4. Kesepakatan

1084 Kata
Diandra kembali mengurung diri di kamarnya. Sesekali menertawakan keberaniannya yang sesaat. Rasanya energi yang dimiliki ditarik, membuat tubuhnya terasa lemah. Ia juga bersyukur karena bisa menyelesaikannya dengan cepat, sebelum ayahnya pulang. Ibunya juga tak mengatakan apapun. Hanya menatap dengan raut gelisah dan bimbang. Rasa penasaran yang dimiliki bahkan harus dikubur dalam menunggu agar Diandra yang membuka percakapan. Mencoba untuk mempercayai tindakan putrinya. “Rasanya aku benar-benar akan menikah? Aku harus menulis rentetan cerita lebih dahulu. Agar mereka tahu kalau ancamanku bukan main-main,” gumamnya. Senyum tipis terukir di bibirnya. Mengumpulkan beberapa bukti kencan, menandai tanggal penting. “Aku bahkan mengumpulkan bill selama kencan,” kekeh Diandra saat membuka kotak plastik. Bill makan selama kencan, tiket masuk wahana,tiket kereta api saat keduanya melakukan perjalanan bersama. Tertegun Diandra mendapati satu tiket yang paling mencolok dan menarik perhatiannya. Ia meneguk ludah kasar. Nota sewa kamar. “Dan aku diputuskan begitu saja setelahnya, bodoh ... tapi aku juga menyukainya.” Setelah penolakan Diovano yang membuat Diandra kalut, tak butuh lama untuk menunggu. Diovano muncul di depan rumahnya. Pantas saja ponselnya terus berbunyi. Diandra memang sengaja tak mengangkat panggilan itu, takut. Itu yang ia rasakan kini. “Bisa kita bicara?” ajak Diovano saat Diandra menemui di ruang tamu. Diandra tertegun untuk beberapa saat. Diovano mengenakan masker hitam, meski tertutup jelas sekali ada luka di pipinya. ‘Apa dia bertengkar?’ batin Diandra tak enak hati. Ia melirik ke sekeliling. Ibunya begitu pengertian karena meninggalkannya, memberi kepercayaan jika ia bisa menyelesaikan masalahnya dengan bijak. Ayahnya? Tentu saja sedang bekerja. Diandra tak tahu apa yang akan terjadi jika Diovano bertemu dengan ayahnya. “Silahkan,” balas Diandra mempersilahkan dengan mengayunkan tangannya ramah. Senyumnya bahkan terukir menyembunyikan kekalutan dan kerapuhan hatinya. “Bicara di tempat lain,” bisik Diovano. Pria itu tak nyaman bicara di rumahnya. Diandra menangkap gelagat gelisah. Ia juga tahu pasti, ibunya akan menguping dari kamar yang tepat di samping ruang tamu. “Kenapa tidak disini?” “Aku minta maaf karena mengabaikanmu beberapa hari yang lalu. Kondisiku saat ini tidak pas. Semua begitu rumit dan terlalu tiba-tiba.” “Apa mereka memukulmu, aku melihat ada memar disana,” tunjuk Diandra dengan hati-hati. Terenyuh ia saat Diovano membuka maskernya. Luka lebam. Entah siapa yang melakukannya. Ayah mertua? Kemungkinan besarnya itu. Siapa lagi laki-laki yang memiliki tenaga besar selain ayah mertuanya disana. “Karena itu, ayo diskusikan kembali,” pinta Diovano kembali mengenakan maskernya. Diandra merasa bersalah namun ia tak bisa mundur. Ia tak mau menanggung resiko seorang diri. Jalang? Ia sangat khawatir jika mendapat julukan itu. Apalagi rumah tetangga berdekatan. Keluar rumah saja sudah membuatnya tak nyaman. “Apa permintaanku disepakati?” tanya Diandra to the point. Ia harus menikah sebelum janin dalam kandungannya membesar. Sebelum terjadi rumor yang bisa membuat nama baik keluarga hancur. “Aku terima jadi. Aku tidak akan keluar rumah sebelum semuanya selesai. Jadi kalian aturlah, aku juga sedang mengatur senjataku. Tahu sendiri sebanyak apa bukti yang kumiliki saat ini,” ucap Diandra menaikan sebelah kakinya. Jika bukan di rumah, mungkin ia kembali rapuh. Ia tak ingin membuat lawannya menang karena air matanya. “Bagaimana jika bepergian dulu sampai bayimu lahir. Aku akan bertanggung jawab saat itu.” “Ini bukan sekadar bayiku. Ini bayi kita. Ini bukti cinta kita! Dan aku tidak ingin meralat ucapanku. Aku tidak mau menunggu lebih lama.” Diovano gelisah. Suara Diandra meninggi tanpa sadar. Ia melirik ke arah pintu dengan pandangan was-was. Diandra tak peduli. Saat ini ia hanya ingin secepatnya menikah. Bahkan, jika pernikahan kedepannya gagal. Ia tak akan menyesal. “Ayo pikirkan sekali lagi, mungkin ada jalan lain yang bisa kita tempuh.” “Pulanglah, aku tidak akan berubah pikiran. Jangan berfikir untuk menyogokku. Aku tetap pada keinginan awal. Tanggung jawab atau kusebarkan.” Diandra mengatakannya dengan tegas tanpa ragu. Tanpa menunggu balasan dari Diovano, Diandra beranjak menuju kamarnya. Membanting pintu kasar untuk memberi penegasan jika ia tak main-main. Tubuhnya langsung merosot. d**a kirinya ia raba. “Ugh! Jantungku!” *** Satu minggu berlalu. Senyum Diandra kini muncul, beban yang selama ini menggelayuti kini luruh dengan pesan yang ia dapatkan dari Diovano. Perasaan yang dulu sesak kini tak ada lagi. Pernikahan mereka sudah disepakati. Akhir bulan seperti keinginannya. Meskipun tak akan sama seperti pernikahan pada umumnya yang megah dan terbuka. Diandra masih bersyukur ia tak menanggung beban seorang diri. Ia mengusapi perutnya. Masih rata namun sedikit buncit. Ah sebenarnya, dari dulu perut Diandra juga sudah buncit. Diandra bergegas menuju meja makan untuk sarapan bersama. Biasanya ia akan mengurung diri, namun pagi ini ibunya memanggil dan mengajak untuk berdiskusi. Ia juga tak bisa terus-terusan menghindari ayahnya. Ia bersyukur ibunya sangat sabar menghadapinya. Ketiganya berkumpul di meja makan. “Jadi pernikahanmu akhir bulan ini?” Diandra mengangguk antusias mendengar pertanyaan ayahnya. Sejak alat test kehamilan miliknya ketahuan, ayahnya tak pernah mau mengajaknya bicara. Hanya ibunya yang jadi perantara, meski ia juga tahu. Ibunya terluka cukup dalam karena tindakannya. “Iya yah. Kami sudah sepakat. Maaf telah mengecewakan ayah. Maaf juga karena tak mendiskusikannya lebih dahulu.” Terima jadi. Diandra hanya perlu datang di hari pernikahannya. Ia tak ikut andil dalam mempersiapkan pernikahan. Undangan hanya disebar dari pihaknya karena Diovano tak ingin ketahuan menikah lagi, memiliki dua istri akan membuatnya seperti orang serakah. Selama ini, keduanya hanya berkomunikasi melalui jaringan internet. Dari pakaian, make up dan catering semua Diandra serahkan pada pihak pria. Menjadi istri bayangan mungkin itulah sebutannya. Kehadirannya ada tapi disembunyikan. “Kenapa harus sewa gedung? Padahal halaman rumah kita juga luas. Tetangga juga pasti ga keberatan buat minjemin lahannya.” Diandra tersenyum tipis mendapati pertanyaan ayahnya yang terdengar keberatan. Pernikahan akan diadakan digedung mulai pukul enam pagi hingga pukul dua siang. Tamu undangan pun terbatas, hanya dua ratus orang. “Ayah ... apa jadinya jika mereka tahu kalau pria yang aku nikahi sudah beristri, bahkan hubungan mereka baru mau jalan dua bulan. Aku hanya akan jadi hinaan nantinya, aku takut. Apalagi ayah orang penting disini, aku ga mau nama keluarga kita hancur meski aku juga sudah merusaknya,” balas Diandra yang sudah memikirkan dengan matang. Ia bahkan tak ingin mengundang siapapun, hanya saudara dan kerabat namun ayahnya menolak dengan tegas. “Apa istri pertamanya akan menyaksikan pernikahan kalian?” kali ini sang ibu bersuara dengan nada khawatir. Diandra menggeleng pasti. Ini sudah dibicarakan sebelumnya dengan Diovano. “Mereka tidak akan hadir, keluarga mereka sangat sibuk. Bahkan mereka mengadakan pernikahan di malam hari agar tidak menganggu aktivitas kerjanya. Ayah dan ibu tidak perlu khawatir. Aku sudah mempersiapkan sebaik mungkin. Ayah dan ibu hanya perlu mempercayaiku sekali lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN