Ep. 5 — Belajar Berusaha

1788 Kata
“Siapa bilang gue gak berusaha? Ini gue lagi berusaha, berusaha buat bikin lo jatuh cinta sama gue, belajar untuk sabar atas semua penolakan lo.” -Bara- *** "Reina," Reina seketika menghentikan langkahnya saat namanya dipanggil, dia berbalik dan menemukan tubuh tegap seorang pria paruh baya dengan setelan kemeja dan celana bahan yang saat ini tengah menghampirinya. Seulas senyum dia lemparkan pada pria itu. Pak Dipa. Guru Fisika yang cukup diidolakan. Cara mengajar dan menjelaskan materi yang dilakukannya cukup mampu membuat semua murid mau mendengarkan dan memperhatikan apa yang dia jelaskan. Gertakan tiba-tiba saja dan siswa yang ditunjuk secara acak membuat siapa saja harus siap. Jadi, mau tau mau semuanya harus memperhatikan agar tahu jawaban. Itulah Pak Dipa. “Iya, pak.” Pak Dipa tersenyum pada Reina, menatap buku ditangan salah satu murid yang cukup aktif dalam mata pelajarannya. Sepertinya, Reina baru saja meminjam buku dari perpustakaan, pikirnya. Tapi, tujuannya menemui siswinya itu bukan karena itu. Namun, karena hal lain. “Kamu sudah mulai mengajar Bara?” Pertanyaan pak Dipa itu membuat air wajah Reina berubah seketika. Reina meringis pelan, tersenyum kikuk. “Maaf, pak. Belum.” jawab Reina yang membuat Pak Dipa tersentak dengan kening mengerut bingung. “Loh, kenapa belum? Apa Bara gak kasih tahu kamu kalau saya menunjuk kamu untuk menjadi tutor nya?” Reina menggeleng, “Udah kok, pak. Tapi, saya emang belum mulai ngajar Bara aja. Saya belum atur jadwalnya.” Pak Dipa mengangguk-angguk. “Ya sudah, segera, ya.” “Tapi, maaf pak. Kenapa harus saya? Maksud saya, masih ada Izmi, Faisal, Fattah dimana mereka itu punya kemampuan lebih dari saya. Bahkan mereka selalu peringkat umum di sekolah. Sedangkan, saya kan cuma masuk 5 besar di kelas.” ucap Reina, dia terkekeh pelan. ”Tapi, bapak malah pilih saya. Maaf, ya, pak.” Reina bingung, kenapa dia yang ditunjukkan untuk mengajarkan salah satu murid sedangkan dia ini bukan siapa-siapa, bukan murid yang banyak prestasi, bukan murid yang ikut lomba sana-sini. Dia hanya murid biasa yang kebetulan masuk di 5 besar di kelasnya. Pak Dipa tersenyum. ”Saya tahu, kamu pasti bingung kenapa saya pilih kamu. Reina, kamu memang bukan juara umum, bukan peringkat 3 besar. Tapi, kamu itu juga sama berprestasi nya." ucap pak Dipa, namun tak membuat kebingungan di wajah Reina hilang sepenuhnya. ”Kamu juga masuk 5 besar kan di kelas?” tanya pak Dipa yang diangguki Reina. “Nah, itu! Kamu juga aktif kok di mata pelajaran saya. Dan saya yakin, kamu akan bisa menjadi tutor Bara.” lanjut pak Dipa. Reina menggeleng, dia tak bisa. “Tapi, pak. Saya—” “Saya tahu Bara, Rein. Reputasi dia, saya tahu. Dia memang sering membuat masalah dan saya juga kesal kalau harus terus menerus mendengar nama Bara yang disebut setiap kali kami—para guru—melakukan rapat. Tapi, saya bisa lihat ada potensi besar dalam diri Bara. Saya sebenarnya tahu kalau Bara itu pintar, dia bisa mengerjakan tugas apapun. Cuma, ya, begitu. Dia itu pemalas dan terlalu menyepelekan seakan-akan semuanya gak akan ada gunanya.” Reina benar-benar menunggu, akan kemana pembicaraan ini sebenarnya. “Dan, dengar-dengar Bara itu suka sama kamu. Benar?” tanya pak Dipa, dia menaikkan sebelah alisnya. Reina tersentak, dia membelalak matanya dan langsung menggeleng. “Enggak, pak. Bohong itu.” Pak Dipa tersenyum saja. ”Pokoknya, saya sangat berharap kamu gak tolak perintah saya ini. Bukan cuma saya sebenarnya, tapi guru-guru yang lain juga, bahkan orangtua Bara sendiri.” Reina diam kembali, dia memikirkan keputusan apa yang harus diambilnya. Namun, melihat betapa besarnya pengharapan pak Dipa padanya membuat dia tak mau mengangguk, tak enak jika harus menolak. “Saya akan coba, pak.” *** “Nih,” Bara yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya seketika mendongak, tersenyum lebar menatap Reina yang berdiri dihadapannya sambil menyerahkan sebuah buku paket. Tak ada senyum seperti biasa, namun Bara tetap suka. “Gue juga bilang apa, Lo pasti mau.” ucap Bara, dia mengingatkan Reina tentang ucapan perempuan itu kemarin. Tentang penolakan yang bisa saja Reina layangkan saat ditunjuk menjadi tutor nya. “Terpaksa,” Bara menarik sudut bibirnya, tak apa. “Jadi, sekarang kita belajar?" tanya Bara yang membuat Reina memutar bola matanya jengah. Bara tertawa senang, dia meletakkan asal ponselnya kemudian berdiri dihadapan Reina. ”Gimana kalau sepulang sekolah nanti kita mampir ke cafe Galaxy—” “Ngapain?” potong Reina cepat, untuk apa Bara mengajaknya pergi ke cafe segala. “Nongkrong—Ah, maksud gue kita belajar. Kan enak tuh kalau belajar di cafe.” “Gak, gue sibuk. Jadi, sekarang aja kita belajarnya. Tapi, sebelum itu gue mau tes Lo dulu. Gue pengen tahu, sejauh mana kemampuan lo.” ucap Reina, dia menyerahkan buku ditangannya yang sejak tadi tak kunjung diambil Bara. Bara menerima buku tersebut, buku matematika. “Coba Lo kerjain halaman 43. Gak usah semua, cukup 5 aja.” Bara mencebik, dia mulai membuka satu persatu halaman buku tersebut. “Tapi, Lo tahu gue disini dari siapa?” tanya Bara, dia mendongak menatap Reina yang sejak tadi mengalihkan atensinya dari dirinya. “Gak susah buat gue tahu dimana Lo, tanya satu orang aja udah pasti ada jawabannya.” Bara tersenyum lebar, tak menyangka Reina akan menjawab pertanyaan. Oh, iya. Dia berada di bagian belakang sekolah. Tadi sih bersama Bryan, namun entah kemana lelaki itu sekarang. “Oh, iya, Rein—” “Ih, jangan banyak tanya. Mending kerjain deh!” ketus Reina, dia mendengus saat Bara hendak bertanya lagi padanya. “Iya... Iya... ” Bara diam, mulai membuka dan membaca soal yang tertera disana. Dia melirik Reina yang masih berdiri, tersenyum tipis dibuatnya. “Gak capek berdiri saja? Duduk kali.” ucap Bara. Reina melirik Bara, dia menggeleng. “Gak usah, Lo kerjain aja.” “Otak gue gak secepat itu ngerjain ini soal. Yakin, Lo masih berdiri sampai gue selesai in 5 soal ini?” Reina terdiam. Apa yang diucapkan Bara sebenarnya ada benarnya juga. Dan, jujur dia pegal juga berdiri sejak tadi. Jadi, mau tak mau dia mengangguk. “Yaudah, geser dong!” Bara tersenyum, menggeser tubuhnya dan membiarkan Reina duduk di kursi tembok yang mengelilingi pohon rindang. Kebetulan, bentuk kursi tersebut sudah tak beraturan hanya yang dekat dengannya yang masih bisa diduduki saat ini. Jadi, mau tak mau Reina harus dekat dengannya. Dan, dia suka. “Rein, males banget gue harus ngerjain soal Logaritma ini. Nanti aja deh!” “Dih, apaan!? Enggak, enggak! Kerjain sekarang, gue pengen tahu!” Belum sempat Bara kembali mengerjakan soal tersebut, namun suara pemberitahuan bahwa jam istirahat telah selesai menghentikan gerakannya. Reina mendesah pelan. “Tuh kan, keburu masuk! Lo sih, ah!” dengus Reina, dia berdecak sambil menatap Bara. Bara tersenyum lebar. “Gue juga bilang apa, udah nanti aja.” ucap Bara, dia menutup seketika buku tersebut dan memasukkan pensil milik Reina ke saku seragamnya kemudian beranjak. “Yuk, mending kita ke kelas. Gue anterin Lo, yuk!” Reina langsung memukul tangan Bara yang tiba-tiba menarik tangannya, dia menatap kesal lelaki itu. “Jangan, pegang-pegang!” kesal Reina kemudian melenggang pergi meninggalkan Bara yang terkekeh. Bara terkekeh menatap kepergian Reina, dia menatap tangannya yang baru saja menyentuh tangan lembut milik Reina. “Wangi banget sih Lo, Rein. Gue suka.” ucap Bara sambil mencium telapak tangannya dengan aroma Reina yang tertinggal. *** Senyuman dia lemparkan saat kakinya melangkah memasuki tokonya. Senyuman itu sengaja dia tunjukkan pada pelanggan di toko yang menyapanya. Namun, senyuman itu pudar seketika saat tubuhnya berbalik menatap Bara yang sejak tadi mengekor di belakangnya. “Tunggu disini, gue ke dalam dulu.” Tanpa menunggu jawaban Bara, dia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Bara yang kini sudah menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi yang berada di pojok ruangan. Bara mengedarkan atensinya dan langsung memanggil salah satu pelayan kemudian memesan satu cup iced coffee. Bersamaan dengan datangnya minumannya tersebut, Reina ada. Sudah berganti seragam menjadi kaos biasa, namun tidak mengganti raut wajahnya. Masih tetap sama. Datar dan ketus menatap Bara. “Jadi, Lo mau belajar yang mana dulu?” tanya Reina, dia duduk dihadapan Bara dan meletakkan satu persatu buku yang dibawanya dihadapan Bara. “Atau Lo lanjutin soal yang tadi aja? Kan belum dikerjain tuh.” ucapnya. Cepat-cepat Bara menggeleng. Ogah sekali dia mengerjakan matematika. Melihatnya saja sudah membuat matanya kesakitan, apalagi kalau harus mengerjakannya. “Ganti aja, gue malas ngerjain mate.” “Ya udah, fisika aja.” “Hah? Itu apalagi! Gue malas banget sama pelajaran pak Dipa, bikin ngeselin. Setiap kali ngejelasin bukannya bikin paham, malah bikin gue pusing! Enggak, enggak.” tolak Bara, dia menggeleng keras. Reina tertawa, kemudian menatap datar Bara. “Gue gak peduli, kita akan tetap belajar fisika.” balas Reina, dia menyingkirkan buku selain fisika. “Lagian nih, ya. Yang ngeselin tuh, Lo. Bukan pak Dipa apalagi pelajarannya. Intinya yang ngeselin tuh, Lo, deh!” ucap Reina sambil memutar bola matanya jengah. Bukannya marah, Bara justru tertawa dibuatnya. Dia kadang senang dan menikmati setiap kali bola mata Reina memutar jengah karena ulahnya. “Oke deh, terserah lo.” putus Bara, dia mengendikan bahunya pasrah. Reina membuka salah satu halaman yang menjelaskan tentang SIN COS—basic pelajaran yang harus dia ajarkan pada Bara, menurutnya. Dia meletakkan buku paket tersebut dihadapan Bara dan mulai menjelaskan materinya. “ ... Nah, gampang banget! Lo ngapalin nya juga gak akan kesusahan. Lo tinggal pilih salah satu, SIN atau COS. Hapalin setiap derajatnya dan kalau sudah hapal salah satunya gak akan ribet. Soalnya keduanya itu kayak kebalikan gitu...” Bukannya mendengarkan dan memperhatikan apa yang dijelaskan Reina, Bara justru menatap intens perempuan itu. Bara menikmati waktu bersama mereka, menikmati kedekatan mereka yang jarang-jarang bisa terjadi. Jarang-jarang kan Reina mau dekat dengannya seperti saat ini. Bara memangku dagunya, tersenyum lebar melihat Reina yang terus menjelaskan setiap materi yang bahkan telinganya tak berminat untuk mendengarnya. “Gitu...” ucap Reina, dia hendak melanjutkan kembali apa yang dijelaskannya. Namun, saat mendongak yang justru didapatnya adalah Bara yang menatapnya begitu intensnya. Reina memutar bola matanya jengah, dia berdecak. “Lo tuh, ya! Ngapain sih lihatin gue kayak gitu? Gue tuh lagi ngejelasin tahu!" kesal Reina yang menyadarkan Bara. Bara seketika menegakkan tubuhnya, mengusap ujung alisnya yang terasa gatal. Dia terkekeh pelan karena ketahuan terang-terangan memperhatikan Reina. Malu rasanya, tapi dia menikmatinya. “Lo tuh harusnya belajar. Lo jadi cowok gak ada usahanya, belajar kek apa kek—” "Siapa bilang gue gak berusaha? Ini gue lagi berusaha, berusaha buat bikin lo jatuh cinta sama gue, belajar untuk sabar atas semua penolakan lo." jawab Bara sambil melempar senyum tipisnya. Reina tercengang mendengarnya, dia segera berdiri dengan kasar."Kita belajarnya besok lagi, gue udah gak mood. Mending sekarang lo pergi deh dari sini." ucap Reina sambil berjalan meninggalkan Bara yang justru tersenyum dibuatnya. "Gue percaya, gue bisa taklukin lo. Reina Anantasya." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN