Dalam hidup, kalau cuma datar itu nggak asik sama sekali. Karena hidup, itu layaknya roda yang berputar. Kadang diatas atau kadang dibawah. Setiap orang pasti memiliki titik rendah dalam hidupnya masing-masing. Tiap masalah, pasti ada ujungnya. Tiap harapan pasti akan tercapai. Tiap doa, pasti akan terkabulkan. Namun kadang, manusia terlalu menuntut jawaban, sampai lupa kalau ‘nggak’ itu juga jawaban.
Seperti kejadian saat itu. Setelah beberapa hari MPLS selesai, seorang senior mencoba mendekatiku. Entahlah tujuannya apa, dia tampan, hidungnya mancung, matanya sedikit lebar, senyumnya manis banget, yaa mungkin hampir mirip dengan Tay Tawan, seorang aktor dari Thailand, yang dramanya seringkali ku lihat.
Kata Veron, dia sedang mengajakku pendekatan terlihat dari caranya memberikan perhatian, namun entahlah aku seringkali mengabaikan setiap pesan juga perhatian darinya. Nggak hanya dia, namun ada beberapa orang yang mencoba untuk mendekatiku. Entah dengan modus ekstrakulikuler atau yang lain. Itu alasanku enggan untuk membuka atau bahkan membaca pesan dari mereka.
Yaa beberapa dari kalian pasti ada kan yang risih ketika ada sebuah pesan dari orang asing, apalagi yang baru kenal tiba tiba sok ngasih perhatian. Suka enggak, ilfil iya!
Kak Rangga, seorang senior yang pesan direct nya nggak pernah ku balas, namun entah darimana dia mendapat id line ku. Lantas, dari situ lah kedekatan kita dimulai. Dia orangnya asik, yaa mungkin nggak terlalu membosankan, namun nggak seserver.
Dia bisa dekat denganku, sudah pasti karena ulah Veron, Wavi, Aksa, Delvan, juga Aldo. Mungkin lebih tepatnya hanya karena Aldo. Kak Rangga seringkali menanyakanku kepada mereka, sampai akhirnya, Aldo jengah kemudian memberikan id line ku kepadanya.
Awalnya, aku biasa saja, sebelum akhirnya Aldo mengatakan “alah Cuma buat main-main aja Sya, lagian kak Rangga Cuma mau deket sama lo,” katanya. Namun kedekatan yang Aldo maksudkan, di salah artikan oleh kak Rangga. Pesan pesan yang hanya ku balas dengan singkat setiap harinya, nggak pernah membuatnya mundur.
Sya, temenin jalan yuk.
Nggak nerima penolakan.
Jam 6 harus udah siap gue jemput.
Nah lihat, seperti itulah kak Rangga, dia orang yang pemaksa, kadang aku ingin menolak. Banyak alasan yang sudah aku gunakan untuk membuat jauh dengannya namun rasanya, semua itu hanya sia-sia.
Hrs bgt kak? Aku mls kluar.
Jawabku. Namun tak lama, sebuah jawaban darinya kembali datang.
Yaudah, kalo lo males keluar biar gue aja yang maen ke rumah lo.
Sekalian kenalan sama calon wkwk.
Kalau sudah seperti itu, aku hanya membacanya saja tanpa berniat membalasnya, toh pada akhirnya aku hanya bisa menuruti apa yang dia mau saja. Aku segera bersiap siap, lantas pamit ke saudaraku kalau mau keluar. Sebelumnya, aku sudah memberi tau kak Rangga kalau menunggu di taman depan kompleks.
Aku begegas ke taman, lantas melihat kak Rangga tengah bersandar di depan motornya. Aku bergegas mendekatinya. “Maaf kak, harus nunggu,” kataku. “Nggak lama juga, yaudah ayok,” katanya.
Aku bergegas menaiki motor itu, lalu kak Rangga mulai menjalankan motor, membuatku sedikit terhuyung kedepan. Aku berpegangan pada belakang jok motor, karena ingin menjaga sedikit jarak dengan kak Rangga.
“Lo suka baca novel kan Sya?” kata kak Rangga memecah keheningan.
“Iya, kenapa?” kataku padanya.
“Lo pernah baca novel yang judulnya the number you are trying to reach is not reachable?” katanya.
“Yang karyanya Andara Kinara itu bukan sih?” tanyaku padanya.
“Iya,” jawabnya.
“oh, iya pernah, gue punya novelnya,” kataku.
“Lo itu kayak Aira Sya, dan gue kayak Arka,” Kata kak Rangga.
“Lo itu, nggak bisa di dapetin, entah hati lo ada isinya, atau lo lagi nyembuhin diri dari sebuah luka, tapi hati lo ibarat panggilan yang nggak dapat diraih,”
“Tiap hari gue telfon, lo tolak, sampai akhirnya, pulsa gue habis Sya, dan lo nggak pernah ngangkat panggilan gue, mungkin udah waktunya gue berhenti, karena gue sadar, sesering apapun gue beli pulsa, kalau lo nggak pernah respek sama panggilan gue ya percuma,” katanya kembali.
Ternyata Veron benar, kak Rangga mendekatiku untuk membuat sebuah hubungan khusus. Namun entahlah, mengapa begitu susah membuka hati untuk seseorang yang lebih pasti?. Entah takut kembali terluka, atau karena yang aku mau Cuma dia?.
Aku terdiam beberapa saat. untuk kali ini, aku tidak ingin lari lagi. Lantas aku menjawab.
“Sebelumnya, makasih kak, udah percaya sama gue buat jaga hati kakak, ya mungkin gue emang panggilan yang nggak dapat diraih, tapi kakak bisa dapetin kesempatan kedua di hati yang lain kok, karena kalau lo telfon gue terus, jawabannya akan tetap sama kak ‘nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif’ sampai pada akhirnya, lo harus dapet jawaban ‘pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan,” kataku menjawab kak Rangga.
“Kenapa gitu Sya?” tanya kak Rangga.
“Karena gue nggak pernah nge aktifin nomor kak, nomor gue udah hangus bareng kepingan masa lalu yang sampai saat ini bahkan lukanya masih melekat di hati gue,” jawabku kembali.
Setelah itu tak ada percakapan di antara kita. Hingga aku meminta kak Rangga untuk mengantar pulang, karena hari sudah semakin malam.
Sesuai janji, hari ini aku harus ikut Veron dan teman temannya untuk kumpul. Aku berhasil mendapat izin dari saudaraku, setelah beberapa pertanyaan introgasi di berikan. Disinilah aku sekarang. Disebuah rumah yang cukup besar, namun sepi penghuni. Veron bilang, kedua orang tuanya tengah mencari uang di belahan dunia, sesekali mengunjungi rumah lantas kembali lagi. Kalau sudah seperti ini, aku bersyukur memiliki saudara banyak. Mereka begitu baik tak pernah membiarkan ku untuk terluka sedikitpun. Yaa walaupun beberapa luka nggak pernah bisa aku kendalikan. Luka itu hadir terbungkus dalam bentuk kenyamanan paling sederhana, tanpa sadar, menoreh sebuah luka yang sungguh memilukan.
“Mau masak apa Sya?” tanya Delvan, entah sejak kapan dia berada di sebelahku, lelaki satu itu, memang seringkali datang dan pergi tiba tiba. Membuatku sedikit sebal dengan sikapnya yang seenaknya.
“Sayur asem sama ayam kecap aja gimana?” kataku.
“Enak tuh, boleh deh,” kata Delvan kembali.
Aku mulai menata bahan-bahan untuk membuat sayur asam dan juga ayam kecap. Jemariku begitu lihai dengan bumbu bumbu dapur, seolah sudah terbiasa dengan macamnya. Diantara saudaraku, aku memang yang paling pemalas, namun kalau urusan dapur, aku masih bisa di andalkan. Karena aku sendiri sangat sering mendapat nasehat dari saudaraku ‘perempuan harus menguasai dapur, kamu itu calon istri, calon ibu, jadi harus bisa masak, nggak harus pinter, yang penting bisa,’ kata mbak Uyik.
Memang benar, sudah sepantasnya kan perempuan menguasai dapur, paling tidak bisa membedakan bumbu bumbu dapur, seperti kunyit, lengkuas, jahe, dan lain sebagainya.
“Assalamualaikum, wah siapa ini cewek cantik ini?”
Degg
Jantungku berdetak dengan kencang kala mendengar suara itu.