Hening. Aku terpaku. Setelah apa yang kudengar, tubuhku bagai ditikam belati di tempat yang sama berkali-kali. Sekuat apapun aku berusaha, otakku tetap tidak bisa mencerna setiap kalimat yang baru saja keluar dari mulut Mas Asraf. Apa-apaan? Laki-laki itu melemparkan senyum sinisnya ke arah Kak Vincen yang kini sedang berjongkok dan mencengkram kerah bajunya. Kulihat tangan Kak Vincen tampak gemetar. "Terkejut, eh? Benar kan, apa yang kukatakan?" Tatapannya menantang Kak Vincen yang hanya bisa kulihat bagian belakangnya saja. Telinga Kak Vincen tampak memerah. Oh, benarkah itu? Aku sangat berharap ini hanya bualan Mas Asraf. "Benar! Memangnya, kenapa kalau aku sangat mencintai Yasmine?!" Teriakan Kak Vincen menggema ke seluruh dinding ruangan. Aku ... tercekat, tanganku seketi

