Ruby Vs Jendral Qhali

1413 Kata
Keesokan harinya, Azure memilih seratus orang prajurit  yang akan ikut pulang bersamanya sedangkan sisanya tetap tinggal untuk menjaga tambang berlian itu untuk sementara waktu, serta menyisir keseluruhan Dark Forest untuk memastikan tidak ada lagi sisa-sisa suku bergigi runcing yang tertinggal. Setelah mendengar bahwa Azure berencana pulang ke kerajaan hanya dengan seratus perajurit, Jendral Qhali langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengambil langkah lebar ke  arah tenda Azure, menyikap tirai, berlutut dan langsung mengemukakan pendapatnya begitu retinanya menangkap sosok pangeran muda itu."Yang Mulia sangat berbahaya untuk membawa hanya seratus prajurit bersamamu." Gerakan Azure yang sedang mengangkat cangkir ke bibirnya langsung terhenti. Dia meletakkan cangkirnya kembali dan berkata, "Seratus perjurit sudah lebih dari cukup, lagi pula Demien dan Boo ikut denganku." Jendral Qhali mengerutkan kening tidak setuju. "Tapi Yang Mulia... "Paman, aku tahu Ayahanda Raja pasti menyuruhmu mendampingiku setiap saat, Bukan?" Azure tersenyum, bangkit dari duduknya dan menghampiri jendral Qhali dan menariknya untuk berdiri. "Tidak ada orang lain di sini sekarang, jangan berlaku terlalu hormat padaku, paman adalah guru sekaligus saudara pamanku. Melihatmu berlutut membuatku tidak enak hati." Ya, mereka adalah paman dan keponakan, Jendral Qhali adalah kakak kandung dari ibu Azure, yang saat ini menduduki takhta sebagai Ratu. Jenderal Qhali menghela nafas dan berdiri tegak. "Azure, tetap saja paman tidak bisa membiarkanmu menempuh perjalanan panjang ke istana tanpa perlindungan yang mumpuni." Dia memandang keponakan kesayangannya dengan raut khawatir. "Satu-satunya alasan ayah dan ibumu berani melepaskanmu untuk mengunjungi desa ini adalah karena aku ada untuk melindungimu." Azure tersenyum tipis dan menarik jendral yang umurnya tidak lagi muda itu untuk duduk. "Aku tahu paman, tapi aku juga tidak bisa mempercayakan urusan untuk menjaga berlian ini untuk sementara kepada siapa pun selain dirimu." Jendral Qhali menghela nafas, dia juga harus mengakui perkataan Azure ada benarnya. Tambang berlian ini perlu penjagaan ketat untuk sementara waktu hingga ada perintah dari Raja. Bagaimana pun pencurian antar negara adalah hal yang tabu, dan Azure harus kembali secepatnya untuk melaporkan ini sebelum kerajaan Selatan menyadari pergerakan mereka. "Aku hanya cemas, dalam perjalanan pulang kemungkinan akan ada serangan lagi." Jendral Qhali meremas tangan keponakannya dengan lembut. "Semua orang di kerajaan tahu kau meninggalkan istana, beberapa musuh pasti akan menjadikan ini kesempatan untuk menyerangmu. Aku cemas kekuatan Demien dan Boo saja tidak akan cukup." "Paman kau harus menghitung kekuatanku juga." Azure tersenyum. "Kau?" Jendral Qhali mengamati wajah Azure yang masih sama pucatnya seperti kemarin lalu menggelengkan kepala. "Kondisimu saat ini tidak memungkinanmu untuk bertarung terlalu banyak." "Sekarang dan dulu tidak, tapi selama Ruby ikut denganku." Azure menuangkan teh untuk Jendral Qhali "Aku bisa melindungi diriku sendiri." "Ruby?" Jendral Qhali mengangkat alis. "Gadis--dengan penutup mata itu?" Jendral Qhali ingin mengatakan gadis buta, namun tidak ingin menyinggung Azure yang terlihat begitu menghargai gadis itu. Azure menganggukkan kepalanya, menarik kursi untuk duduk di sisi pamannya, lalu dengan semangat berkata, "Dia bisa membuat ramuan yang dapat membuatku bertarung dengan kekuatan penuh untuk sementara waktu." Jendral Qhali tercengang tak