Pagi itu Leo tampak lebih bersemangat dari biasanya. Senyumnya tersungging. Wajahnya tampak cerah, secerah matahari pagi. Sebentar lagi ia akan kedatangan tamu: Tamy. Ia merasa semesta seperti memberi restu. Seolah ada celah kecil yang terbuka—sebuah harapan baru yang, entah bagaimana, mulai bergerak mendekatinya. Ia yakin Tamy membawa kabar baik tentang Cindra. Namun begitu Tamy tiba, dugaannya langsung pupus. Tamy datang bukan membawa kabar tentang Cindra—melainkan membawa urusan Andra. Leo menatap Tamy yang duduk di hadapannya dengan bingung. “Kembaliin mobil? Maksudnya?” tanyanya. Sesaat Tamy tampak ragu. “Hmm… jadi… mobil itu… eh, maksudnya… Andra nitip mobil itu ke aku buat dikembalin ke kamu. Katanya dia pernah mau balikin sendiri, tapi kamu nggak mau...” Tamy mengulurkan se

