bc

Elbara Mervino

book_age12+
366
IKUTI
1.8K
BACA
playboy
arrogant
badboy
goodgirl
student
sweet
bxg
highschool
others
school
like
intro-logo
Uraian

»»» T A M A T «««

[ Pastikan kalian tekan 'love' supaya gak ketinggalan update cerita ini. Follow aku juga, ya :) Thank youu ]

Dia tak suka Bara. Baginya, lelaki itu hanya pemain wanita, mempermainkan banyak perasaan yang berakhir pada kesakitan. Disaat semua orang-orang berlomba-lomba ingin menjadi kekasih lelaki itu, tidak dengannya. Disaat semua orang berlari menghampiri Bara, maka dia akan berlari menjauhi lelaki itu yang mengejarnya. Lalu saat dia sudah lelah berlari dan lelaki itu berhasil menggapainya, apa yang akan dilakukannya? Menerima uluran itu yang artinya dia harus siap jika masuk ke kehidupan lelaki itu atau lebih memilih berlari semakin jauh tanpa ujung yang pasti?

***

"Lo tuh jadi cowok gak ada usaha banget sih? Belajar kek, apa kek.." -RnaAntsya

"Siapa bilang gue gak berusaha? Ini gue lagi berusaha, berusaha buat bikin lo jatuh cinta sama gue, belajar untuk sabar atas semua penolakan lo." -elbramrvno

***

chap-preview
Pratinjau gratis
Elbara Mervino
*** Lelaki bertubuh jangkung, pemilik kumis tipis dan senyum manis serta alis tebal yang terbingkai dengan indahnya, melangkahkan kaki lebarnya memasuki kantin. Tempat yang sudah dipenuhi manusia dengan segala keriuhan yang mereka ciptakan. Pemilik wajah tampan yang sosoknya selalu diidam-idamkan kaum hawa untuk dijadikan pasangan mereka, sosok yang sering sekali di teriaki namanya, dijadikan haluan dan dianggap sebagai boyfriend able. Dia adalah Elbara Mervino. Lelaki yang akrab dipanggil Bara. Disampingnya, ada Bryan yang merupakan teman dekat Bara dan bisa dibilang sahabat lelaki itu. Dia tampan, sama seperti Bara. Sayangnya, pesona Bara lebih kuat darinya. Jadi, saat semua mata tertuju pada mereka. Sosok Bara lah yang lebih dulu ditatap kaum hawa. “Baraaa ...” “Bara ganteng banget sih ...” “Nikmat tuhan mana yang engkau dusta 'kan ...” “Kebaikan apa yang udah gue buat, sampai-sampai ada di jaman dimana ada cowok seganteng Bara.” “Sumpah, damage nya itu loh ...” “Itu kumis tipisnya bikin gemes deh ...” “Bryan juga ganteng kok. Tapi, tetep. Gue pilih Bara.” “Kenapa di sekeliling gue banyak cogannya sih? Meresahkan banget!” Dasar, Bara! Sudah tahu tanpa memberikan ekspresi apapun semua kaum hawa terpesona padanya. Dan, sekarang lelaki itu justru menebar senyum lebarnya. Bisa dibayangkan, bagaimana kaum hawa kini. Bahkan mereka harus menahan napas mereka saat mata mereka bersitatap, ditambah Bara juga melayangkan kedipan matanya. Kalau orang jahat akan ditangkap, maka tolong tangkap Bara. Lelaki itu jahat. Jahat karena membuat kaum hawa menahan napas mereka dan meleleh hanya karena hal kecil yang dilakukannya. Bryan berdecak, dia menggeleng tak percaya melihat bagaimana kelakuan temannya. Bagaimana bisa dia punya teman seperti Bara? “Udah, Bar. Kasihan mereka nanti hilang suaranya karena jerit-jerit lihat lo.” Ucap Bryan, dia menyenggol lengan Bara yang tak henti-hentinya menebar pesona. Bara hanya tersenyum simpul menanggapinya. Mereka duduk di kursi pojok kantin. Banyak makanan yang sudah tersaji disana. Ini sudah kebiasaan dan akan terus berlanjut selama dia masih ada di sekolah ini. Meja pojok ini memang selalu di duduki nya, orang-orang tahu akan hal itu. Jadi, banyak dari siswi yang diam-diam atau terang-terangan suka padanya menyiapkan berbagai makanan untuknya. Meskipun ... “Ini nih yang paling gue suka. Banyak makanan tanpa di minta.” ... Bryan yang memakannya. Lelaki itu menikmati sekali makanan gratis yang selalu disiapkan setiap harinya untuk mereka. Hm, maksudnya yang disiapkan untuk Bara. Tapi, sebagai teman yang baik. Dia tahu, Bara tak mungkin sanggup memakannya. Alhasil dengan berbaik hati dia ikut menikmatinya. Bara hanya menggeleng-geleng melihat Bryan, dia menjatuhkan bokongnya. Matanya dia edarkan menelusuri kantin, berharap ada orang itu. Dan, senyumnya langsung terbit saat melihat keberadaan orang itu. Tanpa membuang waktu, dia beranjak pergi, tak lupa dengan segelas jus jeruk ditangannya yang kebetulan tersedia di meja nya. Bryan mengerutkan keningnya, mulutnya masih penuh makanan. Matanya mengikuti kemana perginya Bara dan hanya mengangguk maklum saat tahu kemana tujuan lelaki itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Reina. *** “Aku jus alpukat di cup, ya, pak!” Dia duduk, memilih berselancar dengan ponselnya di media sosial sambil menunggu pesanan jus nya dibuatkan. Sebenarnya tak ada yang menarik dari media sosialnya, hanya postingan orang-orang yang di follow nya. Dan yang buat tidak menarik adalah postingan mereka tentang satu orang. Bara. Tck, bahkan dia bosan melihat wajah Bara dimana-mana. Dia memutar bola matanya jengah, namun justru segelas jus jeruk lah yang tiba-tiba ada dihadapannya. Dia mendongak, menatap malas orang yang baru saja dia bilang membosankan. Melihat potret orang nya di layar saja dia bosan, apalagi melihatnya secara langsung seperti sekarang ini. “Ini, buat lo, Rein.” Dia mengabaikan keberadaan Bara, dia memilih acuh. Bara tersenyum saat penolakan kembali didapatnya. Diantara jutaan kaum hawa yang memujinya, mendambakan dirinya, menginginkan menjadi pendampingnya. Dia jutstu tertarik pada perempuan yang sepertinya tak sedikitpun tertarik padanya. Bahkan, perempuan itu selalu menatapnya ogah-ogahan. Apa seperti ini rasanya di tolak? Apa seperti ini juga perasaan kaum hawa yang ditolaknya? “Serius, Rein. Ini buat Lo. Jus jeruk, manis-manis gimana ... Gitu. Kayak Lo pokoknya.” Dia mendongak, menatap Bara datar. “Gak usah, makasih.” ucapnya penuh penekanan di setiap kata, dia kembali berkutat dengan ponselnya. “Tapi ini enak, Rein. Manis, asem, seger pokoknya.” Dia mendongak, memasukkan ponselnya ke saku rok nya. Kemudian menatap kesal Bara. “Jadi, maksudnya Lo gue asem gitu? Kecut? Gitu maksud Lo?” tukasnya, dia memincingkan matanya menatap kesal Bara yang tentu saja langsung menggeleng menyanggahnya. “Bukan, gitu Rein. Maksud gue—” “Neng, ini jus nya.” Dia beralih pada penjual jus tersebut, menerimanya kemudian membayar sesuai harganya. Setelah mengucapkan terimakasih, dia bergegas pergi. Namun, di urungkan sebelum melewati Bara. “Lagipula, gue gak suka yang gratisan.” lanjutnya kemudian melenggang pergi meninggalkan Bara yang hanya bisa menggeleng sambil tersenyum mendengar itu semua. “Makin cinta aja gue.” *** Dengan santai, kakinya melangkah masuk. Tak ada ketakutan atau kekhawatiran, dia terlihat santai tanpa beban. Padahal sudah jelas, ada guru yang sedang mengajar di kelas ini—meskipun sambil duduk, ya—. Semuanya tahu siapa dia, semuanya kenal. Tak ada seorang guru pun yang berani menegurnya, bahkan dia salah pun tak ada yang berani memarahinya. Semuanya terlalu jengah dan tak kuasa, mengingat siapa itu dirinya. Anak seorang pengusaha yang punya kuasa atas sekolah ini. Jadi, tak ada satupun yang berani menegurnya. Seisi kelas pun biasa saja melihatnya. Dua tahun sekelas dengan lelaki itu membuat mereka tahu. Dan, guru yang mengajar pun hanya bisa menggeleng dan menghela napas kasar. Tak habis pikir dengan kelakuan muridnya yang satu ini. “Ketahuan baru tahu rasa lo.” bisik Bara pada Bryan yang asik memainkan game dibalik buku. Ya, begitu. Buku hanya alibi semata untuk menutupi yang aslinya. “Bodo amat,” jawab Bryan, dia tak peduli. Bahkan, atensinya tak teralihkan sedikitpun dari game online yang dimainkannya. Dia bahkan tak sadar saat guru pelajaran sudah berdiri di sampingnya, memperhatikan apa yang dilakukannya. Dan, Bara hanya bisa tertawa dibuatnya. “Game apa, Yan?” “Ml, bu.” ”Suka ya, mainnya?” “Iyalah, Bu. Ini kan sampingan saya.” Seisi kelas hampir tertawa dibuatnya, namun mereka berusaha menahan tawanya. Beda halnya dengan Bara yang langsung menendang tulang kering Bryan yang membuat lelaki itu meringis dan menatap tajam sekaligus kesal Bara. “Anjir ... Sakit bg! Lo kira kaki gue apaan!?” Dengus Bryan, dia meringis merasakan sakit yang lumayan terasa di tulang keringnya. "Emang kaki kamu apaan?" Bryan terlonjak kaget dibuatnya, dia seketika memutar tubuhnya, terkejut mendapati keberadaan guru nya tepat di sampingnya. “Eh, ibu.” ucap Bryan kikuk, dia mencoba menarik ponselnya, berniat memasukkannya ke dalam laci mejanya. “Keluar dari kelas saya. Kerjakan paket 1 halaman 180-190. Kumpulan di jam istirahat kedua.” Bryan membelalakkan matanya, dia menggeleng tak percaya. “Tapi, bu—" “Sekarang!” Bryan menghela napas kecewa, berharap gurunya iba. Tapi, ternyata tidak. Dia sih sebenarnya tak apa di keluarkan dari kelas, yang jadi permasalahannya adalah kenapa dia harus mengerjakan tugas sebanyak sepuluh halaman. Mending kalau otaknya bisa bekerjasama, tapi ini? Tentu tidak. Akhirnya dengan terpaksa, dia beranjak berdiri berniat pergi. Dia menatap Bara, mengkode lelaki itu. Dan, paham akan hal itu membuat Bara ikut melakukan apa yang dilakukan Bryan. “Kamu mau kemana, Bara?" “Keluar, bu. Tadi katanya suruh keluar.” Guru itu berdecak, menepuk pelan keningnya. “Yang saya suruh keluar itu Bryan, bukan kamu.” “Tapi, bu. Sebagai teman yang baik, yang solid, saya juga harus keluar. Gak mungkin dong, saya biarin Bryan ngerjain tugas itu sendirian? Saya harus bantu dong.” Ucap Bara, dia tersenyum. “Ya sudah Bu, saya permisi keluar. Terimakasih, ya, bu.” lanjut Bara kemudian melenggang pergi menyusul Bryan. “Astagfirullah ... Kenapa juga saya bisa punya murid seperti itu.” *** Sepoi angin di rooftop sekolah menerpa wajahnya, membuat matanya sayup-sayup tertutup ingin terpejam. Meskipun detik kemudian dia kembali tersadar. Senyuman tak pernah pudar dari bibirnya kala benaknya terus terbayang akan seseorang yang bertahun-tahun mengisi relung hatinya. Memang dasar. Bukannya pergi mengerjakan tugas, mereka malah pergi ke rooftop. Tempat yang paling aman dan tenang karena tak banyak orang yang bisa datang dan tahu tempat ini. Masalah tugas? Tenang saja, mereka punya kuasa, punya segalanya. Apapun bisa dilakukan dengan begitu mudahnya. Jadi, jangan khawatirkan hal yang tak penting. Matanya yang terpejam seketika terbuka perlahan mendengar pertanyaan yang dilontarkan Bryan padanya. “Apa yang buat Lo suka sama Reina?" Dia tersenyum mendengar pertanyaan itu, matanya menatap langit yang begitu cerahnya. Banyak awan yang menghiasi dan konyolnya otaknya justru berimajinasi kalau wajah Reina terbentuk di awan itu. “Different.” Bryan menarik tipis sudut bibirnya, dia menggeleng tak percaya. Jawaban klasik. “Tapi, di luaran sana juga banyak kali cewek yang beda, bukan cuma Reina.” balas Bryan, kerutan tercetak di keningnya. “Hati gue milihnya dia." “Susah, ya ngomong sama orang bucin. Padahal udah jelas, cintanya terus di tolak.” “Bodo amat. Gue gak peduli Reina nolak gue. Yang jelas, suatu saat nanti gue pastiin, dia bakal terima gue jadi pacarnya atau bahkan lebih.” “Kita lihat aja nanti, apa iya dia bakal luluh sama lo.” Bara tak menanggapi, dia hanya tersenyum lebar. Entah benar atau tidak, entah iya atau enggak, hatinya memilih Reina, dia jatuh cinta pada perempuan itu sejak jumpa pertama. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
40.9K
bc

TERNODA

read
198.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook