Part 11: Dating

1269 Kata
“Waalaikumussalam,” jawabku dengan wajah yang terlihat begitu linglung. “Bunda, pulang kok nggak bilang-bilang, tau gitu mah tadi Vale jemput,” Veron tiba-tiba muncul, membuatku sedikit lebih tenang. Aku mendekat kearah wanita paruh baya itu, lantas bersalaman, menyapa dengan sopan layaknya seorang anak remaja kepada yang lebih tua. “Kenalin bun, dia Syara, temen Vale,” kata Veron kemudian. Aku baru tau kalau lelaki tengil itu memiliki panggilan kesayangan. Bunda Veron menatapku, lantas tersenyum. “Halo tante, aku Syara, tante bisa panggil aku Sya,” kataku memperkenalkan diri. “Halo juga Sya, jangan panggil tante, panggil aja bunda, bunda Hesta,” katanya. “Ohh, iyaa tan, eh bun,” kataku. “Ini Syara mau masak? Baunya kecium loh sampai luar,” kata bunda Hesta di selingi dengan tawa ringan. “Eh iyakah bun?” kataku. Bunda Hesta mengangguk, lantas tersenyum sembari mengatakan “Yaudah, habis ini bunda bantuin, bunda kekamar dulu ya,” katanya. Makan malam yang kukira hanya berenam ternyata salah, nyatanya bunda Hesta yang tiba tiba pulang, membuat suasana semakin terlihat ramai. Dibalik sifat bijak Veron aku melihat sisi manjanya, kala dia bertemu dengan bundanya. Sungguh pemandangan yang menenangkan. Ternyata, mereka sudah sangat dekat dengan masing masing keluarga. Bunda Hesta orang yang sangat menyenangkan, mampu dekat dengan sang putra semata wayang, sekalipun sering kali berpergian untuk menemani suaminya mencari nafkah. Dilain sisi, aku melihat Aksa sedang duduk ditemani dengan gitar dipangkuannya, lalu Delvan, Aldo dan Wavi sedang beradu mulut karena sebuah game yang kini tengah marak. “Weh Aldo impostor anjir,” kata Wavi tiba-tiba. “Itu game apasih, kok marak banget,” tanyaku pada mereka. “Game among us, mau maen kagak Sya? Tenang dah entar gue lindungin,” Delvan menatapku sebentar, sebelum akhirnya kembali fokus pada permainannya. “Gue nggak bisa main, ajarin ya,” kataku kembali. “Iyaa, nanti lo di belakang gue aja, biar aman,” kata Delvan. “Yauda tunggu gue download game nya dulu,” Aku mengeluarkan teleponku, lalu, mendownload permainan itu. Beberapa saat setelah game dimainkan, aku membuka suara. “Bosen, ngapain gitu,” kataku pada mereka. Mereka yang semula sibuk dengan kegiatannya masing-masing, lantas melihatku. “Mau ngapain?” kata Aksa. “Jalan yukk,” Aldo menjawab dengan sedikit antusias. “Boleh deh ayok,” jawab Wavi. Akhirnya, kita bergegas untuk keluar, sebelumnya, kita sudah berpamitan dengan bunda Hesta yang kini tengah merebahkan dirinya dikamar. “Mau jalan kemana?” kata Veron “Ke mall aja ayok, nonton atau ngapain gitu,” kataku. Motor melaju dengan kencang, membelah jalanan malam ibu kota yang nampak tak begitu seggang. Jam menunjukkan pukul delapan malam, aku sudah izin kepada saudaraku kalau pulang sedikit lebih malam. Namun tetap saja, daritadi bahkan baru saja aku berangkat, sudah banyak pesan masuk dari mas Lion. ‘Jalannya hati-hati’, ‘buruan pulang’ dan lain sebagainya. Yaa, dia memang tipikal seorang abang yang posesif. Tidak heran kalau pesan yang kudapat akan seperti itu. Motor terhenti disebuah cafe kecil dipinggiran kota Jakarta. “Katanya tadi ke mall kok ke cafe,” kataku. “Ke cafe aja udah nongkrong,” kata Aldo menyahuti omonganku. Malam ini, cafe ini terlihat tidak terlalu ramai, membuatku sedikit nyaman dengan kondisinya. Alunan melodi ringan terdengar menggema dalam telinga, membuat suasana santai sangat cocok untuk merilekskan fikiran. Aku melihat Veron menyalakan sebuah rokok, lalu menghisapnya perlahan. Asap rokok membuatku sedikit terbatuk. Lantas, Delvan mengambil sebuah masker, lalu dipasangkan pada mulutku. Ketiga saudaraku memang perokok aktif, namun tetap saja, asap rokok yang seringkali terhisap masih membuatku terbatuk. Tidak jarang, aku mengerang sebal, sebab asap rokok yang seringkali membuat mataku sedikit pedih, serta membuat nafasku sesak. Kini bukan hanya Veron yang merokok, namun Delvan, Aksa, Wavi, dan juga Aldo. Membuatku membuka sebuah obrolan. “Ngerokok sejak kapan?” tanyaku pada mereka. “Sejak SMP,” kata Delvan. “Terus ini masker dapet