bc

Terpaksa Menjadi Pacar Kontrak CEO Dingin

book_age18+
484
IKUTI
4.1K
BACA
heir/heiress
mystery
like
intro-logo
Uraian

Putus cinta membuat Rain benar-benar terpuruk. Ditinggal orang terkasih sudah seperti kutukan baginya. Tiba-tiba hadir sosok pria dingin bernama Andrew di kehidupannya.

“Aku ingin kamu menjadi pacar kontrakku!”

Akankah Rain mau menerima tawaran yang bagus itu? Bagus karena background pria baru itu dan cukup membungkam pengkhianatan mantannya!

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Putus!
“Aku ingin kita putus!”  Gadis bernama Rain Alexia terlihat tak percaya dengan perkataan seorang lelaki yang berdiri di depannya. Lelaki di depannya yang beberapa menit lalu masih berstatus pacarnya.  Rain membiarkan air matanya menggenang di pelupuk mata. Menahannya agar tak jatuh di depan lelaki yang memutuskannya secara sepihak. Seperti tidak yakin dengan perkataannya. Rain memberanikan diri bertanya kembali.  “Jangan bercanda. Kenapa kamu tiba-tiba meminta putus?” tanya Rain.  “Aku rasa ... kita sudah tidak cocok bersama lagi.” Mendengar jawaban lelaki di depannya tanpa rasa bersalah bagai petir yang menyambar.  “Tapi kita terlihat baik-baik saja dengan hubungan kita selama ini,” sanggah Rain.  Lelaki tersebut mendengus mendengar penuturan Rain. “Kamu pikir selama ini aku baik-baik saja dengan hubungan kita? Aku telah bosan denganmu, Rain. Kamu yang bersifat berubah-ubah membuatku bosan. Kamu tidak pernah peduli dengan perasaanku. Hanya aku yang selama ini peduli padamu.”  Rain tidak percaya dengan perkataan seseorang yang dicintainya. Sudah empat tahun mereka merajut kasih. Rain kira dia bisa mengerti keadaannya, tapi dia salah. Lelaki yang dicintainya tidak beda jauh dengan cinta pertamanya.  “Tidak bisakah ... kita bicarakan baik-baik? Aku akan mencoba memperbaikinya,” ucap Rain meyakinkan kekasihnya.  “Apa yang ingin kamu perbaiki, Rain? Semuanya sudah terlambat. Aku telah menemukan seorang gadis yang bisa mengerti aku. Aku telah menemukannya di diri gadis lain. Bukan kamu!”  “Aku mohon, jangan putuskan aku.” Rain mencoba menghentikan kekasihnya melangkah pergi.  “Lepaskan, Rain.”  “Akh,” teriak Rain saat tak sengaja terjatuh karena hempasan tangan dari kekasihnya.  “Jangan sekalipun menghentikan langkahku. Ingat itu!” serunya sambil berlalu pergi meninggalkannya.  Kepergian kekasihnya membuat bekas luka yang dilupakannya kembali terbuka. Entah kesalahan apa yang telah diperbuat keluarganya di masa lalu.  Langit malam seperti ingin mengejeknya. Hujan tiba-tiba turun dengan deras. Rain terduduk termenung di rerumputan taman yang tak lagi menampakkan warnanya. Air mata yang ditahannya tak terbendung lagi.  Rain menumpahkan semua tangisnya. “Kenapa aku di beri nama Rain jika hujan selalu hadir seperti kutukan bagiku?”  Menarik napas berat. “Mengapa hujan selalu menyertaiku di setiap masalahku?”  Hujan seperti kutukan baginya. Hadir di setiap takdir buruk menimpanya. Entah kenapa dia dinamai Rain jika hujan saja membenci hidupnya. Mungkin ini kutukan yang diberikan kedua orang tuanya padanya.  *****  Pria berperawakan tinggi dengan badan yang tidak terlalu besar tapi tetap terlihat berotot. Rahangnya yang tegas menambah karismatiknya sendiri. Terduduk di kursi menyibukkan dirinya tanpa menyadari sosok lain memasuki ruangannya. Pria yang dipikir dingin memiliki hati hangat pada orang terdekatnya. Dia CEO muda yang sedang dibicarakan baik di kalangan pengusaha maupun artis. Berkat ketampanan dan kekayaannya banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Bahkan banyak dari kalangan artis yang menawarkan cinta satu malam namun dia menolaknya. Semua orang sering memanggilnya Andrew Lupher, CEO muda yang sukses membawa perusahaannya dikenal di Mancanegara. Dia memiliki sifat perfeksionis dan selalu bersikap serius jika berkaitan dengan pekerjaan. Tatapan tajamnya mampu membuat setiap orang terintimidasi. Membuat semua orang yang berurusan dengannya takut membuat kesalahan sekecil apa pun. “Kau terlalu fokus, tanpa sadar kehadiran orang tampan sepertiku,” ujar sahabatnya. Mendengar perkataan seseorang, Andrew mendongak ke arah teman yang mengajaknya berbicara. Menatap sejenak temannya yang meletakkan secangkir kopi di depannya.  “Terima kasih,” ucapnya yang kemudian kembali menyibukkan diri.  Merasa diabaikan, pria bernama Tristan Antonius mendengus. “Sampai kapan kau terus menatap benda persegi itu, aku bosan melihatnya.”  “Kau pergilah! Jika kehadiranmu hanya ingin menggangguku,” tuturnya tanpa melihat ke arah temannya.  “Kau mengusirku?” ucap Tristan yang berpura-pura mengeluh.  “Syukurlah! Kalau kau memahami tiap perkataanku,” balas Andrew.  Tristan mendengus kesal mendengar jawaban dari temannya. “Kau benar-benar, apa kau lupa siapa aku? Aku juga punya hak dengan perusahaan ini. Seharusnya kamu sedikit menghormatiku Kakak Ipar.”  Tristan yang memiliki beberapa saham di perusahaan Andrew. Membuatnya sering berkunjung. Meski kebanyakan dia datang hanya ingin menggoda Andrew. Mendengar penuturan Tristan membuat Andrew mengalihkan tatapannya dari benda persegi. Memutar kursi putarnya menghadap kearah Tristan yang terduduk santai di sofa dekat dengan jendela kaca ruangannya.  “Aku benci kau menyebutku Kakak Ipar. Bagaimana mungkin Amora bisa menyukai orang sepertimu. Aku saja muak melihatmu,” ucap Andrew sambil bersedekap tangan menatap temannya dengan tenang.  “Ehem, sudah tentu karena aku kaya dan tampan bukan,” canda Tristan yang berpura-pura membenarkan dasi longgarnya. “Itu juga yang kau manfaatkan untuk bermain dengan setiap wanita, kan?” Sindiran Andrew mampu membuatnya tersedak secangkir kopi yang baru disesapnya.  Uhuk Uhuk  “Apa yang kau katakan, Drew. Kau membuatku takut. Itu hanya masa lalu sebelum aku mendapatkan hati adikmu,” sanggahnya.  Andrew berjalan menghampiri temannya dengan membawa secangkir kopi di tangannya. “Ya, jika aku melihatmu mempermainkannya. Kau akan berurusan denganku.”  “Aw, aku takut,” Melihat tatapan membunuh temannya, Tristan menciut. “Kau jangan menatapku seperti itu, aku sangat mencintainya mana mungkin aku mempermainkannya.”  “Sebelum kakaknya membunuhku, sudah pasti adiknya dulu yang akan membunuhku,” lanjut Tristan pelan yang tetap mampu didengar Andrew.  “Apa kau bilang?”  “Ah, tidak-tidak.”  “Aku rasa dia bertelinga gajah,” gumam Tristan pelan tanpa didengar Andrew.  Tiba-tiba guntur menggema membuat keduanya menatap ke luar jendela. “Sial, aku rasa bentar lagi hujan deras?” ucap Tristan.  Tidak ingin menunggu hujan datang. Tristan pamit pergi terlebih dulu. “Aku akan pulang dulu. Apa kau masih tidak ingin pulang? Aku rasa bentar lagi hujan akan turun.”  “Pulanglah dulu! Ada beberapa berkas yang harus segera aku selesaikan,” katanya setelah menyesap sedikit kopinya.  “Baiklah, aku pergi dulu Pria Jomblo,” candanya. “Kau!” kesal Andrew. “Ha-ha-ha.” Setelah beberapa menit kepergian Tristan. Dugaan Tristan benar. Hujan deras turun membasahi ibu kota. Selesai menghabiskan setengah kopinya, Andrew melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat dia tinggalkan.  *****  “Apa kau tidak punya mata?"  Rain berjalan terombang-ambing di tengah hujan tanpa sengaja menyenggol seorang wanita.  “Maaf ...” ucap Rain sambil membungkuk meminta maaf.  Membiarkan dirinya kehujanan. Rain terus berjalan menembus hujan tanpa mau berteduh. Rambut panjangnya dibiarkan berantakan. Setiap orang yang berteduh atau berjalan melaluinya menatapnya kasihan.  “Apa dia sudah gila berjalan di tengah hujan?” Perkataan gadis remaja kepada temannya yang sedang berteduh masih mampu didengarnya. Rain tetap berjalan lurus tak peduli dengan ocehan orang lain terhadapnya. Kakinya yang tak kuat tetap dipaksakan berjalan. Dia tanpa sengaja menyenggol kembali pejalan kaki lain.  “Apa kau gila?” ucap seorang pria yang memarahinya.  “Kalau jalan pakai mata dong,” ujar wanita yang tak sengaja tersenggol bahunya.  “Dasar orang gila,” teriak beberapa pejalan kaki lain.  Rain hanya membungkuk sebagai permintaan maaf. Lida yang kaku membuatnya sulit mengeluarkan suara. Entah sudah ke berapa kali dia membungkuk meminta maaf.  Rain yang berjalan di pinggir Jalan Raya tanpa sengaja terserempet mobil. Bukannya menolongnya, pengendara itu berteriak padanya.  “Dasar gadis gila,” teriak keras pengendara mobil.  “Akh.” Lutut dan sikunya yang tergores aspal meninggalkan rasa sakit.  Rain mencoba berdiri yang sempat tersungkur di atas aspal. Berjalan lunglai meratapi nasib buruknya. Batinnya terluka untuk kedua kalinya. Bekas luka yang ingin dilupakannya seakan-akan ingin kembali mengoyak hatinya. Membiarkan darah mengalir hilang di bawa air hujan. “Hiks, hiks, hiks,” tangis Rain di tengah hujan dengan mencoba memukulkan kepalan tangan ke arah dadanya yang sesak.  Rain mengeluh. “Kenapa selalu terjadi padaku, Tuhan?”  Rasanya dia tak mampu berpijak lagi. Tulang-tulangnya seakan-akan rapuh. Rain terjatuh dan mencoba bangkit kembali. Memaksanya berpijak di bumi yang penuh dengan derita.  Tanpa terasa Rain telah berjalan jauh. Hujan semakin deras dan malam yang semakin gelap. Membuat jalanan sepi dari lalu-lalang mobil.  Rain segera menyeberang ke jalanan tanpa melihat sebuah mobil berjalan lurus mendekat ke arahnya. Bersamaan suara klakson mobil yang dibunyikan dengan keras. Teriakan seseorang menggema memenuhi pengendara mobil.  Tinn Tinn Tinnn  “Arrggg!" teriaknya dengan kedua tangan disilangkan di depan mata. “Bruk!” suara Rain terjatuh lunglai di atas aspal.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Desahan Sang Biduan

read
55.9K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.1K
bc

Menyala Istri Sah!

read
3.3K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
6.0K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.3K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.7K
bc

After We Met

read
188.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook