Meninggalkan Dark Forest

1484 Kata
Ruby berjalan dengan susah payah, menyeret kaki dan lengannya yang terasa lebih berat karena pakaian yang dia kenakan. Sesuai keinginan Azure, Ruby telah berlatih untuk memakai pakaian tebal dan tertutup yang pria itu berikan. Namun, hingga hari keberangkatan mereka, Ruby masih saja tidak terbiasa, bahkan ketika Ruby telah memotong pakaian itu di beberapa tempat, dia masih memiliki dorongan hati untuk merobek pakaian itu karena rasa tidak nyaman.. "Bersabarlah, kau akan terbiasa nanti." Azure yang melihat kelakuan Ruby tersenyum geli. "Kenapa kalian begitu suka sesuatu yang  sangat rumit? Ini dan itu tidak boleh dan bahkan pakaian yang kalian pakai sangat merepotkan." Ruby mengomel sembari terus mengibaskan rambut yang telah dia kuncir tinggi. "Sangat panas," keluhnya lagi. Azure menggelengkan kepala dan kembali memfokuskan tatapannya pada persiapan keberangkatan mereka yang sebentar lagi selesai.  Sebenarnya untuk pakaian yang Ruby pakai, kainnya beberapa kali lebih tebal dari pakaian orang lain karena para penenun kerajaan menyesuaikannya dengan kondisi tubuh Azure. Namun, Azure tidak ingin mengatakan itu, dia tidak ingin Ruby tiba-tiba melepas pakaiannya dan menyuruhnya untuk meminjam pakaian kepada prajurit  lain. Banyak prajurit wanita dalam pasukan jendral Qhali, namun Azure merasa hanya ingin Ruby memakai pakaiannya.  "Yang Mulia, semuanya sudah siap." Demien dan melapor. "Kita bisa berangkat." Azure mengangguk dan menoleh pada Ruby yang masih berkutat dengan pakaiannya. "Ruby, kau akan berkuda bersamaku." Karena ketika Jendral Qhali dan pasukannya masuk ke dalam hutan, semua jalan yang mereka lintasi telah di bersihkan, maka kini rombongan mereka bisa dengan leluasa berkuda untuk keluar dari hutan. Ruby mencebik, tidak lagi peduli dengan pakaiannya yang merepotkan. "Aku punya tungganganku sendiri," katanya, dia lalu mengarahkan kepalanya ke langit dan membunyikan peluit dengan tangannya. Suara siulan Ruby menggema panjang ke segala arah, dan karena mereka sedang di kelilingi tebing tinggi, suara siulan itu pun menggema berulang-ulang. Seluruh prajurit menghentikan pekerjaan mereka dan menjadikan Ruby sebagai pusat perhatian, masing-masing dari mereka mengerutkan kening bingung dengan semua yang gadis itu lakukan, namun tak lama kemudian seruan terkejut datang dari mulut mereka satu persatu. Di belakang tenda, di bawah pohon hingga di atas tebing, puluhan serigala dengan ukuran tubuh berbeda-beda muncul. Tidak hanya itu, beberapa ekor binatang lainnya juga mulai terlihat. Ular di pepohonan dan burung di udara. Situasi itu adalah sesuatu yang sangat spektakuler sehingga beberapa prajurit lupa menutup mulutnya. "Apa dia Raja Hutan?" Boo berbisik kepada prajurit di sampingnya. Namun begitu matanya tak sengaja melihat ke bawah, dia berseru terkejut begitu seekor ular sanca besar melintas di kedua kakinya. sanca itu bergerak pelan, dan bahkan sempat mendongak dan menjulurkan lidah ke arah Boo sebelum menghampiri Ruby dan memanjat di tubuh gadis itu. Saat melihatnya, Boo yakin bahwa ular itu adalah ular yang sama dengan ular yang memimpin pengepungannya dengan Demien beberapa hari lalu di pinggir sungai. "Mereka menawarkan diri ntuk mengantarku." Ruby memeluk ular di lengannya dan menoleh ke arah Azure. Malam sebelumnya, Ruby telah pamit di depan makan Luna, karena itu dia bisa langsung pergi dari sini hari ini. "Kau bisa berkomunikasi dengan mereka?" Demien menatap binatang-binatang itu satu persatu dengan takjub, ini adalah pertama kalinya Azure melihat binatang liar sebanyak ini namun tidak menunjukkan sifat agresif, hanya berdiri diam dan menatap mereka dengan sangat tenang. Azure bahkan tidak bisa merasakan ancaman dari setiap tatapan binatang-binatang itu. "Empati, kami bisa saling mengerti hanya dengan melihat gerak-gerik tubuh yang lain. Untuk kasusku, tanpa mata ini aku bisa mendengar suara mereka." Dia kembali menoleh ke arah Azure. "Tenang saja, mereka tidak akan menyerang jika kalian tidak menyerang lebih dulu. Dan jangan meremehkan mereka, jumlah mereka lebih dari yang kalian kira." Dia mengucapkan itu ke arah Azure namun ular di tangannya justru berdesis tajam ke arah seorang prajurit yang diam-diam tersenyum mengejek dan sedang berusaha untuk menginjak seekor ular kecil tak beracun yang kebetulan melintas di hadapannya. Azure hanya melirik sekilas. "Baiklah, kau akan memimpin perjalanan untuk keluar dari hutan," ujarnya lalu berbalik untuk mengenakan jubahnya. "Yang Mulia!" Beberapa prajurit berseru terkejut sedangkan suara yang palin lantang tentu saja Demien. "Kita sedang berada di lokasi kekuasaan orang lain, jangan terlalu banyak bertingkah." Dia melirik pada prajurit yang tadinya tersenyum mengejek pada perkataan Ruby. Prajurit itu segera menunduk namun terkejut menemukan beberapa ekor ular beracun melingkar di sekelilingnya. Dia segera mundur dan diam, tidak berani mengangkat kepalanya lagi. Ruby mendengus dan menoleh pada seekor serigala berbulu abu-abu yang berjalan ke arahnya. Ukuran serigala itu sangat besar sehingga hampir mencapai tinggi seekor kuda. Memiliki pupil hijau yang bersinar tajam namun begitu tiba di hadapan Ruby, dia merendahkan kepalanya untuk menikmati belaian dari gadis itu. "Dia adalah Grey, pemimpin kawanan serigala di daerah tempatku tinggal." Ruby menunjuk beberapa ekor lagi di atas tebing. "Mereka pemimpin kawanan lain tapi masih seorang teman." Azure tersenyum dan menatap semua itu dengan tenang, namun di dalam hati, di benar-benar berharap bisa menunggangi satu serigala ini. Namun juga tahu bahwa keinginannya sedikit sulit di lakukan, bagaimana pun dia adalah orang asing bagi kawanan ini. Seolah mengerti isi pikirannya, Ruby melambaikan tangan pada seekor serigala di atas tebing. "Salah satu dari mereka bersedia memberimu tunggangan," katanya. "Benarkah?" Mata Azure berbinar. Ruby mengangguk dan seekor serigala yang sama besarnya dengan Grey namun berbulu hitam bergerak mendekat. "Namanya Nith." Ruby beralih membelai kepala Nith dan membawanya ke hadapan Azure. "Kau boleh membelainya." Mata Azure berkilau penuh ekspektasi dan mengulurkan tangannya perlahan untuk membelai bulu yang tak terasa begitu lembut namun sarat akan kekuatan, mata binatang buas itu menatapnya namun tidak ada kekejaman yang terlihat. "Dia menyukaimu." Ruby melompat ke punggung Grey dan melemparkan sebotol ramuan ke arah Azure "Jangan sampai jatuh," katanya. Azure menangkap botol itu dan meminumnya tanpa ragu di hadapan tatapan waspada para ajudannya, lalu ketika merasakan efek obat mulai terasa, dia menyusul dan melompat ke punggung Nith, lalu tanpa aba-aba, melesat bersama Ruby. Meninggalkan para prajurit yang langsung berhamburan untuk mengendarai tunggangan mereka untuk menyusul. Kecepatan berlari serigala itu sangat cepat hingga semua pepohonan dan rumput hanya berupa bayangan kabur. Namun tidak seperti kuda, gerakan dua serigala itu lebih lincah dan bahkan melompati bebatuan dan sungai tanpa penghalang. Azure mengeratkan pelukannya ke leher Nith, namun berusaha tidak cukup erat untuk membuat serigala itu tercekik. Seperti yang Ruby katakan, Jumlah binatang yang datang tidak sesedikit kelihatannya, ketika mereka berlari, Azure telah melihat hampir ribuan ekor binatang. Harimau, rubah, musang dan binatang liar lain menyambut mereka lalu berlari bersama dengan kecepatan penuh. Azure tersenyum lebar, dalam hidupnya tidak sekali pun dia merasakan sensasi semenakjubkan ini. kebebasan untuk bergerak dan melakukan kegiatan yang memacu adrenalin membuat bibirnya tak bisa menahan tawa. Setibanya dia ujung hutan, Azure tidak bisa lagi menghitung berapa jumlah binatang yang ada di sana, bahkan prajurit yang menyusul menyusutkan leher mereka di antara tatapan tajam binatang itu. Namun hal itu tidak lagi menarik perhatian Azure, yang memenuhi perhatiannya kini hanya Ruby yang sedang berdiri di ujung hutan, berdiri tak bergerak seolah memandang jauh ke depan. Di dampingi seekor serigala dan harimau di kiri kananya, ular melilit di tangannya dan seekor burung rajawali besar di pundaknya. Hanya satu kata yang memenuhi hati Azure ketika mendeskripsikan pemandangan itu, yakni menakjubkan. Ruby terlalu menakjubkan untuk tidak menarik perhatiannya. Disisi lain, Ruby saat ini di liputi keraguan, dia merasa jantungnya berdetak sangat kencang. Adrenalinnya berpacu, bukan karena baru saja menunggang dengan kecepatan di atas rata-rata namun pada bau kebebasan yang terpampang di hadapannya.  Ya, kebebasan. Hanya selangkah lagi, dia akan keluar dari pengasingan yang menyembunyikan keberadaannya selama puluhan tahun. Namun, bisakah manusia di luar sana menerimanya yang seperti ini? Ruby menyentuh ikatan di matanya dan bayang-bayang penjara dingin dan gelap membuatnya melangkah mundur, namun Grey datang dan menghalanginya. Binatang itu sangat peka. Mereka mengerti dengan jelas ketakutan Ruby namun juga mengerti keinginan terbesar gadis itu. Mereka tahu dengan pasti bahwa Ruby ingin keluar menjelajah layaknya pendekar sejati, tidak hanya terjebak di dalam hutan tak berpenghuni. Karena hal itulah mereka datang untuk memberi gadis itu dukungan untuk melangkah ke depan. Merasakan belaian Gray di belakangnya, Ruby menarik nafas dan mengambil langkah, namun kembali menarik langkahnya ketika bayang-bayang pepohonan meninggalkan kakinya. "Ruby, jangan takut." Ruby menoleh dan menyadari bahwa Azure telah mengganti posisi Grey sebelumnya. Pria itu melangkah lebih dulu, keluar dari bayangan pepohonan hutan lalu berdiri di hadapan Ruby. "Semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu." Azure mengulurkan tangan dan tersenyum selembut mungkin seolah Ruby bisa melihatnya dengan jelas. Ruby hanya diam, mendengarkan suara angin dan aliran sungai juga suara detak jantung mereka berdua. Ya. Azure juga segugup Ruby, takut-takut jika sampai gadis itu tiba-tiba berubah pikiran di saat terakhir. Jika itu memang terjadi, Azure tidak yakin bisa mempertahankan akal sehatnya. Setelah beberapa saat masih tidak mendapat sambutan, Azure semakin gugup hingga tangannya sedikit bergetar. Dia membuka mulut untuk menyusun kata bujukan lagi, namun kulit hangat telah menyentuh tangannya yang dingin. Ruby telah meletakkan tangannya di atas tangan pria itu dengan sangat lembut. Azure langsung tersenyum cerah, mengalahkan cerahnya matahari. Senyuman lebar yang tidak pernah Demien lihat sejak kecil itu bertahan hingga Azure menarik Ruby keluar dari sangkarnya. "Selamat datang di duniaku Ruby, aku akan berusaha membuat petualanganmu lebih berarti." Kemudian suara auman dari semua binatang di sana memenuhi udara hingga langit.   Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN