Bab 2 Amarah Vincen

1029 Kata
Aku akan tetap bertahan seburuk apapun kondisi pasanganku, selama itu bukan pengkhianatan.—Yasmine Roselia. . Selama dalam perjalanan menuju sekolah Nari, tidak ada yang obrolan antara aku dan Kak Vincen. Sama sepertiku yang hanya memusatkan pandangan ke luar jendela, laki-laki bermata coklat terang itu ikut memilih diam dan fokus ke jalan raya. Hening. Bahkan tidak ada alunan musik yang menemani perjalanan kami. Namun, menit kemudian, suara bass laki-laki yang usianya memasuki kepala tiga itu membuatku menoleh bingung. "Sini!" "Eh?" Dahiku mengernyit. Heran. "Tangan kamu," jawab Kak Vincen yang masih tetap fokus ke jalan raya. "Aku ... baik-baik saja, Kak." Menyadari satu hal, aku mencoba memberinya jawaban agar Kak Vincen tidak berpikir yang bukan-bukan. Sejak kecil, jika menyadari adiknya sedang tidak baik-baik saja, tangan kekar itu akan terus menggenggam jemariku hingga aku kembali merasa tenang. Semanis itu rasa pedulinya. Berbeda jauh dengan seorang suami yang saat ini mungkin tengah sibuk dengan selingkuhannya. Dasar b******n! Batinku berteriak saat bayang-bayang Mas Asraf dengan Maurina berkelindan dalam kepala. Sungguh aku sangat membenci mereka. "Tidak, Yasmine. Kamu sedang tidak baik-baik saja!" Deg. Bentakan itu terdengar seiring dengan mobil yang berhenti tiba-tiba di tepi jalan. Untung jalanan yang kami lewati sedang sepi, jadi tidak mengganggu pengguna jalan lain. Laki-laki ini, baru kali ini kudengar dia membentakku. Rahangnya tampak mengeras dengan tangan mengepal, hingga urat-uratnya kelihatan. "Kakak," panggilku pelan dengan jantung yang masih bertalu-talu. Tanganku bergerak perlahan hingga berhasil menggapai tangan kekarnya yang tampak lebih besar dari milikku. "Kenapa kamu harus mengalami kejadian terkutuk seperti ini, Yasmine? Kenapa kamu harus diperlakukan begitu rendah sama laki-laki itu?" Nafas Kak Vincen terdengar tidak beraturan, dadanya naik turun. Pertanda laki-laki berpenampilan kasual itu sedang berada di puncak amarah. Ya. Kak Vincen bahkan rela bolos ke kantor demi menemaniku bertemu Mas Asraf. Melihatnya dalam keadaan seperti sekarang aku hanya bisa diam, membiarkan jemariku di genggamnya dengan erat dengan harapan emosinya mereda dan lenyap begitu saja. "Aku membenci siapapun yang berani menyakiti kamu atau Mama, Yas. Kamu tahu itu, kan?" Kak Vincen menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi kemarahan. Aku tahu itu tatapan itu bukan ditujukan untukku, tapi untuk Mas Asraf. Laki-laki yang hampir saja mati di tangan Kakakku andai saja aku tidak melerainya, tadi. Tidak kuketahui secara pasti bagaimana aku bisa berada di tengah-tengah keluarga Kak Vincen dan dibesarkan dengan sepenuh hati. Mama Mega hanya bercerita jika dulu, sewaktu Kak Vincen berusia 5 tahun, dia sangat menginginkan seorang adik. Namun, kondisi Mama yang menderita premature menopause membuatnya tidak bisa hamil lagi. Karena itulah Mama dan Almarhum Papa bersepakat untuk mengadopsi anak. Dan akhirnya bayi perempuan yang saat itu masih berusia 8 bulan di sebuah panti asuhan, menjadi pilihan mereka. Bayi beruntung itu ... aku. Setelah harus tinggal di panti beberapa waktu karena ditinggal pergi selamanya oleh kedua orangtuaku, siapa sangka Tuhan menitipku pada sebuah keluarga yang memiliki jutaan kasih tiada habisnya. Aku terlalu bahagia berada di tengah-tengah orang yang baik, sampai tidak menyadari, diam-diam ada yang menghancurkan kebahagiaanku. Istana pasirku telah runtuh diterjang ombak. Cerita dongeng putriku, Nari Lasmaya telah berakhir. Demi cerita dongeng seorang wanita dewasa. "Yasmine." "Eh, iya Kak." "Kamu memikirkan laki-laki itu?" Aku tersenyum ke arah laki-laki yang saat ini dalam matanya kutemukan bentuk kekhawatiran yang paling serius. Tidak. Orang-orang yang kucintai tidak boleh ikut menanggung rasa sakitku. Sekarang aku wanita dewasa dengan satu orang putri. Aku bukan lagi Yasmine kecil yang akan bersembunyi di belakang Kak Vincen tiap kali merasa dalam bahaya. Kakakku sudah berkorban banyak. Dan sekarang sudah waktunya dia menemukan kebahagiaannya sendiri. "Dia sama sekali tidak pantas untuk kupikirkan, Kak." Tatapan Kak Vincen masih menyiratkan keraguan. Hufft. Apa susahnya kakak cerewet ini percaya padaku sekali saja. "Kakak tenang saja, aku bisa mengatasi masalah ini. Sekarang, ayo, jalan lagi. Kita jemput Nari." Tangan kekarnya yang semula menggenggam tangan mungilku kini terlepas. Sebelum mobil yang dikendarainya kembali melaju, Kak Vincen berucap satu hal yang membuatku merinding. "Bagaimana kalau kubunuh saja suami kamu itu?" "Kak, apa yang Kak Vincen katakan?" "Kenapa? Kamu masih ingin melindunginya setelah apa yang diperbuat? Kamu menyuruhku diam saja setelah apa yang dia lakukan pada adik dan keponakanku?" Setiap pertanyaan yang keluar dari mulutnya membuatku terbungkam. Aku tahu persis sikap laki-laki yang sedang bersamaku sekarang. Dia tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Kakakku adalah laki-laki pelindung untukku dan seorang yang hangat untuk keponakannya. Namun, bukan begini caranya. Aku tidak ingin bertindak gegabah dan akhirnya menjadi boomerang untuk orang-orang terdekatku. "Kak, aku tahu bagaimana perasaan Kakak saat ini. Tapi, tolong jangan gegabah. Aku tidak mau Kakakku menjadi seorang pembunuh gara-gara laki-laki tidak tahu diri seperti Mas Asraf. Kali ini Kakak harus percaya sama aku, beri aku kesempatan untuk menyelesaikan masalahku dengan Mas Asraf. Kalau memang nanti aku sudah tidak sanggup, aku pasti akan mencarimu." "Tidak, Yasmine. Kamu tidak pernah tahu perasaan Kakak." "Kak, please! Beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah kami," lirihku penuh permohonan. Aku tahu kelemahan laki-laki ini. Jika memang itu masih berlaku. "Kak." "Hah! Baiklah. Tapi, tidak untuk kembali padanya." "Maksudnya?" "Jangan kembali pada pengkhianat kalau otakmu masih berfungsi dengan baik. Berhenti membuatku khawatir! Paham!" Nyes. Aku tercekat. Apa Kak Vincen merasa terbebani karena aku. "Maaf." "Untuk?" "Sudah membuat Kakak repot dan terbebani," cicitku pelan dan langsung mengalihkan pandangan ke arah jendela. Sebisa mungkin kusembunyikan sudut mata yang mulai mengabur. Kak Vincen tidak boleh melihatnya. Entah aku yang terlalu cengeng. Tapi, hati kecilku teriris menyadari telah menjadi beban bagi seseorang. "Ya Tuhan. Bukan begitu maksudku, Yas." Kak Vincen kembali menghentikan laju mobil dan memutar tubuhku ke arahnya. Sangat tiba-tiba. Hingga aku tidak sempat mengusap pipi yang mulai basah. Aku mencoba memalingkan wajah ke arah semula, namun, cengkraman Kak Vincen di bahuku terasa semakin mengencang. "Lihat, Kakak, Yas!" Mau tidak mau aku harus mematuhi perintahnya. Meski perasaan gugup mulai menyerangku. Biarpun Kak Vincen adalah kakakku. Kami tidak pernah terjebak dalam posisi seperti ini sebelumnya. Dan aku ... salting sekarang. Namun, untuk membantahnya aku lebih-lebih tidak mampu. Selama ini aku hampir tidak punya nyali untuk membantah setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Pada waktu-waktu tertentu laki-laki ini menjadi sangat dingin dan tak terbantahkan. "Sampai kapanpun kamu tidak pernah menjadi beban, Sayang. Cobalah mengerti perasaan Kakak sedikit saja." Kenapa kak Vincen tiba-tiba jadi melankolis begini. Kata-kata terakhirnya bahkan terdengar ambigu sama sekali. . Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN