Permintaan Rania

1004 Kata
Sudah dua hari berlalu dan Rania masih saja betah terbaring di rumah sakit dan enggan membuka matanya. Setiap hari Aldi dan Winda bergantian untuk menjaganya. Sebenarnya Aldi ingin selalu ada di samping Rania siang dan malam, menemaninya dalam kondisi terberat sekalipun. Tapi apa daya, Aldi juga harus tetap bekerja untuk membayar biaya pengobatan istrinya. Untung saja Rania punya sahabat sebaik Winda yang mau menjaganya saat Aldi bekerja.   "Ran, bangun aku sakit melihat kamu seperti ini" ucap Aldi di suatu malam. Suara mesin yang menopang hidup Rania terdengar menyakitkan di telinga Aldi yang membuatnya tak kuasa menahan air matanya. Tak hentinya do'a selalu dia panjatkan pada sang pemilik hidup, meminta agar Rania bisa kembali di kehidupan nya.   Aldi selalu tertidur dengan menggenggam tangan Rania, hingga hari ini dia terbangun saat merasakan tangan Rania bergerak. Rasa bahagia menyeruak ke dalam hatinya, segera dia memencet tombol untuk memanggil dokter.   "Dok Rania tadi menggerakkan tangannya." ucap Aldi. Dokter segera memeriksa keadaan Rania.   "Kondisinya masih belum stabil pak, tekanan darahnya juga masih rendah" ucap dokter. Kebahagiaan yang tadi terpancar di wajah Aldi kini kembali memudar. Namun setitik harap kembali muncul dalam hatinya, saat melihat Rania mulai mengerjapkan mata dan perlahan membuka nya.   "Mas," lirihnya pelan.   "Alhamdulillah sayang kamu akhirnya sadar. Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Aldi, dokter kembali memeriksa keadaan Rania. Aldi menatap dokter cemas saat melihat gelengan kepala yang diberikan dokter.   "Mas, Syifa?" tanya Rania masih dengan suara lirih.   "Ada di rumah sayang, Syifa dijagain sama Winda." ucap Aldi, dia memandang lekat wajah istrinya.   "Aku mau ketemu Winda" ucap Rania.   "Nanti sebentar lagi Winda akan datang kesini buat gantiin jagain kamu, karena biasanya aku akan berangkat kerja" ucap Aldi.   "Aku mau kamu suruh Winda buat datang kesini mas! aku mau ketemu dia sekarang!" ucap Winda dengan tatapan memohon.   "Baiklah, aku akan segera menghubungi Winda." ucap Aldi. Rania mengangguk dan kembali memejamkan mata, mencoba menahan rasa sakit yang dia Rasakan.   Aldi kemudian pergi keluar ruangan untuk menghubungi Winda, meskipun merasa bingung tapi Aldi tetap melakukannya. Perlu beberapa saat menunggu hingga sambungan itu terhubung.   "Hallo Al ada apa?" tanya Winda di seberang sana.   "Win, Alhamdulillah Rania sudah sadar. Dia memintamu untuk datang ke rumah sakit, ada sesuatu yang ingin disampaikan olehnya" ucap Aldi, membuat senyum merekah di wajah Winda.   "Benarkah? Baiklah aku akan segera ke sana, apa aku perlu membawa Syifa bersamaku?" tanya Winda.   "Ya, ajak Syifa bersamamu!" ucap Aldi kemudian. Aldi sadar meskipun Rania sudah sadar, namun keadaan nya belum juga membaik. Manusia tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya, jadi mumpung Rania sadar dia ingin mempertemukannya dengan Syifa. Syifa pasti sudah sangat merindukan ibunya.   "Baiklah, aku segera pergi." ucap Winda.   "Terimakasih" ucap Aldi kemudian memutus sambungan telponnya. Aldi segera kembali menuju ruang rawat Rania.   "Pak, keadaan bu Rania masih tetap belum stabil. Kita sebaiknya berdo'a untuk kesembuhan nya. Sementara kami tinggal dulu, kalau ada apa-apa silahkan segera menghubungi kami." ucap dokter dan pergi meninggalkan Aldi.   Aldi menatap Rania yang kembali menutup matanya, ada begitu banyak rasa takut yang menghampiri hatinya saat ini. Beberapa kemungkinan harus dipersiapkan Aldi kedepannya, walaupun hatinya hanya ingin ada satu harapan yang terwujud, yaitu kembali melihat Rania tersenyum dan sehat seperti sedia kala.   Setetes air mata kini keluar tanpa permisi dari sudut mata Aldi. 'Ran, Aku mohon berjuang lah, demi aku dan Syifa' gumam Aldi dalam hati. Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka dan masuklah Winda dengan Syifa dalam gendongannya.   "Al" ucap Winda yang membuat Aldi menoleh, sepertinya dia |baru sadar dengan kedatangan Winda.   "Win, Winda sedang tertidur, sebaiknya kamu ajak dia bicara. Mungkin dia mau terbangun" ucap Aldi. Winda menyerah kan Syifa ke pangkuan Aldi dan dia mendekat ke arah Rania. Winda masih tak habis pikir jika Rania ternyata masih belum membaik.   "Ran, aku ada disini. Kamu buka mata kamu Ran!" bisik Winda tepat di sebelah telinga Rania. Perlahan Rania mulai mengerjapkan mata dan mulai membukanya. Dia masih bisa tersenyum manis begitu melihat Winda ada di depan matanya. Tangannya yang lemah berusaha untuk meraih tangan Winda, menyadari apa yang akan dilakukan Rania, Winda segera meraih tangan Rania dan menggenggamnya. Winda membalas senyuman yang diberikan Rania.   Pandangan Rania beralih pada suami dan putrinya yang berada di sisi kiri Rania, dia melakukan hal yang sama pada Aldi. Setelah berhasil meraih tangan Aldi dengan susah payah Rania menyatukan tangan Aldi dan Winda. Keduanya tampak kaget dengan apa yang dilakukan Rania.   "Aku mau kalian jaga Syifa untuk aku" lirih Rania. Untuk sementara Aldi dan Winda merasa lega dengan penuturan Rania sebelum akhirnya dia kembali melanjutkan perkataan nya.   "Win, tolong jagain Syifa dan mas Aldi yah." Winda pun memberikan anggukan, pikirannya kini sudah kacau Winda tidak ingin kehilangan sahabatnya.   "Mas, jagain Syifa. Aku mau kalian berdua bisa menikah" ucap Rania. Bagaikan suara petir yang menyambar Aldi dan Winda sangat terkejut dengan penuturan Rania. Aldi tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.   "Kamu bicara apa sih Ran?" tanya Aldi dengan rasa yang masih menggelegar dihatinya.   "Iya Ran, kamu sebaiknya jangan banyak pikiran dulu ya. Kamu harus pikirin kesembuhan kamu" ucap Winda mengelus punggung tangan Rania.   "Winda benar sayang. Lagi pula aku gak mungkin melakukan itu! Aku gak akan mengingkari janji aku untuk setia sama kamu sayang " kata-kata Aldi membuat Winda terenyuh, begitu besar rasa cintamu untuk Rania Al' gumam Winda.   " Aku mohon mas, anggap saja ini permintaan terakhir aku. Aku hanya tidak ingin Syifa kehilangan sosok ibu dan kamu kehilangan sosok istri. Aku mohon lakukan itu demi aku mas" ucap Rania. Aldi menggeleng, dia tidak mungkin melakukan itu. Namun karena Rania terus mendesak dan kondisi Rania yang semakin mengkhawatirkan akhirnya Aldi menuruti keinginan nya.   Dengan persiapan seadanya, akhirnya Winda kini telah resmi jadi istri Aldi. Dengan disaksikan oleh dokter, wali hakim serta dua orang saksi pernikahan itu berlangsung. Aldi menikahi Winda secara siri, dan saat kata sah terucap Rania kembali menutup mata dan kembali tak sadarkan diri. Tangis pun pecah melihat kondisi Rania yang semakin memburuk.   "Jangan tinggalkan aku Ran" ucap Aldi dengan tangis yang terurai membasahi baju rawat Rania. Sebelum akhirnya dokter menyarankan agar mereka meninggalkan ruangan, karena dokter akan segera melakukan tindakan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN