Bab 73 Sandaran Ternyaman Kehadiran bapak yang tiba-tiba membuatku kalang kabut. Semoga saja beliau tidak mendengar pembicaraan kami seutuhnya. "Siapa yang harus di hukum, Nak?" tanyanya padaku. "Eh, anu, Pak. Bu-bukan apa-apa, kok." Aku memasang cengiran yang mungkin terlihat aneh saat ini. "Kami cuma lagi bicarain soal anak tetangga yang sempat berantem sama Ziva, teus dihukum sama orangtuanya." Entah apa yang aku bicarakan saat ini, akalku melompong untuk bisa mangatakan sesuatu yang lebih baik dari ini. "Anak tetangga?" "Iya, Pak." Bahkan aku refleks membalas ucapannya dengan cepat. Seolah-olah takut kalau ada yang lebih dulu berbicara dan membongkar apa yang sudah berusaha aku tutupi. "Oh ...." Bapak masih terlihat curiga, tidak bertanya lanjut dengan kesan yang dipaksaka

