Cindra sedang finishing touch penampilan kuliahnya—kaus kartun, sneakers, dan tote bag—saat interkom di dalam paviliun menjerit nyaring. Cindra buru-buru mengangkatnya, "Leo kenapa?" Tanyanya dengan wajah tegang. Tapi telepon malah terputus.
Dengan wajah panik, Cindra bergegas keluar, menduga ada tikus yang masuk ke kamar Leo atau terburuk, Leo pingsan.
Risma, seorang laundry attendant, tampak berdiri dengan wajah tegang di depan pintu kamar Leo yang tertutup.
"Ada apa, Ris?" Tanya Cindra, semakin panik.
"Itu Mbak, Mas Leo cari kaus kaki warna abu-abu," bisik Risma. "Tapi katanya bukan yang ini! Padahal ini semua saya ambil dari lemarinya." Risma menunjukkan tumpukan kaus kaki abu-abu di tangannya yang semuanya tampak mirip. "Apa Mbak Cindra tahu?"
Cindra refleks menghela napas dengan dramatis. Jantungnya hampir saja copot, ternyata cuma urusan kaus kaki! Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu tersenyum menenangkan Risma yang masih ketakutan. Ia sudah hafal, ini hanyalah akal-akalan Leo, The King of Drama yang sengaja mencari gara-gara demi alasan klasik—menghindari kampus.
Cindra, dengan level kesabaran di titik nol, langsung menerobos masuk ke kamar Leo, membawa sepasang kaus kaki.
"Nih, udah ketemu, Yang Mulia!" sergah Cindra gemas, menahan geram. "Kaus kaki kamu yang abu-abu itu ada dua lusin dan semuanya SAMA! Jangan cari gara-gara hanya untuk memecat Risma lagi! Kamu udah pecat dia tiga kali"
Cindra meletakkan kaus kaki itu di atas meja kopi, tepat di hadapan Sang Pangeran yang tengah sibuk bermain game di ponselnya.
Leo menoleh acuh. "Siapa yang mau pecat orang? Dianya aja yang baper!" sahutnya tanpa rasa bersalah, lalu kembali menatap layar ponselnya.
Cindra menarik nafasnya. Ditunggunya Leo bergerak. Tapi Sang Pangeran tetap tak beranjak dari singgasananya.
"LEO?!!"
Suara keras Cindra akhirnya membuat Leo menghentikan permainannya. Ia menoleh, memandangi Cindra yang masih berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
"Mau aku pakein juga, Baby Leo?" tanya Cindra, suaranya sudah sangat jengkel.
Dengan kesal, Leo mengambil kaus kaki itu lalu mengenakannya. Cindra menghembuskan napas lega. Drama selesai. Ia harus segera pergi, atau Leo akan mencari gara-gara lagi untuk membuatnya terlambat kuliah.
Cindra baru memutar tubuhnya untuk keluar saat...
"Temani aku sarapan!" titah Leo seenaknya.
Benar saja dugaannya. Cindra kembali menarik napas, lalu membalikkan tubuhnya. "Aku ada kuliah pagi, Leo," sahutnya sambil menahan emosi.
"Aku juga! Kita berangkat bareng aja. Nanti aku akan suruh supir antar kamu duluan. Anggap ini bagian dari tugasmu sebagai Asisten Pribadi Pangeran Tampan."
Ya, Tuhaaan! Cindra hampir saja kehilangan kesabaran. Setelah mengatur napas, ia melirik jam di tangannya. Masih ada sedikit waktu. Ia tahu kalau perintah si pangeran kodok itu tidak dituruti, dia akan semena-mena membuat titah lainnya yang lebih sulit.
"Oke. Tapi gak bisa lama. Aku cuma punya waktu lima belas menit," tukasnya menyerah.
Leo tersenyum lebar—secepat kilat ia memakai sneakers, lalu menarik tangan Cindra keluar, menuju ruang makan keluarga yang terletak di samping taman bunga. Di sana, Mami Renata tengah menikmati sarapannya sendirian.
"Loh, ada Cindra? Mau sarapan bareng Mami?" Wanita itu menyambut Cindra dengan gembira.
"Iya, Mi," Cindra menyunggingkan senyum. Kekesalannya lenyap seketika.
"Kamu mau sarapan lagi?" Mami Renata memandang Leo keheranan.
Leo menggeleng santai. "Cuma nemenin Cindra. Katanya dia belum sarapan. Makanya Leo ajak ke sini," jawabnya, tanpa dosa, tangannya mencomot apel dari keranjang.
Cindra merasa darahnya mendidih. Wajahnya langsung memerah seperti tomat matang. Ia menatap Leo dengan mata melotot. Lagi-lagi dia membohonginya.
"Kamu enggak tahu Leo sudah sarapan?" Tanya Mami melihat tatapan jengkel Cindra pada Leo. Dan saat Cindra menggeleng, wanita itu sontak tertawa terbahak-bahak. "Kamu dikerjain Leo lagi!" imbuhnya, gembira.
Cindra kembali mengembuskan napas. Mami Renata itu memang mirip sekali dengan Leo. Dia selalu tertawa jika Leo berhasil 'mengerjai' nya. Padahal saat ini ingin sekali rasanya ia menceburkan Leo ke dalam air kolam renang sampai bersin-bersin dan hidungnya tersumbat lagi.
Emosi Cindra semakin memuncak saat dilihatnya Leo malah mengedipkan mata usilnya, senyum smirk penuh kemenangan terukir jelas di wajahnya. "Aku udah sarapan tadi bareng Papi," sahutnya tanpa dosa.
Cindra tahu Leo melakukan ini sebagai balas dendam karena ditinggal kencan kemarin.
"Enggak apa-apa, kan kamu jadi temanin Mami sarapan." Mami tersenyum lembut. Tangannya dengan cekatan meletakkan sebuah roti bagel di atas piring Cindra dan menuangkan secangkir teh lemon madu untuknya.
Melihat perhatian wanita itu membuat hati Cindra meleleh. Kali ini ia memaafkan Leo, demi Mami Renata.
Setelah drama pagi berakhir, dengan diantar supir Cindra dan Leo berangkat ke kampus. Dan bencana yang paling ditakuti Cindra pun benar-benar terjadi—Terjebak dalam kemacetan total.
"Leo, aku turun sini aja, deh. Aku mau naik ojek aja." Cindra menatap gelisah antrian kendaraan di depannya yang tak bergerak lagi sejak dua puluh menit yang lalu.
Tapi Leo malah sibuk bermain game di ponselnya.
"Leo!" Teriak Cindra dengan kesal.
Leo sontak menoleh. "Enggak boleh! Sebentar lagi juga sampai. Sabar, dong! Setiap hari juga kan, macet? Enjoy the ride!" sahutnya acuh.
"Aku tahu setiap hari macet, makanya biasanya aku naik ojek biar enggak buang-buang waktu," sungut Cindra.
"Kalau sama aku bilangnya buang-buang waktu. Giliran sama cowok lain, senang-senang aja pergi seharian sampai lupa pulang," balas Leo lagi—melempar ponsel ke dalam tasnya dengan kesal.
Cindra menatap Leo tanpa kata. Ya, Tuhan, ternyata benar dia masih dendam. Tapi, kenapa dia bisa tahu?
"Tahu dari mana?" tanya Cindra, suaranya berubah panik.
"Jadi benar kemarin kamu pergi pacaran?" Leo membulatkan kedua matanya.
Ah, sial! Ternyata dia menjebaknya. Sekarang ia tidak bisa mengelak lagi. "Kalau iya, kenapa?" tantangnya.
"Siapa dia?" Leo mendongakkan wajahnya, merasa tertantang.
"Kali ini aku enggak akan kasih tahu!" Sahut Cindra dengan gaya angkuh.
"Aku akan tahu!"
"Aku enggak perduli. Aku udah kasih tahu dia siapa aku. Kamu enggak akan bisa mengancamnya!" Balas Cindra, senyumnya penuh kemenangan.
Ia melirik wajah Leo yang memerah dalam diam. Ia tahu Leo cemburu. Leo takut perhatiannya akan terbagi, lalu dia diabaikan. Leo memang tidak punya teman dekat, apalagi kekasih. Tapi Leo harus sadar bahwa mereka sudah dewasa. Mereka tidak bisa selalu bersama selamanya. Suatu saat mereka akan menjalani hidup masing-masing.
Leo masih membisu hingga mobil akhirnya berhenti di depan kampusnya.
"Sampai nanti!" Cindra melompat turun.
Leo tak menoleh sedikit pun. Wajahnya masih terlihat kesal. Ada sedikit rasa bersalah di hati Cindra. Leo memang menyebalkan, tapi ia juga tidak ingin menyakiti perasaannya.
"Hello, Sweety!"
Sebuah suara mengagetkan Cindra. Andra tiba-tiba muncul entah dari mana, berjalan santai di sampingnya. "Kamu telat juga?" tanyanya gembira.
Andra tersenyum menggoda. "Kita kan sudah pakai bahasa kalbu, partner in crime," sahutnya, membuat Cindra tersipu, dan sejenak melupakan Leo.
Berada di kampus selalu membuat Cindra bahagia, apalagi sejak berpacaran dengan Andra. Kalau bisa, ia ingin berada di kampus sampai malam tiba, biar tidak perlu bertemu lagi dengan Leo yang usil dan menjengkelkan.
Tapi tiba-tiba, Cindra dikejutkan oleh suara riuh teman-temannya saat mereka tiba di dalam kelas. Dan yang lebih mengejutkan lagi, mereka lalu beramai-ramai mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar dirinya dan Andra.
Cindra dan Andra saling pandang, bingung campur syok. Hingga suara Pak Tantra—dosen paling killer di jurusan—menggelegar, "HEI! Semua kembali ke tempat! Kalian pikir ini red carpet?!" Ia lalu meminta Cindra dan Andra duduk di deretan kursi paling depan yang kosong.
Cindra tak bisa berkonsentrasi. Ia ingin sekali mengetahui apa yang membuat teman-temannya menjadi gaduh. Bukankah mereka sudah tahu kalau ia dan Andra sudah berpacaran?
Cindra melirik wajah Andra yang mengusap lembut tangannya sambil tersenyum, membuatnya sedikit menenangkan.
Empat puluh menit berlalu, akhirnya kelas usai. Cindra menarik napas lega. Tapi ternyata kegaduhan kembali berlanjut.
"Makanya kalau punya pacar dikenalin dong, Ciiin!" Tamy, teman sekelasnya, dengan wajah heboh ala reporter infotainment, menghampiri kursi Cindra sambil menunjukkan sebuah postingan di sosial media Leo yang berbunyi:
"Hello semua! Kalau ada diantara kalian yang tahu pacar baru adik saya, Cindra Estella, bisa DM ke saya. Hadiahnya, dua tiket konser gratis buat dua orang tercepat yang memberi informasi akurat."
Seketika wajah Cindra memerah, menahan malu yang tak terkira. Ia menatap Andra dengan perasaan bersalah. Andra lalu merangkulnya, membuat teman-temannya kembali gaduh dan kembali mengambil foto keduanya.
...
Dengan kemarahan di d**a, Cindra mengetuk keras-keras pintu kamar Leo yang tertutup.
Seketika pintu terbuka. Leo tersenyum menyeringai, tahu persis alasan Cindra datang.
"Kamu keterlaluan!" Cindra memukuli Leo dengan raket tenis yang dibawanya.
Tapi Leo, dengan posturnya yang tinggi, dengan mudah menangkis lalu merampas raket tenis itu dari tangan Cindra.
"Kamu yang keterlaluan! Semua teman-temanmu tahu siapa pacar kamu. Tapi kamu enggak kasih tahu aku!" tukasnya.
"Jangan pura-pura enggak tahu alasannya!" Cindra mendekatkan wajahnya, siap beradu argumen.
Tapi Leo tidak takut. Ia malah sengaja mengintimidasi Cindra dengan membuat wajah mereka hampir bersentuhan. Kedua matanya menatap tajam Cindra tanpa berkedip. Cindra terpaksa mundur selangkah, jantungnya berdebar kencang.
"Aku udah bilang, kamu tinggal di rumahku. Kamu udah dianggap keluarga di rumah ini! Jadi aku berhak tahu siapa pun orang yang berhubungan sama kamu. Apalagi cowok!"
Suara Leo kini terdengar seperti seorang raja yang ingin menunjukkan kekuasaannya. Ia tak suka diintimidasi oleh siapa pun, termasuk oleh Cindra. Ia terus menatap Cindra hingga akhirnya gadis itu tertunduk. Cindra tahu ada saat di mana Leo bersungguh-sungguh.
"Ehm!" Tiba-tiba sebuah deheman terdengar dari balik pintu kamar. Ketiga teman laki-laki Leo, yang sudah menunggu untuk belajar kelompok, tampak kikuk.
Cindra tersadar. Ia lupa kalau siang ini Leo ada jadwal belajar kelompok. Pantas saja dia marah sekali. Ia memang tidak suka dipermalukan di depan teman-temannya.
Tanpa berkata, Cindra memutar tubuhnya kembali, lalu masuk ke dalam elevator yang membawanya turun.
Dan saat pintu elevator tertutup, Leo mengembuskan napas lega.