Sambil mengelap etalase di tokonya, pikiran Reina ikut berkelana, kembali memikirkan apa yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu. Sesuatu yang ada hubungannya dengan Bara. Senyum tipis tiba-tiba tercetak di bibir Reina karena itu, padahal seharusnya dia tak perlu atau bahkan jangan sampai tersenyum. Mengingat bagaimana Reina bertekad untuk tak membiarkan Bara melangkah lebih jauh dalam kehidupannya. Namun, sepertinya pertahanan Reina selama ini perlahan mulai terkikis. Sepertinya, Bara sudah mulai menyelinap masuk kesana. “Rein?” Ayudia, perempuan yang baru saja memasuki toko itu mengerutkan kening bingung melihat keterdiaman Reina. Sebenarnya, bukan karena itu sepenuhnya. Tapi, karena senyum tipis yang tercetak dibibir Reina lah yang membuatnya bingung. Apalagi, Reina tak l

