Part 9: Aldo

1276 Kata
Sejujurnya, kelas aku memang kelas yang diisi oleh para buaya. Bukan mereka berlima saja yang terkesan buaya, namun beberapa cowok yang lain, nggak sekali dua kali isengin cewek-cewek yang mau lewat biar nggak jadi lewat. Kebiasaan cowok kan suka gitu, mereka suka berkumpul didepan kelas, sampai-sampai, banyak cewek yang putar balik nggakjadi lewat karena malu. Salah satunya Aldo Laksmana. Salah satu komplotan geng Veron. Dia adalah sosok yang asik, seserver sama aku yang suka receh ini. Daripada sama Veron atau yang lain, aku lebih sering chat sama dia. Sosoknya tinggi dengan hidung mancung, alisnya tebal, kelakuannya b****k. Dia juga sama seperti yang lain, jadi most wanted. “Headshot,” sebuah kalimat terdengar dari bibir Aldo diiringi dengan sebuah bola kertas yang mengenai muka Aksa. “Apaan?” jawab Aksa dengan raut wajah kebingungan. “Kasti bro,” jawab Aldo. Aksa hanya menanggapiya dengan kesebalan. Ya, dia Aldo. dia murid yang hiperaktif. Gayanya yang suka mempermainkan serta menggoda wanita, tak pernah membuat perempuan bosan untuk mengaguminya, padahal mereka sudah tau kalau Aldo adalah lelaki fakboi.   Namun, dibalik sifat menyebalkannya itu, dia adalah lelaki yang hanya mencintai seorang perempuan. Dia bahkan rela meloncat, jungkir balik, dan melakukan apapun hanya untuk membuat gadis yang dia cintai menoleh kearahnya. Bahkan mungkin hidupnya hanya untuk perempuan yang dia cintai. Banyak kenapa-napa yang seringkali dia sembunyikan. Orang lain mungkin mengira dia adalah orang yang periang, namun siapa sangka kalau dalam hatinya terdapat luka yang begitu menyakitkan?. Aku ingat sekali ketika gadis yang dia cintai dengan sengaja menduakannya. Dia bahkan diam, tetap mempertahankannya. Kalau ditanya, dia akan selalu menjawab “sebuta ini gue kalau udah cinta Sya.” Jawaban yang senantiasa membuatku enggan untuk membalasnya kembali. Aku tau betul bagaimana ada diposisi Aldo. Mecintai orang yang bahkan nggak pernah mencintai kita. Lantas apa gunanya, ketika kita memberinya seisi dunia, namun yang dia inginkan seluruh semesta?. Menyebalkan. Berhari-hari kesedihan hanya terlintas dibenaknya. Dia yang biasanya periang, hanya melamun, berbicara seperlunya. Bahkan, dia nggak lagi ikutan ngumpul di depan kelas buat isengin cewek yang lewat. Sampai pada akhirnya, aku sebal, apapun akan kulakukan untuk membuatnya kembali tertawa. “Do, pinjem pulpen dong.” “Do, pinjem tipex dong.” Juga beberapa hal sampai membuatnya sebal. Aku kira dia akan menanggapiku dengan candaan, namun kemarahannya lah yang ku dapatkan. “Lo bisa nggak sih nggak ganggu gue,” marahnya kepadaku. “Ada yang lain yang bisa lo pinjemin kenapa harus gue?” katanya kembali. Aku yang pada saat itu juga tengah sebal, ikut terpancing oleh emosinya. “Lo kenapa sih? Gue Cuma mau bikin lo ceria lagi emang salah? Kalau lo nggak suka, jawab baik-baik, jangan masalah pribadi dibawa ke kelas,” perhatian murid-murid semakin mengarah kearahku, namun tidak cukup untuk menghentikan kemarahanku. Perlahan tapi pasti, aku menarik napas, lantas menghembuskannya sembari memejamkan mata, seolah tengah meredamkan amarah. “Do, kehilangan emang satu hal yang menyakitkan, tapi jangan jadi pecundang, pikirin, perbaikin, supaya nggak terjadi lagi hal kayak gini,” kataku dengan lembut, sembari mengusap pelan pundaknya.   “Sorry Sya, nggak seharusnya gue lampiasin ini ke kalian,” kata Aldo. “Nggakpapa Do, lagian, kalau lo ada apa-apa lo bisa kok langsung cerita ke gue,” kataku kepadanya. “Tapi, starbucks dulu,” lanjutku dengan bercanda. “Ayo, sama gue yok Sya, ke starbucks, gue traktir deh,” kata Veron kepadaku. “Ogah, lo nggak pernah mandi,” ejekku padanya. “Dih, gue nggak mandi juga tetep wangi ye Sya, lagian lo juga jarang mandi sore njirr,” kata Veron sembari merangkulkan tangannya ke leherku. “Veron ih bau,” kataku padanya. “Gue kalau sore mandi yaa, nggak mandi kalau udah kemaleman ajaa,” kataku kembali.   Waktu itu, aku masih kepala batu, Syara yang berlagak polos kalau di deketin. Dan aku selalu anggap dia teman, nggak lebih. Nggak ada kata ‘baper’ diantara kedekatanku dengannya. Dia paling tau kalau aku suka drama thailand, sampai akhirnya, malam itu dia mengirim sebuah pesan. Sya, lo suka nanon korapat kan?                                                                                                                                                                     Iya, emng knp? Gue boleh nggak jadi Nanon Korapat fersi real life buat lo?   Sekejap aku ingin membalas ‘Nanon korapat mah mau sebobrok apapun tetep ganteng, lah lo, mau gombal ae udah bikin gue ilfil,’ namun hanya terungkap dalam hati. Karena, rasanya sombong banget nggak sih kalau jawabnya gitu?. Jadi aku Cuma balas dengan ‘Hah?’ bersikap seolah b**o. Apalagi perlu di tekankan sekali lagi, kalau di awal, aku Cuma ingin berteman dengan mereka, tanpa adanya perasaan apapun.     Hingga akhirnya, hari senin tiba. Aku sedang duduk sembari membuka novelku. Lantas para murid segera duduk di bangkunya masing masing, sebelum akhirnya, Vella membuka suaranya. “Ih anjir, Aldo pj,” katanya. Aku sedikit terkejut, bukannya beberapa hari yang lalu dia baru aja bilang mau jadi Nanon Korapat real life buat aku? Jadi, lagi-lagi aku jadi target operasi bapernya?.   Setelah dia punya pacar pun, aku kira dia udah tobat, udah nggak melulu godain cewe lain, mungkin hanya bucinin pacarnya aja, namun ternyata dugaanku salah. Karena beberapa minggu setelah itu, dia kembali mendekatiku.   Saat itu aku baru aja akan pulang, naik bus, karena tidak ada yang jemput. Aku menunggu di halte, lantas Aldo menghampiriku, mengajakku pulang bareng. Lagi-lagi aku kekeuh buat menolak ajakannya, sampai akhirnya dia nyerah sendiri. Aku heran, apa semua perempuan habis, hingga aku aja yang dia jadiin korban pelampiasannya dia?. Beberapa hari kemudian, Aldo cerita ke aku, kalau dia habis putus. Yaudah, aku dengerin curhatan dia, lalu aku ngasih saran. Dan hari itu, setelah curhat dia dengan frontal langsung bilang “Sya, lo mau nggak sih gantiin jadi pacar gue,” katanya. Aku nggak jawab, Cuma pasang muka sok polos yang menurut aku, itu cara paling halus buat nolak cowok.   Setelah Delvan, Aksara, Veron dan juga Wavi yang tiba tiba berubah menjadi lebih dekat dengan aku, sekarang malah Aldo. Apa iya muka ku adalah muka-muka yang paling gampang buat dibegoin gitu?.   Pernah satu waktu aku tanya pada salah seorang cowok dikelas, namun bukan dari golongan mereka berlima. Namanya Arif, aku iseng tanya kedia “Rif, kenapa sih, sikap mereka berlima tiba tiba aneh? Kenapa tiba tiba jadi sok care gitu,” tanyaku padanya. Aku berani menanyakan itu pada Arif karena memang yang paling tau tentang hubunganku dan mereka hanyalah Arif, hingga akhirnya Arif menjawab. “karena lo itu cuek Sya, sikap lo bikin penasaran cowok cowok,” kata Arif, membuatku sedikit bergidik ngeri. “Ih rif, jangan gitu dong, kan jadi takut,” kataku. “Beneran Sya, lo tu cuek, kesannya datar, tapi sekalinya lo perhatian, bikin cowok jadi baper,” lanjut Arif. “Gue datar gitu bukan berarti nggak peduli,” kataku mencoba untuk membela diri. “Ya cowok mikirnya beda, justru cewek misterius kayak lo yang bikin penasaran, bikin siapa aja pingin taklukin hati lo, gue lihat bukan Cuma mereka berlima kok, ada Axel, terus kak Rangga, banyak yang deketin lo, tapi respon lo gitu doang,” kata Arif kembali. Aku hanya diam tak dapat berkutik apapun.   Aku terdiam, memikirkan kalimat Arif. Apa iya, aku seperti itu? Kadang, kita para perempuan bersikap cuek, hanya karena menghindari kejadian yang nggak kita inginkan kan? Seperti, patah hati yang seringkali terjadi secara tiba-tiba. Tanpa rencana. Perpisahan memang harus dilakukan. Mau nggak mau, siap nggak siap. Maka dari itu, aku tidak pernah membiarkan orang lain menyinggahi hatiku sebab aku begitu tahu rasanya perpisahan yang begitu menyakitkan. Aku membiarkan para tamu itu hanya mengetuk pintu, lantas lama tak kubuka, membuat mereka enggan untuk mengetuk kembali. Kemudian pergi. Namun hal ini, tidak pernah terjadi kala aku SMK. Entahlah apa tujuan semesta mempertemukan kita, sebab yang aku tau semesta selalu memiliki banyak kejutan yang menakutkan. Tapi tenang, semesta memang memiliki banyak rencana, namun dia masih bisa di ajak kerjasama kan?.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN