***
Perempuan dengan rambut terurai yang di ikat setengah, senyum manis dari bibir merah ranumnya, mata indah dan tangan lentik yang kini tengah membersihkan etalase untuk kemudian diisi dengan roti-roti yang baru saja matang beberapa saat yang lalu. Dia adalah Reina Anantasya. Siswi remaja yang masih duduk di kelas 2 SMA.
Seperti biasa, sepulang sekolah dia datang ke sini. Ke toko roti milik almarhumah bundanya. Dia datang kesini, sekedar membantu di depan atau jika ada waktu lebih dia akan ikut terjun ke dapur, ikut membuat roti dan cookies dengan resep almarhumah bundanya. Bersama Mbak Yun, orang kepercayaan almarhumah bundanya yang kebetulan saat ini mengelola tempat ini.
Sejak meninggal bundanya, toko roti ini memang di lanjutkan oleh Mbak Yun. Ayahnya tak bisa kalau harus menjalankannya sendiri, ada perusahaan yang tengah dirintisnya yang butuh dia untuk terjun langsung. Jadi, ayahnya mempercayakan toko ini pada Mbak Yun—pegawai di toko yang sudah bekerja bertahun-tahun dan kebetulan juga orang kepercayaan bundanya.
Cook&Rak
Itulah nama tokonya. Toko yang besar dan luas, beberapa tempat duduk indoor dan outdoor, hiasan dimana-mana dengan suasana nyaman yang cocok untuk berbagai kalangan, terutama anak muda jaman sekarang. Kalau di hitung-hitung, toko ini sudah berdiri hampir 10 tahun lamanya. Jadi, jangan pernah meragukan rasa roti dan cookies nya kalau dari usaha kecil rumahan bisa punya kedai sebesar ini.
Ting!
Lonceng yang berbunyi menandakan baru saja ada orang yang masuk, membuat Reina cepat-cepat berdiri tegak, mengulas senyum lebarnya dan siap menyambut pelanggan yang datang kali ini, seperti biasa.
“Selamat datang ... Ada yang bisa—”
Ucapannya terhenti, senyumnya pun perlahan pudar saat matanya menemukan siapa yang baru saja masuk itu. Dia kenal, amat sangat kenal. Orang yang bisa dipastikan pengganggu di hidupnya namun langganan di tokonya yang tak pernah dia harapkan. Dan, sekarang lelaki itu berjalan menghampirinya dengan senyum lebar seperti biasanya.
“Hello cantik ...”
Bukannya membalas atau apa, Reina justru mengacuhkan kehadiran orang yang selalu merecokinya. Dia memilih kembali membersihkan etalase dan menyusun roti-roti didalamnya.
“Ya ampun Rein ... Gue ini customer loh, masa di cuekin.”
Reina mendongak, dia menatap orang itu. Tubuhnya dia tegakkan, kemudian berucap sebelum akhirnya pergi. “Yaudah, nanti pegawai gue yang layani lo.” ucap Reina, dia bergegas namun tangannya justru di cekal Bara.
“Tapi, gue maunya sama lo.”
Reina dengan cepat melepaskan tangan Bara yang mencekal nya, dia tak suka. “Gue sibuk, biar pegawai gue aja.” Jawab Reina, dia bergegas pergi sebelum akhirnya Bara mencegahnya lagi.
Reina menghampiri Mbak Yun yang tengah duduk menunggu roti matang, tangan wanita itu tak henti-hentinya mengelus perutnya yang sedikit buncit. Memang, Mbak Yun saat ini tengah hamil muda.
“Mbak, di depan ada pelanggan. Mbak aja deh yang layani nya.”
Mbak Yun mengerutkan keningnya. “Kenapa gak sama kamu aja, Rein. Kan kamu di depan tadi, kenapa gak sekalian aja.”
“Rein sih mau. Tapi ...”
“Tapi?”
“Rein harus ke kamar mandi.” sambung Reina, dia bergegas pergi ke toilet meninggalkan Mbak Yun yang hanya bisa menggeleng dan beranjak pergi.
Beberapa saat kemudian, Reina keluar dari toilet. Dia bergegas menghampiri Mbak Yun yang memanggil namanya. “Kenapa, mbak?”
“Dia siapa sih, Rein? Kok malah mau nya di layani sama kamu. Padahal kan sama aja.” Ucap Mbak Yun, keningnya berkerut bingung. Namun, saat melihat wajah gelisah Reina membuat senyuman menggoda terbit di bibirnya. “Pacar kamu, ya?" Tukas Mbak Yun, dia menggoda Reina yang langsung menggeleng, menyanggah ucapannya.
Reina berdecak. “Ih, bukan mbak. Apaan sih!?” tukas Reina kesal, dia duduk di kursi di hadapan Mbak Yun. “Dia itu cowok nyebelin di sekolah aku. Udahlah, suruh yang lain aja."
“Mending kalau mau, orang dia nya juga gak mau. Udah, udah, layani sekarang.” ucap Mbak Yun, dia menarik Reina dan mendorong pelan punggung remaja perempuan itu agar bergegas pergi.
Reina menghela napas kasar, terpaksa dia harus pergi menghampiri Bara yang saat ini duduk santai sambil mengetukkan jemarinya diatas meja, kaki lelaki itu sengaja di goyangkan, mengikuti ketukan di jarinya. Dan, tentu saja. Lelaki itu jadi pusat perhatian semua orang di tokonya. Hal inilah yang tak disukainya dari Bara, si caper, tukang cari perhatian. Menyebalkan.
“Mau pesan apa?”
Bara menegakkan tubuhnya, dia tersenyum saat Reina menghampirinya. “Yang paling enak terus minumnya ice Americano.”
Reina mengangguk, dia bergegas pergi menyiapkan pesanan Bara. Baru beberapa langkah, dia sudah berhenti kembali saat Bara memanggilnya.
“Kalau boleh sih, sama mbak cantik nya juga, ya.”
Reina berdecak, dia memutar bola matanya jengah. Dia bergegas pergi dengan kekesalan yang sudah di ubun-ubun pada lelaki itu. Entah kenapa, setiap melihat lelaki itu hawanya panas dan dia inginnya itu marah-marah pada Bara.
“Tuh, kan benar dugaan mbak. Dia tuh kayaknya suka deh sama kamu, masa tiap kesini mau nya sama kamu terus.”
“Apaan sih mbak!” kesal Reina, dia mengambil cangkir untuk membuat ice Americano.
Tak butuh waktu lama, pesanan Bara sudah selesai dibuatnya. Dia bergegas menghampiri Bara, meletakkan pesanan lelaki itu diatas meja.
“Mbak nya, gak mau nemenin nih.” Ucap Bara yang hanya diacuhkan oleh Reina. Perempuan itu bergegas pergi meninggalkannya yang hanya bisa tertawa sambil mulai menyeruput kopi nya.
Sedangkan Reina sekarang kembali di balik etalase, mulai membungkus satu persatu roti dan cookies pesanan pelanggan, menyepaknya sedemikian rupa yang membuat banyak pasang mata terkagum-kagum melihatnya.
“Makasih, mbak. Semoga suka dan kembali lagi ke toko ini.”
Itu ucapan biasa yang selalu Reina lontarkan pada pelanggan tokonya, tak lupa senyuman pula yang beruntungnya selalu mendapat balasan hangat untuknya. Dia tersenyum lebar, mengendarkan pandangnya ke semua penjuru toko nya. Namun, senyumnya perlahan pudar saat bersitatap dengan Bara yang dengan terang-terangan memperhatikannya dengan senyuman. Dengan segera, dia memutus kontak mata itu, dia lebih memilih berkutat dengan pekerjaannya daripada harus menatap Bara.
***
“Jadi, berapa Rein?”
“73.000.”
Bara mengangguk, dia mengeluarkan selembar uang kertas seratus ribu rupiah dari sakunya, kemudian menyerahkannya pada Reina. Perempuan itu memberikan uang kembalian beserta struk nya.
“Makasih,”
“Itu, aja?”
Reina mengerutkan keningnya. “Hah?”
“Ke pelanggan lain aja, Lo bilang semoga suka dan balik lagi kesini. Masa sama gue, enggak? Gue kan pelanggan juga disini, Rein. Pelanggan setia toko Lo. Eh, bukan cuma tokonya deh. Pelanggan setia hati Lo juga." Ucap Bara diakhiri kekehan.
Reina memutar bola matanya, namun justru itu lah yang selalu menjadi daya tariknya.
“Udah sana pergi.”
Namun, bukannya segera pergi. Bara justru tetap disini, tersenyum manis pada Reina sambil menopang dagunya. “Lo tahu, Rein? Tadi tuh enak banget, manis nya pas. Kayak lo.”
“Basi.”
“Katanya, kalau makan yang manis-manis bisa kena diabet. Tapi, kalau gue lihat Lo terus-terusan yang manisnya minta ampun ini. Kena diabet juga gak sih?”
Reina memincingkan matanya, dia menatap kesal Bara. “Lo pikir gue makanan gitu!?!”
“Bukan, gitu Rein. Maksud gue—”
“Udah, udah, udah! Mending Lo pulang deh, gak jelas banget!”
“Iya, iya, i love you too ..”
“Dih, gila!”
“Yes, karena lo.”
Reina berdecak, dia menghentakkan kakinya kesal. “Pergi!”
“Iya ...”
“Yaudah, sana!”
Reina benar-benar kesal kali ini. Dia keluar, menghampiri Bara kemudian langsung mendorong lelaki itu untuk keluar dari tokonya. Dan, ini lah yang Bara harapkan. Dia sengaja seperti tadi. Agar Reina melakukan apa yang sekarang perempuan itu lakukan.
“Pulang, sana!”
“Iya, cantik ... Tenang aja, ini pulang kok. Jangan khawatir, ya ..”
Reina memutar bola matanya jengah, dia menatap kesal Bara yang saat ini tengah tersenyum lebar sambil menatap dirinya. Dia hendak pergi, sebelum kedatangan seorang perempuan membuat dia semakin kesal pada sosok Bara.
“Bara, apa kabar? Udah lama banget kita gak ketemu. Kamu masih ingat aku, kan? Itu loh ... Yang kita ketemu pas di Bali. Kamu—”
Lihat, bahkan sekarang tiba-tiba seorang perempuan muncul, cipika-cipiki dengan Bara. Dan lebih parahnya langsung memeluk lelaki itu. Dan, Bara? Apa yang dia lakukan? Dia hanya diam, terkejut dan menatap cemas Reina yang melihatnya.
“Dasar, playboy!”