Bab 3 Rahasia Vincen

1016 Kata
"Mama!" Aku segera menghampiri Nari yang baru keluar dari gerbang sekolahnya. Senyuman kebahagiaan tidak pernah luntur dari wajah polos cantik itu. "Hai, Neng Geulisnya Mama! Gimana sekolahnya hari ini?" tanyaku sesaat setelah Nari menghambur dalam pelukan. Mencoba memberi kehangatan seperti hari-hari sebelumnya. Aku tidak boleh terlihat menyedihkan di hadapan Nari. Anak seusianya tidak seharusnya ikut terbebani oleh masalah yang tengah menimpa orangtuanya. "Seru, Ma. Nari senang banget, nilai ulangan Nari sembilan puluh." "Wah, pinternya anak Mama. Ya udah, sekarang kita pulang, yuk. Tuh, lihat di sana, Om Vincen lagi nungguin." Tanganku menunjuk pada laki-laki yang tampak bersandar pada pintu mobil. Lalu melambaikan tangan ke arah kami. "Om Vincen!" Tanpa menungguku, Nari sudah berlari menghampiri Om-nya. Vincenzo Andera, saudara terbaik yang kumiliki selama ini, Om kesayangan Nari. "Hai Princess, ayo, cepat peluk Om sini!" "Om! Nari kangen banget tahu, udah beberapa hari Om enggak ke rumah Nari. Om enggak sayang lagi ya, sama Nari?" Melihat interaksi keduanya, pikiran ini kembali bercabang. Seandainya aku dan Mas Asraf berpisah, apakah malaikat kecil itu akan ikut kehilangan kasih sayang seorang ayah. Bagaimana kehidupan putri kecilku setelah ini. Membayangkannya saja, kebencianku pada dua manusia laknat itu semakin menjadi. 'Dasar makhluk tidak punya hati.' Nari Lasmaya, gadisku yang kini menginjak usia delapan tahun. Sekarang tahun keduanya menduduki bangku sekolah dasar. Nari putriku, anak yang cantik, baik, cerdas, dan menggemaskan. Sejak hari pertama putri kecil itu melihat dunia, tidak, sejak aku mengetahui keberadaannya dalam rahimku, aku selalu berusaha memastikan kebahagiaannya. Bersama Mas Asraf, aku memastikan anak cantik itu tidak kekurangan suatu apapun. Bahkan ketika pertama kali merasakan tendangannya dari dalam sana, nyawaku siap kujadikan taruhan untuk melindunginya. Bukankah tidak ada kalimat yang pantas untuk mnejabarkan kasih sayang seorang ibu. Semua ibu di belahan bumi ini kurasa juga mengetahui kenyataan itu. Anak adalah segalanya. Jika harus, aku siap menukarnya dengan nyawa sekalipun. Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang berani menghancurkan kebahagiaan seorang anak yang selama ini diperjuangkan mati-matian oleh ibunya. Entahlah, aku belum menemukan kata-kata yang pantas untuk menjulukinya. Cukup hina. Terlebih untuk seseorang yang membuka sendiri pintu kehancuran itu. Mas Asraf, laki-laki itu ... tega sekali menghancurkan kebahagiaan darah dagingnya sendiri. Laki-laki berhati iblis itu tega sekali menghancurkan kebahagiaan gadis kecilku. Cerita dongengku, istana pasirku. Demi Tuhan aku tidak akan pernah memaafkannya. . Setelah melewati jalan raya, yang di kedua sisinya penuh oleh pepohonan. Kini mobil Kak Vincen sudah berhenti di depan sebuah bangunan dua lantai. Kami telah pulang. Namun, bukan ke rumah yang kutempati dengan Mas Asraf, melainkan ke rumah Mama. Kak Vincen yang murka, tidak membiarkan kami untuk pulang ke sana. Entahlah, emosi laki-laki itu seperti belum stabil hingga saat ini. Laki-laki yang punya seribu cara untuk melindungiku dan juga Nari. Andai Mas Asraf yang melakukan itu semua. Mungkin aku sudah dibuat meleleh olehnya. Sayang sekali. Maurina telah merebut semuanya. Posisiku sudah digantikan wanita seksi dengan dandanan menor, serta pakaian kurang bahan sebagai senjatanya untuk menggoda Mas Asraf setiap hari. "Om, kenapa kita ke rumah Nenek?" tanya Nari yang berada dalam gendongan Kak Vincen. "Soalnya Nenek kangen banget sama Nari. Nenek mau Nari dan Mama menginap di sini, mau kan?" "Tapi, kan Nari belum ganti baju. Kalau bajunya kusut terus besok Nari sekolahnya pakai apa dong, Om?" "Nanti kita beli baju baru. Nari boleh pilih bajunya sebanyak yang Nari yang mau." "Beneran, Om?!" "Iya, dong. Apa sih yang enggak buat keponakan Om yang cantik ini." Aku yang mendengar pembicaraan mereka hanya bisa tersenyum sambil menjerit dalam hati. Hatiku dilanda kebingungan dengan jalan apa yang akan kupilih setelah ini. Dulu aku wanita berprinsip, bahkan sampai saat ini pun sepertinya masih berlaku. Lalu, Nari? Apa bocah tidak berdosa itu harus menjadi korban keegoisan ayahnya dan prinsip ibunya. Tidak, Yasmine. Kamu harus berpikir jernih, kamu harus memperjuangkan harga diri yang hampir terinjak. Tapi, juga tidak boleh membiarkan Nari menjadi korban dari itu semua. . Malam hari. Aku yang merasa haus segera berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Namun, setiba di sana, dahiku mengernyit menyadari pintu yang tembus ke area taman belakang dalam keadaan terbuka. "Kenapa Bibik jadi teledor begini," monologku sembari melangkah ke dekat pintu. Hendak menutupnya. Belum sampai tanganku menyentuh gagang pintu, suara yang sangat kukenal membuat niatku urung. "Sudah saatnya kamu mengambil langkah untuk kehidupan kamu, Vincen. Ingat, usia kamu sudah tidak muda lagi. Lihatlah, sekarang Mama sudah tua, sebelum pergi, Mama ingin melihat anak-anak Mama menikah dan memiliki keluarga, agar Mama bisa pergi dengan tenang." "Tapi, dia bagaimana Ma?" "Lupakan dia, Vincen, dia sudah menikah. Sudah saatnya kamu melupakannya dan membuka hati untuk orang lain." "Tapi, dia tidak bahagia, Ma. Dia menderita, suaminya seorang pengkhianat. Aku berniat untuk merebutnya kembali. Laki-laki itu tidak bisa membuatnya bahagia. "Vincen apa yang kamu katakan!" Aku tercekat di balik pintu. Benarkah kakakku menyukai seorang wanita yang sudah bersuami? Dan itu yang menyebabkan dia melajang sampai sekarang. Pantas saja tiap kali aku menyindirnya untuk mencari istri, moodnya langsung berubah dan langsung menghindar atau mengalihkan pembicaraan. Ya Tuhan, ternyata kakakku menderita selama ini. Dan aku tidak pernah sadar akan hal itu. Dia menyembunyikannya sangat rapi, dan sibuk memikirkan kebahagiaanku. 'Maaf, Kak. Aku bukan adik yang baik untuk kamu.' Tidak ingin ketahuan Kak Vincen dan Mama, aku memutuskan segera pergi dari sana dan masuk ke kamar. Dengan perasaan berkecamuk. Entah apa lagi yang mereka bicarakan, seiring aku berlalu, suara Mama dan kakak terdengar samar di telingaku dan perlahan menghilang. Otakku sibuk menerka-nerka, siapa wanita yang pernah dekat dengan kakakku dan sangat dicintainya. Namun, tak ada jawaban yang kunjung kutemukan. Selama ini Kak Vincen tidak pernah memperkenalkan teman wanitanya pada Mama dan aku, kecuali Sofia, sekretarisnya. Kenapa laki-laki tulus seperti itu harus mencintai orang yang salah? Dan tidakkah wanita itu menyesal sudah membuang kakakku dan memilih suaminya yang seorang pengkhianat. Padahal, aku sendiri sangat tahu bagaimana rasanya dikhianati. Perih sekali di dalam sini. Besok aku harus bicara dengan Kak Vincen, dan membujuknya agar tidak ikut campur dalam rumah tangga orang lain, meski orang yang dicintai sekalipun. Aku tidak ingin kakakku menjadi orang jahat. Aku tidak ingin melihat Mama menangis seperti barusan. Aku ... juga akan membantu kakakku melupakan wanita itu dan membuka hati untuk orang lain. . Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN