 8: Wavi

1292 Kata
Kadang kita pergi ke tempat baru untuk mengusir sebuah kejenuhan. Tidak ada niatan untuk membangun sebuah kisah baru. Sebuah kisah yang pada akhirnya akan membuat kita terluka. Kisah ini terjadi di antara aku dan Wavi. Dia adalah seseorang yang sempat membuatku perang batin. Sikapnya yang seringkali berubah ubah, kadang terlihat menyebalkan bagiku. Seperti, yaa kalian pasti taulah kala perasaan ditarik ulur sembarangan. Sebentar romantis, sebentar lagi cuek. Itu adalah devinisi dari seorang Waviandra. Wavi, dia orang yang pengertian. Dia seringkali memahami, kala aku adalah orang yang nggak mudah untuk bilang ‘nggak’ atau bahkan meminta tolong ke orang lain. Bukan ‘meninggi’ hanya takut. Takut membuat orang lain terganggu, padahal yang seharusnya merasa terganggu atas perlakuan orang lain adalah aku.   Kisahku dan Wavi nggak terlalu banyak, namun bagiku, dia seolah garis tepi yang harus disinggahi. Aku ingin menebalinya dengan sebuah tinta berwarna merah, seolah menjadi pengingat atas kenangan bersama yang pernah kita lalui. Susu coklat, minimarket, serta secangkir kopi di kala senja, seringkali menjadi saksi bisu atas kisahku dan dia.   Kedekatan kami dimulai ketika kita bertemu di sebuah minimarket. Kala aku tengah membeli camilan, serta beberapa keperluan. Nggak istimewa, hanya saling sapa. “Loh, Syara,” katanya saat itu. “Rumah daerah sini juga Vi?” tanyaku padanya. “Iya, lumayan lah,” katanya. Selanjutnya, nggak ada percakapan diantara kita berdua. Kita sama-sama pendiam mungkin. Atau mungkin aku yang terlalu menutup diri. Enggak, aku nggak pernah menutup diri untuk berdekatan dengan orang lain. Malah jika aku belum bisa membuat sebuah ending yang bahagia dengan seseorang, aku hanya bisa berpikir kalau mungkin aku sudah tercatat sebagai tokoh utama dalam cerita orang lain. Namun siapa sangka kecanggungan itu berubah menjadi sebuah awal kedekatan dalam sebuah cerita.   “Sering ke minimarket situ Sya?” tanyanya memcahkan sebuah keheningan yang ada “Lumayan sih, lo sendiri sering? Kok gue jarang lihat lo kesini?” tanyaku padanya. “Kadang sih, kalau lagi pingin aja,” jawab Wavi. Kita duduk didepan minimarket dengan pemikiran masing masing. Sesekali, kita berbicara hanya untuk memecahkan sebuah keheningan. Atau mungkin menghilangkan sebuah jarak yang selama ini kubangun. Aku masih heran kenapa bisa ada lelaki yang mau berteman denganku. Kata orang, aku tipe orang yang cuek, nggak satu dua orang juga yang mengatakan aku galak. Tapi nyatanya mereka mau berteman denganku. Mengukir sebuah kisah yang belum pernah aku lukiskan sebelumnya. “Udah malem Sya pulang yuk, gue anter,” kata Wavi, setelah minuman yang kita beli telah habis kita minum. “Ehh, nggak usah, gue bisa kok jalan sendiri, lagian nggak terlalu jauh juga rumahnya dari sini,” kataku mencoba meyakinkan Wavi. “Alaahh nggakpapa kali, nggak usah sungkan, lagian cewek nggak baik malam-malam jalan sendirian, nanti diculik tau rasa lo,” kata Wavi. “Siapa sih yang berani nyulik gue, yang ada pada takut mereka sama gue, muka gue kan jutek,”  kataku sembari terkekeh pelan. “anjir, sadar diri ternyata,” katanya, lalu tawa ringan terdengar dari bibirnya. Tawa yang begitu mengagumkan. Aku baru menyadari kalau Wavi terlihat lebih tampan kala tertawa. Terlihat lebih manis. Akhirnya, setelah berfikir beberapa kali, aku memutuskan untuk pulang bersama Wavi. Jantungku berdetak kencang. Enggak, ini bukan karena cinta, namun karena, takut kepergok oleh saudaraku. Membuat banyak pertanyaan yang tak ingin kujawab harus kujawab. Yaa setiap kakak juga abang pasti senantiasa seposesif itu mungkin sama adik nya. Atau mungkin hanya saudaraku saja yang seperti itu?   Tiba tiba, motor berjalan sangat cepat, membuatku sedikit terhuyung kedepan. “Waviii, jangan ngebut ish,” kataku padanya. Terdengar sebuah kekehan kecil dari bibirnya, sebelum akhirnya “iya-iyaa sorry,” lanjut Wavi. “Udah-udah berhenti disini aja, gue takut kepergok,” kataku pada Wavi, setelah sampai didekat rumah. “Loh, emang lo nggak boleh temenan sama cowok Sya?” tanya Wavi. “Yaa nggak gitu, Cuma kan nggak biasa ajaa, jadi takutnya nanti saudara gue mikir enggak-enggak, kan bisa bahaya,” jawabku. “Wah, kalau saudara lo tau lo di anter gue kan, gue jadi punya kesempatan Sya, buat dapet restu,” kata Wavi, dengan sebuah senyuman jenaka yang terlihat menyebalkan. “Dih enggaaa jangan aneh-aneh, udah sana pulang,” kataku padanya. “Iya-iyaa, gue pulang,” katanya, diikuti dengan acakan pada puncak kepalaku. “Hati-hati,” kataku.   Setelah motor Wavi melaju pergi, aku segera masuk kedalam rumah, ‘keadaan rumah sepi, mungkin semua sedang berkumpul diatas’ pikirku, lalu lanjut pergi ke lantai dua rumahku untuk berkumpul dengan keluarga. Dugaanku memang benar, keluargaku sedang berkumpul di lantai dua. Menonton sebuah acara televisi yang yaa entahlah benar-benar ditonton atau hanya menjadi pelengkap saja. Karena nyatanya, mereka sedang membicarakan hal lain, daripada sibuk untuk menonton televisi.   Tak lama sebuah notifikasi terdengar dari telepon genggamku.   New message from Waviandra Gw udh smpe rumah Hah? Terus apa hubungannya denganku? Batinku bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Wavi mengatakan itu. Lalu aku segera membalas pesan Wavi Terus? Sent! Tak lama, sebuah balasan datang kembali Wavi Nubruk Syrzdn Aduh sakit Wavi Yg mna yg skit? Sni gw obtin Syrzdn Bercanda wkwk Sejak malam itu, aku dan Wavi menjadi lebih dekat. Pertanyaan pertanyaan klise yang nggak pernah aku tanyakan pada orang lain, aku tanyakan pada Wavi, seperti, “lagi apa?” “gue gabut” “wav, ke taman depan komplek yuk” dan lain sebagainya.   Kedekatan ku dan dia nggak hanya sesimple itu, sesekali, dia pernah main ke rumahku, kala rumahku lagi sepi. Atau mungkin kita janjian ke taman depan komplek, mencari sudut sepi, untuk menghabiskan waktu bersama. Yang kami lakukan hanya memandang langit, seolah sedang lelah dengan dunia yang nggak pernah berhenti bercanda.     Waktu itu, aku dan Wavi sedang pergi bersama, untuk sekedar menghabiskan malam yang kini penuh dengan bintang. Namun, Wavi tiba-tiba meluk aku. “Sya gue takut,” katanya. “Takut kenapa?” kataku, sedikit panik, namun masih dapat kututupi. “Gue selalu takut untuk merasa senang Sya, gue selalu yakin setiap kali gue senang, pasti setelah itu gue bakal sedih,” dia menjawab pertanyaanku dengan sendu. Aku melepas peluknya. Sembari menatap matanya dengan tatapan yang begitu sendu pula. Sebentar saja, kita saling beradu tatap, lantas aku mengusap kepalanya pelan. “Vi, yang namanya senang sama sedih itu nggak ada hubungannya,” kataku kepadanya, “Lo boleh senang, tanpa mikirin kesedihan, tugas manusia itu Cuma menikmati. Kalau waktunya senang yaa senang aja Vi, kalau waktunya sedih yaa syukuri, kan memang itu nikmatnya jadi manusia,” “Kalau setiap senang yang lo pikirin Cuma sedih, kapan lo bener-bener senang? Kita hidup Cuma sekali loh, waktu yang kita miliki juga Cuma saat ini, jadi nikmati setiap apa yang terjadi,” aku berkata, dengan akhiran sebuah senyum manis. Wavi tersenyum manis, seolah kalimatku tadi, berhasil menjadi mantra penenang untuknya. “Makasih, ya Sya,” katanya padaku. Aku hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.   “Sya, kalo gue suka sama lo gimana?” tanya Wavi, ditengah tengah kesunyian yang ada diantara kita. Aku sedikit terkejut dengan percakapannya yang tiba tiba. “Hah? Maksudnya Wav?” tanyaku. “Nggak, lupain aja,” jawabnya. Aku nggak terlalu memikirkan apa katanya, karena menurutku, memikirkan kalimat seseorang hanya menambah beban fikiran. Setelah percakapan itu, aku dan Wavi hanya bersikap biasa saja, seolah tak pernah terjadi apapun. Aku bukannya tidak peka dengan perkataannya, hanya saja aku masih terlalu takut untuk membangun sebuah hubungan. Sebab, kisah lama yang pernah aku alami, membuatku sedikit trauma.   Perhatian kecil seringkali dia berikan padaku. Layaknya seorang kekasih yang saling mencintai, mungkin banyak yang mengira aku dan Wavi menjalin hubungan seperti itu. Lagi-lagi, ekspetasi orang, tak pernah sesuai dengan realita. Hingga pada akhir cerita kita, aku mendapati Wavi mendekati seorang perempuan. Bukan hanya mendekati, karena mereka resmi menjalin sebuah hubungan. Lagi dan lagi, aku kembali menjadi target operasi bapernya. Kadang aku heran, apakah perempuan didunia ini sudah habis dia baperin, sampai-sampai dia harus menjadikan diriku sebagai targetnya. Oke kita lanjutkan ke bagian selanjutnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN