Ola masih tergolek tak berdaya di tempat tidur. Maki membawakan bubur untuknya makan. “Maafkan aku,” desis Maki sambil membantu Ola untuk duduk. “Aku yang minta maaf,” balas Ola. Mata mereka saling bertemu, menyiratkan penyesalan masing-masing. “Makanlah, agar tenagamu segera pulih.” Maki menyodorkan sendok ke mulut Ola. Ola semakin merasa tak berdaya, dia yang selama ini melakukan semuanya sendiri, melawan roh-roh jahat dengan satu kedipan mata, tergolek di tempat tidur, untuk makan saja harus dibantu. Tak terasa bulir bening menuruni pipinya, ini untuk pertama kalinya Ola menangis. Maki meletakkan mangkoknya di meja. Membingkai wajah Ola dengan kedua tangannya. Menghapus bulir bening itu dengan jarinya. “Kenapa?” Nada khawatir terdengar dari bibirnya. “Aku merasa tak ber

