Terasa Berbeda

1113 Kata
Maki bahkan masih tak percaya, tubuhnya diam tak bereaksi. Ciuman itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang. “Berjanjilah untuk selalu bahagia. Aku akan melakukan apa pun untuk itu,” janji Ola. “Maksudmu?” tanya laki-laki itu setelah tersadar dari kediamannya. “Aku akan memastikan senyum terus mengembang di wajah ini. Harimu tak akan berat untuk dilalui, dan ada harapan di sini,” kata Ola seraya meletakkan tangannya di d**a Maki. Degup jantung itu semakin terasa kini. Ola kaget dengan pergerakan itu. Dia tak menyangka degup jantung manusia bisa begitu kencang. Tanpa sadar Ola menarik tangannya. Wajahnya tampak terkejut. Maki kemudian menghapus kecanggungan itu dengan berdiri dan meninggalkan Ola di sana. Dia harus menjaga jarak agar tak merengkuh Ola ke dalam pelukannya. Dia harus menjaga dirinya sendiri agar tak lagi tersakiti. Mereka berusaha menata perasaan mereka sendiri. “Aku akan pergi,” kata Ola dan berjalan ke arah pintu. Dia harus memastikan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Sebelum melangkah lebih jauh. Setelah pintu tertutup, Ola sudah mengubah dirinya menjadi kupu-kupu dan terbang menjauh. Kepak sayapnya cepat. Dia tak sabar untuk segera mengetahui kebenarannya. Kharon masih berdiam di tepi sungai Akharon, saat Maniola tiba di sana. Dia tak ingin berbasa-basi karena itu dia tak menyapa sosok dingin itu. “Ola, berhati-hatilah.” Suara Kharon membuat Maniola tertegun. Kharon sangat jarang sekali mengeluarkan suaranya. Lalu kenapa sekarang dia bersuara? Namun Maniola segera pergi, dia harus segera bertemu Hades. Cerberus mendongakkan ketiga kepalanya saat kepak saya Maniola terdengainganya. “Ada apa?” tanya Hades begitu Maniola mengubah penampilan menjadi sosok wanita cantik. Gaun satinnya mengalun seiring langkahnya menyambut Cerberus yang bergelung di kakinya. “Apa Hades memarahimu?” tanya Maniola sambil membelai ketiga kepala anjing itu bergantian. “Aku ini apa?” tanyanya sambil menatap Hades menantang. “Roh. Kenapa harus dipertanyakan?” Hades balik melempar pertanyaan. “Roh tidak akan merasakan degup jantung dan perasaan,” bantahnya. “Roh bisa merasakannya. Kalian hanya tak menyadarinya dan menuruti hawa nafsu saja,” sergah Hades. “Kamu tahu arah pertanyaanku. Jadi jawab dengan benar,” desis Maniola. “Aku sudah menjawabnya,” elak Hades menopang dagunya. Duduk dengan angkuh di kursi kebesarannya. “Hah memang percuma mencari tahu darimu.” Maniola mengeluh dan meninggalkan Hades. Hades hanya menatap punggungnya dengan tatapan yang tak bisa dimengerti. Rasanya dia ingin menarik anak itu untun tetap ada di dunia bawah, menjadi anak buah yang selalu bisa dia andalkan. Namun, hidupnya harus berjalan. Dia sudah cukup waktu untuk menjadi sesuatu yang memang bisa dia tentukan sendiri. “Arnie ingin menghadap,” kata sosok roh laki-laki yang menjadi pengganti Maniola selama dia cuti. “Ada apa?” tanya Hades malas. “Aku merasa, Ola sudah melangkahi batasnya sebagai roh.” Arnie mengatakannya sambil menundukkan kepala. “Maksudmu?” selidik Hades. “Aku melihat dia berkutat di rumah seorang manusia. Seperti ada hubungan khusus,” jawab Arnie. “Aku akan mengurusnya,” kata Hades memutuskan. Sekarang dia harus bagaimana jika Arnie sudah mencium ketidakberesan ini? “Terima kasih atas perhatianmu.” Arnie undur diri dari hadapan Dewa Bawah Tanah itu dengan senyum tersungging. “Persephone,” sapa Maniola. Dia akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Dewi itu. Sekaligus mencari tahu siapa dia sebenarnya. “Ola. Aku merindukanmu!” seru Sang Dewi merentangkan tangannya. Mereka berpelukan dengan hangat. “Apa yang membawamu ke sini? Macarie tak ada di sini,” kata Persephone. Maniola tertawa. Dia tahu di mana Dewi Kematian itu berada kini. “Aku mencarimu,” bisik Maniola. “Ada apa? Duduklah,” kata Persephone menunjuk bangku di tamannya. “Aku sedang merasakan sesuatu yang tak wajar di dalam diriku. Aku merasakan emosi yang seharusnya tak kurasakan. Aku bahkan merasakan detak jantung yang seharusnya tak ada,” kata Maniola sambil mendekap dadanya. Persephone mengelus kepala gadis itu lembut. Dia tahu apa yang sedang terjadi, tapi dia juga tak bisa memberi tahu apa yang terjadi. “Mungkin ada sesuatu yang berubah, bukankah lebih baik menjalaninya?” Persephone tersenyum menatap Maniola yang tampak tak yakin. “Apa pun, yang akan terjadi, semuanya mungkin yang terbaik untukmu,” lanjut Dewi itu. Maniola akhirnya menunduk. Mencoba mengerti pesan apa yang dikatakan oleh Persephone dalam perkataannya. Dia paham, pasti ada sesuatu yang tidak bisa dikatakan oleh Sang Dewi. Jawabannya, dan jawaban Hades menyiratkan sesuatu yang harus Maniola cari sendiri. “Baiklah. Aku pamit, masih ada urusan yang sepertinya harus kuselesaikan sendiri,” kata Maniola. Persephone memeluk Maniola dan mengelus punggungnya, “jangan mengkhawatirkan tentang hal yang belum jelas, lakukan saja apa yang menurutmu harus kamu lakukan.” Maniola mengangguk dan segera pergi dari sana. Dia berpapasan dengan Arnie di tepi sungai Akharon. “Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu sibuk dengan manusiamu?” ledek Arnie. Jika tak mengingat sedang berada di mana, Maniola hampir saja melayangkan kutuknya untuk roh kurang ajar itu. Maniola mengepakkan sayapnya menuju dunia atas. Memasuki flat Maki dan tak menemukan laki-laki itu di sana. Piring yang tadi ditinggalkan oleh Maki di meja makan sudah tak ada. “Dia sudah pergi, jika kamu mencarinya,” tegur Macarie, lagi-lagi membuat Maniola kesal. “Apa kamu benar-benar tak punya pekerjaan?” sungutnya. “Tingkahmu lebih lucu untuk dinikmati. Persetan dengan roh yang sedang berkeliaran,” gumam Macarie sambil duduk di meja. “Kamu menemui kedua orang tuaku untuk memvalidasi perasaanmu?” cecar Macarie. Maniola mendengus. Dia seolah tak punya ruang pribadi bila bersama dengan Dewi Kematian itu. “Aku yakin mereka berdua sedang bermain-main denganku,” kata Maniola kesal. “Lalu?” “Aku akan melakukan apa yang harus kulakukan,” jawab Maniola tegas. “Dengan melanggar aturan? Arnie mungkin sedang mengadukanmu kepada Ayah,” gumam Dewi Kematian. Maniola memutar bola matanya dengan malas. “Aku bertemu dengannya tadi di sungai Akharon,” desisnya. “Kamu akan membiarkannya?” selidik Macarie. “Aku sedang malas berurusan dengannya,” kata Maniola. “Laki-laki itu terlihat lebih segar, apa kamu memberinya gingseng?” tanya Macarie ingin tahu. “Apa maksudmu? Aku hanya memberinya gelang yang Pak Tua itu titipkan,” sergah Maniola. “Gelang? Benang merah berpermata biru itu?” Macarie meminta penjelasan. “Iya, Pak Tua itu mengatakan itu akan mengekang kutukan itu agar terkendali.” Maniola meletakkan kepalanya di atas meja. “Pantas aku melihat umurnya memanjang,” gumam Macarie. “Apa aku bisa mematahkan kutukan Pak Tua itu?” Maniola bergumam sendiri. “Berusahalah, mungkin, kutukan itu tidak akan bertambah dan dia akan berumur panjang,” saran Macarie sama sekali tak membantu. Maniola menegakkan tubuhnya, lalu tersenyum. “Benar. Lakukan saja yang harus dilakukan, aku akan melimpahinya dengan cinta.” Lagi-lagi aroma padang rumput menguar seiring dengan tekatnya. Macarie menatap makhluk di depannya itu dengan tatapan bersemangat. Dia hanya berharap Maniola berhasil melakukan misinya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN