part 25

994 Kata
"Woaaaah dunia emang sempit ya!"Jungkook bangkit dari duduknya setelah mendengarkan penjelasan Sejeon yang membuat Ibunya menangis tersedu-sedu. Anak itu berjalan lalu memeluk Sejeon erat. "Yakk kelinci tengil jauh-jauh kau dari Appaku"Suara Jimin dapat mencairkan suasana disana, bukan iri seperti Taehyung, Jimin hanya masih merasa kesal dengan anak itu yang sudah berani-beraninya menghina tinggi badannya. "Dia kan Pamanku"Jawab Jungkook sembari melepaskan pelukannya yang dibalas dengan Sejeon yang mengusak sayang surainya. "Dari semenjak kau belum lahir juga dia sudah menjadi pamanmu, bodoh!"Cerca Jimin jengkel membuat anak itu merengut. "Tapi rasanya beda Hyung"Balas anak itu tak mau kalah. Sejeon dan Yoora adalah saudara kandung yang terpisah karena orang tua mereka yang memilih berpisah semenjak mereka masih kecil, dengan Yoora yang tinggal dengan sang ayah dan Sejeon yang memilih tinggal dengan Ibunya. Puluhan tahun Sejeon mencari sang adik sepeninggal Ibunya hingga dia menyerah namun takdir berkata lain karena adiknya justru selama ini sangat dekat dengannya setelah ia menjadi suami dari Jihyun. "Cie~ Appa yang tadi cemburu cie~"Jinwoon yang sedari tadi diam menyimak terkesiap saat mendengar godaan dari putra bungsunya. "Bibi Jihyun juga seperti akan meledak tadi cie~ ... Seharusnya hyung tadi merekamnya"Jungkook menepuk bahu Jimin membuat pemuda itu menggaruk belakang kepalanya yang sudah pasti tak gatal. "Ayo semuanya kita ulang kejadian manis 'pertemuan dua saudara yang sudah lama terpisah' barusan, biar Jimin hyung bisa merekamnya"Semua yang disana sontak melongo mendengar penuturan si bungsu. ▪ ▪ ▪ ▪ Taehyung hanya menatap kosong dimana Jungkook dan Jimin tengah tertawa bersama di halaman mansionnya, dari atas balkon kamarnya dalam keadaan diam dia memejamkan matanya, sekelebat memory lama muncul secara tiba-tiba. Seharusnya dia yang berada diposisi Jimin sekarang, seharusnya hanya dia yang mampu membuat anak itu tertawa lebar disana. "Arghhhh!"Frustasinya mengacak kasar surainya. Selama hidup, Jungkook selalu meniru apa yang dilakukannya, mempelajari apa yang dipelajarinya, dan pergi kemanapun ia pergi. Dan sekarang ia dengan anak itu seperti orang tak saling kenal. Taehyung tak ingin menyalahkan dirinya sendiri untuk itu, karena baginya semuanya terjadi karena keadaan yang menimpanya. Siapapun yang berada diposisinya pasti akan melakukan hal yang sama melihat perbedaan yang terjadi pada sekelilingnya. Jelas mereka semua lebih menyayangi anak itu. "Seandainya aku yang mengalami semua itu, pasti hidupku akan sesempurna Jungkook sekarang"Gumamnya nelangsa. "Anak itu benar-benar tak membutuhkan ku lagi"Dia terkekeh miris. "Jelas! Semua orang seakan tunduk padanya, ah aku merasa seperti Kakak yang terbuang adiknya sendiri karenanya" Lalu jika seandainya Taehyung tau, derita apa yang telah menunggu adiknya sekarang. Apa dia masih bisa iri dengan kehidupan sang adik? °°°°°°°°° Setelah mengetahui Sejeon dan Yoora adalah saudara, Jungkook dengan semangat menceritakan semua yang terjadi pada para kakaknya yang tentu saja begitu terkejut sama sepertinya. Jungkook juga lebih sering ke kediaman keluarga Park akhir-akhir ini, seusai belajarnya. Dia pasti langsung pergi kesana. Entahlah ... Dia merasa lebih baik melakukan itu daripada diam di Mansion menatap sakit kedekatan Taehyung dan Jihoon yang entah mengapa anak itu suka sekali datang bermain ke Mansionnya. membuatnya malas pulang saja. ▪ ▪ ▪ ▪ Yoongi menatap dingin Jin yang tak henti-hentinya menghela nafas sedari tadi. "Ini bukan hanya tentang imun tubuhnya yang melemah hyung, Jungkook juga sering mengeluh sesak di dadanya padaku!"Yoongi menutup matanya, merasa sakit luar biasa akan apa yang menimpa adik bungsunya. Jin hanya menatap kosong kedepan, terlihat sama sekali tidak berniat menanggapi pernyataan adik keduanya. "Kenapa semua ini terjadi"Yoongi menunduk. "Dan lebih menyakitkan lagi anak itu hanya tau dirinya baik-baik saja"Jin menutup wajahnya mendengar penuturan sang adik. "Aku jadi merasa tidak puas meskipun wanita yang membuat Jungkook seperti ini akan di hukum mati sekalipun"Yoongi mengepalkan tangannya kuat. ▪ ▪ ▪ ▪ "Eomma ayo katakan ... Seperti apa perasaan Eomma setelah mengetahui bahwa ternyata kakak ipar Eomma selama ini adalah Kakak kandung Eomma sendiri!"Yoora menatap gemas Jungkook yang seolah menjadi wartawan dengan pertanyaan tak masuk akalnya yang terlontar untuknya. "Jungkookie ayo katakan, seperti apa perasaanmu?" Jungkook memiringkan kepalanya bingung akan pertanyaan Ibunya. "Maksud Eomma?"Tanyanya polos. "Perasaanmu melihat Eomma menemukan pamanmu sayang!"Jungkook menatap semangat Ibunya. "Tentu saja bahagia, aku yakin mulai sekarang Paman Sejeon akan lebih menyayangi aku dan Hyung-deul" Jinwoon keluar dari kamar mandinya lalu berjalan hanya untuk mengacak gemas surai putra bungsunya. "Sudah malam sayang, ayo Appa antarkan ke kamarmu. Kau harus istirahat!"Jinwoon berujar lembut membuat anak itu merengut. "Aku belum selesai bertanya pada Eomma, Appa~"Kesalnya tapi Jinwoon menggeleng. "Kau harus tidur tepat waktu, ayo!"Jungkook yang keras kepala membalas gelengan kepalanya juga. " Sayang dengarkan Appamu, astaga!"Pinta Yoora lagi-lagi membuat anak itu menatapnya curiga. "Ini belum waktunya jam tidur, ayo katakan kalian akan melakukan apa setelah aku keluar?"Tudingnya membuat kedua orang tuanya membelalak seketika. "Kookie-ah ... "Sudahlah, sebaiknya aku keluar! Awass jangan sampai kalian berdua membuatkan aku adik"Dengan begitu Jungkook keluar dan menutup kasar pintu kamar kedua orang tuanya yang mematung. Jinwoon dan Yoora saling pandang. "Jinwoon-ah, putra bungsumu sudah tidak polos lagi"Jinwoon mengangguk lesu menyetujui ucapan Istrinya. "Seharusnya aku tidak membiarkannya bermain terlalu sering ke rumah Jihyun Noona"Gumam Jinwoon. "sepertinya Namjoon dan Jimin membawa pengaruh yang buruk untuknya"Ujar Jinwoon setengah tak yakin. °°°°°°°°° Hari ini Mansion sepi dengan Jin dan Yoongi melakukan aktifitas mereka seperti biasa, sementara orang tua mereka entah kemana. Taehyung dan Jungkook ditinggal berdua di Mansion itu. Setelah menuruni anak tangga, Taehyung yang sudah rapi dengan paksiannya entah mau pergi kemana dibuat terkejut dengan keadaan adiknya yang menyembunyikan wajahnya di meja makan. "H-hyung?"Lalu suara yang selama beberapa hari terakhir ini tak pernah didengarnya, melantun lemah memasuki indra pendengarannya. Namun Taehyung tetaplah Taehyung, dia masih setia dengan ego-nya, padahal dilihat dari segi manapun anak itu tak memiliki salah apapun padanya hingga membuatnya marah. Jika memang Taehyung pantas kecewa, yang seharusnya disalahkan ya orang terdekatnya bukan adiknya yang sama sekali tak pernah meminta keadaan mereka menjadi sedemikian rupa. Dan parahnya Taehyung bukannya senang mendengar adiknya memanggilnya seperti dulu, justru dia memilih menulikan pendengarannya, berjalan melewati adiknya untuk minum. "H-hyung kali ini saja"Jungkook berbicara dengan mata sayunya bahkan anak itu tak mampu hanya sekedar mengangkat kepalanya dari meja itu, sayangnya Taehyung memilih abai. "H-hyung obatku tertinggal dikamar ... Please!"Ditengah upaya untuk tetap menahan kesadarannya, Jungkook berharap Tarhyung mau mengerti dan pergi menaiki tangga untuk mengambilkan obatnya, Namun bahkan suara lirih yang nyaris terdengar berbisik adiknya tak mampu melunturkan ego yang ada dalam diri Taehyung, seolah dia memilih menutup telinga dan matanya. "Kau tidak akan mati hanya karena obatmu tertinggal dikamar"Dinginnya tajam. Hanya itu jawabannya. Tanpa menoleh sedikitpun untuk sekedar melihat keadaan adiknya yang nyaris tumbang, dia melangkah pergi dari sana. ■■■■■■
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN