Hari ahad, Syahid kuminta mengantarkanku silaturahim ke rumah Hasan. Kudengar kakinya terkilir setelah pertandingan. Kami mengayuh sepeda ke arah selatan, tepat lima rumah sebelum sungai besar desa, yang dijadikan sumber pengairan seluruh sawah desa. Saat kami ke rumah Hasan, dia tidak ada. Seorang tetangganya mengatakan kalau Hasan dan Ibunya ke rumah Pak Manar, pemilik industri perminyakan yang mempekerjakan puluhan, bahkan mungkin sampai angka seratusan orang untuk memarut kelapa. Dengan upah Rp 500 perkilo hasil parutan. Jika sehari bekerja paling banyak hanya bisa mencapai sepuluh kilo, maka itu tak akan sesuai dengan standar upah minimum regional, tak akan sesuai, bahkan sangat jauh. Rumah Pak Manar dekat dengan dam sungai, berjarak lima rumah dari rumah Hasan. Jadi kisaran 100 met