percaya, seolah dia perlu mengorek telinganya untuk memastikan dirinya tidak salah dengar. "Apa dia seorang tabib?" tanyanya tak kalah antusia dari Azure. Senang, Jendral Qhali tentu sangat senang. Bagaimanapun, dia adalah guru yang mengajari Azure banyak ilmu bela diri sejak kecil. Dia tahu dengan jelas bagaimana Azure sangat menderita dengan kondisi lemah tubuhnya yang seolah selalu membutuhkan perlindungan orang lain. Dan sekarang mendengar seseorang bisa memberinya kesempatan untuk bertarung dengan kekuatan penuh. Tentu saja sebagai Guru dan paman yang ingin melihat keponakannya sembuh, Jendral Qhali merasa sangat senang. "Tidak hanya itu, dia juga seorang petarung yang handal." Azure mengetuk-ngetuk meja. "Dia jugalah alasanku bisa tenang untuk pulang tanpamu." "Dia kuat?" "Mungkin di sini, jika ada yang bisa menyaingi kemampuan bertarung paman, hanya dia orangnya." Azure tersenyum lebar, seolah ada setitik kebanggaan di matanya. "Baiklah, biarkan aku melihat sekuat apa dia." Jendral Qhali meraih pedangnya dan berjalan keluar dari tenda. Mata Azure segera membeliak "Paman!" Dia berlari mengikuti. *** Ruby menggoyangkan kakinya di atas pohon sembari bersenandung pelan, senandung yang samar-samar dia dengar dari beberapa prajurit wanita yang sedang mandi beberapa hari yang lalu. Ruby selalu menyukai musik. Dulu, ketika dia masih di dalam sel gelap dan dingin. Dia selalu samar-samar mendengar suara nyanyian dan musik. Saat mendengarnya dia akan menempelkan telinganya ke dinding untuk mendengar lebih jelas lalu mulai ikut bergumam pelan. Lalu, ketika Luna tahu tentang ketertarikannya itu, Luna mulai menyanyi untuk Ruby dan bahkan menari. Meski Ruby tidak bisa melihatnya, setidaknya Ruby bisa memperkirakan beberapa gerakan dengan suara yang dia dengar.. Ruby belajar beberapa tarian sebelum Luna meninggal, yang kini Ruby transformasikan menjadi ilmu pedang agar dia bisa menarikannya setiap kali dia bertarung. Syuutt Ruby menoleh, tanpa menghentikan gumaman dari tenggorokannya, dia menangkap anak panah yang melesat langsung ke kepalanya dan menunduk pada dua pria yang sedang menunggu di bawah pohon. "Oy, ayo turun dan bertarung denganku." Jendral Qhali mendongak di bawah pohon sembari menodongkan ujung pedangnya ke arah Ruby. Azure yang berdiri di belakang Jendral Qhali masih menepuk-nepuk jantungnya yang berdetak kencang, terkejut karena anak panah yang tiba-tiba pamannya lontarkan pada Ruby. Ruby tahu Azure ada di sana juga, jadi dia sama sekali tidak bergerak dan hanya memainkan anak panah di tangannya. "Aku tidak bertarung dengan sekutu temanku," ujarnya pelan, namun masih mampu di dengar oleh dua irang di bawah pohon. Kening Jendral Qhali mengerut tidak senang. "Turunlah, buktikan bahwa kau bukan pengecut." Ruby menggoyangkan kaki tidak peduli, menyandarkan punggungnya ke pohon dan lanjut bersenandung. "Paman, hentikan saja okey. Dia bukan wanita yang mudah di provokasi." Azure maju dan menahan tangan pamannya yang hendak melontarkan anak panah lagi.  Azure tahu Ruby memiliki indra pendengaran dan penciuman yang sangat tajam dan sebuah anak panah bukanlah apa-apa baginya tapi tetap saja Azure merasa waswas melihat panah itu melesat cepat ke arah gadis itu. Jenderal Qhali akhirnya meletakkan anak panahnya untuk Azure namun raut tidak senangnya masih terpampang jelas. "Azure, kau sangat perhatian dengannya yah?" Azure sedikit terkejut dengan pengalihan percakapan yang tiba-tiba dan mengangkat alis, sedangkan Ruby yang berada di atas pohon menajamkan pendengarannya. "Ini pertama kalinya kau tidak begitu antusias melihat sebuah pertarungan." Jendral Qhali menarik pedangnya. "Lalu bagaimana kalau kamu saja yang menggantikannya bertarung denganku." Jendral Qhali tiba-tiba maju dan menyerang Azure yang tidak siap. "Paman!" Azure melompat mundur dan menghindari acuan pedang pamannya namun, Jendral Qhali mengejarnya dengan sangat ahli..  "Oyy, gadis yang di atas, aku akan melawanmu lagi setelah aku mengani anak ini," ujarnya sembari menyerang setiap titik vital Azure. Azire melompat dan menghindari. Hanya sesekali berhasil menyerang. Hanya dalam beberapa putaran, Azure mulai merasakan kelelahan menyerangnya, tangannya yang memegang pedang mulai sakit dan bergetar. Tang. Pedang Azure terlempar ke udar dan menancap di samping pohon tempat Ruby duduk. Tapi meski begitu, Jendral Qhali tidak berhenti menyerang, tidak peduli bagaimana wajah Azure semakin pucat. Jendral itu menyerang dengan sangat cepat dan terlihat serius ingin melukai keponakannya sendiri. Di saat Azure mulai tersudut, angin tiba-tiba berhembus dan Ruby tiba tepat di hadapan Azure untuk menghalau pedang yang hampir menggores pipi Azure. Tanpa aba-aba, Ruby langsung menyerang balik ke arah Jendral Qhali. Berbeda ketika bertarung dengan suku bergigi runcing, Ruby selalu menyerang di satu titik untuk membunuh namun ketika dia melawan Jendral Qhali, gadis itu menyerang di segala arah. Leher, d**a, perut dan kepala. Ke semuanya adalah titik vital. Mereka saling menyerang dalam beberapa putaran sebelum Ruby berhasil menggores luka di lengan Jendral Qhali. "Paman!" Azure maju dan menangkis Pedang Ruby yang lagi-lagi menargetkan leher pria paruh baya itu. "Ruby, dia tidak serius. Jangan melukainya, dia pamanku." Ruby menghentikan aksinya dan mundur selangkah. "Bahkan seorang paman juga bisa menyakiti keponakannya," ujarnya dingin. "Dia hanya bercanda, untuk membuatmu turun dan bertarung." Ruby mengerutkan kening."Aku bertarung sekarang, kenapa kau menghentikan kami?" "Kau benar-benar akan melukainya." Azure menghela nafas dan menarik Jendral Qhali yang berniat menghadap Ruby lagi ke belakang punggungnya. "Seperti itulah pertarungan. Tidak akan berakhir sebelum satu orang kalah." "Azure mendesah sedikit frustasi "Ini bukan pertarungan sungguhan, hanya latihan. Kau tahu latihan?" Ruby memiringkan kepala "Berlatih? Kenapa dia mencariku untuk berlatih?" Jendral Qhali tiba-tiba tertawa keras dia belakang Azure. "Ini pertama kalinya aku melihatmu begitu frustasi menghadapi seseorang Azure." Dia mengalihkan tatapannya ke arah Ruby. "Aku mengajakmu berlatih untuk mengukur kekuatanmu. Dan sepertinya aku bisa tenang jika kau mendampingi Azure kembali ke istana." Ruby mengernyit tak mengerti namun tidak mengatakan apa-apa. Jendral Qhali masih tertawa dan menepuk pundak Azure "Wanita yang kau temukan menarik sekali," bisiknya lalu berjalan pergi. Azure tertawa paksa dan menatap Ruby dengan raut khawatir. Dia sekarang menyesal mengungkapkan bahwa Ruby petarung yang hebat, sekarang pamannya itu pasti tertarik untuk merekrut Ruby ke dalam pasukannya. Bagaimana pun pamannya itu adalah seseorang yang terkenal tidak akan melepaskan petarung kuat untuk di rekrut. Lebih tepatnya, persaingan empat jendral di istana dalam memperebutkan predikat pasukan terkuat hampir sama kritisnya dengan perebutan takhta. Ya, setidaknya mereka tidak mencoba untuk saling membunuh. "Ayo kembali, kita akan segera berangkat." Azure berbalik dan di ikuti Ruby di belakangnya lalu sedikit demi sedikit menyusul dan berjalan di sampingnya.   Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN