Seorang wanita berjalan gelisah sambil melongok ke area parkir depan rumahnya. Ia terus mondar-mandir menanti kabar baik yang ia pesan pada suaminya. Ribuan kali ia berfikir, siang malam keputusan Diovano untuk menikah lagi dirasa berlebihan dan terlalu gegabah. Hatinya tak selapang itu untuk menerima suaminya mendua, meskipun lelaki itu terus meyakinkan jika Diandra hanya masa lalu yang tak perlu dipikirkan.
Wanita yang tak pantas bersanding sebagai saingan. Indra pendengarannya begitu tajam, Citra segera berlari menuju pintu gerbang dan senyumnya merekah lebar menyambut kedatangan suami tercintanya. Kabar baik, ia menanti itu sejak melepas kepergian suaminya satu jam yang lalu.
Karena tak sabaran, Citra bergegas menghampiri suaminya. Menyambut mesra hingga pria itu muncul dari dalam mobil dengan raut wajah yang kusut, senyum Citra luntur. Raut yang menyorotkan kekalahan.
“Gimana sayang, dia terima uangnya?” tanya Citra mendesak. Raut Diovano memang tak meyakinkan untuk jawaban ‘iya’ namun wanita itu ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Ia ingin mendengar jawaban dari mulut suaminya. “Dia menolak. Uang seratus juta? Hahaha! Kamu menyogokku. Itu bahkan hanya pantas untuk uang mahar.” Diovano menghela nafas berat setelah menirukan gaya bicara Diandra.
“Wanita jalang itu! Dia memerasmu dengan sengaja karena tahu kamu menikah denganku? Sombong sekali, orang terkaya di dunia pun pasti akan menganggap seratus juta uang yang besar.” Citra berkacak pinggang. Bibirnya terus mendumal kesal. Uang seratus juta adalah bentuk uang damai pada Diandra. Diovano membawa itu namun tak sempat menyampaikan pada Diandra karena wanita itu tak mau diajak bicara diluar rumah.
Tidak mungkin ia mengatakan maksud kedatangannya sementara ibu Diandra jelas-jelas menguping dari kamar. Diovano menatap lekat istrinya, mencoba untuk minta pengertian. “Lalu keputusanmu apa mas? Menikahinya? Aku ga rela di madu!”
“Sayang, aku juga ga pernah sekalipun punya niatan seperti itu. Wanita licik itu tidak mau merubah pendiriannya sama sekali. Dia hanya ingin menikah. Padahal jelas dia yang menjebak dan merayuku karena aku meminta putus darinya. Aku juga gak mau nama baik keluarga kita rusak. Aku merasa bersalah pada ayah dan ibumu.” Diovano menunduk dalam.
Ujung matanya melirik, mencoba mengamati reaksi istrinya. Ia tengah mencoba untuk menarik simpati namun sepertinya tak semudah itu berhasil. Wanita di depannya masih saja marah. “Hahh! Kalau gitu jadikan dia pembantu. Buat dia sebisa mungkin untuk tidak menampakan wajahnya di depanku.”
Diovano mendongak dengan sorot mata berbinar. Entah alasan mana yang membuat hatinya sumringah. “Ide bagus! Kita bisa gunakan gudang kecil di belakang dapur.”
Citra mengangguk setuju, senyum miring terukir di bibirnya. “Aku akan buat dia tidak nyaman disini dan akan aku buat dia pergi dengan sukarela,” desisnya melipat kedua tangan. Nafasnya kembang kempis memikirkan beragam cara untuk membuat Diandra angkat kaki dari kediamannya.
***
Gedung mewah yang dibayangkan rupanya hanya khayalan tak berdasar. Padahal venue yang dikirimkan oleh Diovano sangat mirip hanya saja, tempatnya terlalu kecil untuk ukuran pernikahan. Bahkan para tamu yang semua dari pihak Diandra harus berdesakan untuk menonton.
“Keluargamu sangat murah hati,” bisik Diandra menahan rasa kesal. Dinginnya AC dan kipas yang menyala seakan tidak ada. Kerabat Diandra tak henti mendumal sambil mengipasi lehernya dengan kertas yang ditemukan. “Kamu yang memaksa,” balas Diovano dengan senyum samar di bibirnya.
“Padahal halaman rumahku sangat luas. Kenapa repot-repot di hotel kalau hanya dapat ruangan sekecil ini.”
“Sudah untung kunikahi. Keluargamu luar biasa. Hanya karena pernikahan di gelar di hotel pakaiannya sampai menyiksa diri.” Diandra panas. Ejekan demi ejekan terus terdengar dari telinganya. Bukan hal baru tamu pernikahan mengenakan pakaian super heboh untuk acara pernikahan. Menggunakan riasan menor untuk mendapatkan foto yang bisa di pamerkan.
Kejutan demi kejutan terus Diandra alami selama acara. Seperti keterlambatan catering yang membuat heboh. Apalagi lauk pauknya tak jauh berbeda dengan hajatan seperti biasa. Kursi yang di tata rapi bahkan di tumpuk dan mereka menggelar makan dengan lesehan. Orang tua Diandra pun tak bisa menangani krena terlalu terkejut.
Setiap gerakannya kaku dan cangguh karena salah tingkah. Ia terlalu membesarkan dan membanggakan Diandra sebelumnya. Membanggakan pernikahan di hotel karena keloyalan suaminya namun semua itu runtuh. Ekspektasi mereka terlampau tinggi.
Fotografer yang di sewa juga nampak kewalahan. Untuk mengambil gambar pengantin saja ia harus sedikit berdesakan dengan pengunjung karena panggung pengantin yang terlalu sempit. “Udah mulai sesi foto mas?” tanya bapak-bapak yang tidak lain adalah paman Diandra.
“Sudah bisa pak,” jawabnya dan kehebohan kembali terjadi. Kerabat Diandra begitu antusias. Mereka dengan cepat menghabiskan makanan. Foto bersama adalah point penting setelah penyaksian akad nikah. Diandra menunduk dalam. “Anakku mana sih, Restu! Ayo foto!” teriak tante Diandra memanggil anaknya. Diandra hanya mengulas senyum tipis.
Tangannya refleks meraih lengan Diovano dan berpose kaku. Satu persatu keluarganya berfoto. Awal ia masih antusias hingga rasa lelah dan bosannya membuat ia mati gaya. Dari foto perkeluarga, foto para sepupu dan terakhir foto bersama keluarga besar. Semua berlangsung hampir satu jam lamanya. “Dek Diandra pasti cape banget, istirahat dulu aja atau mau ganti gaun kedua?” tanya tantenya membuat Diandra kikuk. Gaun kedua? Haha! Itu tidak ada.
Diovano tersenyum tipis. “Maaf tante, tidak ada gaun kedua karena sudah malam,” balas Diovano seramah mungkin. Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Waktu berjalan begitu cepat padahal acara di mulai baru tadi jam tujuh. “Ah ... jadi cuma satu gaun? Kalau begitu, ini sudah selesai?” tanyanya lagi memastikan. Diandra tersenyum tipis. “Makasih tante udah dateng, rencana untuk gaun selanjutnya memang ada tapi di studio terpisah untuk keluarga Mas Dio.”
“Kami ga diundang?”
“Kami sengaja membuat acara terpisah karena terlalu sulit untuk mengatur waktu. Jadi mohon maaf,” ucap Diandra beralasan. Dari tadi ia memang mendengar bisik-bisik mengenai keluarga mempelai pria yang hanya ikut saat penyaksian akad dan setelahnya langsung pamit pergi.
Setelah itu bisik-bisik kembali terdengar. Menyayangkan acara pernikahan yang berlangsung begitu sebentar. Satu persatu dari mereka pulang. Menyisakan orang tua Diandra. Sorot matanya terlihat sedih dan penuh ke khawatiran. Diandra memahami itu, ia rangkul lengan suaminya dengan mesra. Mencoba meyakinkan orang tuanya jika saat ini mereka baik-baik saja.
“Ayah dan ibu mau pulang sekarang? Kami sudah menyiapkan kamar karena ayah dan ibu mungkin lupa,” ucap Diovano sembari mengangkat tangan. Seorang petugas hotel datang menghampiri. “Tolong antar orang tua kami ke kamar yang sudah kami pesan,” ucap Diovano sembari memberikan key card dari saku jasnya.
“Ayah dan ibu istirahatlah. Kamarku dan Diandra tepat di samping kamar ayah dan ibu.” Matanya berbinar mendengar itu. Tidur di hotel adalah hal mewah bagi mereka yang belum pernah. “Kebetulan sekali kami sangat lelah, terima kasih.” Diandra tersenyum miring menatap betapa licik pria di sampingnya. Orang tuanya juga terlalu mudah senang. Selepas kedua orang tua Diandra pergi, tinggallah mereka yang menatap kosong ruangan.
“Sepertinya kita juga harus istirahat sekarang. Tak perlu menunggu para wedding organizer itu datang. Aku membeli semuanya jadi hapus sendiri make upmu dan bersiap-siaplah malam ini ... istriku.”