darimana? Tumben banget,” kataku kembali. “Udah gue rencanain bawa, gue nggak suka bikin lo sakit,” kata Delvan kembali. Jawaban yang dia berikan membuatku sedikit tertegun. Perhatian yang telah lama tak kudapatkan, kini kudapatkan kembali secara tiba tiba, membuatku sedikit teringat akan kenangan lama yang kusimpan rapi dalam kepala. “Hai, temen gue minta kontak lo, boleh?” kata seseorang tiba-tiba membuatku menoleh. Mulutku hampir saja terbuka, ingin menjawab permintaan si cowok asing tersebut, sebelum akhirnya “Sayang, ada yang mau PDKT in kamu ya?” itu Veron. “Mau kamu kasih? Kamu kan udah punya lima cowok, masih kurang?” lihat perlakuan Delvan, anak itu benar-benar menurunkan harga diriku sebagai perempuan. Aku menoleh lagi, melihat cowok asing yang tadi meminta kontakku. Wajahnya terlihat sedikit ilfil. Lihatlah, semua orang juga pasti akan menilaiku sebagai perempuan murahan kala tau kalau cowok-cowok tengil yang kini sedang duduk di sebelahku ini mengaku sebagai pacarku. Aku melihat Aksa, Wavi, dan Aldo, mereka hanya terkekeh geli, menanggapi sikap Veron dan Delvan yang bagiku sungguh menyebalkan. Kata orang, di posesifin adalah hal yang seringkali di idamkan oleh perempuan lain. Namun bagiku, perlakuan mereka seringkali membuatku sedikit risih, hingga membuatku mengeluarkan kata u*****n ‘menyebalkan’. “Kalian nyebelin banget, itu cowok tadi kan jadi ngira aku murahan ish,” kataku. “Ya, daripada lo dideketin sama cowok asing,” kata Aldo tiba tiba. “Yaudah-yaudah, biar lo nggak sebel lagi, lo mau apa,” tanya Aksa, mencoba membuatku kembali memiliki suasana hati yang baik. “Ke pasar malam asik kali ya,” kataku. Mereka segera berdiri, membayar pesanan yang tadi sempat kita pesan, lantas meninggalkan cafe, menuju pasar malam tempat yang ingin aku kunjungi. Suasana pasar malam tidak begitu ramai, membuatku sedikit berani untuk bermain main. Aku menunjuk sebuah bianglala, “Mau naik itu dong,” kataku pada mereka. “Kagak,” jawab Aksa cepat. “Dih kenapa?” tanyaku. “Kayak anak kecil,” katanya. Aku mengerucutkan bbirku pertanda sedang sebal. “Ayodongg ya yaa, gue pingin banget naik bianglala,” kataku. Veron mengacak rambutku lantas menarik tanganku “Jangan sebel lagi, ayo, naik sama gue,” katanya membuatku tersenyum. Aku memandang kedepan, bianglala yang berada diatas, tiba-tiba terhenti, namun masih tidak membuatku takut, aku justru terkagum dengan pemandangan diatas sini. Bulan tak terlihat malam ini, namun bintang sudah cukup untuk memancarkan sebuah indahnya malam ini. Ditambah gemerlap lampu kota yang berkelip menambah daya tarik keindahannya. “Udah kan naik bianglala nya, sekarang mau apalagi hm?” kata Veron setelah turun dari bianglala. “Yang lain mana?” kataku, membuat veron juga mencarinya. Delvan muncul membawa sebuah boneka beruang besar, lantas mengatakan “Nih buat lo, tadi gue sama anak-anak iseng main lempar gelang, terus dapet deh nih boneka,” kata Delvan menjelaskan. “Wah, makasih,” kataku. Aku melihat sebuah arum manis dengan mata berbinar, membuat Aksa tiba-tiba peka dengan keinginanku. Lantas dia membelikannya untukku. Jalan bersama mereka membuatku merasa senang. Merasa seolah memiliki sebuah pelangiku kembali. “Seneng nggak?” kata Wavi yang sedaritadi diam. “Seneng banget lah,” kataku. “Berasa dating sama pacar ye Sya,” kata Aldo. Aku terkekeh, lantas memakan arum manisku. Namun sebelum itu, Wavi tiba tiba memakan arum manis yang ada ditanganku, seolah aku yang menyuapinya. “Yah Wavi, kok dimakan sih ish,” kataku. Dia hanya terkekeh pelan membuatku semakin sebal. Malam sudah semakin larut, membuat mereka mengantarkanku pulang. Kali ini, aku kembali pulang bersama Wavi. Membuat yang lain, langsung kembali ke rumahnya masing masing. Malam ini begitu indah untuk dilewatkan. Langit malam serta bintang, seolah menjadi saksi bisu atas kenangan manis yang kembali aku dapatkan. Aku tidak tahu, akankah kenangan manis itu akan terus terjadi, atau hanya abadi dalam ingatan. Kali ini, aku berhenti, aku kembali membiarkan semesta menjadi juri untuk segala permainan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN