Kencan Backstreet

1186 Kata
Hari sudah menjelang malam, lampu-lampu taman di Istana Atmaja mulai menyala, saat taksi yang ditumpangi Cindra tiba di belakang rumah. Dinding tinggi yang tertutup tanaman merambat adalah pemandangan akrabnya. Melompat turun, Cindra cepat-cepat melambaikan tangan pada kamera pengawas yang terpasang di atas pintu besi berukir—dikenal sebagai "Pintu Karyawan." Seketika pintu pun terbuka, memberinya akses langsung menuju paviliun. Dari kejauhan, Cindra melihat sebuah mobil Van mewah terparkir di halaman. Keningnya berkerut. Seingatnya, tidak ada jadwal kunjungan tamu hari ini. Hari Minggu seharusnya adalah hari bebas tamu keluarga Atmaja. Ah, pasti Om Delon, batinnya. Cindra tersenyum gembira. Jika dugaannya benar, berarti ia akan benar-benar bebas menikmati sisa harinya. Ia bisa menonton Drama Korea sampai puas sambil ngemil keripik di dalam kamar. Dan yang terpenting: chatting dengan Andra! Baru sebentar berpisah, ia sudah merasa kangen lagi. Cindra tersipu dalam hati. Namun, harapan itu langsung hancur berkeping-keping. Pemandangan yang menyambutnya di paviliun adalah Pangeran Leo yang sudah duduk santai di atas kasurnya, asyik menonton televisi dan menghabiskan keripik kentang miliknya. "Ke mana aja, sih? Pergi gak bilang-bilang?" tuntut Leo kesal, langsung bangkit. Kedua matanya yang tajam menatap Cindra dari ujung rambut sampai ujung kaki, menilai. Cindra menghela napas panjang. Drama Korea-nya kini berganti menjadi Drama Pangeran Leo dan Cinderella. "Aku enggak perlu bilang, karena ini hari liburku. Aku mau ke mana juga hak aku. Kalau aku perginya di jam kerjaku, baru kamu boleh marah-marah!" sahut Cindra tak kalah kesal. "Tapi kamu itu tinggal di rumahku. Berarti tanggung jawabku juga. Aku mesti tahu kamu pergi ke mana dan sama siapa. Selama ini kan, kamu selalu kasih tahu aku?" Cindra kembali menghela napas. Biasanya ia memang selalu memberi tahu jika bepergian, bukan untuk meminta izin, melainkan agar Pangeran Leo tidak perlu repot-repot menelepon satu per satu temannya. Dia pernah melakukan itu, membuat teman-temannya kini ikut memanggilnya Cinderella. Tapi kali ini, ia tidak mungkin memberitahunya. Leo akan mengacaukannya kalau sampai tahu Cindra berkencan dengan Andra. Dua kali berpacaran, dua kali pula ia diputuskan kekasihnya tanpa alasan jelas, tepat setelah ia mempertemukan mereka dengan Leo. Dasar pangeran sirik! Cindra berusaha untuk tetap tenang. "Aku kan udah dewasa, Leo. Kamu enggak perlu khawatir. Lihat!" Ia memutar tubuhnya di hadapan Leo. "Aku pulang dalam keadaan baik-baik saja." "Kok, tumben pakai dress? Kamu punya pacar baru?" Sial! Pakaian feminim yang dikenakannya malah membuat Leo semakin curiga. "Acara ulang tahun, Leo..." dustanya. "Udah ya, interogasinya? Aku mau ganti baju. Kamu juga harus balik ke rumah, nanti dicariin Mami Papi. Lagi ada tamu, kan? Om Delon?" Mendadak wajah Leo berubah masam. "Aku malas ketemu keluarga Om Delon. Anak-anaknya berisik!" sungutnya sambil kembali duduk di atas kasur. Pupus sudah harapan Cindra untuk melanjutkan 'me time'-nya. Om Delon adalah adik Papi Marlon yang selalu menekan Leo untuk mengambil studi bisnis di Amerika—sesuatu yang sangat dibenci Leo, karena ia hanya ingin menjadi pembalap. Suara interkom yang tiba-tiba berbunyi keras mengagetkan Cindra. Ia segera berlari mengangkatnya. Sesaat kemudian, ia menutup telepon sambil tersenyum penuh kemenangan. "Ehm... Mami panggil kamu," ucap Cindra. "Cepetan! Mereka nungguin kamu." "Aaah!" Dengan kesal, Leo membanting guling lalu beranjak bangun. Cindra tak kuasa menahan senyum melihat Leo yang berjalan enggan keluar dari kamar. Ia hampir saja bersorak kegirangan saat tiba-tiba Leo kembali masuk lalu menarik tangannya. "Leo, kamu apa-apaan?" Cindra berusaha melepaskan diri. Tapi cengkeraman tangan Leo terlalu kuat. "Kamu harus bertanggung jawab!" "Hah!" Cindra membelalakan mata. "Udah, ikut sebentar aja. Ribet banget sih!" Cindra tambah melongo. Ia tidak mengerti rencana Leo sama sekali. Namun, ia hanya bisa pasrah mengikuti langkah Leo masuk ke dalam ruang keluarga. Tampak Mami Renata, Papi Marlon, dan keluarga Om Delon tengah mengobrol santai. "Cindra?" Mama yang sedang menyiapkan kopi dan makanan kecil, terkejut melihat kehadiran Cindra. "Cindra mau ikut gabung juga?" Mami Renata menyambutnya dengan gembira. Papi Marlon bahkan memintanya bergabung bersama Leo. Cindra hampir saja menurutinya saat tiba-tiba tangan Leo menariknya kembali. "Cindra lagi minta tolong Leo, Pih. File tugas dari dosennya itu kena virus. Padahal harus diserahkan besok pagi. Jadi Cindra minta tolong Leo buat bantuin dia. Karena enggak akan kekejar waktunya kalau 'ngerjain' sendirian." Cindra membelalakkan mata lebar-lebar, menatap bingung wajah Leo. Tapi Leo bergeming, wajahnya tampak serius dan polos. "Betul begitu, Cindra?" Mami Renata menatapnya dengan wajah iba. Kini Leo menatap Cindra dengan tajam. "Hmm... Iya... Mih," sahut Cindra dengan gugup, lalu tertunduk sambil menahan geram. Leo selalu saja memperalatnya! Ia bahkan tak berani memandang wajah Mami Papi dan Om Delon yang percaya begitu saja perkataan Leo. Lihat saja nanti, aku akan membalasnya, rutuk Cindra di hati. Setelah berpamitan, Leo kembali menarik tangan Cindra masuk ke dalam elevator menuju kamarnya. Sambil tersenyum penuh kemenangan, Leo menjatuhkan tubuhnya di atas sofa panjang. "Beres, kan?" ucapnya tanpa rasa bersalah. "Kamu kelewataaaan!" Dengan geram, Cindra meraih bantal sofa lalu memukuli Leo bertubi-tubi. Tapi Leo malah tertawa senang. Ia menarik tangan Cindra lagi untuk duduk di sampingnya. "Kamu mau beli apa? Pilih sendiri!" ujarnya, membuka sebuah aplikasi belanja online langganannya. Ia selalu berpikir uang bisa menebus segala kesalahannya. "Enggak perlu!" Jawab Cindra ketus sambil beranjak bangun. Tapi sekali lagi, tangan Leo kembali menariknya. "Tunggu sampai Om Delon pulang!" pintanya. "Enggak bisa! Aku mau..." Cindra menghentikan ucapannya. Kalau ia bilang alasan sebenarnya, Leo malah akan menganggapnya ingin bersenang-senang sendirian. "Aku mau menyiapkan kuliah besok. Kamu juga kan, ada jadwal kuliah pagi?" Cindra berusaha tetap tenang. Leo tak menjawab. Ia mengendurkan cengkeramannya. "Dan jadwal tugas kelompok sama teman-teman kamu di sini?" sindir Cindra. Kini Leo melepaskan tangannya sepenuhnya. Wajahnya kembali cemberut. Ia selalu saja tak bersemangat jika membicarakan kuliahnya. "Leo..." "Iya, aku tahu!" sahut Leo kesal sambil berjalan ke sudut ruangan dan menyalakan konsol permainan online. Bermain game adalah satu-satunya alternatif selain mengganggu hidup Cindra. Cindra menunggu beberapa saat hingga Leo larut dalam permainannya dan tak menyadari lagi keberadaannya. Lalu, diam-diam ia pun melangkah keluar kamar. Mission accomplished. Mama tengah duduk di atas kursi panjang sambil meluruskan kedua kakinya saat Cindra masuk ke dalam paviliun. "Maafin Cindra, Ma... Leo yang memaksa." Cindra memeluk Mama lalu bersandar di bahunya. Mama tersenyum. "Mama tahu..." sahutnya, sambil membelai rambut Cindra. Mama memang paling mengerti anaknya. Mereka bisa berbicara hanya dengan tatapan mata—bahasa kalbu, kata Mama. "Gimana kencannya tadi?" Pertanyaan Mama membuat Cindra mengangkat wajah sambil tersipu. "Andra itu baik, Mah. Mandiri, enggak ribet, pintar, dan menyenangkan." "Hati-hati, Cindra. Kamu baru dua bulan dekat dengannya. Jangan mudah percaya begitu saja. Siapa tahu dia baik karena mengira kamu benar-benar keluarga Atmaja." Cindra tersenyum. Ia mengerti kekhawatiran Mama. Mama tidak ingin ia kembali bernasib sama seperti dua hubungan masa lalunya. "Enggak kok, Ma. Andra sudah tahu. Cindra udah jujur sama dia," jawabnya sambil mengusap-usap tangan wanita yang sangat dicintainya itu. Tangan yang kuat dan keras, seperti kehidupan yang dijalaninya. Mama memang jarang sekali beristirahat. Selama Mami Renata belum tidur, Mama pun tidak akan bisa beristirahat dengan tenang. Tapi Mama tidak pernah mengeluh. Cindra ingin sekali menyelesaikan kuliah secepatnya, bekerja, dan mempunyai penghasilan sendiri. Ia ingin mengajak Mama berlibur, hanya berduaan, agar Mama bisa benar-benar menikmati waktu tanpa harus sibuk mengurus Mami Renata. Mami Renata memang sangat bergantung hidupnya pada Mama. Sama seperti Leo, yang tak pernah bisa jauh darinya. Entah sampai kapan Cindra harus menemaninya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN